Connect with us

Milenial

2 Bersaudara Mengajar Mengaji di Amerika Serikat

Published

on

GENCILEWS -voa-  Belajar mengaji di mesjid merupakan hal biasa, tetapi bagaimana jika yang mengajarkannya adalah kakak beradik asal Indonesia? Eva Mazrieva menemui Huda dan Dillon, dua kakak beradik yang setiap hari mengajar mengaji di sebuah masjid di Virginia.

Inilah situasi belajar mengaji di kediaman Hanafi Amin, salah seorang warga Indonesia yang mengajarkan anak-anak Indonesia membaca Al Qur’an di kawasan Alexandria, Virginia.

Selama bertahun-tahun ia membuka rumahnya bagi warga Indonesia maupun warga negara lain yang ingin belajar mengaji dan memperdalam Islam. Dan kini, tiga dari empat anaknya – Huda dan Dihya – mengikuti jejaknya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Huda Amin mengatakan tertarik mengajar di rumah dan juga di masjid karena ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW.

“Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, ia mengajar mengaji umatnya supaya bisa di-pass on (dilanjutkan.red) ke orang-orang dan generasi mendatang.

Huda Amin mengajar mengaji di Mustafa Center, masjid dan pusat komunitas Islam di Annandale, Virginia, Minggu (3/6).

Karena Al Qur’an itu petunjuk untuk hidup dan juga untuk masuk surga. Merupakan kewajiban kita sebagai orang Islam untuk belajar Al Qur’an. (Apakah tidak lelah mengajar mengaji di bulan Ramadhan dimana Huda juga berpuasa?) Jika kita mencintai apa yang kita lakukan, tentu tidak lelah,” ujar Huda.

Siswi kelas XII Thomas Edison High School ini mengajar setiap hari Sabtu dan Minggu mulai jam 10 pagi hingga 1 siang. Khusus pada hari Minggu, ia juga mengajar di rumah khusus bagi anak-anak Indonesia.

“Kalau di masjid Mustafa, yang belajar adalah anak-anak Afghanistan, Pakistan, Arab dan juga sebagian orang Amerika. Mereka datang secara reguler setiap Sabtu dan Minggu. Tetapi di rumah biasanya hanya anak-anak Indonesia,” tambah Huda.

Sementara adiknya, Dihya, atau akrab disapa dengan Dillon, yang kini duduk di kelas VIII, membantu mengajar mengaji di masjid Mustafa setiap hari Senin hingga Kamis.

Dillon mengajar mengaji di Mustafa Center pada Senin-Kamis, jam 6-8 sore.

“Saya masih membantu guru-guru utama mengajar mengaji. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, khusus untuk anak-anak. Biasanya anak kelas III hingga kelas V. Saya dapat anak-anak Pakistan dan Bangladesh. Saya mengajar mulai jam 6-8 sore, berakhir beberapa saat sebelum berbuka deh,” tutur Dillon.

Senada dengan Huda, Dillon juga mengajar karena ingin mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW untuk mengajar orang membaca Al Qur’an.

“Ini kewajiban kita sebagai orang Islam. Sebelum Rassullullah SAW meninggal, ia khan berpesan, jika tahu membaca Al Qur’an maka wajib mengajarkan pada orang lain. Dan anak-anak yang saya ajar merasa gembira karena mereka merasa mendapat pedoman untuk hidup,” imbuh Dillon.

Meskipun demikian, Huda dan Dillon harus ekstra sabar menghadapi anak-anak belajar pada saat puasa.

“Namanya anak-anak, ada yang sangat suka dan gembira belajar, tetapi ada juga yang kecapekan karena mungkin sedang puasa. Tetapi mereka senang, dan saya membuat mereka gembira supaya mau belajar terus. (Bagaimana sambutan orang tuanya?) Mereka senang karena anak-anak mereka ada progress (kemajuan.red) untuk membaca Al Qur’an dan bahkan selalu ingin datang ke masjid,” papar Huda.

Mustafa Center, sebuah pusat komunitas Islam yang terletak di Annandale, Virginia, yang membuka kesempatan pada setiap orang untuk belajar dan mengalami isi Al Qur’an, disamping berbagai aktivitas kebudayaan dan keagamaan lain. Pusat komunitas seperti ini tersebar di banyak negara bagian di seluruh Amerika, tetapi sangat jarang warga negara Indonesia yang menjadi guru mengaji. [em/al]

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Milenial

Tanpa Mahasiswa, Kota Pelajar Sepi, Bisnis Kecil Kesulitan di Tengah Pandemi

Published

on

Tanpa Mahasiswa, Kota Pelajar Sepi, Bisnis Kecil Kesulitan di Tengah Pandemi

Gencil News – VOA – Kota pelajar di seluruh Amerika Serikat ingin segera melihat, khususnya para mahasiswa, kembali ke kampus bulan ini.

Untuk membantu memulihkan bisnis-bisnis lokal yang terdampak pandemi virus corona. Namun, di lain sisi, para pemilik bisnis lokal juga khawatir bahwa hal ini akan menimbulkan pelonjakan kasus baru.

Dilansir dari Associated Press, empat puluh ribu mahasiswa yang biasa tinggal di asrama atau sekitaran kampus universitas Michigan di Ann Arbor, Michigan, terpaksa dirumahkan akibat pandemi COVID-19.

Daerah pusat bisnis-bisnis kecil beroperasi di kota pelajar yang biasa diramaikan oleh para mahasiswa ini, kini sepi mencekam. Dampaknya dirasakan oleh Richard Schubach, pemilik supermarket kecil, “Replenish,” yang letaknya tak jauh dari kampus dan kerap melayani pelanggan kalangan mahasiswa.

“Keadaannya (sepi) seperti sedang ada badai salju setinggi hampir 1 meter, namun tanpa ada saljunya. Tidak ada orang yang berjalan kaki di trotoar dan tidak ada orang yang lalu-lalang di jalan,” ujar Richard.


Semester baru pada musim gugur di bulan September ini diawali dengan beberapa kelas tatap muka di kampus. Hal ini mendatangkan harapan, sekaligus kegelisahan dari para pemilik bisnis, yang penghasilannya bergantung kepada para pelanggan kalangan mahasiswa ini, untuk tetap bertahan.

Beberapa diantaranya pemilik restoran dan bar, Good Time Charley, Adam Lowenstein, dan Justin Herrick. Keduanya kini tengah berharap cemas.

“Lega rasanya melihat para mahasiswa ini datang kembali. Emosi yang saya rasakan adalah kelegaan dan kebahagiaan,” kata Adam.

“Firasat saya, kalau orang-orang kembali, akan timbul perebakan wabah yang cukup parah, yang kemungkinan bisa dikendalikan dan dibendung, atau mereka akan kembali menghentikan seluruh aktivitas kampus, dan mengalihkan pembelajaran ke online. Firasat saya mungkin yang terakhir,” ujar Justin.

Richard, Adam, dan Justin tidak sendirian. Pemilik usaha tempat tindik, JefSaunders, juga berjuang keras agar bisnisnya bisa tetap beroperasi di tengah pandemi.

“Pandemi ini benar-benar berdampak kepada kami. Dan Anda harus menjalankan bisnis Anda dengan sangat baik agar berhasil,” katanya.

Sayangnya, tidak semua bisnis kembali beroperasi. Kedai kopi, Espresso Royale Coffee, yang dulunya sukses, mengumumkan melalui situsnya, tidak akan beroperasi kembali karena pandemi. Sebagai mantan pelanggan, mahasiswa universitas Michigan, Ethan Ruwe, mengaku kecewa.

“Ya, agak menyebalkan bahwa tempat-tempat itu tidak buka lagi. Terutama Espresso Royale. Ada banyak orang di rumahku yang suka dengan tempat itu,” jelasnya.

Untuk mempertahankan bisnisnya, pemilik restoran The Brown Jug, Perry Porikos, kini menyediakan area makan di luar untuk para pelanggannya, yang tidak ada sebelum pandemi COVID-19. Meskipun kesulitan, ia tetap optimistis.

“Saya berharap, berdoa, dan percaya bahwa kami akan baik-baik saja,” harap Perry.

Seperti Perry, para pemilik bisnis kecil ini sangat ingin para pelajar ini kembali dan melihat kehidupan yang normal lagi.

Continue Reading

Milenial

Keberhasilan Studi di Perguruan Tinggi Adalah Membantu Orang Lain

Published

on

Keberhasilan Studi di Perguruan Tinggi

Secara umum, pendidikan tinggi merupakan pengalaman yang mementingkan diri sendiri bagi mahasiswa yang menempuhnya.

Orang sering berusaha menempuh pendidikan tinggi karena ingin memperbaiki kehidupan mereka, atau ingin meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menarik, dan bermakna.

Bahkan jika orang ingin menemukan obat untuk berbagi jenis penyakit atau mengatasi masalah tuna wisma, mereka harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan pengetahuan dan pelatihan bagi diri mereka sendiri sebelum mereka dapat membantu orang lain.

Penggemar foto berkumpul di Perpustakaan Hesburgh dengan mural Word of Life, juga dikenal sebagai Touchdown Jesus, di Universitas Notre Dame. (Foto: AP/Darron Cummings)
Penggemar foto berkumpul di Perpustakaan Hesburgh dengan mural Word of Life, juga dikenal sebagai Touchdown Jesus, di Universitas Notre Dame. (Foto: AP/Darron Cummings)

Waktu kuliah mahasiswa biasanya sangat sibuk, dan mereka seakan-akan tidak punya waktu atau kebebasan untuk melayani orang lain kecuali diri mereka sendiri. Namun, menurut Direktur Akademik di Center for Social Concerns (Pusat Peduli Sosial) di University of Notre DameConnie Snyder Mick, hal itu tidak seluruhnya benar. “Mahasiswa tetap bisa meluangkan waktu untuk membantu sesama,” ujarnya.

University of Notre Dame adalah sebuah universitas Katolik di negara bagian Indiana.

Lembaga-lembaga serupa juga bisa ditemukan di banyak perguruan tinggi dan universitas di Amerika Serikat. Mick mengatakan lembaga tu membantu mahasiswa mencari pengalaman yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan kemajuan akademik, tetapi tetap penting, yakni menjadi sukarelawan.

Mengabdi sebagai sukarelawan tidak jarang ditemukan di pendidikan tinggi. Banyak kelompok kampus mengorganisir program-program sukarela atau upaya penggalangan dana untuk berbagai alasan yang berbeda. Para pejabat yang bertanggung jawab atas perumahan mahasiswa sering menyelenggarakan acara semacam itu untuk membantu mahasiswa membangun rasa kebersamaan.

Keterlibatan dalam kegiatan semacam itu baik bagi mahasiswa, kata Mick kepada VOA. Sebagai contoh, kesibukan dalam kehidupan kampus dapat mengakibatkan stres bagi mahasiswa. Melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terkait dengan studi mahasiswa atau pekerjaan lain dapat membantu menenangkan mereka dengan mengarahkan pikiran mereka pada hal-hal lain yang positif

Mahasiswa program robotika cerdas ilmu komputer University of Southern California Kristin Jordan memberikan demonstrasi KIWI, robot pendamping sosial untuk membantu anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. (Foto: VOA / Elizabeth Lee)
Mahasiswa program robotika cerdas ilmu komputer University of Southern California Kristin Jordan memberikan demonstrasi KIWI, robot pendamping sosial untuk membantu anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. (Foto: VOA / Elizabeth Lee)

Demi memperkaya pengalaman yang lebih bermakna selama masa kuliah para mahasiswa, Connie Snyder Mick mendorong mahasiswa untuk mengunjungi pusat-pusat pendidikan seperti yang dipimpinnya.

Dia mengatakan lembaga-lembaga seperti itu tersedia di kampus untuk menciptakan peluang kerja sukarela yang lebih kompleks dan bermakna daripada, misalnya, hanya sekedar menghabiskan waktu sehari untuk membersihkan taman lokal.

Mahasiswa sering menghabiskan sedikit waktu untuk mengenal komunitas lokal di luar kampus mereka, ujar Connie.

“Pendidikan tinggi seharusnya menjadi sarana untuk memperkenalkan ide-ide baru kepada mahasiswa, dan di komunitas-komunitas itulah mungkin dapat ditemukan banyak budaya dan orang-orang yang sangat berbeda dari yang telah mereka ketahui sebagai mahasiswa,” tambah Connie.

Pintu masuk ke kampus Universitas Duke utama terlihat di Durham, N.C., Senin, 28 Januari 2019. (Foto: AP)
Pintu masuk ke kampus Universitas Duke utama terlihat di Durham, N.C., Senin, 28 Januari 2019. (Foto: AP)

Kantor pengabdian pada masyarakat di kampus sering bermitra dengan berbagai lembaga lokal yang melayani orang-orang dari komunitas terdekat. Kemitraan ini membantu memastikan agar upaya kerja sukarela dapat memenuhi kebutuhan nyata komunitas yang bersangkutan.

Bahkan bagi mahasiswa yang tidak begitu berminat untuk menemukan koneksi dengan komunitas lokal, kerja sukarela masih menawarkan nilai dan manfaat yang baik, ujar Connie.

Dia mencatat beberapa peluang dapat mendorong mahasiswa untuk menggunakan apa yang mereka pelajari di bangku kuliah di dunia nyata. Dan, tambahnya, memiliki pengalaman semacam itu dapat membuat mahasiswa lebih menarik bagi majikan setelah mereka lulus kuliah.

Menjadi sukarelawan tidak selalu berarti mencari waktu ekstra pada malam hari atau akhir pekan, katanya. Kini, semakin banyak universitas yang meminta profesor untuk merancang mata kuliah yang memasukkan pekerjaan sukarela.

Pusat kerja sukarela di kampus-kampus Amerika dapat membantu mahasiswa mengidentifikasi mata kuliah yang menawarkan pengalaman seperti itu. Lembaga-lembaga tersebut juga dapat memberi tahu mahasiswa jika perguruan tempat mereka belajar menawarkan kesempatan kerja sukarela di luar kota selama musim liburan semester.

Connie Snyder Mick mengatakan kesempatan seperti itu bisa menjadi cara yang bermakna untuk menghabiskan waktu luang dan menjelajahi tempat-tempat lain.

Continue Reading

Milenial

Intip Kesuksesan Pelajar India di Bidang Teknologi

Published

on

Intip Kesuksesan Pelajar India
Intip Kesuksesan Pelajar India di Bidang Teknologi

Intip Kesuksesan Pelajar India di Bidang Teknologi – Dolica Gopisetty dianggap sebagai mahasiswa asing, meskipun sudah tinggal di AS bersama keluarganya selama 14 tahun terakhir. Namun meskipun ia merasa negara barunya belum menyambutnya sebagai warga tapi itu tidak menghentikannya mengejar impian akademis dan profesionalnya.

Dolica Gopisetty sudah unggul sejak tiba di Amerika pada usia tujuh tahun. Sekarang, pada usia 21, ia adalah seorang mahasiswa berprestasi di Universitas George Mason (GMU) di Fairfax, Virginia untuk mengejar gelar sarjana sains di bidang teknologi informasi.

“Saya suka teknologi. Saya suka memisahkan hal-hal dan menyatukannya kembali serta melihat cara kerjanya. Saya kira itulah salah satu alasan mengapa saya selalu menyukai bidang teknik,” ujar Dolica Gopisetty.

Minat tersebut mengarahkannya menjadi salah satu mahasiswa termuda yang mendapat sertifikasi dalam program sarjana baru Universitas George Mason pada bidang Cloud computing. Program ini bermitra dengan Northern Virginia Community College dan Amazon Web Services. Program ini membantu mempersiapkan mahasiswa pada karier yang sangat diminati di Virginia Utara dan sekitarnya.

Sertifikat tersebut membantu Gopisetty mendapatkan posisi magang yang dibayar di USA Today, jaringan berita nasional tempat ia bekerja paruh waktu sebagai insinyur pengembangan perangkat lunak dengan Tim Rekayasa Konten.

“Saya benar-benar bersyukur karena sertifikasi jelas telah mengubah karier saya,” katanya. Gopisetty juga terlibat dengan kegiatan di luar kelas. Ia adalah pendiri dan ketua Asosiasi Insinyur untuk menjembatani mahasiswa antara sekolah dan karier.

Awal tahun ini ia diundang untuk menjadi pembicara di dua konferensi pendidikan utama yang diselenggarakan oleh Amazon Web Services di mana ia berbicara mengenai dampak Cloud Computing dalam pendidikan.

“Menurut saya itulah saat, dimana saya merasa semua kerja keras yang saya lakukan di perguruan tinggi, di sekolah menengah dan sepanjang hidup saya, terbayar,” kata Dolica.

Presiden Sementara GMU Anne Holton mengatakan Gopisetty adalah contoh yang baik dari kisah sukses universitasnya.

“Keragaman yang ia bawa dalam perspektif dan pengalaman serta latar belakang adalah jenis keragaman yang benar-benar dicari oleh para pengusaha, karena itu membantu mereka melakukan pekerjaan dengan baik,” kata Anne Holton.

Rombongan mahasiswa Papua di George Mason University (Foto: Triyono/VOA).
Rombongan mahasiswa Papua di George Mason University (Foto: Triyono/VOA).

Gopisetty mengatakan ia berterima kasih atas semua kesempatan yang diberikan kepadanya, tetapi seperti banyak mahasiswa internasional, Ia merasa tidak tenang mengenai status visanya.

Ia datang ke AS dengan orang tuanya pada tahun 2005 sebagai tanggungan, dengan Visa H-4.

Empat belas tahun kemudian, sebagai mahasiswa tahun akhir ketika berusia 21 tahun ia harus meninggalkan AS, kembali ke negara asalnya India – dan kembali ke Amerika dengan visa pelajar F-1.

“Agar saya bisa tinggal dan melanjutkan pendidikan secara legal di negara ini, saya harus memiliki dokumen sah dan satu-satunya yang saya perlukan adalah visa pelajar,” kata Anne Holton.

Gopisetty termasuk salah satu di antara satu juta lebih mahasiswa internasional di AS, dengan 20 persen berasal dari India. Tetapi menurut Institute of International Education, ketidakpastian visa adalah salah satu dari beberapa alasan mengapa makin sedikit mahasiswa internasional belajar di AS.

Meskipun Gopisetty berterima kasih kepada teman-teman dan mentornya di Universitas George Mason, ia ingin menjadi warga Amerika.

“Setelah tinggal di negara ini selama 14 tahun terakhir, saya hanya ingin menyebut negara ini tempat tinggal saya secara resmi. Dan ke mana pun saya pergi di dunia saya akan selalu mengatakan saya akan kembali ke negara saya,” kata Anne Holton.

Continue Reading

TRENDING