Tradisi Suku Himba yang Mewarnai Kulit dengan Tanah Liat
Connect with us

Budaya

Tradisi Suku Himba yang Mewarnai Kulit dengan Tanah Liat

Published

on

Tradisi Suku Himba yang Mewarnai Kulit dengan Tanah Liat

Gencil News- Tradisi adalah suatu kebudayaan yang menjadi kebiasaan dalam suatu kelompok atau komunitas, contohnya Suku Himba dari Namibia.

Suku Himba yangberasal dari Namibia, Afrika Selatan memiliki kebiasaan mewarnai kulitnya dengan tanah liat untuk perawatan tubuh yang unik.

Perawatan ini bertujuan untuk menjaga diri mereka agar tetap cantik dan menarik dengan memanfaatkan tanah liat merah.

Foto: Tradisi Suku Himba yang Mewarnai Kulit dengan Tanah Liat (Credit oddviser- Women greased their hair with clay)

Bagi Wanita suku Himba mewarnai kulit dengan tanah liat memiliki banyak manfaat dalam kecantikan.

Selain itu, mampu melembabkan kulit, rambut, sekaligus memberikan perlindungan dari sengatan matahari atau serangga.

Penggunaan Tanah liat dan oker merah biasanya mereka sebut Otjize yang biasanya mereka campur dengan tanaman lokal agar timbul aroma yang menyegarkan.

Tradisi ini mereka lakukan hampir setiap hari, tapi biasanya melumuri tanah liat adalah kegiatan para wanita khususnya.

Karena, Kelompok pria suku Himba hanya melumuri Otjize pada rambutnya saja, tidak pada tubuhnya.

Wanita suku Himba meyakini bahwa tubuh mereka akan menjadi lebih bersih tanpa harus mandi. Proses melumuri ini pun tak sembarangan.

Untuk penanda status, yang paling menarik ialah, bagi wanita suku himba jika mereka sudah menikah maka mereka membagi kepangan rambutnya menjadi lebih banyak.

Sedangkan wanita yang belum menikah biasanya hanya membagi kepangan rambutnya menjadi dua.

Warna merah dari Otjize ini melambangkan darah bumi atau simbol kebudayaan dari kehidupan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Mengenal “Betangas” Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Published

on

Mengenal "Betangas" Tradisi Calon Pengantin Menjelang Pernikahan

Gencil News- Keberagaman budaya dan tradisi Indonesia sangatlah unik dan menarik, Salah satunya “Betangas” mandi uap hasil rebusan bahan rempah.

Tradisi ini berlaku bagi masyarakat Melayu pada beberapa wilayah bagian Indonesia. Termasuk juga Kalimantan Barat.

Betangas merupakan bagian dari proses tradisi pernikahan yang calon mempelai perempuan dan pria lakukan pada langkah awal.

Selain itu, sebagai ungkapan rasa syukur untuk melestarikan identitas budaya lokal serta penghormatan terhadap leluhur.

Prosesi Betangas pada umumnya terjadi tiga hari sebelum hari pernikahan dengan merebus segala macam rempah sebagai campuran untuk mandi uap.

Selanjutnya, calon mempelai perempuan atau lelaki akan duduk diantara uap rempah yang sudah direbus tersebut sambil ditutup tikar yang melengkung pada semua sisi badan.

Rempah-rempah tersebut terdiri dari akar jawe, pucok ganti, mesuik, kelabat, daun nilam, daun pandan, dan serai wangi.

Kemudian setelah calon mempelai terbungkus tikar pandan yang sudah tergulung tersebut, maka Bagian atasnya langsung tutup dengan beberapa lapis kain.

Keseluruhan badan harus terbungkus rapat untuk memberikan hasil yang maksimal.

Konon menurut para tetua yang biasa memimpin ritual betangas mengatakan selain memberikan aroma wangi pada tubuh, prosesi ini juga untuk membuang sial.

Karena tradisi tersebut adalah prosesi awal untuk menginjak acara pernikahan.

Continue Reading

Budaya

Noken Tas Unik Dari Jayapura Yang Di Akui Oleh Unesco

Published

on

Noken Tas Unik Dari Jayapura Yang Di Akui Oleh Unesco
Sumber Foto : Itjen Kemendikbud/ Noken

GENCIL NEWS – Noken adalah kreasi buatan tangan khas yang unik dari Jayapura, Sejak 8 tahun lalu Unesco sudah mengakui keberadaan Tas unik ini.

Bahkan wisatawan domestik dan luar negeri sudah sangat mengapresiasi produk khas hasil buatan tangan dari jayapura tersebut.

Selain itu juga, Sejak Januari 2019 Kota Jayapura telah menerapkan larangan penggunaan kantong plastik. sehingga penggunaan plastik sudah tergantikan.

Inilah yang membuat noken semakin tampil ke depan dan menjadi salah satu komoditas kerajinan tangan.

 “Noken merupakan kerajinan tradisional masyarakat Papua berwujud serupa tas bertali yang cara memakainya pada bagian kepala bagian dahi dan terjuntai ke punggung,” ujar Hari Suroto peneliti dari Balai Arkeologi Papua.

Pembuatan Noken melalui rajut dan anyam dari serat pohon atau daun pandan yang kadangkala juga ada tambahan warna bervariasi.

Kegunaan noken kadang tak hanya berfungsi sebatas tas, namun bisa juga menjadi tambahan dalam gaya sehari-hari.

Kerajinan tangan ini merupakan simbol dari kesuburan dan perdamaian bagi masyarakat Papua, khususnya pada daerah pegunungan tengah Papua dan Meepago.

Daerah ini banyak dihuni oleh beberapa suku seperti suku Dani, Yali, Moni, Mek, Lani dan Mee.

Tingkat kesulitan membuat noken cukup tinggi karena memakan waktu yang lama, dan tidak menggunakan bahan tekstil apapun.

Hanya memanfaatkan serat pohon melinjo, pohon nawa, pohon manduam atau anggrek hutan.

Continue Reading

Budaya

Makna Mendalam dari Tradisi Wor dalam Budaya Suku Biak

Published

on

Makna Mendalam dari Tradisi Wor dalam Budaya Suku Biak

Gencil News– Makna mendalam dari sebuah kebudayaan adalah sebuah tradisi atau hubungan kekerabatan dan ke-eratan yang mendalam.

Suku Biak merupakan salah satu suku dari ratusan suku adat yang tersebar dari berbagai daerah yang ada di Papua.

Salah satu tradisi dan budaya yang masih melekat pada kepercayaan tradisional orang Biak adalah Wor.

Wor memiliki arti harfiah sebagai upacara adat yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan sosial dan kehidupan religi Suku Biak.

Wor adalah sebuah upacara untuk memohon, mengundang, atau meminta perlindungan dari penguasa alam semesta dalam kepercayaan masyarakat Biak.

Hal ini berhubungan dengan falsafah hidup orang Biak, “Nggo wor baindo na nggo mar,” yang artinya “Tanpa upacara adat, kami akan mati”.

Maka dari itu, upacara adat begitu pentingnya bagi masyarakat Suku Biak.

Tradisi Wor dilakukan dalam lingkaran hidup orang Biak, yaitu untuk mengiringi pertumbuhan anak mulai dari dalam kandungan, lahir, hingga masa tua sampa kematian.

Mengutip dari Wikipedia, Tradisi Wor dapat juga disebut sebagai agama. Wor memiliki dua definisi. Pertama, sebagai upacara adat.

Kedua, sebagai nyanyian adat. Secara simbolis, Wor mengandung makna yang di dalamnya terkandung nilai-nilai budaya dan berfungsi mengatur hubungan mereka dengan Sang Pencipta, antar sesama dan lingkungan alam tempat di mana mereka berada.

Tradisi Wor merupakan bagian dari pemujaan terhadap penguasa tertinggi. Suku Biak percaya adanya penguasa tertinggi di dunia ini yakni:

  1. Nanggi, penguasa langit atau sorga.
  2. Mansren Manggundi, penguasa tunggal.
  3. Karwar, roh orang mati atau roh leluhur.
  4. Dabyor, roh halus yang menguasai gunung, batu besar, sungai, tanjung dan lainnya.
  5. Arbur, roh halus yang mendiami pepohonan.
  6. Faknik, roh halus yang mendiami lautan.

Dalam bentuk upacara, tradisi ini merupakan upacara sakral karena dianggap berfungsi melindungi seseorang dalam siklus hidupnya.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Berburu Paus dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur

Published

on

Tradisi Berburu Paus dari Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur

Gencil News- Bulan Mei hingga November adalah rentang waktu bagi para nelayan dari pulau lembata, Nusa Tenggara Timur, untuk berburu paus.

Bagi masyarakat desa Pulau lembata, tradisi berburu paus adalah kegiatan yang sudah turun temurun selama ratusan tahun.

Tradisi tersebut mereka lakukan ialah untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Akan tetapi, Mereka hanya menangkap paus sperma, bukan jenis paus lain pada area perairan Lamalera.

Mengutip dari Tempo. Biasanya, Para nelayan Lamalera menggunakan peledang atau perahu kayu tradisional tanpa mesin dengan layar dari anyaman daun pandan. Mereka tak menggunakan perahu motor, karena takut baling-baling melukai paus.

Selanjutnya, Paus hasil buruan tersebut akan langsung dibagikan ke semua warga desa sebagai persembahan untuk dinikmati.

Warga Lamalera telah menganggap paus sebagai anugerah Ilahi. Sebab itu, mereka tak gegabah atau berburu untuk komersial. Namun seperlunya, bahkan dalam setahun tidak boleh lebih dari 20 ekor. Itupun, hanya paus tua yang tak produktif.

Mereka tak akan menyerang paus muda atau paus bunting. Mata mereka sudah sangat jeli melihat tanda-tanda paus yang jadi pantangan. Melanggar aturan turun temurun, mereka yakini bakal mendatangkan musibah bagi kampung.

Tradisi Lamalera berlangsung sekitar Mei hingga November, yang merupakan bulan migrasi paus. Mamalia laut itu melintasi Laut Sawu, bermigrasi dari Laut Banda menuju Samudera Indonesia.

Indonesia telah memasukkan paus dan lumba-lumba sebagai satwa yang dilindungi dan terlarang untuk diburu. Namun, pelarangan ini tidak efektif.

Masyarakat Lamalera tetap memburu paus karena kegiatan ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya masyarakat Lamalera.

Oleh sebab itu, perlu ada kajian kembali bagaimana perburuan paus tradisional bisa dilakukan secara lestari sambil menjamin kebutuhan pangan dari penduduk Lamalera.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING