Connect with us

Wisata

Berapa Banyak Jumlah Muslim di Amerika?

Published

on

Berapa Banyak Jumlah Muslim di Amerika
Berapa Banyak Jumlah Muslim di Amerika
Berapa Banyak Jumlah Muslim di Amerika

Pertanyaan seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab.

Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus Amerika dalam melakukan sensus tidak menanyai agama seseorang.

Sebab itu tidak ada angka resmi tentang jumlah penduduk Amerika yang beragama Islam baik itu warganegara ataupun penduduk menetap.

Namun begitu, berdasarkan survei dan penelitian demografis oleh Pew Research Center maupun juga berbagai sumber luar. Ditaksir ada 3,45 juta Muslim dari semua tingkat umur yang hidup di Amerika tahun 2017. Dan bahwa Muslim mencapai kurang lebih 1,1 persen dari jumlah penduduk Amerika. Apabila dibandingkan dengan penganut agama lain Kristen atau Yahudi misalnya, Muslim jauh lebih kecil.

Muslim di negeri ini tidak hidup berkelompok melainkan tersebar di seluruh bagian negeri. Dapat dikatakan di tiap negara bagian ada warga Muslim. Di ibukota Washington D.C misalnya terdapat jumlah lumayan penduduk Muslim. Sedang di negarabagian New Jersey terdapat jumlah besar warga Muslim.

Mereka tidak hanya berasal dari satu negara tertentu tetapi dari seluruh dunia, terbanyak biasanya dari Asia Selatan.

Orang yang pindah agama tidak memberi dampak besar pada jumlah Muslim Amerika. Sebagian besar karena jumlah orang Amerika yang memeluk agama Islam sama banyaknya dengan yang meninggalkan Islam. Walaupun sekitar satu dalam tiap lima Muslim Amerika dewasa dibesarkan dalam agama lain kemudian pindah masuk Islam, jumlah sama yang dibesarkan sebagai Muslim sekarang tidak lagi menyebut diri sebagai penganut Islam.

Sementara waktu berjalan jumlah Muslim di Amerika terus bertambah pada laju kasarnya 100 ribu orang per tahun, baik berkat tingkat kesuburan yang tinggi di kalangan mereka maupun juga migrasi Muslim yang terus terjadi ke negeri ini. [al]


Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Wisata

Pameran Kisah-Kisah Muslim Warga Chicago

Published

on

Muslim Chicago

Sebuah pameran di Chicago History Museum, atau Museum Sejarah Chicago, yang dibuka baru-baru ini menyoroti pengalaman warga Muslim Chicago. Melalui wawancara, lebih dari 100 orang berbagi kisah mengenai perjalanan hidup pribadi, identitas serta iman mereka.

Museum Sejarah Chicago, atau Chicago History Museum, baru-baru ini membuka pameran yang mengangkat kisah warga Muslimnya dengan tajuk “American Medina: Stories of Muslim Chicago.”

Tujuan pameran ini, sebagaimana disampaikan pihak museum, adalah merekam berbagai kisah dan pengalaman hidup Muslim di Chicago. Rekaman itu diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai komunitas Muslim yang hidup di kota Chicago dan pinggirannya, menghormati pengalaman setiap individu dengan memastikan kisah-kisah pribadi mereka akan tersimpan baik-baik untuk generasi mendatang.

Puluhan objek yang berasal dari individu setempat maupun organisasi, meluaskan wawasan pengunjung pameran mengenai bagaimana dan mengapa Chicago dikenal sebagai American Medina, atau Madinahnya Amerika. Melalui wawancara, pameran ini menggali sejarah sebagian komunitas Muslim pertama serta kisah-kisah generasi berikutnya yang menjadikan Chicago sebagai rumah mereka selama 120 tahun terakhir ini. Sekarang ini ada ribuan Muslim yang menjadi warga Chicago.

Pameran ini juga memberi informasi berupa perkenalan dasar mengenai Islam bagi warga non-Muslim Chicago.

Warga Palestina membaca Al-Quran di masjid al-Khaldi sebelum berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di Kota Gaza pada 30 Mei 2019. (Foto: AFP / Mohammed Abed)
Warga Palestina membaca Al-Quran di masjid al-Khaldi sebelum berbuka puasa selama bulan suci Ramadhan di Kota Gaza pada 30 Mei 2019. (Foto: AFP / Mohammed Abed)

“Sebagian dari bangunan-bangunan awal yang dimaksudkan untuk menjadi masjid di AS dibangun untuk acara Pekan Raya Dunia pada tahun 1893 di Chicago,” kata Kepala Sejarawan Museum itu, Peter Alter.

Ia melanjutkan, kesultanan Utsmaniyah membangun sebuah masjid, dan para pemimpin Mesir, juga membangunnya. Bangunan-bangunan itu tentu saja dirubuhkan, atau dibakar habis pada tahun 1894. Namun hal itu yang mengawali Chicago sebagai pusat sejarah Muslim di AS.

Pameran ini mengaitkan kisah-kisah Muslim itu dengan cerita mengenai Chicago sendiri. Para pengunjung dapat mendengarkan kisah pribadi mereka, dilengkapi berbagai peraga, seperti sajadah yang berasal dari berbagai komunitas Muslim di kota itu, peta, foto-foto, video, berbagai berkas yang mendokumentasikan pengalaman para mualaf, karya seni dan berbagai benda yang digunakan sehari-hari, yang menjelaskan perjalanan hidup mereka. Di antaranya, skarf yang dikenakan Aminatu El-Mohammad-Toheed Lawal, pengemudi bus kota yang menunggu enam bulan sebelum mendapat izin mengenakan hijabnya saat bekerja.

Juga ada peralatan membuat kue milik Imani Muhammad, seorang pengusaha lokal yang terkenal dengan bisnisnya, Imani’s Original Bean Pies.

Dalam cuplikan kisahnya, Imani mengatakan, dalam Islam, ada keinginan untuk mengembangkan komunitas ke arah yang lebih baik lagi. Dan dengan mulai membangun bisnis, ia juga akan membantu komunitas.

Andrea Ortez, seorang mualaf, mengemukakan bagaimana ia tidak merasa kehilangan sesuatu, seperti tidak lagi makan babi, sewaktu memutuskan menganut Islam

Ada pula kisah Hysni Selenica, rohaniwan Muslim senior di kepolisian Chicago tentang keluarganya, keturunan imigran Albania, yang memiliki agama berbeda-beda.

Salah satu artefak yang dipamerkan adalah sebuah sorban Sufi yang dibuat Umar Northern. Ia adalah satu dari dua orang di dunia yang membuat sorban semacam itu. Northern mengatakan,

“Dalam Islam ada tradisi, yang menyebutkan, ‘tinggalkan perang kecil, yakni berperang melawan orang lain, untuk melakukan perang besar, yakni berperang melawan diri sendiri.’ Itulah yang diwakili sorban. Sorban mewakili perang di dalam diri bukan hanya untuk menjadi orang yang benar, tetapi juga untuk belajar dan berusaha menjadi sebaik-baiknya manusia,” kata Umar Northern.

Northern menjelaskan sorbannya dirancang seperti yang dikenakan Nabi Muhammad SAW. Meskipun hanya perlu satu atau dua jam untuk membuatnya, Northern mengatakan menciptakan sorban-sorban unik bagi masjid komunitasnya, Masjid Al-Hafeez, telah membantunya memelihara iman yang ia anut selama 22 tahun ini.

Pada salah satu kawasan lain di pameran itu, terpampang pula foto-foto serta berbagai arsip dan artefak yang mendokumentasikan Islamofobia dan rasisme anti-Muslim di seluruh dunia, termasuk di kawasan Chicago.

Menurut Peter Alter, sebagaimana dimuat dalam artikel di Wisconsin Muslim Journal, pameran ini melacak enam momen yang menurut sejarawan itu penting bagi Chicago maupun Muslim di seluruh dunia. Di antaranya imigran Bosnia mendirikan Muslim Mutual Aid Association and Benevolent Society pada tahun 1906, organisasi Muslim tertua yang masih eksis di AS.

Pameran ini disiapkan selama tiga tahun lebih. Mulai dari riset, merekam sejarah lisan dari warga Muslim Chicago.

“American Medina” adalah yang terakhir dari tiga pameran di museum ini, yang mengeksplorasi pengaruh agama-agama samawi terhadap kota itu. Yang pertama, “Catholic Chicago”, ditampilkan pada tahun 2008. Yang ke-dua, “Shalom Chicago”, digelar pada tahun 2012. Pihak museum berharap para pengunjung akan memahami lebih baik lagi peran Muslim di Chicago dengan bantuan penyampaian sejarah secara lisan.

“Meskipun kami menampilkan kurang dari sepertiga dari keseluruhan koleksi, kami akan menyajikan lebih dari 130 wawancara sejarah di situs web. Ini merupakan arsip cerita yang akan terus bertambah. Ini warisan sejarah kita, dan inilah alasan mengapa kami memilih sejarah lisan,” kata Peter Alter.

Dibuka pada 21 Oktober lalu, “American Medina: Stories of Muslim Chicago” akan digelar hingga tahun 2021.

Continue Reading

Wisata

Yuk Jelajahi Perjalanan Nan Romantis di Turki

Published

on

Emre melamar pacarnya, Mine Nur, di gerbong kereta “Eastern Express yang diterangi nyala lilin. Lamaran romantis itu berlangsung dalam perjalanan kereta yang menempuh jarak ribuan kilometer menyusuri bagian timur Turki, yang menurut Emre adalah awal sempurna untuk perjalanan kehidupan mereka.

GENCILNEWS –  “Kami senang jalan-jalan. Jadi, ini cocok untuk kami. Perjalanan ini semacam demo pendek dari kehidupan kami bersama untuk sepanjang masa,” kata Emre, yang memutuskan melamar Mine setelah berpacaran selama dua tahun.Mine Nur menerima lamaran Emre.

Hingga beberapa tahun lalu, memilih naik kereta selama 24 jam untuk menempuh perjalanan sejauh 1.365 kilometer (850 mil) daripada naik pesawat yang hanya membutuhkan waktu satu jam, dianggap tidak masuk akal. Meski harga kereta sangat murah, yaitu hanya 45 lira ($11).

Sinan Usta, mahasiswa berusia 24 tahun, menghias kamar tidurnya dengan lilin-lilin dan lampu-lampu pada saat Eastern Express melintas Provinsi Kayseri dari Ankara menuju Kars, Turki, 9 April 2018.

Namun keadaan berubah ketika sekelompok turis muda Turki memutuskan untuk tidak mengindahkan kecepatan dalam bepergian dan memilih untuk memesan tiket kereta dengan gerbong tempat tidur atau “sleeper.” Tentunya, mereka juga tidak lupa membagikan pengalaman di media sosial.

Sejak saat itu, kereta menjadi tempat untuk bersenang-senang, berpetualang, bersosialisasi dan mendapatkan pengalaman baru.

“Tentu saja tren ini menarik perhatian kami di Instagram. Beberapa unggahan mendorong kami untuk melakukan perjalanan ini,” kata Nurcan Guner, yang naik kereta itu bersama seorang teman baiknya. Guner mengenakan piyama dan kaus kaki seragam yang dipilih khusus untuk perjalanan kereta itu.

Permintaan Tinggi

Kereta Eastern Express berangkat dari Ibu Kota Ankara setiap hari menuju Kars, dekat perbatasan Armenia. Dalam perjalanannya, Eastern Express melewati provinsi-provinsi seperti Kayseri, Sivas, Erzincan dan Erzurum. Kereta akan tiba di Kars setelah menempuh perjalanan 24 jam dan 30 menit.

Busra Korkmaz (kiri), 20 tahun, Ozlem Ozderya (kanan), 20 tahun dan Berfin Abadan (kanan atas), 21 tahun, berbincang dalam perjalanan kereta Eastern Express melewati Provinsi Kayseri dalam rute dari Ankara ke Kars, Turki, 9 April 2018.

Selama perjalanan para penumpang kereta bisa menikmati pemandangan ladang-ladang pertanian, bukit-bukit dan hutan-hutan. Kereta juga melewati sungai-sungai yang meluap karena salju yang mencair di tengah matahari musim semi, serta melewati terowongan-terowongan panjang dan gelap menembus pegunungan.

Dengan pengalaman seperti ini, tak heran bila tiket cepat habis terjual hanya dalam sehari setelah reservasi dibuka, meski jumlah gerbong sudah ditambah dari 5 menjadi 11.

Selama 2017 saja, jumlah penumpang Eastern Express naik sebanyak 40 persen dari tahun 2016, menjadi 300 ribu orang.

Kereta Eastern Express dilengkapi dengan gerbong tempat duduk dan gerbong tempat tidur, toilet, kulkas mini dan meja.

Burcu Yilmaz, seorang teknisi medis berusia 37 tahun, memutuskan untuk naik kereta Eastern Express setelah melihat foto-foto di media sosial. Yilmaz sempat kesulitan mendapatkan tiket, tapi akhirnya bisa berangkat bersama ketiga temannya.

“Pengalaman paling mengesankan,” kata dia. “Perjalanan ini kesempatan berharga untuk bertemu orang-orang baru, untuk mengadakan pesta di gerbong-gerbong. Anda tidak bisa melakukan hal-hal ini bila melakukan perjalanan dengan cara lainnya.” [ft/au]

Continue Reading

HEADLINE

137 Tahun Menanti, Gereja di Spanyol Baru Dapat IMB

Published

on

137 Tahun Menanti, Gereja di Spanyol Baru Dapat IMB

137 Tahun Menanti, Gereja di Spanyol Baru Dapat IMB – Setelah konstruksi berjalan selama 137 tahun, dan diawasi oleh 10 arsitek, salah satu tujuan wisata Spanyol akhirnya memperoleh izin mendirikan bangunan (IMB).

La Sagrada Familia, karya modernis Barcelona, mendapat izin setelah melalui birokrasi yang bisa dikatakan sangat lamban.

137 Tahun Menanti, Gereja di Spanyol Baru Dapat IMB
Para wisatawan berkumpul di depan Gereja Sagrada Familia yang dirancang oleh arsitek Antoni Gaudi di Barcelona, Spanyol, 27 Januari 2017.

Janet Sanz, kepala perencanaan Kota Barcelona, mengatakan dewan kota akhirnya berhasil “mengatasi anomali sejarah di kota itu — bahwa monumen penting seperti Sagrada Familia… tidak punya IMB, bahwa bangunan itu didirikan secara ilegal.”

Yayasan Sagrada Familia berharap akan menyelesaikan pembangunan pada 2026, bertepatan dengan 100 tahun kematian arsitek utama Antoni Gaudí.

Meskipun konstruksi gereja neo-Gothic itu dimulai pada 1882, pihak berwenang baru menyadari pada 2016 bahwa bangunan itu tidak pernah memiliki IMB. Padahal, Gaudi pernah mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin.

Gaudi meninggal dunia akibat ditabrak kereta ketika salah satu sisi gereja baru selesai dibangun.

Sejak itu, sepuluh arsitek melanjutkan pekerjaannya, berdasarkan model dari gipsum buatan Gaudi dan foto-foto dan publikasi dari gambar aslinya. Gambar aslinya hancur dalam kebakaran semasa Revolusi Spanyol.

Setiap tahun lebih dari 4,5 juta orang mengunjungi basilika yang dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 2005. [vm]

Continue Reading

TRENDING