Intip 7 Jenis Usaha Yang Membutuhkan Modal Kecil
Connect with us

Bisnis

Intip 7 Jenis Usaha Yang Membutuhkan Modal Kecil

Published

on

Intip 7 Jenis Usaha Yang Membutuhkan Modal Kecil

Dalam menjalankan sebuah usaha memang tidak mudah, Banyak hal yang harus kita siapkan. mulai dari Usaha, Ide, modal hingga sumber daya manusia.

Seorang ilmuwan Amerika Serikat pernah mengatakan “Jangan menyerah hanya karena gagal pada kesempatan pertama. Sesuatu yang berharga tak akan kamu miliki dengan mudah.” – Thomas Alva Edison

Hambatan yang ada pada sebagian orang dalam memulai usaha biasanya perihal modal yang terbatas.

Namun, banyak kesempatan ide usaha dan cara yang bisa anda lakukan dengan keberanian dan kemampuan.

Berikut 7 Jenis Usaha yang membutuhkan modal kecil

1. Jual Beli Pakaian Bekas Layak Pakai

Jual beli baju bekas layak pakai kini menjadi salah satu jenis usaha yang banyak digandrungi di dunia fashion. Selain menciptakan fashion berkelanjutan (sustainable fashion), usaha ini pun hanya memerlukan modal kecil.

2. Menjual Kue atau Katering Makanan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa bisnis kue atau makanan sangat merajai pangsa pasar Indonesia. Selain mudah dilakukan, bisnis ini pun tidak perlu mengeluarkan modal yang besar.

Banyaknya orang yang tidak sempat memasak makanan atau membuat kue untuk sehari-hari jadi anda bisa dijadikan kesempatan untuk kamu membuka katering. Terlebih jika anda pandai memasak, pasti akan menekan biaya operasional.

3. Membuka Toko Online

Masyarakat sudah familier dengan sistem jual beli online, baik itu dari kalangan remaja hingga dewasa serta pria maupun wanita.

Kamu tidak perlu khawatir dengan modal, karena biaya nya relatif kecil. Bahkan, kamu tidak perlu menyewa tempat, sehingga bisa menekan modal dengan efektif.

4. Jasa Laundry

Bisnis laundry juga sangat menggiurkan, khususnya di daerah yang dekat dengan kampus maupun tempat kerja. Jenis usaha ini yang paling mendasar yaitu mempertimbangkan pangsa pasar. Contohnya adalah memilih lokasi yang banyak mahasiswa dan karyawan untuk membuka usaha ini.

5. Jasa Cuci Motor atau Mobil

Perlu menjadi catatan bahwa pemula yang tertarik menjalani jasa ini sebaiknya memulai dengan usaha cuci motor dulu saja. Peralatan yang harus anda miliki pun cukup sederhana; Pompa air, Kompresor, Kain lap, Sabun motor dan Peralatan semir ban motor.

6. Jasa Pengetikan Tugas

Bisnis ini mungkin bisa kamu temui sekitar kampus. Pasalnya, banyak mahasiswa yang membutuhkan jasa pengetikan untuk tugas kuliah atau skripsi.

Usaha ini memerlukan peralatan, seperti komputer atau laptop, printer, kertas HVS, dan scanner.

7. Jasa Membersihkan Rumah

Jasa ini memang harus berani menawarkan kemampuan karena berhubungan dengan jasa kebersihan. tetapi jika sudah berani menawarkan kemampuan maka peluang sangat besar bisa datang. modal utama dari jasa ini ialah kepercayaan diri dan alat kebersihan yang anda sediakan juga.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Bisnis

PT Telekomunikasi Indonesia Ganti Nama Jadi Telkom, Ini Faktanya

Published

on

PT Telekomunikasi Indonesia Ganti Nama Jadi Telkom, Ini Faktanya
Perseroan menyatakan bahwa telah resmi dilakukan perubahan nama dari PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk menjadi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.- foto Telkom

Gencil News – PT Telekomunikasi Indonesia adalah perusahaan informasi dan komunikasi serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap di Indonesia.

 PT. Telekomunikasi Indonesia melakukan perubahan nama perusahaan menjadi Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Perubahan nama itu telah memperoleh persetujuan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dengan surat keputusan AHU-0032595.AH.01.02.Tahun 2019. Tentang Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Perusahaan Perseroan (Persero) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk tanggal 24 Juni 2019.

 Terhitung sejak 4 Desember 2020 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan nama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Sementara untuk kode saham tetap TLKM.

 Telkom mengklaim sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, dengan jumlah pelanggan telepon tetap sebanyak 15 juta dan pelanggan telepon seluler sebanyak 104 juta.

Pemegang saham mayoritas Telkom adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 52.09%. Sedangkan 47.91% sisanya dikuasai oleh publik.

Saham Telkom diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode “TLKM” dan New York Stock Exchange (NYSE) dengan kode “TLK”.

