Model Kesehatan Holistik, Bantu Pulihkan Cedera Musisi

Seperti halnya para atlet yang cedera saat berolahraga, banyak musisi menderita sakit akibat pekerjaan mereka, otot berulang kali meregang dan beberapa cedera karena gerakan berulang atau berlebihan.

Namun tidak seperti para atlet, ada stigma terkait cedera para musisi dan beberapa dari mereka tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, Peabody Institute di Universitas Johns Hopkins mendirikan Johns Hopkins Center for Music and Medicine, Pusat Musik dan Kedokteran Johns Hopkins, yang menggunakan model kesehatan holistik untuk perawatan yang lebih baik bagi para musisi.

Double bassist Chelsea Strayer, mahasiswa tingkat satu diPeabody Conservatory, mengatakan, “Saya berusaha berlatih sekitar tiga jam sehari. Selain itu, biasanya selama beberapa jam saya juga ikut beberapa latihan lainnya setiap hari.”

Baca juga   Studi: Perubahan Gaya Hidup Secara Signifikan Turunkan Risiko Kanker

Jam latihan yang lama dan intensitas gerakan berulang-ulang menyebabkan rasa nyeri. “Saya sudah merasakan nyeri di lengan pada waktu lalu, tetapi belum pernah merasakan sakit di pergelangan tangan. Ada juga memar di tempat yang sama di tangan saya,” lanjutnya.

Dosen Strayer mendorongnya untuk mengunjungi klinik Pusat Musik dan Kedokteran di kampus.

Salah seorang pendiri pusat itu, Serap Bastepe-Gray memberitahunya bahwa musisi lebih sering mengalami cedera daripada yang diketahui, baik radang tendon maupun keseleo.

“Empat dari lima pemain alat musik akan mengalami cedera, setidaknya sekali dalam karier mereka. Satu orang akan pulih dan kembali memainkan alat musik. Dua pemusik akan terus bermain, tetapi akan mengalami masalah kronis dengan beberapa kali kondisi akut. Dan sayangnya, seorang lainnya akan berhenti bermusik akibat cedera yang dialaminya,” jelas Serap Bastepe-Gray.

Baca juga   WHO Usulkan Kebijakan untuk Selamatkan 10 Juta Jiwa Tahun 2025

Bastepe-Gray, dokter pemain gitar, paham betul suka dan duka dalam memainkan suatu alat musik.

Dekan di Peabody Conservatory, Sarah Hoover mengatakan, keberadaan klinik tersebut di kampus memberi pesan kepada musisi yang menjadi mahasiswa di sana.

“Saya rasa mereka juga mengerti tidak apa-apa membicarakannya. Tidak apa-apa menemui dosen-dosen mereka jika mereka memiliki masalah. Mereka tidak perlu menyimpannya di dalam hati,” jelasSarah Hoover.

Saat ini, insinyur biomedis dan ahli saraf Johns Hopkins sedang berupaya mengembangkan suatu ‘gitar pintar’ baru yang akan dapat mengukur seberapa besar tekanan pada lengan dan jari jemari sewaktu sang gitaris memainkan alat musiknya. [mg/uh]

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News