Kursus Kecantikan Pulihkan Kepercayaan Diri Pasien Kanker

Rambut Merhan Khalil mulai rontok ketika dia menjalani transplantasi tulang sumsum dan kemoterapi pada 2012. Akhir pekan lalu, dia mengikuti kursus di Kairo, Ibu Kota Mesir, yang mengajarkan pasien kanker perempuan bagaimana menyembunyikan tanda-tanda fisik yang muncul akibat perawatan kanker.

“Sangat membantu secara mental..untuk merasa cantic dan merasa pengobatan tidak mengubah kami,” kata Khalil yang menderita kanker plasma darah

Pelatihan itu adalah bagian dari sebuah program yang sudah berjalan di Lebanon dan Uni Arab Emirat. Bertajuk “Be Beautiful” atau “Menjadi Cantik”, program tersebut akan diluncurkan bulan ini di setidaknya tujuh rumah sakit di Mesir. Dalam pelatihan tersebut, pasien-pasien kanker perempuan bisa mendapatkan berbagai tips rias wajah, dukungan kesehatan mental, dan saran-saran seputar nutrisi.

“Ketika pasien kanker merasa dia cantik dan dia mendapat nutrisi yang layak, hal itu akan memberi dampak positif kepada kesehatan mentalnya dan memperkuat sistem kekebalan tubuhnya,” kata Hanadi el-Imam, pendiri Yayasan Hoda el-Imam, yang menyelenggarakan pelatihan rias wajah tersebut.

Baca juga   Bekerja Profesional Meski Sudah Menjadi Ibu

Kata Hadani, yayasannya menarget penyelenggaraan pelatihan itu di lima wilayah Mesir per tahun.

Beberapa rambut palsu untuk para pasien kanker yang belajar rias wajah dalam kursus yang diselenggarakan di Marriott Hotel, Mesir, 10 November 2018.
Beberapa rambut palsu untuk para pasien kanker yang belajar rias wajah dalam kursus yang diselenggarakan di Marriott Hotel, Mesir, 10 November 2018.

Faten Fawzi, seorang pasien kanker payudara, mengatakan dia merasa rambutnya terbakar setelah menjalani kemoterapi. Faten bergabung dalam sebuah kelompok yang terdiri dari lima pasien, yang saat itu belajar mewarnai alis dan memakai pelembab pada kulit kering dalam sebuah kursus di Hotel Cairo Marriott.

“Saya pergi ke penata rambut saya dan dia mencukur habis rambut saya. Perasaan saya rasanya hancur dan mulai menangis,” kata Fawzi, 46 tahun, kepada Reuters.

“Tapi setelah itu saya memakai rambut palsu yang keren dan mirip dengan rambut saya yang asli. Kamu tidak akan tahu bahwa saya menderita kanker.”

Meski sekarang dia sudah tidak mengenakan wig, Fawzi mengatakan dia masih mewarnai alis dan selalu rutin merias wajahnya karena membuatnya merasa lebih baik.

Baca juga   Kerangka Tubuh Robotik Bantu Pasien Lumpuh Kembali Berjalan

Ghada Salah, yang didiagnosis menderita kanker payudara pada 2013, mengatakan dia mulai bereksperimen dengan berbagai jenis rambut palsu dan topi berwarna-warni, setelah rambutnya rontok akibat kemoterapi.

“Saya tidak mau kelihatan sedang sakit,” katanya. “Saya tidak mau orang-orang berpikir ‘kasihan dia, dia menderita kanker.’”

Pihak penyelenggara berharap bisa menularkan tips-tips kecantikan untuk 5 ribu perempuan Mesir pada tahun pertama, kata Dina Omar, seorang ahli jantung dan salah satu pendiri Be Beautiful.

Kanker adalah salah satu dari enam penyebab kematian di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sekitar 70 persen kematian akibat kanker terjadi pada negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, menurut WHO. [ft]

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.