Mengenal "Betangas" Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan
Connect with us

Budaya

Mengenal “Betangas” Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Published

on

Mengenal "Betangas" Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Gencil News- Keberagaman budaya dan tradisi Indonesia sangatlah unik dan menarik, Salah satunya “Betangas” mandi uap hasil rebusan bahan rempah.

Tradisi ini berlaku bagi masyarakat Melayu pada beberapa wilayah bagian Indonesia. Termasuk juga Kalimantan Barat.

Betangas merupakan bagian dari proses tradisi pernikahan yang calon mempelai perempuan dan pria lakukan pada langkah awal.

Selain itu, sebagai ungkapan rasa syukur untuk melestarikan identitas budaya lokal serta penghormatan terhadap leluhur.

Prosesi Betangas pada umumnya terjadi tiga hari sebelum hari pernikahan dengan merebus segala macam rempah sebagai campuran untuk mandi uap.

Selanjutnya, calon mempelai perempuan atau lelaki akan duduk diantara uap rempah yang sudah direbus tersebut sambil ditutup tikar yang melengkung pada semua sisi badan.

Rempah-rempah tersebut terdiri dari akar jawe, pucok ganti, mesuik, kelabat, daun nilam, daun pandan, dan serai wangi.

Kemudian setelah calon mempelai terbungkus tikar pandan yang sudah tergulung tersebut, maka Bagian atasnya langsung tutup dengan beberapa lapis kain.

Keseluruhan badan harus terbungkus rapat untuk memberikan hasil yang maksimal.

Konon menurut para tetua yang biasa memimpin ritual betangas mengatakan selain memberikan aroma wangi pada tubuh, prosesi ini juga untuk membuang sial.

Karena tradisi tersebut adalah prosesi awal untuk menginjak acara pernikahan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Makna Kehidupan dari Tradisi Upacara Minum Teh Jepang

Published

on

Makna Kehidupan dari Tradisi Upacara Minum Teh Jepang

Gencil NewsMakna dari sebuah kehidupan dalam setiap budaya bagi setiap daerah, dan Negara tentu berbeda-beda, salah satunya Jepang.

Jepang adalah salah satu negara Asia yang masih menjalankan sebuah Tradisi upacara minum teh dengan makna yang sangat mendalam.

Ada Filosofi dari sebuah upacara minum teh bagi masyarakat jepang. sebuah ajaran tata krama yang berpegang teguh kepada budaya.

Upacara minum teh (sadō, chadō, jalan teh) adalah sebuah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk kedatang dan kehadiran tamu yang datang dari jauh.

Pada abad ke 9 seorang biksu Budha dari Cina datang ke Jepang dan memperkenalkan budaya ini.

Selanjutnya, Pada abad ke 12, jenis baru dari teh, yaitu matcha, mulai ada. Teh yang terbuat dari bubuk teh hijau ini pertama kali digunakan dalam ritual keagamaan dalam biara Budha.

Ilustrasi : Upacara Minum Teh Jepang

Setelah itu, Para pejuang samurai jepang juga turut mulai meminum teh ini sekaligus membuat dasar-dasar upacara minum teh.

Pada abad ke 16, tradisi minum teh menyebar ke seluruh lapisan masyarakat Jepang.

Dalam upacara khusus minum teh di Jepang, harus ada orang yang secara khusus mendalami seni upacara minum teh atau Chanoyu.

Untuk dapat menjadi ahli Chanoyu, haruslah mempunyai pengetahuan mendalam tentang tipe teh, kimono, kaligrafi Jepang, ikebana, dan berbagai pengetahuan tradisional lain.

Upacara minum teh di Jepang banyak mengandung makna kehidupan dalam bermasyarakat dan berbudaya.

Continue Reading

Budaya

Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya

Published

on

Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya
Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya (Foto : hasil tangkap layar dari kanal youtube/ disporapar sambas)

Gencil News- Kain tenun atau songket bagi setiap daerah memiliki makna tersendiri, Salah satunya Songket dari Sambas, Kalimantan Barat.

Songket Sambas merupakan simbol tingginya sebuah perdaban budaya yang masih terjaga. Karena ada filosofi yang terselip pada setiap motif dan coraknya.

Selain itu, Kain tenin ini adalah peninggalan dari kerajaan Sambas dan kain antik yang masyarakat setempat miliki.

Berawal saat memasuki tahun 1960-an saat kerajinan tenun Songket Sambas mengalami banyak sekali perkembangan. 

Tingginya peradaban sebuah budaya ketika songket sambas sebagai pelengkap dalam ritual adat. salah satunya menjadi bagian dari tradisi.

Kain tenun atau Songket sambas masuk dalam tatanan ragam kain pada upacara perkawinan sebagai bentuk seserahan atau hantaran.

Motif yang paling banyak peminatnya ialah motif bunga emas dan pucuk rebung yang mengandung makna semakin tinggi nilainya, semakin terpandang juga pemakainya.

(Foto: Hasil Tangkap Layar Kanal Youtube Disparpora Sambas)

Selanjutnya, Dari semua jenin kain tenun, Tenun Sambas memiliki ciri khas tertentu.

Pertama, Begaya melalu yang melambangkan adanya benang emas dalam tenunannya.

Kedua, Pinggiran kain tenun yang berbeda dari kain tenun lainnya yaitu bewarna outih dan tidak terkena tenunan.

Ketiga, Memiliki dua unsur motif yang berbeda pada kainnya seperti unsur budaya kalimantan barat.

Terakhir, Selalu ada Motif pucuk rebung yang mirip dengan tunas bambu muda berbentuk segetiga memanjang dan lancip.

Meski kain tenun songket Sambas memiliki nilai sejarah, ekonomi, dan budaya yang tinggi, ternyata perkembangan tenun ini cukup mengkhawatirkan .

(Foto: Hasil Tangkap Layar Kanal Youtube Disparpora Sambas)

Kini, Jumlah pengrajin yang semakin sedikit, bahan baku berupa benang mas yang sulit didapat dan relatif mahal serta pendistribusi yang kurang memadai.

Continue Reading

Budaya

Ini 5 Tradisi Pernikahan Yang dianggap Mahal di Indonesia

Published

on

Ini 5 Tradisi Pernikahan Yang dianggap Mahal di Indonesia

Indonesia terkenal dengan keberagaman suku, adat dan tradisi yang berbeda-beda. Dengan begitu segala tradisi tersebut patut dilestarikan,

Dengan terdapat upacara adat atau tradisi yang berbeda pada masing-masing daerah dan memiliki ciri khas tersendiri, ada banyak hal yang menarik.

Sebut saja salah satunya adalah upacara adat pernikahan. Sebagai negeri yang memiliki keberagaman budaya dan suku, wajar jika tatanannya tetap abadi.

Selanjutnya, tradisi adat dalam pernikahan setiap suku juga memberikan nilai dan warisan kepada generasi berikutnya.

Dari sekian banyak keragaman budaya yang ada, beberapa daerah terkenal memiliki tradisi dan mahar yang paling mahal di Indonesia.

Pernikahan Adat Bali

Bali menjadi salah satu daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Setiap proses pernikahan yang berlangsung dalam tatanan adat masyarakat Bali sangatlah sakral mulai dari proses pengenalan kedua keluarga sampai ke proses lamaran.

Pernikahan adat Bali umumnya menghabiskan cukup banyak uang, di mana biasanya akan mencapai ratusan juta rupiah.

Hal ini karena adat budaya yang turun termurun mewajibkan pengantin untuk melalui prosesi tertentu. misalnya saja pakaian khusus beserta segala aksesorinya.

Pernikahan Adat Batak

Suku Batak juga terkenal sebagai suku yang memiliki proses panjang untuk menuju hari pernikahan.

Mengutip dari laman cermati, umumnya, proses tersebut ialah pertemuan antar keluarga yang rutin mulai dari proses perkenalan keluarga kedua belah pihak hingga ke acara pertunangan dari serangkaian acara tersebut hampir seluruhnya melibatkan keluarga besar.

Ada tiga hal yang menjadi syarat menuju ke sepakatan acara pernikaha, seperti Sinamot atau mahar, ulos, dan biaya pernikahan.

Jika pengantin perempuan bukan dari suku Batak, maka akan ada upacara tambahan untuk pemberian marga atau boru.

Pernikahan Adat Bugis

Ini dia pernikahan termahal di Indonesia yang nyatanya juga cukup menguras dompet. Pernikahan adat suku Bugis memiliki persiapan dengan proses yang tebilang panjang.

Mahar pun berbeda tergantung tingkat pendidikan yang telah mempelai wanita tempuh. dan harus dalam bentuk emas, dengan rangkaian acara pernikahan yang terbilang panjang.

Pernikahan Adat Minangkabau

Biaya upacara pernikahan dengan adat Minangkabau dapat mencapai angka lebih dari Rp150 juta yang juga termasuk dalam salah satu pernikahan adat termahal di Indonesia.

Belum lagi biaya saat Malam Bainai oleh mempelai perempuan, yaitu ritual unjuk kasih sayang pada para sesepuh sebelum pernikahan dengan menghias tangan perempuan dengan inai (pacar).

Kemudian ritual dengan Manjapuik Marapulai, yaitu parade atau arak-arakan penjemputan pengantin pria ke tempat pernikahannya.

Pernikahan Adat Suku Sasak

Pernikahan khas adat Sasak tergolong unik jika merujuk dari urutan prosesinya. Hal ini karena sebelum acara pernikahan calon pengantin laki-laki akan menculik calon pengantin perempuan dan dibawa ke rumah keluarganya. Tradisi ini disebut sebagai memari.

Adapun perhitungan jumlah mahar pada masyarakat Sasak disesuaikan dengan jarak dari rumah keluarga perempuan ke keluarga laki-laki. Misalnya, berapa jembatan atau berapa masjid yang dilewati.

Sehingga bagi pasangan pengantin yang berdomisili di kampung yang sama biaya maharnya lebih murah, yaitu Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Sedangkan pasangan yang berbeda kampung atau kota biaya maharnya bisa mencapai puluhan juta, tergantung jarak. Proses tawar menawar mahar ini pun melibatkan banyak pihak seperti pejabat desa atau kepala desa.

Selain jarak, perbedaan kasta atau status keturunan juga menentukan besarnya mahar. Jika pasangan berasal dari kasta berbeda, maka lebih mahal lagi maharnya.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Berburu Paus dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur

Published

on

Tradisi Berburu Paus dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur

Gencil News- Bulan Mei hingga November adalah rentang waktu bagi para nelayan dari pulau lembata, Nusa Tenggara Timur, untuk berburu paus.

Bagi masyarakat desa Pulau lembata, tradisi berburu paus adalah kegiatan yang sudah turun temurun selama ratusan tahun.

Tradisi tersebut mereka lakukan ialah untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Akan tetapi, Mereka hanya menangkap paus sperma, bukan jenis paus lain pada area perairan Lamalera.

Mengutip dari Tempo. Biasanya, Para nelayan Lamalera menggunakan peledang atau perahu kayu tradisional tanpa mesin dengan layar dari anyaman daun pandan. Mereka tak menggunakan perahu motor, karena takut baling-baling melukai paus.

Selanjutnya, Paus hasil buruan tersebut akan langsung dibagikan ke semua warga desa sebagai persembahan untuk dinikmati.

Warga Lamalera telah menganggap paus sebagai anugerah Ilahi. Sebab itu, mereka tak gegabah atau berburu untuk komersial. Namun seperlunya, bahkan dalam setahun tidak boleh lebih dari 20 ekor. Itupun, hanya paus tua yang tak produktif.

Mereka tak akan menyerang paus muda atau paus bunting. Mata mereka sudah sangat jeli melihat tanda-tanda paus yang jadi pantangan. Melanggar aturan turun temurun, mereka yakini bakal mendatangkan musibah bagi kampung.

Tradisi Lamalera berlangsung sekitar Mei hingga November, yang merupakan bulan migrasi paus. Mamalia laut itu melintasi Laut Sawu, bermigrasi dari Laut Banda menuju Samudera Indonesia.

Indonesia telah memasukkan paus dan lumba-lumba sebagai satwa yang dilindungi dan terlarang untuk diburu. Namun, pelarangan ini tidak efektif.

Masyarakat Lamalera tetap memburu paus karena kegiatan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lamalera.

Oleh sebab itu, perlu ada kajian kembali bagaimana perburuan paus tradisional bisa dilakukan secara lestari sambil menjamin kebutuhan pangan dari penduduk Lamalera.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING