Connect with us

Gaya Hidup

Kursi Gaming Ala Sultan Seharga Rp198 Juta Besutan Acer

Published

on

Kursi Gaming Ala Sultan Seharga Rp198 Juta Besutan Acer
acer.com

GENCIL NEWS – Acer yang menjadi pelopor dan satu-satunya yang menciptakan maha karya kursi gaming ala Sultan dengan teknologi mutakhir. Kursi gaming ala sultan yang bernama Predator Thronos Air dibanderol mulai dari USD13.999 atau sekitar Rp198 juta.

Harga ini jelas lebih murah dari versi sultan dan lebih canggih yaitu Predator Thronos yang dipatok harga Rp299 juta di Indonesia.

Kursi Gaming Ala Sultan Seharga Rp198 Juta
Kursi Gaming Ala Sultan Seharga Rp198 Juta

Kursi dengan tingkat kenyamanan yang menyerupai kursi di penerbangan kelas-satu dengan bentuk yang menaungi pemakainya.

Posisi kursi yang dapat diatur dengan remote control hingga 140°, suara yang mengeluarkan vibrasi hingga lampu pada kursi menambah kegaharan Predator Thronos.

Kursi gaming di Acer Predator Thronos Air jauh lebih sederhana seperti kursi gaming biasa dengan sudut sandaran yang bisa diatur manual.

Namun sedikit kelebihannya adalah kali ini disediakan fitur pemijat dibagian sandaran pundak dan leher.

ULTIMATE UNBOXING with the Acer Predator Thronos All In One EXPERIENCE

Fitur di Acer Predator Thronos Air masih tidak berbeda dari versi yang lebih mahal. Misalnya dukungan monitor yang menggantung hingga tiga monitor. Sekaligus serta meja yang terpasang langsung untuk keyboard dan mouse serta PC yang dijual satu paket.

Apa yang membuat Acer Predator Thronos Air lebih murah? Dikutip dari The Verge. Acer menghilangkan fitur motor penggerak di bagian di kursi sehingga tidak lagi secanggih versi sultan Predator Thronos. Pergerakan kursi diatur secara manual oleh pengguna.

So, anda tertarik menjadi sultan di kursi seharga mobil ini?

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Kuliner

Resep Masakan Ketan Durian Legit dan Lezat

Published

on

Resep Ketan Durian Legit dan Lezat

GENCIL NEWS – Resep Masakan Ketan Durian Legit dan Lezat. Bagi yang berdomisili di Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Barat, tentunya sudah sangat tidak asing lagi dengan kuliner yang satu ini.

Sebab biasanya ketan durian ini sering sekali disajikan pada moment tertentu missal nya hari raya idul fitri atau idul adha.

Di beberapa daerah wilayah bagian sumatera seperti Padang dan juga Palembang, ketan durian ini menjadi makanan wajib yang harus ada disamping ketupat opor dan juga ayam. Maka dari itu wajar saja jika ketan durian ini sangat popular.

Selain memiliki rasa yang legit, sebenarnya ketan durian ini sangat bagus untuk kesehatan. Ketan yang kaya akan kandungan gizi dan nutrisi dikolaborasikan dengan buah durian yang juga kaya akan gizi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh tentunya akan memberikan kolaborasi yang sangat maksimal.

Resep Masakan Ketan Durian Legit dan Lezat

Bahan Ketan:

  • 250 gram beras ketan, rendam 1 jam
  • 250 cml santan encer
  • garam secukupnya
  • 3 lembar daun pandan

Persiapan ketan:

  • Kukus beras ketan selama 15 menit lalu angkat. 
  • Panaskan santan, garam, dan daun pandan hingga mendidih lalu angkat dan tuangkan ke dalam beras ketan. 
  • Aduk hingga santan terserap lalu kukus lagi hingga matang.

Bahan kuah durian: 

  • 1 buah durian termasuk biji
  • 500 ml santan kental
  • 2 gelas air
  • 3 lembar daun pandan, cuci bersih, sobek sobek lalu diikat simpul
  • 1 sdt garam
  • 200 g gula pasir

Cara membuat :

  1. Rebus air, santan, gula, garam dan daun pandan sambil terus diaduk pelan pelan sampai mendidih dan santan terasa matang
  2. Masukkan buah durian, aduk pelan sampai mendidih.
  3. Buang daun pandan
  4. Siramkan ke atas ketan kukus
  5. Sajikan hangat / dingin sesuai selera
Continue Reading

Wisata

Mengintip Sejarah Kampong Tambelan Sampit Dari Dekat

Published

on

GENCILNEWS -Mengintip Sejarah Kampong Tambelan Sampit Dari Dekat. Sejarah panjang Kampong Tambelan Sampit, tidak akan terpisah dari nama Panglima Abdurrahman.

Beliau merupakan Panglima Kesultanan Pontianak di masa Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie. Panglima Abdurrahman bergelar Dato’ Kaya/Tok Kaye Abdurrahman, berasal dari daerah Tambelan. Beliau juga pernah menjadi Panglima di Kerajaan Siak Sri Indrapura-Riau.

Berdasarkan beberapa data tulisan yang berkenaan dengannya, ketika di Kerajaan Siak sedang terjadi perebutan kekuasaan dengan intrik-intrik politiknya, Panglima Abdurrahman bersama keluarga besarnya meninggalkan Siak kemudian menuju ke Pontianak hingga beranak cucu di Pontianak.

Kesultanan Pontianak waktu itu belum lama berdiri dengan Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie sebagai sultan pertamanya. Setelah datang bersilaturahim dan diterima oleh Kesultanan Pontianak.

Karena kecakapan dan keekatannya, Panglima Abdurrahman kemudian diperkenankan untuk membuka suatu areal tanah yang tak seberapa jauh dari kawasan Istana Kadriah.

Di areal ini kemudian menjadi pemukiman dan bernama Kampong Tambelan, sesuai dengan asal daerah Panglima Abdurrahman yaitu Pulau Tambelan.

Namun, ada juga versi cerita yang sedikit berbeda berkenaan dengan penamaan kampong ini. Konon, ada cerita yang mengatakan asal muasal penamaan kampung ini dari kata Kampong Timbalan Raja.

Maksudnya adalah suatu kampong yang dipimpin oleh seorang timbalan/wakil sultan. Hal ini karena begitu dekatnya Panglima Abdurrahman dengan sultan ketika itu sehingga keberadaan Panglima Abdurrahman sudah dianggap sebagai wakil/timbalan raja (Timbalan Sultan).

Kemudian, Panglima Abdurrahman mempunyai keturunan bernama Abdurrani yang juga menjadi Panglima Kesultanan Pontianak.

Panglima Abdurrani bergelar Tok Kaye Mude Pahlawan, juga Tok Kaye Setia Lile Pahlawan. Namanya sekarang diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kampong Tambelan Sampit, tepatnya di dekat Masjid Al-Mu’minun.

Ada begitu banyak tokoh yang berasal dari Kampong Tambelan Sampit ini, di antaranya Haji Ismail bin Haji Abdul Latif atau lebih dikenal dengan Ismail Jabal (Adviseur Penasehat Agama Kesultanan Pontianak).

Haji Ismail bin Haji Abdurrahman (Tokoh adat), Haji Ismail bin Haji Mustapa (Ahli tabib pengobatan, penulis buku ilmu pengobatan), dan Muhammad Umar bin Encik Harun bin Malim Bungsu (Tokoh ulama Melayu, penulis tentang ilmu pelayaran, penulis Sya’ir Negeri Tambelan).

Kampong Tambelan Sampit kini menjadi kelurahan dengan nama yang sama. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 7.069 jiwa dan secara administratif masuk ke dalam wilayah Pontianak Timur.

Kini, Kampong Tambelan Sampit sedang dibangun sebuah waterfront agar para wisatawan bisa menikmati suasana kampung khas Kota Pontianak, melihat panorama sungai kapuas, hingga melihat aktivitas masyarakat di tepian sungai. (all)

Continue Reading

Wisata

Tari Gandrung Banyuwangi, Identitas dan Daya Tarik Pariwisata Dunia

Published

on

Tari Gandrung Banyuwangi, Identitas dan Daya Tarik Pariwisata Dunia

Pertunjukan seni tradisional Banyuwangi, yaitu tari Gandrung, telah menjadi salah satu ikon Banyuwangi untuk menarik minat pengunjung, khususnya dari manca negara.

Pertunjukan tari Gandrung memiliki kisah sejarah yang menggambarkan perjuangan masyarakat Banyuwangi dalam melawan penjajahan kolonial, sebelum tahun 1.800.

Chosih Sudarminasih, Pelatih Sanggar Tari Mlati Rinonce menurutkan, tari Gandrung Banyuwangi awalnya ditarikan oleh kaum lelaki, yang dipelopori oleh pria bernama Marsan, sebagai upaya lain untuk melawan penjajahan.

Tari Gandrung Banyuwangi, Identitas dan Daya Tarik Pariwisata Dunia
Tari Gandrung Banyuwangi, Identitas dan Daya Tarik Pariwisata Dunia

“Waktu Banyuwangi dijajah, nah Marsan itu berjuang dengan mengecoh penjajah, dengan dia menari, terus sebenanrnya dia juga menuangkan minuman biar (penjajah) mabuk terus dibunuh. Makanya kan pas waktu tari Gandrung itu kan ada simbol bendera, bajunya. Karena asalnya dari (penari) laki-laki, dengan berkembangnya zaman karena kemerdekaan, akhirnya tidak hanya laki-laki yang menarikannya, sekarang (tarian) khas perempuan,” tuturnya.

Tari Gandrung yang awalnya hanya ada saat hajatan atau sengaja dihadirkan dengan bayaran, kini semakin berkembang dan banyak diminati. Chosih Sudarminasih menambahkan, tidak hanya intensitas pertunjukan yang hampir selalu menampilkan tari Gandrung, tarian khas Banyuwangi ini juga semakin naik pamornya setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar pertunjukan akbar Gandrung Sewu pada tahun 2011 hingga kini.

Chosih Sudarminasih mengajarkan tari Gandrung di sanggar tari Mlati Rinonce miliknya di Banyuwangi (foto Petrus Riski/VOA).
Chosih Sudarminasih mengajarkan tari Gandrung di sanggar tari Mlati Rinonce miliknya di Banyuwangi (foto Petrus Riski/VOA).

“Dulu menari Gandrung itu hanya di gandrung terop, tanggapan-tanggapan (pertunjukkan dibayar) itu, tetapi setelah ada Gandrung Sewu, mulai lagi Gandrung itu benar-benar diminati dan luar biasa antusiasnya, lebih-lebih untuk saya daerah Purwoharjo, kalau di Purwoharjo ini luar biasa untuk penari Gandrung karena apa, mereka itu berlomba-lomba kepingin ikut tampil dalam acara Gandrung Sewu. Saat mereka tampil di Gandrung Sewu, itu suatu kebanggaan,” imbuh Chosih.

Tari Gandrung awalnya merupakan identitas masyarakat Banyuwangi yang menggambarkan rasa syukur pada musim panen, tetapi kini meluas. Apalagi setelah digelarnya tarian massal yang telah menjadikan Gandrung Sewu acara rutin.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengungkapkan, melalui pertunjukan tari Gandrung ini, masyarakat khususnya anak-anak Banyuwangi dapat semakin mengenal dan mencintai budaya dan tradisi yang tumbuh dari dalam diri masyarakat itu sendiri.

Pengenalan dan upaya menanamkan kecintaan anak-anak pada tari Gandrung, diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler tari Gandrung di seluruh sekolah dasar di Banyuwangi.

“Jadi sebetulnya tari Gandrung bukan hanya soal untuk mengenalkan Banyuwangi, sebenarnya ini instrumen bahwa setiap daerah punya tari khas dalam rangka mengkonsolidasi agar anak-anak kita tahu tradisi yang kuat dan tumbuh dari rakyatnya. Nah, Gandrung kebetulan salah satu tari yang cukup menjadi ikon di Banyuwangi, maka ini anak-anak menjadi kegiatan ekstra (sekolah) dan sekarang sudah menjadi kegiatan yang masif, dari sini kemudian menghasilkan banyak penghargaan. Anak-anak diundang di Frankfrut, di Paris, dan bahkan sudah diakui oleh dunia, salah satunya karena cara yang kita kerjakan misalnya bikin Gandrung Sewu, itu sebagai cara, ada seribu penari Gandrung,” kata Azwar Anas.

Para penari dari sanggar tari Qiao Guang Surabaya sedang berlatih tari Gandrung di sanggar tari Mlati Rinonce, Purwoharjo, Banyuwangi (foto: VOA/Petrus Riski)
Para penari dari sanggar tari Qiao Guang Surabaya sedang berlatih tari Gandrung di sanggar tari Mlati Rinonce, Purwoharjo, Banyuwangi (foto: VOA/Petrus Riski)

Chosih Sudarminasih mengaku bersyukur atas terpeliharanya identitas budaya Banyuwangi. Kini sanggar-sanggar tari yang mengajarkan tari Gandrung, dan minat anak-anak untuk belajar seni tari juga semakin meningkat. Chosih bertekad memiliki panggung pertunjukan sendiri, untuk mewadahi kreatifitas anak-anak di bidang seni tari ini.

“Saya kepingin mempunyai panggung terbuka, saya pingin nmenampung dari beberapa pemuda-pemudi atau siapapun untuk saya tampilkan, mungkin setiap malam minggu dan lain sebagainya, tetapi ya itu tadi, kendalanya karena memang belum ada anggaran sehingga saya hanya bermimpi. Saya pingin di sini, di belakang ini saya buat, saya sulap seperti panggung terbuka, terus saya buat seindah mungkin, even rutin untuk menampung anak-anak yang berkreasi dan punya kreativitas,” ujar Chosih.

Melestarikan budaya dan tradisi suatu daerah merupakan kewajiban setiap warga bangsa, terutama yang ada di setiap daerah. Masyarakat yang memiliki peradaban tinggi seringkali diidentikan dengan masyarakat yang mampu menciptakan serta merawat tradisi dan budaya yang dihasilkan.

Menurut praktisi dan pengajar seni tari sanggar Qiao Guang di Surabaya, Ong Silvia Ongkowijoyo, tari tradisional harus tetap dilestarikan oleh masyarakat bila tidak ingin masyarakat itu kehilangan identitasnya.

Mengajarkan seni tari yang merupakan bagian dari budaya suatu bangsa kepada anak sejak usia dini, untuk memastikan tetap bertahannya identitas suatu bangsa.

Continue Reading

TRENDING