Menurut Ahli Ini Perbedaan Batuk Kering Biasa Dengan Covid-19
Connect with us

Kesehatan

Menurut Ahli Ini Perbedaan Batuk Kering Biasa Dengan Covid-19

Published

on

Menurut Ahli Ini Perbedaan Batuk Kering Biasa Dengan Covid-19

Gencil News- Adanya wabah Covid-19 kita harus bisa melihat perbedaan batuk kering biasa dengan batuk dari gejala Covid-19.

Menurut laporan WHO dan pemerintah China, sekitar 68 persen penderita COVID-19 mengalami gejala batuk kering. Bahkan, bisa menjadi gejala umum kedua dalam 55.000 kasus yang terkonfirmasi.

Berikut penjelasan para pakar kesehatan soal gejala batuk kering yang jadi penanda wabah infeksi virus Corona.

“Secara umum, batuk kering tidak mengeluarkan dahak atau lendir,” jelas ahli alergi Purvi Parikh.

Banyak hal yang dapat menyebabkan batuk ini. Menurut Profesor Aline M. Holmes dari Rutgers University School of Nursing, penyebabnya termasuk alergi dan berada pada area wilayah dalam ruangan dengan udara kering sepanjang hari.

Pemicu lainnya adalah penyakit GERD, asma, dan kebiasaan merokok.

Dr. Holmes mengatakan, dalam hal ini bisa terasa seperti tanpa dahak. “Pada akhirnya, rasanya seperti paru-paru Anda teriritasi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Perbedaan batuk kering yang penderita virus Corona alami adalah batuk yang sangat dalam dan rendah dari dasar paru-paru.

Kapan batuk kering menandai gejala virus Corona?

“Batuk dalam kondisi apapun yang juga ditandai demam di atas 100,4 Fahrenheit (38 derajat Celcius) harus anda waspadai,” kata Dr. Parikh melansir dari Prevention.

Melansir dari Science Alert, virus Corona mengiritasi jaringan paru-paru. Karena itu penderita akan mengalaminya dalam waktu berkepanjangan. Gejala ini juga disertai dengan sesak napas dan nyeri otot.

Selain itu, gejala menonjol yang kerap menyertai batuk corona adalah demam dan kelelahan.

Jika dirasa sudah terlalu mengganggu, sebaiknya anda menghubungi dokter rumah sakit atau klinik terdekat. Pastikan Anda tetap menerapkan protokol kesehatan saat berkonsultasi langsung dengan dokter.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kesehatan

Tips Menjaga Kesehatan di Tengah Musim Kabut Asap

Published

on

Tips Menjaga Kesehatan di Tengah Musim Kabut Asap

Gencil News- Pontianak mulai memasuki musim kemarau dan juga kabut asap, akibat kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah. Tentunya keadaan ini sangat mengkhawatirkan bagi kesehatan, apalagi pada saat ini bahaya covid-19 masih mengancam.

Keadaan ini tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan, namun juga ancaman serius bagi kesehatan. Karna dengan cuaca yang tidak kondusif seperti kabut asap ini membuat polusi udara semakin buruk dan berdampak buruk juga bagi kesehatan, tidak hanya kabut asap, debu atau abu akibat pembakaran hutan juga menjadi masalah bagi kesehatan, terutama di masalah pernafasan atau paru-paru.

Dengan bahayanya kabut asap bagi tubuh atau kesehatan kita, disini kita mau memberi tips sehat menghadapi asap kabut asap :

1. Selalu menggunakan masker apabila beraktivitas diluar Rumah

Masker penutup mulut menjadi barang yang sangat penting di saat musim cuaca kabut asap bagaimana tidak, dengan masker penutup mulut dapat membantu kita untuk beraktivitas dalam cuaca Kabut asap seperti ini. Karna masker penutup mulut bisa menyaring polusi udara yang masuk ke pernafasan.

2. Selalu menjaga kebersihan makanan dan minuman

Pada cuaca kabut asap seperti ini, melindungi makanan dan minuman menjadi sangat penting untuk di perhatikan, di karenakan asap atau abu akibat pembakaran hutan bisa mencemari makanan dan minum yang mau kita konsumsi, dan apabila kita mengonsumsi makanan dan minuman yang tercemar itu akan menyebabkan masalah pada kesehatan kita. Maka dari itu sebaiknya kita harus menjaga makanan dan minum kita agar tidak terkontaminasi salah satunya dengan mencuci sayur-sayuran atau buah –buahan yang mau kita konsumsi.

3. Lebih sering minum air putih

Cuaca Kabut Asap membuat kita sangat sulit beraktivitas dengan baik, di karenakan udara yang mengandung polusi membuat kita gampang lelah, gampang dehidrasi dan berkurangnya konsentrasi.

Lebih sering mengonsumsi air putih adalah pilihan terbaik untuk menjaga tubuhmu dari masalah yang di akibatkan oleh kabut asap,  karna dengan mengonsumi air putih lebih sering dapat  menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, meningkatkan energy, penghilang dehidrasi, dan meningkatkan produktivitas

4.Kurangi aktivitas di luar

Kurangi aktivitas di luar rumah atau gedung, di cuaca kabut asap ini, sangat berbahaya kalau kita beraktivitas diluar, dan kalaupun harus beraktivitas diluar, pastikan menggunakan masker agar mengurangi terkena polusi udara

5. Jangan ragu untuk periksa ke dokter

Apabila kamu memiliki penyakit bawaan di bagian pernafasan atau paru-paru, jangan ragu untuk memeriksa kesehatan kamu ke dokter dan mintalah nasehat kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi. Dan apabila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan yang lain, Segeralah berobat ke dokter atau  di sarana pelayanan kesehatan .

Itulah 5 Tips menjaga kesehatan saat cuaca kabut asap, harus di ingat kabut asap terjadi bukan hanya di karenakan pembakaran hutan tapi banyak faktor lain yang menyebabkan kabut asap, antara lain pembakaran sampah yang sembarangan yang menyebabkan asap semakin banyak,

mari kita bersama-sama menyelesaikan permasalahan kabut asap ini dengan cara menjaga lingkungan dan #jangantambahasap lagi, demi mengurangi polusi udara atau kabut asap yang berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan.(Tbm)

Continue Reading

Kesehatan

Flu Menghilang di AS, Di Tengah Pandemi Covid-19

Published

on

Flu Menghilang di AS, Di Tengah Pandemi Covid-19

GENCIL NEWS -VOA – Februari biasanya menjadi puncak musim flu, di mana klinik dokter dan rumah sakit disesaki para pasien. Tapi hal itu tidak terjadi tahun ini.

Flu hampir hilang sepenuhnya di Amerika, di mana laporan menunjukkan tingkat yang jauh lebih rendah dibanding dalam puluhan tahun terakhir.

Para pakar mengatakan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk menangkis virus corona, seperti pemakaian masker, menjaga jarak fisik dan sekolah virtual, menjadi faktor penting dalam pencegahan “epidemi kembar” flu dan Covid-19. Laporan itu juga menyebut, dorongan agar lebih banyak orang divaksinasi flu mungkin juga membantu, sebagaimana juga berkurangnya jumlah orang yang bepergian.

Kemungkinan lainnya: virus corona jenis baru penyebab Covid-19 pada dasarnya telah menyingkirkan flu dan penyakit menular lain yang biasanya umum diidap selama musim gugur dan musim dingin. Para ilmuwan tidak sepenuhnya memahami mekanisme di balik itu, tetapi itu konsisten dengan pola yang tampak ketika strain flu tertentu mendominasi jenis lainnya, kata Dr. Arnold Monto, pakar penyakit flu di Universitas Michigan.

Secara nasional, “ini adalah musim flu terendah yang pernah kami catat,” menurut sistem pengawasan yang sudah dilakukan selama 25 tahun, kata Lynette Brammer dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Rumah sakit-rumah sakit mengatakan aliran pasien flu yang biasanya ada tidak terjadi (kali ini).

Di Maine Medical Center di Portland, rumah sakit terbesar di negara bagian itu, “Saya tidak melihat ada kasus flu yang tercatat musim dingin ini,” kata Dr. Nate Mick, kepala bagian gawat darurat.

Demikian juga di ibu kota Oregon, di mana klinik pernapasan rawat jalan yang berafiliasi dengan Rumah Sakit Salem belum menemukan kasus flu yang terkonfirmasi.

Data itu mencengangkan mengingat flu telah lama menjadi ancaman penyakit menular terbesar di Amerika. Dalam beberapa tahun terakhir, flu menjadi penyebab terjadinya 600.000 hingga 800.000 rawat inap tahunan dan hilangnya 50.000 hingga 60.000 nyawa.

Di seluruh dunia, penyakit flu juga tampak dalam tingkat yang sangat rendah di China, Eropa dan daerah lainnya di belahan Bumi utara. Demikian juga menurut laporan yang menyebutkan sedikitnya laporan flu di Afrika Selatan, Australia dan negara lainnya di belahan Bumi selatan pada bulan-bulan musim dingin, sejak Mei hingga Agustus tahun lalu.

Lain halnya dengan Covid-19 yang telah membunuh lebih dari 500.000 orang di AS. Kasus Covid-19 dan angka kematiannya mencapai rekor pada bulan Desember dan Januari, sebelum perlahan menurun baru-baru ini.

Di sisi lain, jumlah rawat inap terkait flu (tahun ini) hanyalah sebagian kecil dari situasi yang sama pada musim flu yang ringan, kata Brammer, yang mengawasi pelacakan virus tersebut di CDC.

Data kematian akibat flu untuk seluruh penduduk AS sulit untuk dikumpulkan dengan cepat, namun pejabat CDC terus menghitung kematian akibat flu pada kelompok anak-anak. Selama apa yang biasanya menjadi musim flu tahun ini, baru satu kasus kematian flu pada anak-anak yang tercatat, dibandingkan 92 kasus pada musim flu tahun lalu.

“Banyak orang tua akan memberi tahu Anda bahwa tahun ini anak-anak mereka sehat terus, karena mereka tidak berenang di kolam penuh kuman di sekolah atau tempat penitipan anak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Mick.

Beberapa dokter mengatakan mereka bahkan berhenti mengirim spesimen untuk pengjuian, karena mereka menilai tidak ada flu. Meski demikian, banyak laboratorium menggunakan “tes multipleks” yang dikembangkan CDC untuk memeriksa spesimen, baik virus corona maupun flu, kata Brammer.

Lebih dari 190 juta dosis vaksin flu didistribusikan kali ini, namun jumlah infeksi yang muncul sangat rendah sehingga sulit bagi CDC melakukan penghitungan tahunan tentang efektivitas vaksin itu, kata Brammer. Tidak ada cukup data, katanya.

Hal itu lantas menjadi tantangan untuk proses perencanaan vaksin flu musim berikutnya. Langkah itu biasanya dimulai dengan memeriksa jenis flu mana yang beredar di seluruh dunia dan memprediksi mana di antaranya yang kemungkinan akan mendominasi di tahun mendatang.

“Tapi tidak banyak virus flu yang bisa diteliti,” pungkas Brammer.

Continue Reading

Kesehatan

Menjaga Kesehatan Kulit Wajah Meski Pakai Masker Seharian

Published

on

Menjaga Kesehatan Kulit Wajah Meski Pakai Masker Seharian

Pandemi mengharuskan kita memakai masker saat berkegiatan saat keluar rumah. Mau tidak mau, kebiasaan baru tersebut membuat Wajah lembab dan cepat berkeringat.

dan tentu saja bagi bberapa orang yang menggunakan makeup dengan tetap memakai masker akan membuat makeup pada wajah menjadi cepat luntur.

Tak hanya itu, lipstik menjadi bagian yang sering kali menjadi keluhan karena sering mengotori masker dan membuat penampilan menjadi kurang maksimal.

Mengutip dari Fimela, Ada beberapa tips supaya kamu bisa tetap tampil cantik dan menawan.

1. Kuncinya rutin merawat kulit

Ketika kamu bisa merawat kulitmu dengan baik, maka semakin lama makeup bisa menempel di kulit meskipun saat menggunakan masker. Jangan sampai terlewatkan ritual merawat kulit sebelum dan sesudah beraktivitas, dan gunakan skincare seperti toner dan pelembab ketika akan mengaplikasikan makeup sehari-hari.

2. Hindari menggunakan pelembab yang bikin wajah berminyak

Salah satu faktor yang membuat makeup mu gampang luntur adalah minyak berlebihan yang muncul pada wajah. Untuk mengurangi jumlah minyak tersebut, pastikan kamu memilih pelembab yang mengandung air atau water based product untuk menjaga kelembaban kulit.

3. Base makeup yang wajib jadi andalan

Gunakan produk transfer-proof untuk mencegah berpindahnya makeup ke maskermu. Gunakan base makeup yang ringan namun tetap tahan lama untuk mencegah kulit berminyak dan riasanmu tetap on point sepanjang hari. Kamu bisa memilih menggunakan primer, BB cream atau long-wear foundation sebagai base makeup. Jangan lupa juga untuk mengaplikasikan setting spray untuk mengunci riasan supaya bertahan lebih lama.

4. Pilih lip product yang No Transfer ke masker

Tak hanya base makeup, untuk lip produk juga pilihlah yang transfer-proof. Pilih lipstik yang memiliki karakter silky-soft, yang bisa membuat bibirmu terasa lebih halus, lembut, tidak lengket dan nyaman digunakan.

Selamat mencoba, dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan dimanapun kamu berada,

Sumber :Fimela.com

Continue Reading

Advertisement

KORAN GENCIL NEWS

TRENDING