Connect with us

Gaya Hidup

Awal Mula Interaksi Kucing dan Manusia

Published

on

Jauh sebelum kucing jadi kesayangan di Facebook dan YouTube, mereka telah berinteraksi dengan manusia sejak jaman purba.

Sebuah studi DNA yang menjangkau masa ribuan tahun yang lalu untuk melacak interaksi tersebut dan menemukan dua bukti penyebaran yang utama dari kawasan Timur Tengah, dimana orang terbukti membawa kucing bersama mereka. Jejak genetik kucing ditemukan dalam perjalanan itu dan masih tampak pada jenis kucing yang ada pada zaman modern.

Para peneliti menganalisa DNA dari 209 kucing purba yang berasal dari zaman setua 9.000 tahun yang lalu yang berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia, termasuk beberapa mumi kucing purba asal Mesir.

“Mereka saksi langsung tentang situasi di masa lampau,” ujar Eva-Maria Geigl dari the Jacques Monod Institute di Paris. Ia bersama koleganya yang juga meneliti 28 kucing liar modern dari Bulgaria dan Afrika bagian timur.

Ini adalah indikasi terkini dari kisah yang rumit tentang kucing-kucing yang sudah dijinakkan. Mereka keturunan dari kucing-kucing liar yang belajar untuk hidup di tengah manusia dan jadi lumayan jinak – meskipun beberapa pemilik kucing saat ini mengatakan, mereka tampaknya tidak begitu suka berada di lingkungan manusia.

Proses penjinakkan kemungkinan berawal dari masa 10.000 tahun yang lalu ketika orang mulai menetap di kawasan Bulan Sabit Subur, kawasan berbentuk lengkungan yang mencakup pantai timur Laut Mediterranea dan daratan sekitar sungai Tigris dan Eufrat. Mereka menyimpan gandum, sehingga menarik hewan pengerat, yang akhirnya menarik kucing-kucing liar. Hewan-hewan yang ada di tumpukan sampah tampaknya telah menarik mereka juga. Seiring dengan berjalannya waktu, kucing-kucing liar ini beradaptasi pada lingkungan yang dibangun oleh manusia dan membiasakan diri untuk berkeliaran di sekitar manusia.

Studi sebelumnya menemukan seekor kucing yang dimakamkan di samping manusia sekitar 9.500 tahun yang lalu di Siprus, dimana tidak ada kucing yang asli berasal dari pulau itu. Ini adalah indikasi bahwa kucing dibawa dengan perahu dan hewan itu memiliki ikatan khusus dengan orang itu, ujar para peneliti.

Kucing jelas-jelas sudah dijinakkan pada masa sekitar 3.500 tahun yang lalu, dimana pada lukisan tampak kucing ditempatkan di bawah kursi. Ini menunjukkan bahwa saat itu, “kucing sudah jadi bagian dari rumah tangga,” ujar Geigl.

Namun secara keseluruhan proses penjinakkan sulit dilacak oleh para ilmuwan, sebagian karena tengkorak fosil tidak menunjukkan apabila kucing tersebut kucing liar atau sudah dijinakkan.

Lebih mudah untuk membedakan anjing, hewan yang pertama kali kita jinakkan, dari nenek moyang serigalanya. Anjing berevolusi dari serigala dan mulai berinteraksi dengan manusia bahkan sebelum adanya budaya bertani, kemungkinan tertarik oleh sisa-sisa makanan yang ditinggalkan manusia.

Studi baru melacak penyebaran penanda DNA kucing yang bersifat spesifik yang menembus jarak waktu yang panjang, sebuah tanda bahwa orang telah membawa kucing bersama mereka. Hasilnya dirilis hari Senin oleh jurnal Nature Ecology & Evolution.

Studi ini “memperkuat dan menyempurnakan hasil karya sebelumnya,” ujar Carlos Driscoll dari the Wildlife Institute of India. Pengambilan sampel yang bersifat ekstensif dari DNA kucing yang melacaknya hingga ke jaman kuno belum pernah dilakukan, ujarnya.

Para peneliti juga mengamati varian genetik yang menghasilkan bulu dengan pola yang tidak teratur khas kucing modern yang sudah jinak, ketimbang garis-garis menyerupai harimau yang ada pada sepupunya yang masih liar. Pola ini muncul lebih sering pada sampel-sampel yang berasal dari masa sesudah tahun 1300 ketimbang masa sebelumnya, yang sesuai dengan bukti lain bahwa tanda garis-garis pada bulu kucing menjadi sesuatu yang biasa mulai tahun 1700 dan orang mulai mengembang biakkan kucing untuk penampilannya mulai tahun 1800-an.

Berbeda dengan kuda, usaha untuk menjinakkan kucing termasuk terlambat, yang dikembang biakkan untuk tampilannya sejak awal, ujar Geigl.

Fokus sebagian besar studi adalah pada penyebaran kucing pada zaman purba. Pada sampel DNA yang dianalisa, satu jejak genetik yang pertama kali adalah di Turki sisi Asia – dan kemungkinan dahulunya dibawa oleh kucing yang berasal dari kawasan Bulan Sabit Subur – muncul lebih dari 6.000 tahun yang lalu di Bulgaria.

Ini adalah indikasi bahwa kucing telah dibawa kesana dengan perahu ketika para petani pertama melakukan kolonisasi benua Eropa, ujar Geigl. Indikasi ini juga tampak pada masa lebih dari 5.000 tahun yang lalu di Rumania, juga pada masa sekitar 3.000 tahun yang lalu di Yunani.

Jejak genetik kedua, pertama kali muncul di Mesir, telah mencapai Eropa antara abad ke satu dan kelima, sebagaimana ditunjukkan oleh sampel yang berasal dari Bulgaria. Jejak yang berasal dari bandar perdagangan Viking di Eropa utara berasal dari abad ketujuh, dan sampel yang berasal dari Iran berasal dari abad ke delapan.

Menyebarnya kucing di sepanjang Mediterranea kemungkinan dipicu oleh manfaatnya dalam mengendalikan hama pengerat dan hama lainnya di kapal, ujar para peneliti. [ww]

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Tips

Studytubers Trend Unik Menghasilkan Uang dari Youtube

Published

on

Studytubers

Studytubers Trend Unik Menghasilkan Uang dari Youtube-Remaja di Inggris memanfaatkan media sosial untuk menghasilkan uang dengan cara yang unik, yaitu membuat video tentang mereka sendiri saat belajar. Tidak saja menghasilkan pendapatan, mereka kini dianggap sebagai selebritas media sosial.

Jade Bowler, Ruby Granger, Jack Edwards dan Eve Cornwell termasuk remaja yang sukses sebagai seorang studytubers. Aksi mereka saat belajar disaksikan jutaan kali lewat YouTube oleh pengikutnya.

Lewat video tersebut, mereka membagikan tips tentang mengerjakan PR dan produktivitas belajar bagi sesama remaja yang mengalami situasi yang sama.

Seperti halnya seorang pesohor, masing-masing mereka juga memiliki seorang manajer.

Jade Bowler, yang menggunakan nama “Unjaded Jade” dalam YouTube, memiliki 360 ribu pengikut. Ia membuat video Study With Me yang memperlihatkan dia belajar selama dua jam penuh. Sejak tahun 2017, Bowler telah membuat ratusan video yang memberikan tips proses belajar.

Sedangkan Ruby Granger membuat video yang memperlihatkan ia sedang belajar matematika, mengerjakan tugas kimia, memperbaiki tugas Bahasa Inggris dan mengerjakan karangan Filsafat, semuanya sebelum sarapan.

You Tube. (Foto: Reuters)
You Tube. (Foto: Reuters)

Izzy Siddall, 16 tahun, mengatakan, menonton Studytube membantunya dalam melewati masa ujian dan tidak merasa sendirian.

“Saya baru saja menyelesaikan GCSE saya. Jadi menonton video revisi ini sangat membantu saya dan mengurangi rasa kesendirian saya,” kata Izzy.

Sementara Emily Hilson, 19 tahun, mengatakan, ia seolah-olah seperti mengenal mereka dan ingin tahu apakah mereka dapat mencapai sasaran yang diinginkan.

“Anda merasa seperti mengenal mereka. Anda ingin mengikuti mereka dan melihat apakah mereka mencapai tujuan mereka,” kata Emilu.

Menurut sebuah studi baru yang dilakukan National Citizen Service atau NCS, 29 persen remaja mengakui studytubers memberi dukungan sosial bagi murid-murid yang merasa kesepian.

Sedangkan bagi sebagian orang tua, mereka merasa kuatir bahwa remaja mereka menghabiskan banyak waktu menonton YouTube dibandingkan tayangan TV. Video-video itu mungkin digunakan sebagai alasan untuk tidak belajar 

Continue Reading

Gaya Hidup

Obesitas memicu perubahan dalam metabolisme

Published

on

GENCILNEWS – Obesitas memicu perubahan dalam metabolisme. Jika tidak ditangani, perubahan ini dapat menyebabkan diabetes. Orang gemuk juga memiliki tingkat kecemasan dan depresi lebih tinggi.

Ronald Kahn yang meneliti tentang diabetes di Harvard Medical School mengatakan, “Orang dapat mengatakan “mungkin itu hanya karena mereka gemuk,” tetapi yang lain dapat mengatakan “mungkin ada hubungan metabolik.”

“Kami menanyakan “mungkin hubungan metabolik setidaknya sebagian didorong oleh mikrobiome,” tambahKahn.

Mikrobiome adalah komunitas bakteri, jamur dan mikroba lain yang hidup di usus Anda. Ini berubah dengan diet Anda. Kahn mengatakan perubahan itu dapat mempengaruhi tubuh dan pikiran.

Untuk menguji teori itu, Kahn dan rekan-rekannya menerapkan diet tinggi lemak pada tikus dan mempelajari perilaku tikus itu ketika menjadi gemuk. Mereka misalnya memasukkan tikus ke dalam kotak yang dibagi menjadi bagian gelap dan terang. Tikus yang cemas lebih suka menghabiskan waktu di tempat gelap.

“Tikus yang diet tinggi lemak menghabiskan lebih banyak waktu di tempat gelap dibandingkan tikus yang diet normal. Jadi mereka memiliki lebih banyak tanda kecemasan,” ungkap Kahn.

Kecemasan ini hilang ketika tikus-tikus itu diberi antibiotika.

Ini menunjukkan bahwa bakteri membantu menimbulkan kecemasan pada tikus-tikus.

Para peneliti kemudian ingin mengetahui apakah mereka akan menghasilkan dampak yang sama dengan memindahkan bakteri usus ke hewan yang dibesarkan di lingkungan yang steril, tanpa mikroba mereka sendiri.

Dampaknya sama. Mikroba dari tikus-tikus yang gemuk membuat tikus yang bebas kuman menjadi cemas. Mikroba dari tikus-tikus gemuk yang diberi antibiotika tidak cemas.

Kahn menambahkan, “Ini sebenarnya cukup mengejutkan. Meskipun kami telah melihat beberapa dampak pada metabolisme di seluruh tubuh, saya sangat terkejut melihat betapa dramatis dan seberapa jelas efeknya pada otak dan perilaku.”

Penelitian ini diterbitkan di jurnal “Molecular Psychiatry.”

Namun Kahn mengatakan penelitian ini tidak berarti antibiotika merupakan obat depresi. Obat-obatan itu membunuh mikroba baik dan buruk tanpa pandang bulu. Penyalahgunaannya membuat obat-obatan penting ini menjadi kurang efektif.

Apa yang terjadi pada tikus-tikus tidak terjadi pada manusia, tambah Kahn, atau mungkin hanya terjadi pada sebagian orang.

Ada lebih banyak hal yang terjadi pada orang dibanding hanya mikroba mereka, tambah peneliti kesehatan jiwa Gregory Simon di Kaiser Permanente Washington Health Research Institute.

“Kesulitannya adalah kedua hal ini – depresi dan kegemukan – merupakan hal rumit yang memiliki beragam faktor, yang mempengaruhi mereka,” ujar Simon.

Simon menambahkan genetika, lingkungan, pengaruh sosial dan mikroba kita – semuanya lebih membantu kita dalam membentuk perilaku kita.

Sejauh ini Kahn dan rekan-rekannya bekerja untuk menentukan dengan tepat bakteri mana dari ratusan bakteri perut yang mempengaruhi sikap. Saat ini, hal itu masih merupakan misteri. [em/al]

Continue Reading

Gaya Hidup

Si Pus, Sang Penguasa Kota Istanbul

Published

on

Continue Reading

Kumpulan Resep Masakan Enak

TRENDING