Connect with us

Kesehatan

Peringatan Untuk Anda yang Senang Berbagi/Pinjam Earphone

Published

on

Pinjam Earphone

Peringatan Untuk Anda yang Senang Berbagi/Pinjam Earphone. Tahukah kamu ? Bahwa jika kita berbagi headset atau earphone dengan orang lain, maka saat itu pula secara tidak sadar si pemilik headset telah berbagi bakteri dan kuman yang berasal dari telinganya pada kita.

Begitu pula sebaliknya, jika ada yang meminjam headset milik kita, si peminjam headset tersebut akan tertulari bakteri berasal dari telinga kita yang bersembunyi dalam headset.

Cairan warna kuning di telinga kita adalah bukanlah kotoran yang menumpuk, melainkan serumen, yang dihasilkan oleh kelenjar di liang telinga yang akan melapisi kulit liang telinga serta melindungi telinga dari kerusakan dan infeksi.

Karena sifatnya yang kental dan lengket, maka serumen mampu menangkap debu dan bakteri serta mencegahnya masuk ke bagian telinga yang lebih dalam.

Ketika earphon atau headset kita tempelkan pada lubang telinga kita, maka sangat dimungkinkan bakteri yang ada di lubang telinga kita ikut menempel pada alat tersebut, dan kemudian berkembang biak disana.

Sebuah penelitian terkini mengenai penggunaan headset bersama-sama telah dilakukan oleh para ilmuwan yaitu Mukhopadhyay, Chiranjay and Basak, Soham and Gupta, Soham and Chawla, Kiran and Bairy, dalam jurnalnya yang berjudul Sebuah Analisis Perbandingan Pertumbuhan Bakteri dengan Menggunakan Earphone.

Para ilmuwan dari Manipal University di India Selatan tersebut mengatakan bahwa penggunaan bersama earphone bisa mempercepat pertumbuhan bakteri di telinga secara signifikan.

Bagaimana hasilnya?

Dari hasil penelitian tersebut, penggunaan bersama earphone bisa mentransfer bakteri dari telinga pengguna earphone yang satu, ke pengguna lainnya.

Bakteria yang ditemukan adalah termasuk jenis Staphylococcus dan Streptococcus yang bias menyebabkan bengkak dan sakit pada telinga.

“Lebih baik tidak berbagi earphone dengan orang lain, atau Anda harus sering membersihkannya,” ujar Chiranjay Mukhopadhyay, pemimpin penelitian itu, dikutip dari Sunday Express.

Hasil yang hampir sama ditemukan pada studi yang dipublikasikan oleh jurnal medis Laryngoscope, yang meneliti headset audio di pesawat terbang, yang digunakan secara bergantian oleh penumpang.

Ternyata, setelah sejam penggunaan, jumlah perkembangan bakteri pada headset itu meningkat pesat dari 60 micro-organisme menjadi 650 micro-organisme.

Berbeda keadaannya jika kaum perempuan memakai penutup kepala (kerudung) ketika memakai headset, dimana tidak terjadi kontak antara lubang telinga dengan permukaan headset, sehingga bakteri tidak ikut menempel. Hal ini tentu menjadikan headset terjaga kebersihannya dari bakteri yang berasal dari telinga dan aman digunakan oleh pemakainya.

Sedikit tips, agar kebersihan headset kita terjaga, minimal menghambat pertumbuhan bakteri didalamnya, sering-seringlah membersihkannya dengan mengusapkan anti-mikroba pada permukaan headset di bagian yang akan dimasukkan ke dalam telinga.

Untuk headset besar seperti yang ada di laboratorium-laboratorium bahasa, yang sering dan digunakan oleh banyak orang, pemeliharaan bisa dilakukan dengan mengganti busanya minimal setiap enam bulan sekali, karena di busa itulah bakteri banyak bersarang.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kesehatan

Model Komputasi ala “The Sims” untuk Memprediksi Pandemi

Published

on

Model Komputasi ala The Sims untuk Memprediksi Pandemi

GENCIL NEWS – Laboratorium di bawah Departemen Energi AS, Argonne National Laboratory ikut dalam upaya penanggulangan COVID-19.

Laboratorium ini dikenal sebagai pusat riset nuklir. Lalu bagaimana peneliti di sana bisa berkontribusi mengatasi pandemi? Ternyata dengan komputasi mirip permainan “The Sims”.

Continue Reading

Kesehatan

Virus Dari Kelinci “Bunny Ebola” Menyebar Cepat di Barat Daya AS

Published

on

Virus Dari Kelinci “Bunny Ebola” Menyebar Cepat di Barat Daya AS
Virus Dari Kelinci “Bunny Ebola” Menyebar Cepat di Barat Daya AS - foto BusinessInsider.com

Meski tidak menginfeksi manusia, virus ini bisa menempel pada rambut, sepatu, dan baju seseorang yang berkontak dengan kelinci. Jika kelinci lain menyentuhnya, otomatis ia akan terinfeksi juga.

Virus ini juga disebut sulit dimusnahkan, karena bisa hidup lebih dari tiga bulan dalam temperatur ruang. Virus tersebut dapat hidup dengan temperature mencapai 50 derajat Celcius dalam waktu 1 jam dan tidak bisa dibunuh dengan udara dingin atau pembekuan.

Jika sempat bertahan, kelinci yang terinfeksi menjadi penyebar virus selama dua bulan lamanya. RHDV2 menyebar lewat darah, urin, dan feses.

Oleh karena virus itu berasal dari negara lain, belum ada vaksin terlisensi di AS yang bisa mencegah infeksi virus tersebut. Beberapa rumah sakit hewan harus mengimpor vaksin dari Spanyol dan Prancis, dan membutuhkan waktu beberapa bulan lamanya.

Sejak April, Departemen Pertanian AS (USDA) telah mengkonfirmasi kasus RHDV2 di Arizona, California, Colorado, Nevada, New Mexico, Utah, dan Texas. Hingga ke Bagian dari Meksiko barat juga terkena virus ini.

Wabah ini adalah yang keempat kalinya RHDV2 dilaporkan di AS. (Varian virus telah menyebar di hampir setiap benua sejak para ilmuwan melaporkan kasus pertama di Cina 35 tahun yang lalu.)

Pada 2018, virus tersebut muncul dari kelinci peliharaan di Ohio. Kemudian, virus itu menyebar di Negara Bagian Washington.

Akhir Februari, lebih dari satu lusin kelinci mati di Centre for Avian and Exotic Medicine yang berlokasi di Manhattan. Wabah ini, yang muncul di Arizona dan New Mexico satu bulan setelahnya, tidak berkaitan dengan wabah-wabah sebelumnya.

“Kami tidak tahu dari mana wabahnya berasal,” tutur Ralph Zimmerman, dokter hewan dari New Mexico. Dari Maret hingga Juni lalu saja, hampir 500 hewan di New Mexico terinfeksi.

Continue Reading

Kesehatan

Hasil Awal Uji Coba Vaksin Covid-19 Menunjukan Hasil Yang Menjanjikan

Published

on

Hasil Awal Uji Coba Vaksin Covid-19 Menunjukan Hasil Yang Menjanjikan
Logo perusahaan farmasi Pfizer di markas Pfizer di New York, AS (foto: ilustrasi).

Hasil awal uji coba Vaksin Covid-19 menunjukan hasil yang menjanjikan. Uji coba yang dilakukan Perusahaan farmasi AS, Pfizer dan perusahaan bioteknologi German, BioNTech. Hari Rabu (1/7) mengumumkan satu calon vaksin COVID-19 telah menunjukkan data awal yang menjanjikan.

Penelitian itu berskala kecil yang melibatkan 45 orang dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun. Peserta uji coba melaporkan efek samping ringan. Termasuk rasa sakit di tempat suntikan dan demam ringan, yang merupakan reaksi umum vaksin.

Perusahaan-perusahaan itu mengatakan tidak tahu berapa lama respon kekebalan akan bertahan atau tingkat kekebalan yang dibutuhkan manusia untuk melindungi diri dari virus.

Dalam waktu satu bulan peserta uji coba telah menunjukkan respons antibodi dalam darah di atas tingkat pasien COVID-19 yang pulih.

Program pengembangan bersama Pfizer dan BioNTech itu mencakup tiga calon vaksin lain. Dan kedua perusahaan menyebut BNT162b1 adalah yang paling maju dalam proses itu.

Para peneliti akan menggunakan data awal untuk memilih diantara calon vaksin dan menentukan dosis untuk uji coba yang jauh lebih luas dengan melibatkan hingga 30.000 orang. Uji coba berikutnya akan dimulai secepatnya jika proyek tersebut disetujui.

Pfizer dan BioNTech mengatakan sanggup memproduksi hingga 100 juta dosis pada akhir tahun 2020. Dan lebih dari 1,2 miliar pada akhir tahun 2021. Sedangkan data uji coba di Jerman dari vaksin yang sama diharapkan akan dirilis pertengahan Juli ini.

Menurut London School of Hygiene & Tropical Medicine yang memantau pengembangan vaksin. Setidaknya terdapat 25 calon vaksin COVID-19 telah menjalani ujian klinis pada manusia.

Vaksin-vaksin dari perusahaan farmasi Moderna, CanSino Biologics, dan Inovio termasuk yang paling menjanjikan. Sejauh ini belum ada calon vaksin yang disetujui untuk digunakan secara luas. 

Continue Reading

TRENDING