4 Tipe Stres yang Dihadapi Kaum Millenial

4 Tipe Stres yang Dihadapi Kaum Millenial
4 Tipe Stres yang Dihadapi Kaum Millenial

4 Tipe Stres yang Dihadapi Kaum Millenial – Dengan teknologi yang semakin meningkat, tekanan yang dihadapi kaum millenial juga semakin hebat dan bisa berakibat stres.

Tekanan yang dihadapi oleh generasi millenial juga berbeda, karena melibatkan keputusan besar dalam hidup mereka.

Kaum milenium menghadapi kesulitan baru dan peluang baru yang tentunya tidak dimiliki generasi sebelumnya.

Hal Apa saja yang dapat membebani pikiran kaum millenial. So GencilNews merangkumnya untuk anda, 4 Stres yang Dihadapi Kaum Milenium

Social Media

Anda dapat melihat Media sosial yang terus bertumbuhan mulai dari yag populer seperti Facebook,Twitter, Instagram, termasuk mesengger dan video live broadcasting.

Bahkan semua aplikasi ini mungkin saja tidak terlewatkan oleh millenial untu mencobanya.

Baik untuk berhubungan dengan keluarga, teman bahkan sampai ke pemasaran bisnis atau bisnis online.

Sangat mudah untuk menjadi kecanduan tidak hanya mengikuti apa yang terjadi di media sosial.

Tetapi juga terlalu fokus dan selalu mencari tahu pada apa yang orang lain lakukan.

So Bullying / Hate speech / hoax  merajalela ketika “lahir” orang-orang yang hanya bisa bersembunyi di balik keyboard dan anonimitas untuk menghina orang lain dan menyebarkan desas-desus jahat.

So Maybe bukan hanya remaja, bahkan orang dewasa juga melakukan hal ini dan pada gilirannya, hal ini akan mengarah pada penumpukan kecemasan berakibat pada stress.

Baca juga   Thailand Berharap Pada ‘Pil Ajaib’ untuk Naikkan Kelahiran

Kecemasan Yang Berlebih

Untuk berhasil dalam keadaan seperti ini, milenium harus secara efektif mengatasi kecemasan mereka.

Bagi sebagian orang untuk mengatasi kecemasan ikut kegiatan seperti teknik koping yaitu meditasi dan teknik pernapasan dalam.

Sementara ada juga yang beralih ke suplemen, obat-obatan dan minuman berkafein.

Dalam kasus-kasus ekstrem, terapi dan obat-obatan resep diperlukan, dan obat-obatan itu dapat bekerja dengan sangat baik namun tak jarang juga yang mengalami sebaliknya.

Kampus

Dalam beberapa dekade terakhir gelar sarjana adalah suatu keharusan untuk mendapatkan karir yang baik dipekerjaan.

Kuliah memang sering bikin kepala mumet, otak overheat, dan tubuh nggak keurus.

Sebagian orang mungkin merasakan betapa indahnya masa perguruan tinggi mereka. Tetapi mungkin di luaran sana ada yang merasa tertekan dengan perguruan tinggi.

Mungkin tertekan akibat tugas-tugas kuliah, ujian semester, atau faktor eksternal lain seperti teman-teman kuliah yang kerap memojokkan, atau senior yang kerap melakukan bullying.

Entah itu karena mata kuliahnya, kuis, ujian, atau pun tugas akhir. Belum lagi ada beberapa dosen yang maunya aneh-aneh, suka marah-marah atau bahkan mempersulit tugas akhirmu.

So Nggak heran kalau beberapa tahun belakangan ini banyak terjadi kasus mahasiswa bunuh diri karena masa kuliah,tentunya bunuh diri bukan lah suatu solusi.

Baca juga   2 Bersaudara Mengajar Mengaji di Amerika Serikat
Lapangan Perkerjaan Yang belum Pasti

Banyak lulusan perguruan tinggi masih menganggur atau dalam kasus lainnya.

Banyak lulusan pendidikan tinggi bekerja tidak sesuai dengan kualifikasinya selama menempuh pendidikan.

Di sisi lain, banyak pula sektor yang membutuhkan tenaga kerja tapi sepi pelamar lantaran kurangnya kualifikasi keterampilan yang dibutuhkan.

Pendidikan umum mencetak banyak sarjana, tapi tidak match dengan kebutuhan lapangan kerjanya. Dalam proses rekruitmen tenaga kerja, banyak sekali terjadi dismatch

Kesempatan kerja yang naik kalau tidak diimbangi dengan kualitas, tentunya tidak akan menolong banyak.

Yang namanya bisnis, perusahaan, pasti membutuhkan tenaga kerja yang qualified.

Banyak generasi milenium pasti menghadapi kecemasan yang tidak harus terjadi dan itu menyebabkan tingkat stres meningkat.

Stres adalah hal normal yang pernah dialami oleh setiap orang. Stres yang normal bisa memberikan dampak positif, misalnya membantu Anda bekerja lebih cepat ketika sedang mengejar masa tenggat waktu.

Namun hati-hati, kondisi stres bisa berdampak negatif jika sering terjadi dan berkepanjangan.

Orang yang tidak mampu mengendalikan stres yang dialaminya dapat mengalami nyeri kepala, nyeri perut, gangguan tidur, penyakit tertentu, dan depresi.

Finally demikian cara-cara menghilangkan stres yang bisa Anda terapkan sendiri di rumah, harap diingat bahwa manajemen stres memerlukan komitmen jangka panjang, ini adalah upaya yang sifatnya terus-menerus.



Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News