Lukisan Kardus dan Es Teh Jadi Juara Lomba Dua Dekade Demokrat
Connect with us

Budaya

Lukisan Kardus dan Es Teh Jadi Juara Lomba Dua Dekade Demokrat

Published

on

Lukisan Kardus dan Es Teh Jadi Juara Lomba Dua Dekade Demokrat

Gencil News – Lukisan yang menghadirkan kardus dan es teh menjadi juara lomba lukis yang diadakan oleh Partai Demokrat. Ronie Arief Ariyanto, pelukis asal Salatiga Jawa Tengah menjadi juara dan membawa pulang hadiah berupa uang tunai, Rp7 Juta.

Panitia lomba melukis dalam rangka dua dekade Partai Demokrat mengumumkan para pemenang.

Pengumuman hasil lomba lukis dua dekade Partai Demokrat, bertepatan dengan ulang tahun ke 20, Partai besutan dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ronie Arief Ariyanto, pelukis asal Salatiga Jawa Tengah membawa lukisan dengan teknik tiga dimensi. Lukisannya sangat kuat dalam membangun narasi simbolis tentang bagaimana semestinya Partai dengan logo bintang mercy ini berkoalisi dengan rakyat Indonesia.

Ronie menggambarkan rakyat dengan simbol kardus yang ditempelkan pada sebuah tembok biru, dengan perekat sebuah stiker bertuliskan kata S14P yang menjadi representasi Partai Demokrat.

Di tengah-tengah gambar ada sebuah ornament es teh manis mengelantung dengan tali tersambung pada tembok biru.

Es teh tersebut konon menggambarkan sebuah harapan dalam dunia politik yang semestinya menyegarkan.

Lukisan ini awalnya mengejutkan panitia, semua yang melihat untuk pertama kalinya akan menyangka bahwa karya tersebut bukan lukisan.

Tak terkecuali koordinator lomba lukis dan karikatur yang juga Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat, Siti Nur Azizah Ma’ruf.

“Awalnya saya mengira dia bercanda. Masak lomba lukis malah mengirim foto kardus. Karya tersebut benar-benar tidak menyerupai sebuah lukisan, malah seperti foto yang konyol dan menganggu. Rupanya selain teknik sang pelukis yang luar biasa sehingga bisa menipu mata kita, lukisan tersebut juga sarat makna. Akhirnya setelah panitia memastikan bahwa karya tersebut memang lukisan asli 100%, dan setelah membaca deskripsi yang dibuat sang pelukis, panitia malah memenangkanya menjadi juara 1,” ungkap Azizah.

Azizah juga menyampaikan, animo masyarakat tinggi untuk mengikuti kegiatan lomba yang diadakan Partai yang berlambang mecy tersebut.

“Animo publik untuk mengikuti lomba kali ini luar biasa, hanya sedikit provinsi yang tidak mengirimkan wakilnya. Namun dikarenakan waktu penyelenggaraan sangat sempit, menyebabkan ada beberapa proses yang kurang sempurna. Meskipun begitu, momentum ini diharapkan dapat menyadarkan kita bahwa potensi seni rupa di Indonesia itu luar biasa. Demokrat harus berada di sana mendukungnya. Demokrat wajib membersamai komunitas ekonomi kreatif Indonesia. Ingat, Pak SBY itu seniman, jadi partainya juga wajib pro seniman”, ungkap Puteri dari KH Ma’ruf Amin ini bersemangat.

Untuk menunjukan dukungan kepada para seniman di Indonesia, Siti Nur Azizah Ma’ruf atau bisa disapa SNA meluncurkan platform digital untuk seniman di Indonesia dengan nama deGaleri.com.

Dalam waktu singkat platform berhasil menarik kunjungan puluhan ribu netizen. Tak heran saat panitia lomba membuat “vote” untuk lukisan dan karikatur terfavorit, platform ini langsung dibanjiri ribuan orang.

“Saya berharap setiap daerah bisa menyelenggarakan kegiatan seperti ini secara lebih baik. Ingat, teriakan seniman melalui karya itu lebih nyaring ketimbang teriakan politisi itu sendiri. Partai harus merangkulnya agar Indonesia lebih baik. Jangan bungkam suara seniman Indonesia,” ungkap Azizah.

Artikel sudah tayang di Degaleri.com

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Mengenal “Betangas” Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Published

on

Mengenal "Betangas" Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Gencil News- Keberagaman budaya dan tradisi Indonesia sangatlah unik dan menarik, Salah satunya “Betangas” mandi uap hasil rebusan bahan rempah.

Tradisi ini berlaku bagi masyarakat Melayu pada beberapa wilayah bagian Indonesia. Termasuk juga Kalimantan Barat.

Betangas merupakan bagian dari proses tradisi pernikahan yang calon mempelai perempuan dan pria lakukan pada langkah awal.

Selain itu, sebagai ungkapan rasa syukur untuk melestarikan identitas budaya lokal serta penghormatan terhadap leluhur.

Prosesi Betangas pada umumnya terjadi tiga hari sebelum hari pernikahan dengan merebus segala macam rempah sebagai campuran untuk mandi uap.

Selanjutnya, calon mempelai perempuan atau lelaki akan duduk diantara uap rempah yang sudah direbus tersebut sambil ditutup tikar yang melengkung pada semua sisi badan.

Rempah-rempah tersebut terdiri dari akar jawe, pucok ganti, mesuik, kelabat, daun nilam, daun pandan, dan serai wangi.

Kemudian setelah calon mempelai terbungkus tikar pandan yang sudah tergulung tersebut, maka Bagian atasnya langsung tutup dengan beberapa lapis kain.

Keseluruhan badan harus terbungkus rapat untuk memberikan hasil yang maksimal.

Konon menurut para tetua yang biasa memimpin ritual betangas mengatakan selain memberikan aroma wangi pada tubuh, prosesi ini juga untuk membuang sial.

Karena tradisi tersebut adalah prosesi awal untuk menginjak acara pernikahan.

Continue Reading

Budaya

Alya Lawindo Guru Ngaji, Promosikan Budaya Minang di AS

Published

on

Alya Lawindo Guru Ngaji, Promosikan Budaya Minang di AS
“we have license from copy right owner because we are voa’s ( Voice of America) affiliates under official contract”

Terinspirasi ibunya, Alya Lawindo habiskan sebagian dari hari Minggunya mengajar ngaji ke anak-anak di komunitas muslim Indonesia di AS. Selain itu, Alya juga menyibukkan diri dengan aktif mempromosikan budaya Minang di Amerika Serikat bersama orang tuanya – bahkan sejak usia 6 tahun.

“we have license from copy right owner because we are voa’s ( Voice of America) affiliates under official contract”

Continue Reading

Budaya

Makna Mendalam dari Tradisi Wor dalam Budaya Suku Biak

Published

on

Makna Mendalam dari Tradisi Wor dalam Budaya Suku Biak

Gencil News– Makna mendalam dari sebuah kebudayaan adalah sebuah tradisi atau hubungan kekerabatan dan ke-eratan yang mendalam.

Suku Biak merupakan salah satu suku dari ratusan suku adat yang tersebar dari berbagai daerah yang ada di Papua.

Salah satu tradisi dan budaya yang masih melekat pada kepercayaan tradisional orang Biak adalah Wor.

Wor memiliki arti harfiah sebagai upacara adat yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan sosial dan kehidupan religi Suku Biak.

Wor adalah sebuah upacara untuk memohon, mengundang, atau meminta perlindungan dari penguasa alam semesta dalam kepercayaan masyarakat Biak.

Hal ini berhubungan dengan falsafah hidup orang Biak, “Nggo wor baindo na nggo mar,” yang artinya “Tanpa upacara adat, kami akan mati”.

Maka dari itu, upacara adat begitu pentingnya bagi masyarakat Suku Biak.

Tradisi Wor dilakukan dalam lingkaran hidup orang Biak, yaitu untuk mengiringi pertumbuhan anak mulai dari dalam kandungan, lahir, hingga masa tua sampa kematian.

Mengutip dari Wikipedia, Tradisi Wor dapat juga disebut sebagai agama. Wor memiliki dua definisi. Pertama, sebagai upacara adat.

Kedua, sebagai nyanyian adat. Secara simbolis, Wor mengandung makna yang di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya dan berfungsi mengatur hubungan mereka dengan Sang Pencipta, antar sesama dan lingkungan alam tempat di mana mereka berada.

Tradisi Wor merupakan bagian dari pemujaan terhadap penguasa tertinggi. Suku Biak percaya adanya penguasa tertinggi di dunia ini yakni:

  1. Nanggi, penguasa langit atau sorga.
  2. Mansren Manggundi, penguasa tunggal.
  3. Karwar, roh orang mati atau roh leluhur.
  4. Dabyor, roh halus yang menguasai gunung, batu besar, sungai, tanjung dan lainnya.
  5. Arbur, roh halus yang mendiami pepohonan.
  6. Faknik, roh halus yang mendiami lautan.

Dalam bentuk upacara, tradisi ini merupakan upacara sakral karena dianggap berfungsi melindungi seseorang dalam siklus hidupnya.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Meruncingkan Gigi Bagi Kaum Perempuan pada Suku Mentawai

Published

on

Tradisi Meruncingkan Gigi Bagi Kaum Perempuan pada Suku Mentawai

Gencil News– Meruncingkan gigi suku mentawai? Definisi Kecantikan bagi setiap orang akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Mungkin sama halnya bagi Suku Mentawai.

Meruncingkan gigi bagi suku mentawai khusus kaum perempuannya juga memiliki makna yang berbeda dan mendalam secara pandangan budaya.

Tradisi meruncingkan gigi bagi kaum perempuan Suku Mentawai adalah tanda dari keelokan yang paripurna.

Selain itu, Masyarakat adat juga percaya bahwa wanita yang cantik paripurna ialah perempuan dengan gigi yang runcing.

Biasanya saat memasuki umur remaja, semua perempuan Mentawai bakal mengkikir giginya hingga runcing.

Proses adat tradisi ini hanya bisa ketua adat Suku Mentawai yang lakukan.

Gigi runcing ini bermakna sebagai simbol penyelaras jiwa dan roh mahkluk sampai-sampai akan terhindar dari marabahaya.

Jika mereka tidak menyukai penampilan fisik mereka, mereka akan mendapatkan penyakit. Oleh karena itu, para wanita dewasa Mentawai harus meruncingkan giginya sehingga mereka merasa cantik dan jiwa mereka selalu panjang umur serta bahagia.

Namun, Seiring berjalannya waktu kebiasaan unik ini perlahan sudah mulai pudar karena dampak budaya luar yang mulai masuk ke wilayah Mentawai.

Di samping itu, pertumbuhan teknologi dan pengetahuan yang semakin maju pun mempengaruhi pola pikir masyarakat Mentawai terutama lebih berhati-hati dalam mengawal kesehatan gigi.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING