Connect with us

Gaya Hidup

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat

Published

on

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat
Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat
Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat-Penelitian menunjukkan, optimistis memiliki manfaat kesehatan yang nyata. Optimistis adalah pondasi kesehatan mental yang akan menunjang kesehatan fisik. Bahkan, lebih dari 100 studi mengkonfirmasi gagasan bahwa sikap optimis dapat memberikan harapan kesehatan mental yang lebih baik selama hidup.

Optimis merupakan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Optimisme dapat juga diartikan berpikir positif. Jadi optimisme lebih merupakan paradigma atau cara berpikir.

Sikap optimis sering dianggap sebagai bentuk naif penyelesaian masalah. Pasalnya, optimistis lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dijalankan. Namun, ternyata optimistis tidak hanya memberikan efek dalam jiwa manusia, tetapi juga untuk raganya.

Optimis menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya.

Secara umum, orang yang optimis telah menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang pesimis. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa orang yang pesimis lebih rentan menderita penyakit menular, memiliki masalah kesehatan yang buruk, dan mengalami kematian dini.

Banyak orang percaya bahwa optimis adalah sifat bawaan. Nyatanya, banyak cara untuk menjadi orang yang lebih optimis. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan menghilangkan anggapan negatif pada diri sendiri dan meningkatkan pikiran positif.

Meskipun ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, dengan latihan, ketekunan, dan kemauan, cara ini akan berhasil. Tidak hanya itu, menghargai kesehatan diri dengan tidur yang cukup dan makan makanan sehat, akan membantu menaikkan tingkat optimistis.

Sikap mencerminkan dari kepribadian seseorang, dan pikiran memberi peran yang besar terhadap sikap seseorang. Itulah mengapa berpikir positif membuat perbedaan besar dalam hidup kita. Sikap yang baik dimulai dengan berpikir positif. Berpikir positif memiliki peran penting dalam pembentukkan setiap individu.

Kekuatan berpikir positif merupakan unsur yang terpenting dalam menciptakan jenis kehidupan dan dapat membantu Anda untuk mengatasi situasi stres dan mengubah hidup  jauh lebih baik.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment
0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Gaya Hidup

Miliki Daya Ingat Tajam di Usia Tua

Published

on

GENCILNEWS – Cukup luar biasa bagi orang yang berada di rentan usia 80an dan 90an untuk tetap memiliki ingatan yang tajam sama dengan mereka yang berusia puluhan tahun lebih muda, dan sekarang para ilmuwan berusaha untuk meneliti otak dari para “superlansia” untuk menemukan rahasianya.

Pekerjaan ini adalah sisi kebalikan dari perburuhan untuk obat-obatan baru yang mengecewakan untuk melawan atau mencegah penyakit Alzheimer.

Sebaliknya, “mengapa kita tidak berusaha memikirkan apa yang mungkin kita perlukan untuk memaksimalkan daya ingat kita?” ujar seorang ilmuwan ahli syaraf Emily Rogalsky, yang memimping studi SuperAging di Chicago Northwestern University.

Sebagian otak kita menyusut dengan bertambahnya usia, satu dari beberapa alasan mengapa kebanyakan orang mengalami perlambatan berangsur-angsur dari paling tidak beberapa tipe daya ingat di usia lanjut, bahkan apabila mereka berhasil terhindar dari penyakit seperti Alzheimer.

Namun ternyata otak para superlansia ini tidak menyusut secepat rekan-rekan sebayanya. Dan autopsi dari superlansia pertama yang meninggal selama pelaksanaan studi menunjukkan mereka memiliki jenis sel syaraf khusus jauh di dalam bagian otaknya yang penting untuk memusatkan perhatian. Rogalski menyatakannya di depan rapat the American Association for the Advancement of Science.

Para lansia elit ini “lebih dari sekedar keanehan atau kelangkaan,” ujar ilmuwan ahli syaraf Molly Wagster dari the National Institute on Aging, yang membantu pendanaan penelitian.

“Ada potensi untuk belajar dalam jumlah banyak dan mengaplikasikannya ke kita semua, dan bahkan pada mereka yang mungkin sedang mengalami semacam penyakit syaraf degeneratif.”

Apakah yang dibutuhkan untuk menjadi superlansia? Kondisi otak yang tetap muda dalam tubuh seorang yang berusia 80 tahun atau lebih. Tim Rogalski teleh memberikan serangkaian tes ke lebih dari 1.000 orang yang berpendapat bila mereka memenuhi syarat, dan hanya sekita 5 persen di antaranya yang lulus. Tantangan daya ingat yang penting:

Dengarkan 15 kata yang tidak berhubungan satu sama lain, dan setengah jam kemudian sebutkan paling tidak sembilan di antaranya. Itu adalah standar untuk mereka yang berusia 50 tahun-an, namun rata-rata mereka yang berusia 80-an dapat mengingat lima di antaranya. Beberapa superlansia dapat mengingat keseluruhan kata tersebut.

“Bukan berarti anda lebih cerdas,” tegas superlansia William “Bill” Gurolnick, yang memasuki usia 87 bulan depan dan bergabung dengan studi ini dua tahun yang lalu.

Bukan juga berkat adanya gen protektif: ayah Gurolnick menderita Alzheimer di usia 50-an. Menurutnya daya ingatnyayang hebat didukung dengan gaya hidupnya yang membuat ia tetap sibuk. Ia bersepeda, main tenis, dan bola voli air.

Ia tetap bersosialisasi dengan makan sian bersama-sama secara reguler dan mengikuti rapat-rapat kelompok pria yang mana ia adalah salah satu pendirinya.

“Secara absolut ini adalah faktor penting yang membuat anda tetap dapat memilik daya ingat yang tajam,” tegas Gurolnick, yang baru saja menyelesaikan pertandingan gin bulanannya.

Kelompok superlansia yang diteliti Rogalski cenderung orang-orang yang bersifat periang dan menyatakan bahwa mereka memiliki aktivitas jaringan sosial yang kuat, namun demikian mereka berasal dari berbagai profesi, yang membuatnya sulit untuk menemukan kesamaan sifat untuk kesehatan otak.

Ada beberapa yang belajar di perguruan tinggi, ada pula yang tidak. Beberapa di antaranya memiliki IQ yang tinggi dan yang lainnya ber IQ rata-rata.

Ia telah mempelajari mereka yang telah mengalami trauma mendalam, termasuk penyintas Holocaust, penggemar aktivitas kebugaran, dan perokok; mereka yang sama sekali tidak minum alkohol dan mereka yang minum martini sehari-hari.

Namun jauh di dalam otaknya dimana ia menemukan berbagai petunjuk yang meyakinkan, entah bagaimana superlansia ini lebih tahan terhadap pengaruh waktu.

Di bagian awal, pemindaian otak menunjukkan cortex – lapisan luar otak yang penting untuk daya ingat dan fungsi-fungsi penting lainnya – dari superlansia ini lebih tebal dibandingkan orang lain sebayanya. Lapisan ini tampak seperti lapisan milik orang sehat berusia 50-an dan 60-an.

Masih belum jelas apakah mereka lahir dengan kondisi demikian. Namun tim Rogalski menemukan satu kemungkinan penjelasan: cortex dari para superlansia ini tidak menyusut secepat rekan sebayanya. Dalam jangka waktu lebih dari 18 bulan, rata-rata mereka yang berusia 80-an mengalami tingkat kehilangan dua kali lebih besar.

Petunjuk lainnya: Jauh di dalam otak, bagian yang diperlukan untuk memusatkan perhatian ukurannya lebih besar pada para superlansia ini. Dan di bagian dalam, autopsi menunjukkan bagian otaknya dipenuhi dengan neuron panjang – jenis khusus dan jarang dipahami yang disebut neuron von Economo yang dianggap memainkan peran penting dalam pemrosesan dan kesadaran sosial.

Superlansia ini memiliki neuron jenis ini empat hingga lima kali lebih banyak ketimbang orang yang berusia 80-an ujar Rogalski – bahkan lebih banyak ketimbang rata-rata orang dewasa yang berusia muda.

Studi yang dilaksanakan oleh Northwestern ini bukan satu-satunya upaya untuk mengurai kemampuan daya ingat yang bertahan lama. Di the University of California, Irvine, Dr. Claudia Kawas mempelajari mereka yang berusia paling tua, orang yang berusia 90 tahun atau lebih. Beberapa di antaranya menderita Alzheimer. Yang lainnya telah berhasil untuk memelihara daya ingat tajam dan ada juga yang berada di antaranya.

Sekitar 40 persen dari mereka yang berusia paling tua yang tidak menunjukkan gejala-gejala kepikunan dalam hidup ini bagaimanapun juga telah menunjukkan gejala-gejala penyakit Alzheimer saat kematiannya, ujar Kawas pada rapat AAAS.

Rogalski juga menemukan jumlayh amyloid dan tau, simbol dari protein Alzheimer, di dalam otak dari superlansia ini.

Saat ini para ilmuwan sedang menjajaki bagaiman orang-orang ini mampu menghindar dari kerusakan. Mungkin superlansia ini memiliki jalur berbeda untuk menuju ke kesehatan otak.

“Mereka berumur panjang dan hidup dengan baik,” ujar Rogalski. “Apakah ada hal-hal yang dapat diubah yang dapat kita pikirkan sekarang, dalam kehidupan kita sehari-hari” untuk melakukan hal yang sama? [ww]

Continue Reading

Gaya Hidup

Ternyata Buah Tomat Dapat Mengatasi Kulit Kusam

Published

on

GENCIL NEWS – Sebagai seorang wanita, pastilah kita selalu ingin menjaga penampilan agar selalu oke. Terlebih soal wajah, yang menjadi daya tarik utama bagi yang melihat.

Banyak wanita mengalami permasalahan kulit wajah seperti kusam dan kulit yang terasa kasar yang membuat mereka menghabiskan banyak uang untuk membeli produk produk di pasaran tanpa terlalu memperhatikan apakah bahan bahan pembuatannya aman atau tidak, kebanyakan dari mereka membelinya hanya karena tergoda oleh rayuan spg produk kecantikan.

Padahal banyak bahan alami yang dapat mengatasi masalah tersebut seperti buah buahan. Salah satunya dengan buah tomat. Dilihat kandungannya, buah tomat tesusun atas zat-zat yang berguna dalam memelihara dan menjaga fungsi organ manusia. Di antara kandungannya berupa air dan vitamin C yang jika keduanya dikombinasikan akan menunjang kecantikan alami manusia, misalnya dengan memperkecil pori-pori pada kulit serta mencerahkan kulit.

Terus buah tomatnya diapain? Nah untuk merawat kulit wajah dengan buah tomat caranya gampang banget!

Pertama-tama yang harus kita siapkan adalah buah tomat yang sudah dicuci bersih. Selanjutnya, blender atau tumbuk buah tomat sampai halus, kalo udah halus, tinggal kita taruh diwadah untuk kemudian kita oleskan kewajah secara merata. Biarkan kurang lebih 15 sampai 30 menit sampai masker tomatnya udah agak mengering.

Setelah itu jangan lupa basuh muka yang abis dimasker dengan air hangat dan keringkan dengan kain bersih. Lakukan treatment ini secara rutin dan barengi dengan olahraga untuk hasil yang lebih maksimal, (RI)

Continue Reading

Hidup Sehat

Pesepeda Kenakan Masker ? Ini Kata Dokter

Published

on

Pesepeda Kenakan Masker Ini Kata Dokter

GENCIL NEWS – Penggunaan alat pelindung diri pada masa perebakan virus corona menjadi kebiasaan baru sesuai anjuran para pakar kesehatan dan pemerintah. Mengenakan masker dalam kegiatan sehari-hari, bahkan ketika berolah raga, termasuk bersepeda, diharapkan akan mencegah perebakan lebih jauh.

Tetapi bagaimana dampak penggunaannya untuk mereka yang menderita penyakit terkait pernafasan atau jantung?

Selama beberapa tahun terakhir, bersepeda telah menjadi pilihan olah raga yang popular di Indonesia. Masyarakat umum tertarik memilih jenis olah raga ini, demikian pula para pegawai dan pejabat pemerintah yang mengkampanyekan kegiatan berolah raga dan kesehatan.

Soes Hindharno, penggemar olah raga bersepeda yang juga pejabat Kementerian Tenaga Kerja RI, sudah bersepeda secara rutin selama tiga tahun terakhir. Ia biasanya bersepeda menempuh jarak 10 kilometer, paling tidak tiga kali seminggu.

“Naker itu logonya semut, semut hitam karena semut itu ikonnya, semut itu kala bekerja selalu Bersama-sama. Biarpun sekarang tidak dipakai sebagai logo kementrian tapi kelompok sepeda di Kementrian Tenaga Kerja, Namanya Black Ant Community. Kalau semut kan tidak bisa kerja sendiri, semut pun kalau bertemu semut lain akan berhenti bertegur sapa,” tukasnya.

Kematian berturut-turut beberapa pesepeda yang mengenakan masker di Semarang, Jakarta dan Bekasi, membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya mengenai tata cara pemakaian alat pelindung diri itu ketika berolah raga, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit sebelum perebakan COVID.

Dokter I Ketut Susila adalah ahli penyakit jantung pada RSUD Buleleng di Singaraja, Bali. “Dengan pandemi sekarang ini, semua orang diharapkan memakai masker. Kalau orang yang berolah raga khususnya bersepeda memang pakai masker tapi harus hati-hati. Kalau berolahraga speed atau kecepatannya tinggi memang kekurangan oksigen jadinya. Apalagi dasarnya punya penyakit jantung bisa kena serangan jantung akibat kekurangan oksigen. Pada saat demikian jika sudah bisa mengatur jarak dengan teman tidak memakai masker juga tidak apa-apa,” ujarnya.

Bagi pesepeda kematian terkait pemakaian masker membuat mereka waspada untuk mengenali kelelahan fisik ketika berolah raga dan memahami kapan harus memperlambat atau menghentikan kegiatan.

“Kalau saya pribadi tanda kutip memang dipanggil yang diatas, orang sesehat apapun juga bisa meninggal bahkan yang berolahraga. Di usia saya yang sudah diatas 59 harus sadar secara kolektif atau pribadi kalau memang ada yang mengganggu di organ tubuh saya, betisnya panas atau nafasnya tersengal-sengal terus sudah menggunakan persenilngnya yang rendah untuk tanjakan saya berhenti, minum, istirahat sebentar. Saya putuskan apakah gowes kembali atau saya tuntun sampai tempat datar,” tambah Soes Hindharno.

Bukan hanya pesepeda yang harus memperhatikan kondisi kesehatan ketika berolah raga, namun juga penggemar olah raga lain seperti lari, jalan cepat, bahkan kebugaran. Memiliki riwayat penyakit sebelum perebakan virus bisa menempatkan seseorang dalam risiko lebih besar terkena virus.

“Dari data yang ada kebanyakan di Indonesia terutama di Bali ada tiga penyakit utama yang rentan. Pertama orang yang punya riwayat darah tinggi atau hipertensi, kedua diabetes dan yang ketiga penyakit jantung,” kata Ketut Susila.

A.A Pramudyawati, dokter gigi yang juga menderita penyakit jantung, sudah terbiasa mengenakan masker karena pekerjaannya. Masker baginya adalah keharusan, bukan penghambat kegiatan. “Mungkin karena sudah terbiasa pakai masker kalau keluar sebelum pandemi ini.”

Sebagian pakar kesehatan Amerika, sebagaimana dilaporkan harian New York Times, mengatakan penggunaan masker pada saat berolah raga lari atau bersepeda tidak menjadi suatu keharusan. Penggunaan masker hanya diperlukan ketika berdekatan dan berinteraksi dengan yang lainnya. 

Continue Reading

TRENDING

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x