Connect with us

Gaya Hidup

Menikmati Pemandangan Lalu Lintas Pesawat di Gravelly Point

Published

on

 

GENCIL.NEWS  Butuh istirahat dan relaksasi setelah berjalan dan berendam di D.C.? Pergilah ke Gravelly Point, terletak  di antara Sungai Potomac dan George Washington Parkway.

Meskipun menyediakan pemandangan cakrawala dan jalan setapak D.C yang indah, daya tarik utamanya adalah pemandangan dan suara booming pesawat terbang yang berangkat atau mendarat di landasan pacu Reagan National Airport.

Taman Gravelly Point adalah salah satu bagian George Washington Memorial Park. Para pengunjung, terutama penggemar dirgantara, bisa piknik sambil menikmati lalu lintas pesawat dari taman ini karena terletak tidak jauh dari Bandara Nasional Ronald Reagan di Arlington, Virginia.

Gravelly Point Park adalah sebuah bukit besar yang berumput  yang berada tepat di utara Bandara Nasional Reagan. Penduduk setempat berduyun-duyun ke sini untuk melihat  pandangan jarak dekat pesawat lepas landas dan mendarat sambil menikmati jalur sepeda, bangku piknik, dan pemandangan langit-langit DC yang paling menakjubkan.

 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Bahasa Jawa Semakin Diminati di Amerika

Published

on

Bahasa Jawa Semakin Diminati di Amerika

Gencil News – Bahasa Jawa adalah salah satu dari begitu banyak bahasa daerah di Indonesia. Kini di Amerika Bahasa Jawa semakin diminati untuk dipelajari. Di Amerika ada sekelompok orang yang sangat berminat mempelajari bahasa daerah yang satu ini.

Kalangan yang tertarik pada umumnya berasal dari lembaga pendidikan tinggi dengan tujuan penelitian ilmiah secara linguistik. Dari bahasa itu sendiri maupun dari kelompok yang berminat mempelajari karya sastra dan seni budaya Jawa.

Selain itu warga keturunan Jawa. Yang tinggal di Amerika juga ingin mempertahankan bahasa ibu mereka dengan alasan ingin melestarikan warisan leluhur.

Dr. Thomas Conners adalah warga Amerika yang pernah mendalami bahasa Jawa. Dia kini menjabat sebagai direktur studi bahasa-bahasa dan budaya Timur Dekat, Asia Tengah dan Asia Selatan di Departemen Luar Negeri Amerika.

Linguis bergelar Ph.D. dari Universitas Yale dengan disertasi tentang bahasa Jawa, khususnya bahasa Jawa Tengger, ini pernah menetap di Jawa Timur dan Jakarta selama sekitar 10 tahun.

Di Jawa Timur dia tinggal di desa Ngadas di kawasan antara Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Untuk benar-benar mendalami bahasa Jawa dan budaya orang Tengger. Dia bahkan tidak segan-segan untuk ikut belajar sebagai siswa di sekolah dasar setempat.

Dr. Conners mengatakan bahwa dia sangat tertarik dengan bahasa Jawa karena bahasa ini merupakan salah satu bahasa dengan jumlah penutur terbesar dari rumpun bahasa-bahasa Austronesia yang meliputi semua bahasa yang ada di Indonesia, Filipina, pulau-pulau di Pasifik, sampai ke Madagaskar.

Dia mencatat persebaran bahasa Astronesia itu luar biasa, dan di antara kira-kira 1000 bahasa dalam rumpun itu. Bahasa Jawa memiliki jumlah penutur paling banyak dengan sejarah tertulis paling tua.

“Indonesia adalah negara dengan jumlah bahasa yang kedua paling besar di dunia. Di Indonesia ada berbagai macam bahasa tetapi yang terbesar adalah bahasa Jawa dengan mungkin 80/90 juta penutur. Indonesia itu seperti Laboratorium bahasa. Apa saja yang kita ingin teliti atau ingin kita ketahui tentang bahasa itu ada di kepulauan Indonesia. Bahasa Jawa khususnya memiliki beberapa keunggulan, keunikan yang hampir tidak dapat dijumpai. Dalam bahasa yang lain di mana pun di seluruh dunia. Di mana ada sekitar tujuh ribu bahasa. Misalnya hanya bahasa Jawa yang memiliki tingkatan dengan sopan santun, dengan unggah-ungguh sampai sedetilnya seperti ngoko, madya, krama, tapi juga ada krama inggil, krama andap dan juga berbagai variasinya,” katanya.

Selagi menjadi mahasiswa S3, Thomas Conners belajar bahasa Indonesia di alma maternya, Universitas Yale, tetapi dia kemudian semakin tertarik untuk mempelajari bahasa Jawa setelah mengunjungi Indonesia dan tinggal bersama penduduk setempat di kawasan Bromo, Jawa Timur selama satu minggu. Dia mengaku sangat terkesan dengan keramah-tamahan penduduk setempat.

“Waktu saya di Tengger, di Bromo kebetulan belum ada banyak turis dan saya sendirian mungkin satu minggu dan sempat bergabung sama warga sana yang ramah sekali. Mereka baik sekali diajak ngomong dan ternyata di situ masih ada beberapa orang yang masih belum bisa pakai bahasa Indonesia, tapi bahasa Jawa di situ juga berbeda dengan semua yang saya baca dalam buku. Semua tata bahasa, semua kamusnya yang bilang bahasa Jawa seperti ini, sebetulnya itu bahasa Jawa yang ada di Jogja, Solo, daerah Jawa Tengah. Jadi, saya mulai berpikir bahwa bahasa Jawa sebetulnya ada banyak variasi yang sama sekali belum diteliti, belum didalami. Jadi, saya tertarik dengan sesuatu yang masih belum begitu didalami,” tambahnya.

Dr. Conners mengatakan, lebih dari sekedar sebagai alat komunikasi, semua bahasa penting karena semua bahasa mencerminkan sejarah, budaya, kebiasaan, adat istiadat kelompok penggunanya, yang juga dipengaruhi oleh ruang, waktu, lingkungan termasuk flora dan fauna yang berbeda-beda dari satu kelompok satu ke kelompok lainnya.

Seperti bahasa apa pun. Bahasa Jawa sangat penting karena ada berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa yang hilang makna dan nuansanya jika dinyatakan dalam bahasa lain.

Untuk pelestarian bahasa, Dr. Conners berpendapat perlu adanya upaya untuk membangkitkan rasa bangga dalam masyarakat Jawa sendiri untuk melestarikan bahasa Jawa. “Orang Jawa juga bisa menggunakan bahasa Jawa dalam media sosial yang kini sangat luas dipakai di Indonesia, dan para pemangku kepentingan dalam pendidikan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur juga bisa memasukkannya sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan,” ujarnya.

“Coba untuk membangkitkan dalam rakyat sendiri biar mereka bisa bangga dan mereka bisa melihat sendiri seberapa penting bahasa itu, bahasa ibunya, bahasa nenek moyangnya untuk dilestarikan. Jadi, sangat, sangat penting,” tukasnya.

Nona Kurniani adalah penggiat pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di Amerika yang berprofesi sebagai dosen bahasa Indonesia di Universitas Johns Hopkins. Dia juga mengajar bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Washington, D.C., serta menjadi kepala sekolah bahasa Indonesia di Rumah Indonesia di ibu kota Amerika itu.

Di samping mengajar bahasa Indonesia, Nona juga giat menggalakkan penggunaan bahasa Jawa dan mengajar mahasiswa yang berminat. Diwawancarai VOA, dia mengatakan bahwa ada ketertarikan untuk belajar bahasa Jawa di Amerika, walaupun tidak banyak. Sejak tahun 2002 dia mengajar 12 mahasiswa Amerika yang menempuh area studi atau penelitian tentang atau di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bidang penelitian para mahasiswa itu beraneka ragam, termasuk etnomusikologi, antropologi, dan studi agama.

Selain itu, ada orang-orang yang belajar bahasa Jawa karena hubungan keturunan. “Ada juga mahasiswa yang belajar bahasa Jawa karena orang tuanya orang Jawa yang sudah lama menetap di Amerika. Biasanya mereka sudah lancar berbahasa Indonesia. Semua mahasiswa yang belajar bahasa Jawa juga sangat tertarik untuk belajar aksara Jawa.”

Di sela-sela kesibukannya, Nona juga menjadi relawan untuk kelas menulis aksara Jawa bagi para anggota Paguyuban Tiyang Jawi (PTJ) di Washington, D.C., dan sekitarnya.

“Pelajaran menulis aksara Jawa untuk Paguyuban Tiyang Jawi itu saya berikan karena ada sejumlah anggota yang tertarik dan merasakan keinginan untuk bernostalgia belajar aksara Jawa,” jelasnya.

Nona mengatakan, dalam kelas aksara Jawa itu ada beberapa peserta yang belum bisa berbahasa Jawa, salah seorang di antaranya orang Amerika.

Ditemui secara terpisah, Maria Rosarioningrum yang berprofesi sebagai instruktur bahasa dan budaya Indonesia di Lembaga Dinas Luar Negeri, Departemen Luar Negeri Amerika, dan sekaligus menjadi relawan guru bahasa Indonesia di Rumah Indonesia di Washington, D.C. mengaku senantiasa menggunakan bahasa Jawa di rumah.

Dia sependapat dengan Dr. Conners bahwa bahasa Jawa memiliki keunikan dan kekhasan yang sedapat mungkin dilestarikan. “Bahasa Jawa itu adiluhung. Itu warisan leluhur yang mesti dibanggakan dan sangat perlu dilestarikan. Kami selalu berbahasa Jawa di rumah, karena bahasa Jawa perlu “diuri-uri,” sekaligus untuk memberi contoh kepada anak-anak. Siapa tahu, hal itu akan memberikan semangat kepada mereka. Memang sekarang mereka hanya mengerti secara pasif tetapi siapa tahu kelak bahasa nenek moyang mereka ini. Bisa menjadi sesuatu yang dirindukan.”

Sebagai instruktur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, Maria mengatakan betapa bahasa Jawa memiliki keunggulan dan kelebihan tersendiri. Sebagai penutur bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibunya. Dia mengaku seringkali ada ungkapan yang rasanya tidak pas jika tidak dinyatakan dalam bahasa Jawa.

“Yang saya rasakan, sering kali ada nuansa dan nilai rasa yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa lain, kecuali dalam bahasa Jawa,” tambah Maria.

Dr. Jozina Vander Klok adalah warga Amerika yang kini menjadi peneliti pascadoktoral di Departemen Linguistik dan Studi Skandinavia di University of Oslo Norwegia. Sebagai seorang ahli bahasa dan pekerja lapangan. Dia pernah melakukan penelitian tentang artikulasi lintas linguistik dari segi sintaksis dan semantik, dengan wawasan empiris dari bahasa Jawa. Dia melakukan penelitian lapangan di Indonesia sejak 2010, dengan fokus pada keragaman bahasa yang digunakan di Yogyakarta, Semarang, dan Paciran di Jawa Timur.

Seperti dikatakan oleh Nona Kurniani tentang motivasi mahasiswa mempelajari bahasa Jawa, Dr. Jozina Vander Klok merasa tertarik untuk belajar bahasa Jawa 14 tahun yang lalu ketika dia mulai menempuh studi program doktor dalam linguistik di Universitas McGill di Montreal, Di kampus itu pula dia mulai belajar Bahasa Jawa dari Dr. Lathiful Khuluq, orang Jawa Timur yang sedang menempuh studi di Universitas McGill dalam bidang sosiologi. “Saya t ertarik banyak dengan bahasa Jawa. Jadi, saya ingin pergi ke Indonesia, dan belajar terus di pulau Jawa,” ujar Jozina.

Bagaikan “pucuk dicinta ulam tiba,” Jozina akhirnya mendapat beasiswa tahun 2010-2011 untuk belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Setelah kuliah di UNY, dia melanjutkan penelitian lapangan di desa Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Ketika VOA menanyakan alasan mengapa Paciran, dia mengaku bahwa itu adalah kampung halaman Dr. Lathiful Khuluq.

“Saya bisa ketemu keluarga dia, orang tua dia, di sana. Saya tinggal di desa Paciran hampir delapan bulan, belajar bahasa Jawa. Itu pengalaman yang luar biasa dan menyenangkan. Saya ketemu orang-orang yang terhormat, murah hati, ramah. Banyak orang di Paciran seperti keluargaku sekarang. Sejak itu, saya bolak-balik ke Indonesia, meniliti bahasa Jawa dialek Paciran,” ujarnya.

Sekembalinya dari Paciran, Jozina melanjutkan belajar Bahasa Jawa dari orang Jawa lainnya, Dr. Al Makin yang ketika itu menempuh studi lanjut di Universitas McGill. Baik Dr. Lathiful Khuluq maupun Dr. Al Makin kini menjadi dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebagai linguis yang berspesialisasi pada studi sintaksis dan semantik, Jozina menganggap khasanah Bahasa Jawa sangat kaya dan luas sehingga sangat menarik dipelajari.

“Bahasa Jawa itu sangat penting untuk linguistik karena, pertama, ada sejarah tertulis sejak abad ke-9. Ada bahasa Jawa kuno, yang paling tua, terus sejak abad ke-16 bahasa Jawa baru atau modern. Kami bisa mengerti bagaimana bahasa Jawa berkembang dalam keluarga bahasa Austronesia,” tukas Jozina.

Alasan lainnya, kata Jozina, “Bahasa Jawa itu kaya dalam perbedaan dialek-dialek. Kami bisa mengerti tata bahasa dengan mempelajari perbedaan dialek-dialek.”

Seperti kata Dr. Thomas Conners dan Dr. Jozina Vander Klok serta para pakar bahasa umumnya, walaupun hanya sebagai bahasa daerah. Bahasa Jawa pantas dipelajari dan dilestarikan karena bahasa ini memiliki jumlah penutur terbesar di Indonesia. Selain itu, bahasa Jawa diakui sebagai satu-satunya bahasa di Indonesia yang memiliki sejarah sastra selama 12 abad terus menerus.

Continue Reading

oleh-oleh

Oleh-Oleh Khas Kota Pontianak Yang Wajib Anda Bawa Pulang

Published

on

By

Oleh-Oleh Khas Kota Pontianak Yang Wajib Anda Bawa Pulang

Gencil News – Hari jadi Kota Pontianak belum lengkap rasanya jika belum membawa oleh-oleh khas Kota Pontianak. Makanan khas Kota Pontianak dapat membuat diri anda rindu untuk kembali lagi berkunjung ke Kota Pontianak.

Berikut daftar makanan ringan dan bera yang wajib anda bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga.

  • Kue Bingke

Makanan khas Kota Pontianak yang bercita rasa manis dan lembut ini cocok disantap saat berbuka puasa. Saking populernya kini olahan ini menjadi oleh-oleh dari Pontianak yang cukup murah dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000. Untuk rasanya beragam, ada banyak rasa yang ditawarkan mulai dari rasa original, keju, ubi, susu, dan rasa lainnya yang masih banyak.

  • Maruku

Makanan ringan khas Kota Pontianak yang terbuat dari ikan dengan rasa yang beraneka ragam. Bentuknya mirip sereal, namun warnanya agak kecoklatan karena dibuat dari tepung ikan, yang ditambah gula dan garam, sera tak lupa juga ada minyak nabati dengan bubuk ikan. Biasanya olahan yang dibuat dari ikan memiliki aroma khas agak amis layaknya ikan, namun berbeda dengan cemilan ini, karena tidak berbau amis.

  • Minuman Lidah Buaya

Jika biasanya lidah buaya atau nama kerennya Aloe Vera dibuat menjadi produk kecantikan, namun berbeda halnya jika di Kota Pontianak, karena lidah buaya dimanfaatkan menjadi produk minuman sehat dan segar serta kaya akan gizi. Gizi yang ada sangatlah lengkap, misalnya Asam Folat, Inositol, Choline, dan vitamin A sampai E yang termasuk vitamin C, E, dan B dengan semua jenisanya.

  • Lempok Durian

Oleh-oleh makanan khas Pontianak ini dibuat secara tak sengaja karena ditemukan untuk mengatasi banyaknya durian namun minim olahan, sehingga durian sia-sia jika tak diolah menjadi bentuk baru. Makanan ini sangat cocok dibeli sebagai buah tangan mengingat rasa duriannya yang begitu melekat dan bisa dinikmati bersama keluarga.

  • Kerupuk Amplang

Amplang merupakan jenis kerupuk yang dibuat menggunakan ikan, biasanya di tiap daerah memiliki bahan ikan yang berbeda, termasuk di Pontianak yang memakai ikan belidak atau Tenggiri untuk membuatnnya. Bentuk dari oleh-oleh khas Pontianak ini juga beraneka ragam, ada yang memanjang dan ada yang bulat agak kotak.

  • Sotong Pangkong

Sotong pangkong atau juhi bakar adalah camilan yang biasanya dijual saat bulan Ramadhan tiba. Biasa dijual di kuliner pinggir jalan atau pasar malam, makanan ini terbuat dari cumi yang dikeringkan kemudian dibakar dengan bumbu khusus sambil dipukul-pukul hingga pipih atau pangkong masyarakat Pontianak menyebutnya. Dengan rasanya yang gurih, pecinta seafood pasti akan jatuh hati dengan sotong pangkong sejak pertama kali mencoba.

Continue Reading

Kuliner

Resep Praktis Membuat Sambal Bawang Kemasan Ala Rumahan

Published

on

Resep Praktis Membuat Sambal Bawang Kemasan Ala Rumahan

Gencil News– Resep praktis membuat sambal bawang kemasan ala rumahan. Jika Bicara mengenai sambal, kali ini kita akan mencoba resep super praktis sambal bawang yang pedas dan gurih. di indonesia dengan beragam menu makanan yang sangat bervariasi maka makanan pendamping seperti sambal sangat menambah selera makan.

Sambal merupakan masakan pendamping yang bisa menambah rasa nikmat pada setiap masakan. Resep Praktis Membuat Sambal Bawang Kemasan Ala Rumahan bisa menjadi alternatif.

Makan sambal dengan tempe, tahu atau daging goreng bumbu ketumbar dan nasi hangat, ini rasanya sudah jadi menu andalan yang menggugah selera siapa saja.

Salah satu sambal yang populer dikalangan masyarat Indonesia adalah sambal bawang. Ternyata sambal ini adalah perpaduan cabai dengan bawang hingga menjadi kombinasi yang pas di lidah orang-orang Indonesia.

Resep Praktis Membuat Sambal Bawang Kemasan Ala Rumahan

Bahan-Bahan :

  • Bawang merah 10 siung
  • Bawang Putih 5 siung
  • Cabe merah besar ¼ ons
  • Cabe kecil pedes 1/2 kg
  • Kaldu jamur
  • Garam secukupnya
  • Air asem Jawa 50ml (opsional)
  • Jeruk purut peras sedikit (opsional biar segar dan harum)


Cara Membuat:

  1. Goreng cabe dan bawang lalu tiriskan
  2. Setelah ditiriskan, ulek cabe dan bawang bersamaan
  3. Lalu tumis hasil ulekan cabe dan bawang pd minyak yg panas
  4. Aduk merata lalu tambahkan garam dan kaldu jamur
  5. Tambahkan air asem Jawa kurang lebih 50ml
  6. Tambahkan dengan separuh jeruk purut
  7. Aduk tunggu sampe matang  dan dinginkan hingga dingin
  8. Masukkan ke dalam botol kemasan
  9. Bisa juga ditambahkan udang rebon, cumi atau pete sesuai selera.

Continue Reading

TRENDING