Continue Reading

UMKM

Mempersiapkan Kemasan untuk Memenuhi Standar Ekspor

Published

on

Mempersiapkan Kemasan untuk Memenuhi Standar Ekspor

Gencil News – Meskipun standar kualitas produk adalah hal utama yang dilihat oleh pembeli/importir, terdapat standar wajib dari regulasi masing-masing negara tujuan ekspor untuk dipenuhi pada kemasan. Alasannya, kemasan berperan dalam masalah keamanan dan kesehatan produk.

Tidak hanya itu, banyak eksportir pemula yang mengalami kerugian karena barang ekspornya rusak ketika pengiriman. Bahkan, kemasan pun sebetulnya merupakan alat marketing yang cukup kuat untuk menarik pembeli/importir. Oleh karena itu, sahabat UKM harus memprioritaskan persiapan kemasan pada produk ekspornya.

Standar kemasan ekspor sebetulnya sangat spesifik pada jenis produknya. Karenanya, disini kita akan membahas persiapan kemasan ekspor yang berlaku secara umum, khususnya mengenai berbagai aspek yang penting dipahami dalam mempersiapkannya.


Fungsi Kemasan Ekspor

Kemasan yang baik dalam ekspor harus memiliki tiga fungsi utama:

  • Memuat Barang: Kemasan harus memuat kuantitas barang tertentu (dari volume, berat, atau jumlah) dengan seefisien mungkin. Disini perlu diperhatikan bentuk dan dimensi kemasan yang mempengaruhi biaya dan kekuatan.
  • Melindungi Barang: Kemasan perlu melindungi barang dari faktor bahaya di luar yang menyebabkan kerusakan dan pembusukan barang. Karenanya, suatu kemasan perlu didesain dengan kuat agar produk ekspor kita tetap dalam kondisi sempurna sampai di konsumen akhir.
  • Mempromosikan Barang: Kemasan sebaiknya memiliki fungsi marketing bagi produk. Maka dari itu, desain visual dan grafis yang menarik penting bagi kemasan. Dalam hal ini penting untuk kita mencantumkan bagaimana kualitas barang serta bagaimana barang tersebut diproduksi. Sebaiknya kemasan tidak hanya menarik konsumen yang pertama kali membeli, tapi juga bisa menciptakan loyalitas ke konsumen kedepannya.

Itulah tiga fungsi kemasan yang harus dipenuhi untuk melakukan ekspor. Diperlukan riset informasi terhadap suatu produk ekspor kita serta kebutuhan negara tujuan ekspor. Sehingga, riset merupakan hal fundamental ketika kita merencanakan desain kemasan.


Aspek Pengembangan Kemasan Ekspor

Dalam mengembangkan suatu kemasan ekspor untuk dapat memenuhi standar ekspor, kemasan dapat dibagi menjadi tiga aspek:

Kemasan Primer

Kemasan ini yang bersentuhan langsung dengan barang. Ini paling penting untuk diperhatikan karena yang paling terkait dengan standar regulasi negara tujuan ekspor. Pembeli/importir juga banyak yang memiliki permintaan spesifik di kemasan primer ini. Contoh kemasan primer adalah kaleng, botol gelas, toples, toples, karton, plastik, dan sachet.

Kemasan Sekunder

Kemasan ini yang berkaitan dalam distribusi. Kemasan sekunder menyatukan banyak satuan kemasan primer. Ini berfungsi untuk meminimalisir risiko kerusakan produk pada kemasan primer pada saat penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Biasanya, ada permintaan khusus dari pembeli/importir pada aspek ini. Contoh kemasan sekunder adalah kayu, peti, dan karung.

Kemasan Tersier

Kemasan ini yang berkaitan dalam pengiriman ekspor di kontainer. Kemasan tersier menyatukan banyak satuan kemasan sekunder dalam satu kesatuan palet dalam kontainer. Tujuan kemasan ini adalah untuk memudahkan pemindahan banyaknya barang dalam pengiriman ekspor. Biasanya, digunakan forklift truck untuk memindahkan kemasan tersier ini.

Lihat gambar di bawah ini untuk memahami perbedaan pengembangan dari kemasan primer, kemasan sekunder, sampai kemasan tersier.

Ilustrasi Pengembangan Kemasan Primer, Sekunder, dan Tersier (Kiri ke Kanan). Sumber: emballagecartier.com


Mendesain dan Mempersiapkan Kemasan Ekspor

Desain kemasan terdiri dari struktur desain, konstruksi teknikal, desain grafis (visual), penampilan, dan nilai promosi. Prioritaskan untuk membuat desain kemasan yang menjamin kualitas dan keamanan, memiliki informasi produk, memudahkan operasional pengemasan, dan memudahkan pemindahan barang dalam transportasi. Khusus untuk produk yang mengedepankan prinsip sustainability (berkelanjutan), perlu juga untuk mempertimbangkan bahan kemasan yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang (recyclability).

Untuk dapat menembus negara tujuan ekspor, terdapat 7 langkah untuk mempersiapkan standar kemasan ekspor.

1. Memahami Produk Ekspor

Cari tahu bagaimana karakteristik produk (dari fisik, kimia, maupun mekanik) untuk dapat mengemasnya dengan tepat. Contohnya, jika produknya bersifat reaktif secara kimiawi, maka tingkat reaktifnya harus dipahami. Lalu, lama ketahanan produk juga harus dimengerti. Apakah produknya basah ataukering? Apakah produknya tahan terhadap kontaminasi?

2. Evaluasi Fasilitas Pengemasan

Banyak pelaku UKM yang masih melakukan pengemasannya dengan manual sehingga perlu dipertimbangkan jenis dan bahan kemasan yang memudahkan dan mempercepat pengemasan. Sedangkan untuk pelaku usaha yang sudah melakukan pengemasan dengan mesin, maka dibutuhkan konsistensi dan akurasi yang lebih ketat pada ukuran kemasan, dibandingkan pengemasan manual. Perlu dicek juga apakah fasilitas pengemasan kita sudah memenuhi persyaratan pada GMP (Good Manufacturing Practices) dan GHP (Good Handling Practices).

3. Mengenali Kebutuhan Negara Tujuan Ekspor

Kemasan berperan penting untuk menembus target pasar ekspor. Berikut adalah beberapa contoh ceklist untuk mengenali kebutuhannya:

  • Apakah desain kemasan yang digunakan di pasar domestik dapat juga digunakan di negara tujuan ekspor?
  • Apakah desain kemasan sudah sesuai dengan regulasi dan standar yang diminta oleh negara tujuan ekspor?
  • Apakah desain kemasan sesuai dengan budaya dan karakteristik konsumen di negara tujuan ekspor?
  • Apakah negara tujuan ekspor mensyaratkan kemasan yang ramah lingkungan?
4. Memilih Bahan Kemasan yang Tepat

Pemilihan bahan pada masing-masing kategori kemasan (primer, sekunder, dan tersier) sangatlah penting bagi pembeli/importir dan konsumen akhir. Bahan kemasan haruslah yang sesuai permintaan negara tujuan ekspor, misalnya yang mudah dibuang atau didaur-ulang.

Efisiensi biaya bahan kemasan juga perlu dipertimbangkan dalam pemilihan. Namun, jangan lupa untuk memprioritaskan kualitas daripada harga kemasan. Bahan kemasan yang murah belum tentu membuat produksi dan distribusi efisien. Lalu, perlu juga dipertimbangkan ketersediaan bahan kemasan di wilayah domestik karena terdapat biaya pajak impor cukup mahal ketika impor. Selain itu, pertimbangkanlah aspek keamanan produk pada bahan kemasan.

5. Evaluasi Proses Pengiriman Ekspor (Logistik)

Jika terdapat berbagai mode transportasi berbeda-beda yang digunakan dalam operasional ekspor, maka kemasan perlu didesain untuk tahan dalam setiap tahapan pengiriman ekspor. Maka dari itu, desain kemasan tersier yang menyatukan produk ekspor pada pengiriman sangat penting untuk dievaluasi disini, begitu juga desain kemasan primer dan sekunder di dalamnya.

Dimensi kemasan tersier perlu dipilih yang sesuai dengan mode dan fasilitas pemindahan barang sampai ke negara tujuan. Banyak yang memakai persyaratan marking untuk memastikan kemasan produk dipindahkan secara tepat dan aman.

Tantangan disini adalah terdapat perbedaan kebutuhan desain kemasan dari sisi logistik dan sisi konsumen. Sisi logistik mementingkan perlindungan dan kapabilitas transportasi, sedangkan sisi konsumen mementingkan presentasi menarik dari kemasan.

6. Memenuhi Regulasi Kesehatan, Keamanan, dan Lingkungan

Negara-negara tujuan ekspor memiliki berbagai regulasi terkait keamanan dan kesehatan konsumen serta pelestarian lingkungan. Regulasi inilah yang memiliki berbagai persyaratan pada kemasan produk ekspor, yang harus direncanakan pada desain kemasan, khususnya menentukan pada bahan dan jenis kemasan.

7. Menguji Kemasan Ekspor

Langkah terakhir yang sebaiknya dilakukan adalah melakukan uji kemasan ekspor secara berkala, terutama untuk menguji ketahanan produk dalam berbagai kondisi logistik.

Idealnya, pengujian ini harus dilakukan sampai dua tahun untuk dapat mengetahui secara akurat. Namun, saat ini sudah terdapat teknologi yang mampu mempercepat pengujian ini yang memprediksi kinerja kemasan pada berbagai kondisi suhu dan kelembaban.


Berbagai Pilihan Bahan Kemasan Ekspor

Bahan kemasan memiliki tiga komponen utama (selengkapnya di tabel bawah):

  • Bahan Dasar Kemasan: untuk membuat struktur dasar kemasan
  • Bahan Dekorasi Kemasan: untuk membantu pembentukan dan dekorasi kemasan
  • