Mengenal Lebih Dekat dengan Masyarakat Dayak – Gencil News
Connect with us

Budaya

Mengenal Lebih Dekat dengan Masyarakat Dayak

Published

on

Mengenal Lebih Dekat dengan Masyarakat Dayak

GENCIL NEWS – Mengenal lebih dekat dengan masyarakat dayak –  Indonesia terdiri dari beragam suku, budaya, dan bahasa.

Ribuan suku yang ada di Indonesia tersebar di seluruh pulau yang ada. Salah satu suku yang dikenal di Indonesia adalah suku Dayak.

Suku ini tersebar di seluruh pulau Kalimantan dan populasinya meliputi 3 (tiga) negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darusalam. Pada kesempatan kali ini yang akan lebih berkenalan dengan masyarakat Dayak yang tinggal di wilayah negara Indonesia, tepatnya di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara.

Masyarakat Dayak dibagi menjadi 7 rumpun suku berdasarkan asal daerahnya. Dari ketujuh rumpun tersebut terdapat lebih dari 300 bahasa.

Sejarah Suku Dayak

Mengenai asal usul penyebutan suku Dayak sampai hari ini masih banyak pendapat yang disampaikan. Ada yang berpendapat Dayak berasal dari kata Daya dalam bahasa Kenyah yang memiliki arti hulu sungai atau pedalaman.

Disisi lain terdapat dugaan bahwa kata Dayak berasal dari kata aja dalam bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Akan tetapi secara umum orang di Kalimantan menyebut Dayak untuk orang yang tinggal di pedalaman dan jauh dari perkotaan.

Melihat beberapa arti tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa “Dayak” tidak dikhususkan pada satu suku saja, melainkan terdiri dari berbagai macam suku.

Pada mulanya istilah Dayak digunakan untuk penduduk di Kalimantan Barat. Penduduk yang tinggal di Sambas dan Pontianak disebut dengan Dayak (orang darat) dan untuk penduduk yang tinggal di Banjarmasin disebut dengan Biaju (dari hulu).

Orang asli masyarakat Dayak menganut aliran kepercayaan. Masyarakat Dayak percaya kepada dewa-dewa, makhluk-makhluk halus, batu, jimat, dan lain sebagainya. Hingga pada awal abad ke 20 mereka baru mengenal agama samawi misalnya Islam, Kristen, dan Katolik.

Rumpun Masyarakat Dayak

Sebutan rumpun dan nama keluarga suku Dayak berhubungan dengan sungai. Sudah disebutkan di atas rumpun masyarakat Dayak dibedakan menjadi 7 rumpun.

1. Dayak Ngaju (Biaju)
Masyarakat Dayak yang tinggal di hulu sungai Kapuas, Kahayan, Barito dikenal dengan Dayak Ngaju. Lebih tepatnya Dayak Ngaju berada di provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

2. Dayak Apo Kayan
Suku Dayak Apo Kayan tersebar di Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Barat. Suku ini berada di hulu sungai kayan dan dataran tinggi Usun Apau.

3. Dayak Iban/Laut
Dayak Iban atau Dayak laut tinggal di daerah utara kalimantan. Sebagian besar Dayak Iban berada di daerah Malaysia.

4. Dayak Klemantan/Darat
Suku ini tinggal di hulu-hulu sungai yang berada di Provinsi Kalimantan Barat.

5. Dayak Murut
Rumpun Dayak yang tinggal di dataran tinggi pulau Kalimantan dikenal dengan Dayak Murut. Di Indonesia rumpun suku ini tingal di Provinsi Kalimantan Tmur dan Kalimantan Utara.

6. Dayak Punan
Di Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat kita dapat menjumpai rumpun Dayak Punan. Masyarakat Dayak yang masuk dalam suku Dayak Punan percaya bahwa mereka adalah keturunan dari keluarga kerajaan Cina. Saat Cina mengalami kekalahan perang, mereka mengamankan diri sampai di pulau Kalimantan dan mereka hidup dengan damai disana.

Akan tetapi trauma perang sangat menghantui masyarakat Dayak Punan. Leluhur dari suku Punan melarang anggota Suku Punan untuk berinteraksi dengan masyarakat luar. Hal inilah yang menyebabkan Suku Dayak Punan menjadi suku paling primitif dibandingkan suku Dayak lainnya.

7. Dayak Ot Danum
Rumpun yang terakhir ini disebut juga dengan rumpun Barito. Kita dapat menemukan masyarakat Dayak Ot Danum di Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kaimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Bahasa Masyarakat Dayak

Dari ketujuh rumpun tersebut terdapat beberapa sub suku yang ada di masayarakat Dayak. Banyak pendapat yang menyebutkan bahwa bahasa Austronesia merupakan rumpun bahasa yang berada di Kalimantan. Bahasa Austronesia masuk melalui Kalimantan bagian Utara kemudian menyebar ke seluruh wilayah di Kalimantan.

Rumpun bahasa tersebut kemudian mengalam perkembangan seiring dengan masuknya budaya dari luar misalnya Melayu, Cina, dan India. Perbedaan letak geografis di Kalimantan menyebabkan dialek di pulau Borneo ini menjadi lebih beragam.

Hal inilah yang menyebabkan banyaknya bahasa di masyarakat Dayak. Meskipun satu rumpun tetapi dapat memiliki ragam bahasa yang berbeda. Ot Danum menjadi bahasa pertama masyarakat Dayak, sedangkan bahasa yang biasanya digunakan dalam berbagai upacara adat adalah bahasa sangiang.

Hubungan Kekerabatan

Ambilineal adalah sisitem hubungan kekerabatan dalam masyarakat Dayak. Secara istilah hubungan kekerabatan ambilineal merupakan sistem kekerabatan yang menghitung hubungan masyarakat melalui laki-laki dan sebagian perempuan.

Upacara Adat

1. Perkawinan
Masyarakat Dayak cukup terbuka dalam masalah perkawinan, maksudnya mempelai laki-laki tidak harus berasal dari suku Dayak asalkan laki-laki tersebut tunduk dengan budaya dan adat istiadat Dayak maka seorang gadis Dayak dapat menikah dengannya. Perkawinan antara saudara sepupu dari kakek yang merupakan saudara sekandung dianggap sebagai sebuah perkawinan ideal dalam masyarakat Dayak.

Tahap yang perlu dilalui untuk dapat melangsungkan pernikahan di kalangan masyarakat Dayak.

Mempelai laki-laki membawa hantaran kepada calon mempelai perempuan. Sebelum menemi calon mempelai perempuan, laki-laki tersebut harus menerahkan barang jalan adat (mas kawin). Sebelum sah secara adat, kedua mempelai harus menandatangani surat perjanjan menikah yang disaksikan oleh orang tua kedua belah pihak.

2. Kelahiran
Memukul kelentang dan gendang dalam nada domaq (nada khusus) merupakan tradisi yang dilakukan dalam menyambut kelahiran. Setelah bayi lahir kemudian dimandikan, bayi akan dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang dilapisi daun biruq (bawah) dan saun pisang (atas). Langkah selanjutnya dibawa ke setiap sudut ruangan. Setelah bayi berusia 40 hari dilakukan upacara Ngareu Pusokng selama dua hari. Upacara ini akan mengawali bayi boleh dimasukkan ke dalam ayunan. Upacara pemandian atau bayi dibawa untuk mandi pertama kali ke sungai pada saat bayi berumur sebelum 2 tahun.

3. Kematian
Hukum adat di Dayak mengatur dengan tegas mengenai upacara kematian di kalangan masyarakat Dayak. Prosesi penguburan senantiasa mengalami perkembangan kebudayaan pertama penguburan tanpa wadah dan bekal dengan kerangka dilipat, kemudian mengenal budaya penguburan dalam peti batu, dan budaya yang terakhir berkembang adalah penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu atau tikar. Dalam masyarakat Dayak terdapat tiga cara penguburan, yaitu:
a. Dikubur dalam tanah
b. Diletakkan di pohon besar
c. Dikremasi dalam upacara tiwah

Makanan Khas

Membicarakan mengenai budaya dan adat istiadat suatu masyarakat tidak lengkap tanpa membahas makanan khas.

1. Kalumpe/Karuang
Bahan dasar dari kalumpe atau karuang adalah daun singkong. Bersama dengan terong kecil dan bumbu daun singkong ditumbuk sampai halus. Menikmati kalumpe saat panas ditemani dengan terasi pedas dan ikan asin sungguh sangat menggoda selera.

2. Wadi
Bagi muslim perlu menayakan terlebih dahulu bahan yang digunakan untuk membuat wadi ini. Bahan utama pembuat wadi adalah ikan dan daging babi. Ikan dan dagung dilumuri dengan bumbu yang berupa bubuk dari sangrai ketan putih dan jagung berwarna kecoklatan. Setelah itu ikan atau daging dibiarkan sampai “busuk”.

3. Juhu Singkah/Umbut Rotan
Makanan jenis ini banyak dijumpai di kalangan masyarakat Dayak yang tinggal di Provinsi Kalimantan Tengah. Makanan khas ini merupakan rotan muda yang dapat dengan mudah ditemukan di dalam hutan.

Mata Pencaharian

Masyarakat Dayak dikenal sebagai sebagai sebuah suku yang dapat berdampingan dengan hutan. Hal ini tercermin dari mata pencaharian masyarakat Dayak. Selama berabad-abad masyarakat Dayak telah melakukan berburu, berladang, berkebun, dan kegiatan lainnya yang dekat dengan hutan.

Demikian gambaran singkat sebagai panduan Anda mengenal lebih dekat masyarakat Dayak. Semoga dengan tulisan in ketika berkunjung di masyarakat Dayak sudah dapat dijadikan refrensi awal.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan

Published

on

Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan

Gencil News– Melestarikan budaya adalah salah satu kebiasaan yang perlu generasi berikutnya lestarikan khususnya dalam tatanan budaya lokal.

Selain itu, mengenalkan budaya lokal maupun melestarikannya adalah tugas dari masyarakat majemuk yang beragam di Indonesia.

Salah satunya ialah makan saprahan. Makan saprahan dengan duduk bersila bersama-sama menjadikan silaturahmi semakin akrab.

Ada banyak makna filosofi yang terkandung dalam saprahan. Antara lain, untuk mempererat tali silaturahmi dan tidak ada perbedaan status sosial.

Dalam Makan saprahan semuanya sama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Apalagi sejak saprahan menjadi sebagai warisan budaya tak benda dan budaya kearifan lokal yang Indonesia miliki saat ini.

Makan saprahan merupakan bagian dari adat istiadat budaya Melayu.

Pada prinsipnya tradisi saprahan adalah tradisi adat rumpun Kerajaan Melayu yang masih kental dalam melestarikan budaya Melayu.

Kata Saprahan berasal dari kata “Saprah” yang artinya berhampar makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila diatas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Dalam makan saprahan, semua hidangan makanan tersusun secara teratur pada kain saprah.

Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makaan, kobokan beserta kain serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangannya; nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Terakhir tambahan untuk air putihnya sudah tersedia langsung dari teko.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Meruncingkan Gigi Bagi Kaum Perempuan pada Suku Mentawai

Published

on

Tradisi Meruncingkan Gigi Bagi Kaum Perempuan pada Suku Mentawai

Gencil News– Meruncingkan gigi suku mentawai? Definisi Kecantikan bagi setiap orang akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Mungkin sama halnya bagi Suku Mentawai.

Meruncingkan gigi bagi suku mentawai khusus kaum perempuannya juga memiliki makna yang berbeda dan mendalam secara pandangan budaya.

Tradisi meruncingkan gigi bagi kaum perempuan Suku Mentawai adalah tanda dari keelokan yang paripurna.

Selain itu, Masyarakat adat juga percaya bahwa wanita yang cantik paripurna ialah perempuan dengan gigi yang runcing.

Biasanya saat memasuki umur remaja, semua perempuan Mentawai bakal mengkikir giginya hingga runcing.

Proses adat tradisi ini hanya bisa ketua adat Suku Mentawai yang lakukan.

Gigi runcing ini bermakna sebagai simbol penyelaras jiwa dan roh mahkluk sampai-sampai akan terhindar dari marabahaya.

Jika mereka tidak menyukai penampilan fisik mereka, mereka akan mendapatkan penyakit. Oleh karena itu, para wanita dewasa Mentawai harus meruncingkan giginya sehingga mereka merasa cantik dan jiwa mereka selalu panjang umur serta bahagia.

Namun, Seiring berjalannya waktu kebiasaan unik ini perlahan sudah mulai pudar karena dampak budaya luar yang mulai masuk ke wilayah Mentawai.

Di samping itu, pertumbuhan teknologi dan pengetahuan yang semakin maju pun mempengaruhi pola pikir masyarakat Mentawai terutama lebih berhati-hati dalam mengawal kesehatan gigi.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Pōwhiri Upacara Penyambutan Suku Māori

Published

on

Tradisi Pōwhiri Upacara Penyambutan Suku Māori

Gencil News– Tradisi Pōwhiri atau Upacara Penyambutan Suku Māori adalah penyambutan istimewa kepada tamu istimewa yang baru saja tiba.

Pōwhiri biasanya akan bermula dari luar marae marae dengan wero (tantangan) tradisi penyambutan ini terbilang unik dan menarik.

Pertama, Seorang satria dari tangata whenua (tuan rumah) akan menantang manuhiri (tamu),untuk memastikan apakah mereka kawan atau lawan.

Selanjutnya, Ia akan menaruh benda penanda berupa dahan kecil pengunjung ambil sebagai tanda bahwa mereka datang dalam damai.

Suku Māori (Foto : Nativo de nueva zelanda)

Setelah itu, akan datang seorang wanita lebih tua dari pihak tuan rumah dan melakukan seruan kepada manuhiri.

Awal untuk masuk beranjak ke marae secara bersama-sama dengan pihak penyambut dan tamu yang datang semua upacara berlangsung secara hening.

Berikutnya, Setelah mencapai tanah marae dan berada dalam rumah leluhur utama, para tamu dan tuan rumah mengambil tempat duduknya masing-masing, saling berhadapan.

Lalu, akan dimulai dengan pidato ucapan terimakasih atas penyambutan yang istimewa.

Untuk mengakhiri tata krama formal, pengunjung dan tuan rumah saling menyapa dengan hongi – upacara bersentuhan hidung.

Terakhir, setelah pōwhiri, maka akan berlanjut dengan menyantap makan bersama sesuai tradisi manaakitanga atau keramahtamahan Māori.

 Māori pōwhiri terkenal karena intensitasnya, tradisi yang kaya dan yang paling penting keramahannya.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Pasola Suku Sumba dari Nusa Tenggara Timur

Published

on

Tradisi Pasola Suku Sumba dari Nusa Tenggara Timur
Tradisi Pasola, Sumba (Foto: 01 Island)

Gencil News– Mengenal keindahan budaya dan keberagaman tradisi pasola dari Suku Sumba, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Tradisi Pasola adalah Sebuah permainan ketangkasan dengan saling melempar lembing yang terbuat dari kayu.

Selanjutnya, Penamaan Pasola berasal dari kata “Sola” dengan imbuhan “Pa”.

Sola adalah pengertian dari sejenis lembing kayu untuk saling melempar dari atas kuda oleh dua kelompok yang berlawanan.

Sementara itu, imbuhan “Pa” menekankan bahwa ini adalah sebuah permainan.

Tradisi Pasola ( Foto: Wikipedia)

Lebih lanjut, Tradisi ini biasanya akan terlaksana pada bulan Februari atau Maret, namun tanggal pastinya yang menentukan ialah seorang Rato (tokoh adat).

Pada awalnya Rato memprediksikan keluarnya nyale ketika pagi, kemudian siang hari Majelis Para Rato meneliti bentuk dan warnanya.

Apabila cacing laut tersebut gemuk dan sehat serta berwarna-warni, mereka meyakininya sebagai pertanda baik dan panen pun akan berhasil tahun tersebut.

Sebaliknya, jika nyale yang mereka dapat kurus dan rapuh maka pertanda kurang baik akan muncul.

Tradisi Pasola akan berlangsung dalam rangka merayakan musim panen serta memohon pengampunan dan merupakan kultur religius.

Dalam pelaksanaannya, acara ini akan bermula dengan Upacara Adat Nyale yang merupakan ritual dalam kepercayaan Merapu sebagai bentuk rasa syukur.

Upacara Nyale menandakan kedatangan musim panen dan cacing laut (Nyale) yang melimpah atau keluar di pinggiran pantai.

Setelah serangkaian ritual budaya ini sudah berjalan, maka selanjutnya adalah Pasola akan berlangsung pada bentangan padang yang luas.

Seluruh warga dari kedua kelompok yang bertanding dan masyarakat umum akan hadir dan melihat pertandingan tersebut.

Pasola diikuti oleh lebih dari 100 orang pemuda dari masing-masing kelompok, mereka bersenjatakan tombak berujung tumpul berdiameter 1,5 cm.

Akhirnya, mereka akan bertanding sambil menaiki masing-masing kuda sambil bersenjatakan tombak tumpul tersebut hingga akhir penentuan kalah dan menang.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING