Penggunaan Air Purifier di Lingkungan Rumah, Efektifkah ?
Connect with us

Hidup Sehat

Penggunaan Air Purifier di Lingkungan Rumah, Efektifkah ?

Published

on

Penggunaan Air Purifier di Lingkungan Rumah, Efektifkah ?
the indian express

GENCIL NEWS – Penggunaan air purifier menjadi sebuah jaminan bahwa udara yang Anda hirup sehat dan bebas dari kontaminan berbahaya. Penggunaan Air purifier sekarang ini banyak diminati masyarakat untuk kebersihan udara di rumah. Mengingat pandemi covid-19 adalah ancaman bagi manusia.

Air purifier atau Pembersih udara berkerja untuk menekan udara memasuki kain penyaring yang sangat halus yang membuat polutan terperangkap. Air Purifier akan mengeluarkan udara yang sudah bersih. Sehingga penggunaan alat ini dapat mengurangi risiko terjadi gangguan alergi.

Polusi udara atau polutan dapat berasal dari debu, jamur, serbuk sari, asap rokok, atau bulu-bulu hewan peliharaan.

Polutan ini yang kemudian dapat memicu gangguan kesehatan, terutama memperburuk kondisi penderita asma dan memicu reaksi alergi.

Tak jarang, polutan dapat mempermudah penyebaran kuman penyebab penyakit seperti infeksi saluran pernapasan. Sehingga timbul keluhan batuk, bersin-bersin. Hingga gangguan bernapas seperti hidung mampat dan sesak.

Dilansir dari WashingtonPost, air purifier dikenal efektif untuk menyaring partikel debu seperti bulu dan serbuk sari. Alat ini khusus nya bekerja sangat baik bagi orang yang memiliki alergi hewan yang tidak sengaja masuk rumah saat pintu terbuka,” kata Manav Singla, ahli Alergi dan Imunologi.

Air purifier menjernihkan udara yang berfungsi untuk menjaga agar udara dalam ruangan tetap bersih. Penjernih udara atau air purifier yang bagus bekerja dengan cara menghisap udara yang ada di sekitar lalu menyalurkan kembali udara tersebut melalui filter yang berfungsi untuk menangkap virus dan bakteri di udara. Sehingga udara yang keluar dari air purifier akan menjadi lebih bersih dan juga sehat.

Pembersih udara umumnya memiliki sistem penyaring udara yang dianggap efektif membersihkan debu dan polutan lain, salah satunya yaitu menggunakan penyaring dengan teknologi high efficiency particulate air (HEPA).

Selain itu, terdapat pula pembersih udara yang memiliki kemampuan menghasilkan ion-ion yang dialirkan ke udara di sekitar ruangan.

Ion-ion ini ditujukan untuk membantu mengurangi penyebaran virus melalui udara yang kerap menimbulkan penyakit dan juga jamur serta aroma lembap yang sering ditimbulkannya, sehingga dapat memperbaiki kondisi udara dalam ruangan.

Kebanyakan pembersih udara memiliki indikator yang menunjukkan seberapa cepat mampu menyaring polusi udara di dalam ruangan.

Sebaiknya sesuaikan ukuran ruangan dengan kemampuan alat, sehingga penyaringan udara dapat dilakukan secara maksimal.

Akan tetapi, air purifier ternyata tidak efektif bagi orang yang sensitif terhadap tungau debu, karena tungau debu hidup di karpet dan tempat tidur. Sehingga dalam hal ini menjaga kebersihan rumah menjadi lebih utama untuk dilakukan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Allergy, Asthma and Immunology menemukan, dari delapan pembersih udara yang diyakini dapat membantu pasien asma.

Ditemukan kalau pembersih udara ternyata cukup efektif untuk mengurangi paparan alergen lingkungan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Hidup Sehat

Resep Anti Stres Orang Tua-Anak Selama ‘Social Distancing’

Published

on

Ada yang berbeda di sebagian keluarga Indonesia dalam sepuluh hari terakhir. Orang tua bekerja tanpa perlu ke kantor, dan anak-anak mengerjakan tugas sekolah di rumah. Istilah work from home, google class, aplikasi zoom, webex hingga YouTube live begitu populer di telinga kita. Tak jarang, terdengar teriakan anak tetangga meminta bantuan menjawab soal dan sahutan balik ayah mereka yang sedang menggoreng tempe di dapur.

Yulianingsih adalah satu dari jutaan ibu yang lebih sepekan ini harus bergulat lebih panjang dengan pelajaran sekolah anaknya. Ibu dua anak yang tinggal di Yogyakarta ini memilih santai menghadapi kondisi.

“Kadang anak saya yang kelas 6 SD nanya-nanya soal matematika. Kalau saya enggak bisa jawab, ya kakaknya membantu. Kalau enggak nemu jawabannya, saya suruh menjawab sesuai hati nurani saja,” kaya Yuli sambil tertawa.

Menurut Yuli, yang juga merepotkan adalah karena kini anak-anak makan tiga kali penuh di rumah dan menu harus berganti. Bukan tugas enteng untuk menyediakan variasinya, agar nafsu makan terjaga. Anak-anak juga butuh kegiatan lebih, karena itu Yuli membelikan mereka bahan masakan sederhana, seperti donat, siomay atau tahu isi. Dua anak perempuannya, kata Yuli setelah sekian hari di rumah, kadang muncul bibit-bibit perselisihan kecil, dan itu harus diatasi.

Rumah Bukan Sekolah

Sebenarnya, suasana semacam itu sudah dialami sejak lama oleh sebagian orang tua di Indonesia yang menerapkan homeschooling. Karena itu, pengalaman Ellen Nugroho layak dijadikan rujukan, agar orang tua di Indonesia tidak stres selama anak belajar di rumah karena wabah virus corona. Ellen Nugroho adalah Koordinator Nasional Perkumpulan Homeschooler Indonesia (PHI).

Prinsip pertama, kata Ellen, orang tua harus paham bahwa belajar di rumah tidak bisa disamakan persis pendekatan, metode, dan jadwalnya seperti di sekolah. Situasi psikologis yang berbeda antara rumah dan sekolah menjadi alasan.

“Di sekolah, anak-anak berhadapan dengan guru yang sebetulnya secara psikologis tidak sedekat dengan orang tuanya sendiri. Guru itu kan akan selalu menampilkan personanya yang terbaik, kepada anak-anak karena itu adalah tuntutan profesi. Orang tua, tentu tidak bisa membuat jarak emosional seperti guru di sekolah,” kata Ellen.

Karena itu, pekan pertama belajar di rumah seharusnya tidak dibebani dengan tugas sekolah, tetapi lebih digunakan untuk membangun ikatan batin orang tua dan anak. Guru dan orang tua harus berdiskusi mengenai hal-hal semacam ini.

Di kalangan homeschooler, kata Ellen ada istilah deschooling, yaitu fase ketika anak tidak lagi pergi sekolah. Hari-hari pertama ini lebih baik diisi dengan saling ngobrol, melakukan kegiatan bersama, dan menata relasi personal satu dengan yang lain. Fase ini sebaiknya tidak diisi dengan kegiatan akademis, tetapi digunakan untuk memasak bersama, menonton tv, menyapu, atau membersihkan rumah bersama-sama.

“Di sekolah, semua jadwal disusun guru. Ketika di rumah, kalau orang tua menjadi seperti guru, yang mengatur jadwal anak dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang tuanya bisa kewalahan. Justru orang tua harus membangun kebiasaan anak melakukan sesuatu atas inisiatifnya sendiri,” tambah Ellen.

Jika anak menerima tugas dari gurunya, orang tua harus mempertimbangkan bagaimana target itu bisa dicapai. Bahkan, jika menurut orang tua target tugas itu sulit dicapai, tidak ada salahnya orang tua melakukan negosiasi dengan guru. Menurut Ellen, anak harus ikut memutuskan berapa lama dia akan mengerjakan tugas. Biasanya, mereka lebih mudah berkonsentrasi dalam durasi pendek, tetapi sering, dengan selingan kegiatan lain.

Orang tua dan anak, lanjut Ellen, harus sama-sama menghemat energi, terutama emosionalnya. Sikap anak ke guru ketika menjalankan tugas sekolah, tidak akan sama dengan sikap anak ke orang tua. Karena anak cenderung lebih segan kepada gurunya. Sedang kepada orang tua, mereka lebih terbuka menyatakan sikap, apakah tidak mau atau tidak bisa ketika mengerjakan sesuatu.

Kesempatan Memperbaiki Hubungan

Pakar Promosi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Fatwa Sari Tetra Dewi meminta orang tua melihat masa isolasi mandiri ini secara adil.

“Saya kira kita semua berada pada taraf yang sama. Sama stressnya, antara guru dan orang tua. Gurunya juga stres karena berpikir bagaimana anak-anak mengejar ilmu yang seharusnya mereka dapatkan. Sedangkan orang tua juga stres, berpikir bagaimana caranya harus membuat anak-anak mampu mengikuti, sementara dia sendiri, misalnya, harus bekerja di rumah,” kata Fatwa.

Karena itu, Fatwa menyarankan orang tua belajar manajemen agar tetap bisa bekerja di rumah sekaligus menjamin anak-anak mau belajar. Untuk mengurangi stres, harus diidentifikasi dahulu apa saja yang bisa mempengaruhi datangnya tekanan itu. Fatwa mencontohkan, anak-anak yang tiba-tiba berubah manja sebenarnya hanya bosan dan mencari perhatian. Mereka harus dicarikan permainan mandiri yang aman, sehingga bisa menyibukkan diri ketika orang tua mengerjakan tugas lain.

Periode ini, kata Fatwa, memang bisa menjadi sumber stres, tetapi sekaligus menjadi kesempatan baik untuk kembali saling lebih mengenal antar anggota keluarga.

Orang tua harus terus belajar. Pekan-pekan ini, dengan kemungkinan masa belajar di rumah lebih panjang, adalah masa kembali beradaptasi. Jalan keluar masing-masing keluarga akan berbeda, dan itu harus dicari dengan diskusi antara orang tua dan anak agar tidak sama-sama stres. Fatwa melihat sejumlah orang tua yang kemudian membuat vlog memasak bersama anak-anak mereka, sebagai contoh yang baik dalam melewatkan waktu isolasi di dalam rumah.

“Sebetulnya ada banyak kursus-kursus online yang murah bahkan tidak berbayar. Semua itu bisa kita identifikasi, kita cari, kita pelajari, bagaiman caranya memecahkan masalah bersama. Sumber-sumber belajar yang sifatnya daring dan gratisan juga bisa kita share antar teman, agar semua bisa beradaptasi dengan baik di saat-saat seperti ini,” lanjut Fatwa.

Continue Reading

Hidup Sehat

Terlalu Lama Duduk Bisa Sebabkan Sesak Nafas Dan Mengganggu Mental

Published

on

By

Terlalu Lama Duduk Bisa Sebabkan Sesak Nafas Dan Mengganggu Mental
ilustrasi

Gencil News – Anda terlalu banyak duduk? Baru-baru ini, pakar kesehatan menyarankan agar anda mengurangi perilaku sedenter atau diam berkepanjangan menjadi tidak lebih dari 60 menit. Tetapi Anda mungkin belum terbiasa dan malah terlalu banyak duduk?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setiap orang melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang 150-300 menit. Atau 75 hingga 150 menit aktivitas aerobik intensitas tinggi per minggu, ditambah dua hari latihan kekuatan.

Jika Anda tidak memenuhi salah satu dari saran tersebut, kemungkinan Anda tidak bergerak cukup.


Ahli kesehatan jantung sekaligus founder SRSHeart Center for Women’s Prevention, Health and Wellness. And a Peloton Health & Wellness Advisory Council, Suzanne Steinbaum menyarankan Anda menghitung durasi waktu tidur. Untuk mengetahui apakah Anda kurang bergerak.

“Hitung jumlah jam Anda tidur, lalu kurangi dari 24 jam. Angka itu adalah jumlah jam dalam sehari Anda harus hidup, bergerak, aktif. Jika Anda menghabiskan lebih dari 50 persen waktu itu untuk duduk, berbaring, dan tidak bergerak. Penting untuk menemukan cara untuk mengubahnya,” kata dia.

Selain itu, ada beberapa tanda yang bisa Anda amati jika Anda tidak cukup bergerak. Yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik anda. Mengutip dari Real Simple, gangguan yang dapat terjadi seperti ;

Sering Sesak Nafas

“Jantung bekerja dengan aliran oksigen yang baik,” kata ahli jantung di Philadelphia, Sanul Corrielus.

Saat Anda duduk lebih di sofa, pernapasan menjadi pendek yang menghabiskan aliran suplai oksigen ke jantung. Dan berkontribusi pada penurunan kondisi jantung.

Gerakan minimal juga dapat membuat anda merasa terengah-engah serta mengalami palpitasi. Yang dapat memperburuk fungsi jantung jika tidak ditangani secara efektif.

Semakin seseorang diam, maka semakin besar dia berisiko mengalami kematian dan penyakit jantung.

Satu analisis data dari studi European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) Norfolk menemukan. Setiap jam tambahan yang dihabiskan per hari untuk menonton televisi selama waktu senggang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Belum lagi duduk setidaknya 10 jam sehari, dibandingkan dengan duduk kurang dari lima jam. Berhubungan dengan risiko serangan jantung yang lebih tinggi.

Seiring bertambahnya usia, Anda membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dari kondisi tidak aktif. Konon, untuk rekondisi jantung, Correlius menyarankan 8-10 minggu latihan yang konsisten.

Meskipun hanya berjalan kaki selama 10 menit setiap dua hari, kuncinya adalah memulai dan konsisten. Berusahalah untuk melakukan latihan intensitas sedang selama 30 menit lima hari seminggu

Menurunnya Kesehatan Mental

Penelitian menunjukkan, orang-orang yang lebih banyak duduk mengalami penurunan kesejahteraan psikologis dan kualitas hidup. Steinbaum, mencatat orang-orang ini juga cenderung lebih depresi.

Continue Reading

Hidup Sehat

Hobi Memiliki Binatang Peliharaan di Masa Pandemi

Published

on

Hobi Memiliki Binatang Peliharaan di Masa Pandemi
Kiko, bersama Josephine Johannes dan Bradley Johannes. (foto: courtesy).

Gencil News – VOA – Pada masa pandemi ini, banyak kegemaran, hobi, atau keinginan baru yang muncul. Salah satu di antaranya adalah memiliki binatang peliharaan.

Bagaimana tren serta lika-liku mendapatkan hewan tersebut, dan apa yang wajib dimiliki sang pemilik untuk memeliharanya? Utami Hussin berbincang dengan beberapa diaspora Indonesia di Amerika Serikat dan seorang dokter hewan yang praktik di Jawa Barat.

“Ia berasal dari Ohio, kami menemukannya dengan mencarinya online. Perlu waktu enam jam ke Ohio dan juga untuk kembali. Ini seperti hadiah Thanksgiving kami,” ungkap Josephine.

Suara Kiko melatarbelakangi kata-kata Josephine Johannes, seorang mahasiswi di Virginia. Kiko adalah seekor anak anjing golden retriever berusia 3 bulan yang diadopsi keluarga Josephine pada November lalu.

Setelah berbulan-bulan dan berliku-liku usaha mendapatkan anjing peliharaan, jarak enam jam sekali jalan dari Virginia untuk menjemput Kiko di breeder-nya di Ohio, bukan masalah besar.

Mengapa lama dan sampai perlu keluar kota?

Selama pandemi ini, ternyata semakin banyak keluarga yang ingin turut mengasuh (fostering) atau mengadopsi berbagai jenis hewan peliharaan. Tren ini terjadi di berbagai negara, termasuk di Amerika dan di Indonesia.

Drh. Rina Setyawati yang membuka praktik di pinggiran kota Bandung menjelaskan, “Maret akhir itu sudah mulai banyak yang WFH (working from home, bekerja dari rumah, red.), anak-anak sudah bersekolah di rumah. Nah karena mereka WFH, April itu mereka mulai care ke binatang, adopsi, karena banyak waktu di rumah, banyak waktu luang.”

Data yang dikeluarkan American Society for the Prevention of Cruelty to Animals (ASPCA) yang berpusat di kota New York pada Agustus lalu menyatakan, dalam pekan-pekan pertama perintah tinggal di rumah, organisasi itu melihat ada peningkatan hampir 70 persen jumlah hewan yang masuk program fostering di New York dan Los Angeles dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.

Melonjaknya permintaan untuk mengadopsi atau mengasuh hewan ini membuat tempat-tempat penampungan kucing dan anjing di berbagai wilayah cepat kosong. Calon pemelihara kerap harus menunggu berbulan-bulan.

Nia Dhaniasih, ibu empat anak di Virginia merasakan penantian itu selama lima bulan ini. Bertahun-tahun anak-anaknya menginginkan hewan peliharaan, namun keluarga ini baru memutuskan untuk memiliki kucing setelah anak-anak mulai bersekolah secara daring, menghabiskan waktu mereka berjam-jam di depan layar komputer.

“Kebetulan pada masa pandemi itu, saya bilang ke suami, anak-anak tidak ada yang main keluar. Sekolah juga screen (secara daring) terus,” tukasnya.

Nia menjelaskan protokol kesehatan semasa pandemi membuat mereka tidak langsung mendatangi tempat penampungan hewan (shelter). Mereka memilih membuka sejumlah website seperti petfinder.com atau adoptapet.com mengenai hewan-hewan untuk diadopsi. Namun, kata Nia,

“Setiap kita bilang ‘mau yang ini’ ternyata policynya tidak boleh ada anak di bawah tujuh tahun. Mau ambil yang lain, tidak dibalas-balas. Setiap kali mengajukan aplikasi kan ada pertanyaan-pertanyaan yang harus kita isi, yang dari situ mungkin mereka melihat kita belum eligible,” ujar Nia.

Josephine juga merasakan hal tersebut. “Proses mendapatkan anjing ini cukup menantang karena begitu banyak tempat di mana kita bisa mendapatkan anjing. Yang pertama-tama kami lihat adalah animal shelter. Ini juga sulit karena kita harus mendaftar. Kita diberi kuesioner agar pihak shelter tahu seperti apa gaya hidup kami, apakah si anjing dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup tersebut. Juga, karena begitu banyak orang yang menginginkannya, sulit sekali untuk mendapatkan anjing. Opsi kedua adalah membeli dari penangkar (breeder).”

Kehati-hatian juga membuat proses memiliki hewan peliharaan berlangsung lama. Keluarga Josephine mendapati, banyak anak anjing yang ditawarkan secara online, tetapi untuk melihat atau mengunjunginya, peminat harus membayar 300 sampai 600 dolar ke pemilik anjing. Keluarga Josephine memilih untuk tidak mengirim uang ke orang yang tidak dikenal. Belum lagi belakangan juga sering terjadi penipuan dalam membeli hewan secara online. Uang telah dikirim, tetapi hewan yang dinanti tidak pernah tiba.

Kucing dan anjing memang merupakan dua jenis hewan peliharaan favorit. Kucing, jelas Rina yang mendapati jumlah pasiennya semasa pandemi meningkat hingga 60 persen, dianggap lebih tenang dan lebih manja sifatnya. Anjing disukai karena bisa dilatih dan menjadi lebih patuh. Menurut pengamatannya, di Indonesia orang banyak menyukai kucing.

Keluarga Josephine menganggap memelihara anjing di masa pandemi merupakan keputusan yang tepat. Karena keluarga lebih banyak waktu di rumah, lebih mudah pula untuk mengurus dan melatih anak anjing mereka.

Sementara itu Nia, yang baru saja menambah anggota keluarganya dengan dua ekor kucing ragdoll, mengatakan, anak-anaknya belajar memiliki rasa tanggung jawab selain bekerja sama dalam memelihara kedua kucing tersebut. kucing-kucing jenis ragdoll, mengatakan,

Selain dapat mengalihkan perhatian dari layar komputer, anak-anak Nia juga belajar memiliki rasa tanggung jawab selain bekerja sama dalam memelihara kedua kucing peliharaan mereka, mulai dari memberi makan hingga membersihkan kotoran.


Sementara itu Drh. Rina mengemukakan, memelihara hewan memang dapat membantu menghilangkan kejenuhan dan stress. Tetapi, ia mengingatkan, bahwa memiliki hewan peliharaan pada prinsipnya adalah melayaninya seumur hidup. Karena hewan peliharaan tidak mampu mengurus dirinya sendiri, maka pemiliklah yang harus melakukannya secara disiplin seumur hidup, sampai hewan tersebut mati.

“Itu komitmen!,” pungkasnya. 

Continue Reading

TRENDING