Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan
Connect with us

Budaya

Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan

Published

on

Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan

Gencil News– Melestarikan budaya adalah salah satu kebiasaan yang perlu generasi berikutnya lestarikan khususnya dalam tatanan budaya lokal.

Selain itu, mengenalkan budaya lokal maupun melestarikannya adalah tugas dari masyarakat majemuk yang beragam di Indonesia.

Salah satunya ialah makan saprahan. Makan saprahan dengan duduk bersila bersama-sama menjadikan silaturahmi semakin akrab.

Ada banyak makna filosofi yang terkandung dalam saprahan. Antara lain, untuk mempererat tali silaturahmi dan tidak ada perbedaan status sosial.

Dalam Makan saprahan semuanya sama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Apalagi sejak saprahan menjadi sebagai warisan budaya tak benda dan budaya kearifan lokal yang Indonesia miliki saat ini.

Makan saprahan merupakan bagian dari adat istiadat budaya Melayu.

Pada prinsipnya tradisi saprahan adalah tradisi adat rumpun Kerajaan Melayu yang masih kental dalam melestarikan budaya Melayu.

Kata Saprahan berasal dari kata “Saprah” yang artinya berhampar makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila diatas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Dalam makan saprahan, semua hidangan makanan tersusun secara teratur pada kain saprah.

Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makaan, kobokan beserta kain serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangannya; nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Terakhir tambahan untuk air putihnya sudah tersedia langsung dari teko.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya

Published

on

Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya
Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya (Foto : hasil tangkap layar dari kanal youtube/ disporapar sambas)

Gencil News- Kain tenun atau songket bagi setiap daerah memiliki makna tersendiri, Salah satunya Songket dari Sambas, Kalimantan Barat.

Songket Sambas merupakan simbol tingginya sebuah perdaban budaya yang masih terjaga. Karena ada filosofi yang terselip pada setiap motif dan coraknya.

Selain itu, Kain tenin ini adalah peninggalan dari kerajaan Sambas dan kain antik yang masyarakat setempat miliki.

Berawal saat memasuki tahun 1960-an saat kerajinan tenun Songket Sambas mengalami banyak sekali perkembangan. 

Tingginya peradaban sebuah budaya ketika songket sambas sebagai pelengkap dalam ritual adat. salah satunya menjadi bagian dari tradisi.

Kain tenun atau Songket sambas masuk dalam tatanan ragam kain pada upacara perkawinan sebagai bentuk seserahan atau hantaran.

Motif yang paling banyak peminatnya ialah motif bunga emas dan pucuk rebung yang mengandung makna semakin tinggi nilainya, semakin terpandang juga pemakainya.

(Foto: Hasil Tangkap Layar Kanal Youtube Disparpora Sambas)

Selanjutnya, Dari semua jenin kain tenun, Tenun Sambas memiliki ciri khas tertentu.

Pertama, Begaya melalu yang melambangkan adanya benang emas dalam tenunannya.

Kedua, Pinggiran kain tenun yang berbeda dari kain tenun lainnya yaitu bewarna outih dan tidak terkena tenunan.

Ketiga, Memiliki dua unsur motif yang berbeda pada kainnya seperti unsur budaya kalimantan barat.

Terakhir, Selalu ada Motif pucuk rebung yang mirip dengan tunas bambu muda berbentuk segetiga memanjang dan lancip.

Meski kain tenun songket Sambas memiliki nilai sejarah, ekonomi, dan budaya yang tinggi, ternyata perkembangan tenun ini cukup mengkhawatirkan .

(Foto: Hasil Tangkap Layar Kanal Youtube Disparpora Sambas)

Kini, Jumlah pengrajin yang semakin sedikit, bahan baku berupa benang mas yang sulit didapat dan relatif mahal serta pendistribusi yang kurang memadai.

Continue Reading

Budaya

Makna Kehidupan dari Tradisi Upacara Minum Teh Jepang

Published

on

Makna Kehidupan dari Tradisi Upacara Minum Teh Jepang

Gencil NewsMakna dari sebuah kehidupan dalam setiap budaya bagi setiap daerah, dan Negara tentu berbeda-beda, salah satunya Jepang.

Jepang adalah salah satu negara Asia yang masih menjalankan sebuah Tradisi upacara minum teh dengan makna yang sangat mendalam.

Ada Filosofi dari sebuah upacara minum teh bagi masyarakat jepang. sebuah ajaran tata krama yang berpegang teguh kepada budaya.

Upacara minum teh (sadō, chadō, jalan teh) adalah sebuah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk kedatang dan kehadiran tamu yang datang dari jauh.

Pada abad ke 9 seorang biksu Budha dari Cina datang ke Jepang dan memperkenalkan budaya ini.

Selanjutnya, Pada abad ke 12, jenis baru dari teh, yaitu matcha, mulai ada. Teh yang terbuat dari bubuk teh hijau ini pertama kali digunakan dalam ritual keagamaan dalam biara Budha.

Ilustrasi : Upacara Minum Teh Jepang

Setelah itu, Para pejuang samurai jepang juga turut mulai meminum teh ini sekaligus membuat dasar-dasar upacara minum teh.

Pada abad ke 16, tradisi minum teh menyebar ke seluruh lapisan masyarakat Jepang.

Dalam upacara khusus minum teh di Jepang, harus ada orang yang secara khusus mendalami seni upacara minum teh atau Chanoyu.

Untuk dapat menjadi ahli Chanoyu, haruslah mempunyai pengetahuan mendalam tentang tipe teh, kimono, kaligrafi Jepang, ikebana, dan berbagai pengetahuan tradisional lain.

Upacara minum teh di Jepang banyak mengandung makna kehidupan dalam bermasyarakat dan berbudaya.

Continue Reading

Budaya

Berpuasa di Alaska, Warga Muslim Indonesia Ikuti Waktu Makkah

Diaspora Muslim Indonesia, Dewi Loges dan Saraswati Yogyaningtyas, yang tinggal di Alaska, AS, berpuasa dengan mengikuti waktu Makkah, sesuai dengan ketetapan masjid setempat. Hal ini disebabkan oleh iklim Alaska yang ekstrem, yang menjadi tantangan saat berpuasa.

Published

on

Berpuasa di Alaska, Warga Muslim Indonesia Ikuti Waktu Makkah

GENCIL NEWS – VOA –Negara bagian Alaska di Amerika Serikat terletak di bagian utara benua Amerika. Pada musim panas, Alaska mengalami waktu siang yang sangat panjang, mencapai 20 jam, dan waktu malam yang hanya beberapa jam. Sebaliknya pada musim dingin, waktu malam sangat panjang, sedangkan waktu siang hanya beberapa jam.

Iklim Alaska yang ekstrem menjadi tantangan bagi diaspora Muslim Indonesia dalam beribadah, khususnya ketika menjalankan puasa Ramadan.

“Puasa terasa unik di (Alaska) pada saat musim panas, karena ketika berbuka matahari masih ada. Sahur pun matahari masih ada,” ujar Saraswati Yogyantiningtyas (Saras), warga Indonesia di Alaska, kepada VOA belum lama ini.

Saras pertama kali datang ke Anchorage, Alaska, pada tahun 2012. Pada waktu itu ia tinggal dan bekerja di daerah Prudhoe Bay, yang terletak di bagian pelosok Alaska.

“Saat puasa mengikuti waktu Alaska, saya jujur tidak sanggup puasa setiap hari. Saat berbuka jam 11 malam dan sahur jam 2 pagi,” ujar Saras.

Mengingat ada masalah kesehatan, pada waktu itu Saras “hanya bisa puasa setiap dua hari sekali.”

Sama halnya seperti Saras, pada waktu pertama kali menginjakkan kaki di Anchorage, sekitar sepuluh tahun lalu, warga Indonesia, Dewi Loges, menjalankan puasa dengan mengikuti waktu Alaska, yang mencapai sekitar 17-20 jam sehari.

“Dan itu sangat susah sekali ya. Waktu salat juga kadang-kadang Isya-nya itu sangat lama. Maksudnya, jauh waktunya. Mungkin jam 11, jam 12, dan itu sulit,” ujar perempuan yang sudah bermukim di Amerika Serikat selama 20 tahun ini kepada VOA.

Mengikuti Jadwal Makkah

Situs organisasi Assembly of Muslim Jurists of America (AMJA) yang didirikan untuk menanggapi kebutuhan yurisprudensi Islam sesuai dengan standar akademik bagi umat Islam di Barat menyebutkan:

“Apabila tidak ada perbedaan waktu atau terdapat jeda yang terlalu pendek yang menyebabkan seseorang tidak memiliki waktu untuk berbuka puasa, ia harus memperkirakan (waktu) puasanya dengan lokasi (negara) yang terdekat (dengan tempat tinggalnya) atau sesuai dengan waktu puasa di Makkah.”

Ustadz Fahmi Zubir, di Imaam Center, Silver Spring, Maryland. (Foto: VOA/Videograb)
Ustadz Fahmi Zubir, di Imaam Center, Silver Spring, Maryland. (Foto: VOA/Videograb)

Fahmi Zubir Zakaria, imam masjid komunitas Indonesia, IMAAM Center, di Silver Spring, Maryland mengatakan, ketetapan jadwal salat atau puasa biasanya sudah ditetapkan oleh para ulama.

“Biasanya mereka ada forum ulamanya. Kayak kita di (Amerika) kan ada FCNA (Fiqh Council of North America/Badan Ulama Islam AS dan Kanada) atau AMJA di Amerika ini. Rata-rata banyak mengacu ke sana,” jelas Ustadz Fahmi Zubir Zakaria kepada VOA.

“Jadi sebenarnya, di situ tergantung ulama yang menentukan ya, karena berbeda-beda ulama,” tambahnya.

Ustadz Fahmi menambahkan, jika sudah mengikuti fatwa yang dikeluarkan oleh masjid atau ulama, harus istiqamah.

“Kalau mengambil fatwa yang ini, semuanya harus diikuti,” katanya lagi.

Awalnya, Saras yang bekerja di sebuah organisasi nirlaba di Alaska mengaku tidak tahu akan peraturan tersebut. Namun, kini ia berpuasa dengan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan oleh masjid di Alaska, the Islamic Community Center of Anchorage, yang mengikuti waktu Makkah.

“Waktu itu belum tahu kalau untuk tempat yang ekstrem seperti Alaska, bisa diberi kemudahan mengikuti jadwal Makkah,” kata Saras.

“Sejak mengikuti waktu Makkah, tantangannya tidak terlalu berat,” tambahnya.

Warga Indonesia, Dewi Loges, bersama ketiga anaknya di Anchorage, Alaska (dok: Dewi Loges)
Warga Indonesia, Dewi Loges, bersama ketiga anaknya di Anchorage, Alaska (dok: Dewi Loges)

Dewi, ibu rumah tangga, kini juga beribadah mengikuti waktu Makkah, sesuai ketetapan masjid di Alaska.

“Masjid setempat itu mengikuti waktu Makkah. Warga Muslim di Alaska mengikuti salat waktu Makkah. Sekarang ini puasa dimulai jam 4:30 dan buka itu jam 6:45,” kata Ibu dari tiga anak ini.

Perempuan asal Serang, Banten, ini mengaku mengetahui tentang peraturan ini tanpa sengaja. Ketika itu ia secara kebetulan bertemu warga Indonesia di sebuah restoran.

“Waktu pertama kali datang ke (Alaska), belum mengenal ada masjid. Belum mengenal ada warga Indonesia di (Alaska) juga. Jadi merasa sendiri puasa. Jadi seperti terisolasi,” kenang Dewi.

Dewi menambahkan, di Alaska hanya ada sekitar 20 keluarga yang berasal dari Indonesia.

“Kalau yang Muslim mungkin 12 keluarga,” tambahnya.

Ramadan di Tengah Pandemi “Terasa Berbeda”

Sebelum pandemi, Dewi kerap berbuka puasa bersama warga Muslim Indonesia di Alaska atau beribadah dan berbuka puasa di masjid setempat.

Warga Indonesia, Dewi Loges, bersama keluarganya di Anchorage, Alaska (dok: Dewi Loges)
Warga Indonesia, Dewi Loges, bersama keluarganya di Anchorage, Alaska (dok: Dewi Loges)

Jika tahun lalu masjid-masjid di Amerika Serikat banyak yang tutup, kini masjid-masjid sudah mulai dibuka dengan pembatasan sosial yang sesuai dengan protokol kesehatan pandemi.

“Sekarang sudah mulai dibuka, tapi belum ada buka bersama. Biasanya saya suka ikut buka bersama dan salat Magrib. Tapi sekarang ini belum ada. Hanya ada Tarawih bersama dan itu setelah jam 9. Jadi saya belum pernah ke sana,” kata Dewi.

Bagi Saras, menjalankan ibadah bulan Ramadan di tengah pandemi “terasa berbeda, karena harus membatasi interaksi dengan orang banyak.”

Ajarkan Anak Puasa di AS

Tinggal di negara yang mayoritas penduduknya non-muslim cukup menantang bagi Dewi dalam mengajarkan agama Islam kepada ketiga anaknya. Berbagai usaha ia lakukan, salah satunya dengan memasukkan kedua anaknya, usia 5 dan 8 tahun, ke sekolah yang mengajarkan agama Islam setiap hari Minggu. Sayangnya, sekolah Minggu kini tengah ditiadakan terkait pandemi.

“Walaupun Alhamdulillah di sini ada sekolah (Minggu), orang tua yang harus benar-benar memberikan motivasi, memberikan pelajaran,” jelasnya.

Gerald (kanan) dan adiknya mengikuti sekolah Minggu untuk belajar agama Islam di Alaska (dok: Dewi Loges)
Gerald (kanan) dan adiknya mengikuti sekolah Minggu untuk belajar agama Islam di Alaska (dok: Dewi Loges)

Dewi pun kerap mengajarkan Gerald, puteranya yang tertua, mengaji di rumah. Ia juga tengah melatih Gerald berpuasa, sambil memberikan pengertian mengenai puasa dan manfaatnya.

“Masih latihan, hanya setengah hari. Dan itu pun kadang-kadang hanya pas weekend, karena mereka sudah masuk sekolah dan (cuaca) masih dingin, jadi mereka belum puasa,” jelasnya.

Saat mencoba berpuasa, Gerald mengatakan dirinya “selalu merasa lapar.”

“Mungkin kalau aku sudah lebih besar, tidak akan begitu merasa lapar dan aku bisa puasa,” ujar Gerald.

Menurut Gerald, berpuasa itu bagaikan (missing word: mendapat?) perlindungan dari Allah dan membantu kita agar lebih peka terhadap orang-orang yang tidak memiliki makanan sama sekali.

Motivasi Diri Dekat Dengan Tuhan

Suasana Ramadan di Amerika memang tidak marak seperti di Indonesia.

Karena itu, menurut Dewi, ia perlu memotivasi dirinya agar bisa menjadi diri yang lebih baik dan dekat dengan Tuhan.

“Sebenarnya banyak cara untuk memotivasi diri di (Amerika) dan mungkin dengan ikutan acara-acara keagamaan. Dan saya baru tahu juga kalau di Amerika juga banyak acara-acara keagamaan yang bisa diikuti,” ujarnya.

Seperti halnya Dewi, Saras berharap Ramadan kali ini bisa membuatnya menjadi

Berdasarkan informasi yang dilansir situs Fiqh Council of North America, badan ulama Islam yang diakui di Amerika Serikat dan Kanada, Idul Fitri di Amerika jatuh pada 13 Mei 2021.

Continue Reading

Budaya

Mengenal “Betangas” Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Published

on

Mengenal "Betangas" Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Gencil News- Keberagaman budaya dan tradisi Indonesia sangatlah unik dan menarik, Salah satunya “Betangas” mandi uap hasil rebusan bahan rempah.

Tradisi ini berlaku bagi masyarakat Melayu pada beberapa wilayah bagian Indonesia. Termasuk juga Kalimantan Barat.

Betangas merupakan bagian dari proses tradisi pernikahan yang calon mempelai perempuan dan pria lakukan pada langkah awal.

Selain itu, sebagai ungkapan rasa syukur untuk melestarikan identitas budaya lokal serta penghormatan terhadap leluhur.

Prosesi Betangas pada umumnya terjadi tiga hari sebelum hari pernikahan dengan merebus segala macam rempah sebagai campuran untuk mandi uap.

Selanjutnya, calon mempelai perempuan atau lelaki akan duduk diantara uap rempah yang sudah direbus tersebut sambil ditutup tikar yang melengkung pada semua sisi badan.

Rempah-rempah tersebut terdiri dari akar jawe, pucok ganti, mesuik, kelabat, daun nilam, daun pandan, dan serai wangi.

Kemudian setelah calon mempelai terbungkus tikar pandan yang sudah tergulung tersebut, maka Bagian atasnya langsung tutup dengan beberapa lapis kain.

Keseluruhan badan harus terbungkus rapat untuk memberikan hasil yang maksimal.

Konon menurut para tetua yang biasa memimpin ritual betangas mengatakan selain memberikan aroma wangi pada tubuh, prosesi ini juga untuk membuang sial.

Karena tradisi tersebut adalah prosesi awal untuk menginjak acara pernikahan.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING