Connect with us

oleh-oleh

Kain Maduaro Selendang Penutup Kepala Masyarakat Menggala Lampung

Published

on

Maduaro merupakan jenis kain sulam dari Provinsi Lampung berupa selendang penutup kepala masyarakat Menggala. Pengaruh kain Maduaro di Lampung pada mulanya dibawa oleh nenek moyang masyarakat Menggala yang menunaikan ibadah haji di Mekkah pada abad ke-18. Selain itu para pedangang Gujarat India juga menjual kain sejenis kepada masyarakat Menggala, sehingga moti-motif yang berkembang di Menggala dipengaruhi motif dari Hindustan. Selanjutnya masyarakat Menggala mengembangkan kain Maduaro. Selain sebagai tutup kepala dikembangkan juga sebagai Kawai Rajo (Pakaian kebesaran para Penyimbang) pada upacara adat.

Pada tahun 1830, Muslimah Nahdatul Ulama di daerah Menggala mendirikan organisasi khusus untuk wanita bernama Fatimi’ah yang bergerak dibidang pembuatan kain khas Lampung seperti Tapis, Songket, Mantok (tenun) termasuk Tuguk Maduaro, Baju Sadariyah dan Tarkidah serta Ngerenda dan Sulam Bubut yang berpusat di Al Hidayah Strat III Kampung Menggala.

Para wanita Menggala membuat kain sebagai Sesan untuk dibawa pada saat pernikahan mereka, salah satunya berupa Maduaro yang dibuat dari Benang Selingkang yang didatangkan dari India. Pada periode berikutnya kegiatan menyulam kain Maduaro menjadi kebiasaan para gadis di daerah Menggala untuk mempersiapkan sebagai Sesan.

Dalam perkembangannya kain Maduaro mulai dibawa keluar oleh orang Menggala untuk membina para gadis dalam mengembangkan kerajinan menyulam di Way Lima dan Talang Padang.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

oleh-oleh

Lelang Kerangka Dinosaurus Berhasil Raup 3 Juta Euro

Published

on

Lelang Kerangka Dinosaurus Berhasil Raup 3 Juta Euro

Gencil News – Kerangka dinosaurus karnivorayang menjelajahi bumi sekitar 150 juta tahun yang lalu dijual di sebuah rumah lelang Paris pada hari Selasa (13/10) seharga 3 juta euro (Rp 52 miliar).

Reuters melaporkan, kerangka dinosaurus bereis Allosaurus yang hampir lengkap itu, digali di negara bagian Wyoming AS tiga tahun lalu, berhasil dimenangkan oleh seorang pembeli asing yang tidak disebutkan namanya.

“Ini adalah spesimen bermutu tinggi,” kata Iacopo Briano, ahli paleontologi yang bertindak sebagai konsultan di rumah lelang Binoche et Giquello yang melakukan penjualan.

Spesimen ini tidak biasa karena sangat lengkap: sekitar 70 persen tulang ada, dan ditemukan sejajar satu sama lain, membuatnya lebih mudah untuk disambungkan kembali selama proses restorasi.

Kerangka yang direstorasi itu memiliki tinggi3,5 meter dan panjang 10 meter. Sangkar tulang rusuk memiliki tanda yang menurut juru lelang adalah tanda yang mungkin sebagai akibat dari serangan saingannya,Allosaurus atau predator. 

Continue Reading

oleh-oleh

Kain Endek Bali Jadi Koleksi Musim Semi dan Panas Christian Dior 2021

Published

on

Kain Endek Bali Jadi Koleksi Musim Semi dan Panas Christian Dior 2021

Gencil News – VOA – Kain Endek Bali menjadi pilihan perancang busana terkenal Christian Dior sebagai bagian dari koleksi musim semi dan musim panas 2021. Hal ini terungkap dari peragaan busana “Paris Fashion Week” Selasa lalu (29/9) di Jardin de Tuileries, Paris.

Diwawancarai melalui telepon, Duta Besar Indonesia untuk Perancis Arrmanatha Natsir mengatakan sangat bangga dengan hal ini. “Kami sudah tahu Christian Dior akan pakai kain Endek. Mereka [Dior.red] bahkan minta bantuan kita untuk memastikan agar penggunaan kain Endek tidak menyalahi aturan budaya dan adat istiadat Bali. Jadi KBRI dan Christian Dior melakukan komunikasi yang intensif,” ujarnya.

Direktur Artistik Christian Dior Couture, Maria Grazua Chiuri, menggunakan kain Endek Bali tidak saja untuk koleksi baju, tetapi juga tas “Christian Dior for Spring/Summer 2021.” Dari 86 desain koleksi terbaru Christian Dior, ada sembilan desain yang menggunakan kain Endek Bali.

Pastikan Tak Langgar Adat, KBRI Paris Komunikasi Intensif dengan Dior

Arrmanatha Natsir mengungkapkan bahwa dalam diskusi dengan Maria Grazua diketahui bahwa inspirasi Christian Dior adalah karena ingin mengangkat nilai kebudayaan dan keahlian menenun, terutama para penenun perempuan.

“Berdasarkan riset yang dilakukan tim Christian Dior, kain Endek Bali merupakan nilai kebudayaan yang sangat sesuai dengan hasil karya yang ingin diangkat Dior. Sebagai bentuk pengakuan pada para penenun Bali, Dior berencana mencantumkan daerah asal kain pada label baju atau pakaiannya nanti,” demikian petikan pernyataan pers yang diterima VOA.

KBRI Paris mengatakan pemda memberi dukungan penuh penggunaan kain Endek, namun meminta Christian Dior menghormati sepenuhnya hak kekayaan intelektual dan menggunakan kain yang asli diproduksi dari Bali.

Punya Banyak Makna

Lewat Twitter, KBRI Paris menjelaskan bahwa Endek adalah kain tenun tradisional Bali yang digunakan untuk upacara keagamaan Hindu Bali. Kain ini berkembang pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Kerajaan Gelgel Klungkung, lalu berkembang di berbagai desa di Bali, antara lain di Desa Sulang, Desa Tenganan dan Desa Tanglad.

Beberapa motif tertentu berfungsi sebagai penolak bala dan pembawa keberuntungan. Namun seiring perkembangan jaman, kain Endek mulai digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Teknik pembuatannya juga melewati serangkaian proses kreatif karena memadukan pemilihan kualitas benang, pewarnaan alami dan inovasi.

“Kami memberikan apresiasi yang tinggi atas dukungan dan gerak cepat tim Percepatan Pemulihan Ekonomi Kemlu dan Gubernur Bali beserta timnya sehingga Christian Dior mendapat dukungan penuh menggunakan kain Endek Bali untuk koleksinya,” ujar Arrmanatha.

Ditambahkannya, “penggunaan kain Endek Bali untuk koleksi Spring/Summer 2021 merupakan pengakuan yang tinggi atas keindahan dan kualitas kain Endek Bali, dan berkontribusi positif pada dunia fashion internasional.”

Arrmanatha juga berharap agar hal ini semakin memberi semangat pada masyarakat Indonesia, khususnya di Bali, di tengah perebakan pandemi virus corona.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Paris Fashion Week tahun ini dilaksanakan dalam skala lebih terbatas. Selain mematuhi penuh protokol kesehatan, jumlah undangan juga dibatasi. 

Continue Reading

oleh-oleh

Manisnya Lek Tau Suan, Sajian Kuliner Khas Tionghoa Kalbar

Published

on

GENCIL NEWS – PONTIANAK -Manisnya Lek Tau Suan, Sajian Kuliner Khas Tionghoa Kalbar. Sebagai Salah satu suku yang ada di Kalimantan Barat yaitu etis Tionghoa. Seperti halnya suku lain, etnis Tionghoa Kalimantan Barat juga memiliki sajian kuliner khas yang lezat dan nikmat. Salah satu sajian kuliner khas Kalbar dari masyarakat Tionghoa yaitu Lek Tau Suan.

Nama Lek Tau Suan sendiri berasal dari bahasa Tionghoa yang memiliki arti butiran mutiara kacang hijau, hal ini memang Lek Tau Suan merupakan kuliner khas masyarakat Tionghoa Kalbar yang terbuat dai kacang hijau yang telah dikupas.

Manisnya Lek Tau Suan, Sajian Kuliner Khas Tionghoa Kalbar

Manisnya Lek Tau Suan, Sajian Kuliner Khas Tionghoa Kalbar

Seperti dengan arti namanya yaitu butiran mutiara kacang hijau, Lek Tau Suan memiliki tampilan yang berkilau layaknya mutiara ketika terkena sinar yang terang. Sehingga selain memiliki rasa yang manis dan lezat, Lek Tau Suan juga memiliki tampilan yang unik, maka tak jarang banyak masyarakat Kalimantan Barat maupun luar, menyukai sajian kuliner khas masyarakat Tionghoa Kalbar ini.

Kelezatan lain dari Lek Tau Suan ini dihasilkan dari campurnya kuah kental dan bening, dimana kuah tersebut terbuat dari tepung tapioka. Dan untuk rasa manisnya, Lek Tau Suan ini juga terbuat dari bahan dasar gula pasir. Sedangkan untuk aromanya memiliki aroma khas dari daun pandan.

Cara menyajikan Lek Tau Suan ini, Pertama-tama, tiriskan kacang hijau kupas yang sudah anda rendam selama kurang lebih 30 menit. Setelah itu, kukus kacang hijau itu dalam dandang yang sudah berisi air mendidih selama kurang lebih 20 menit.

Sementara menunggu kacang hijau siap, anda bisa menyiapkan hal-hal yang lain. Rebus air sampai mendidih, campur dengan daun pandan, gula pasir, gula merah, dan garam sampai benar-benar mendidih. Jika sudah mendidih dan bercampur dengan rata, masukkan kacang hijau yang sudah dikukus tadi.

Rebus semuanya dalam waktu kurang lebih 5 menit. Jika semua langkah sudah selesai dan juga adonan kacang hijau sudah bercampur, masukkan larutan tepung sagu yang sudah anda buat. Masak dan aduk terus sampai dengan kuah terbentuk menjadi kental sempurna.

Lek tau Suan disajikan bersama dengan gorengan ca kwee yang memiliki rasa gurih dan renyah. Sehingga ketika anda mencicipi kuliner khas masyarakat Tionghoa Kalbar ini anda akan merasakan sensasi perpaduan antara rasa manis, gurih renyah dan nikmat.

Continue Reading

TRENDING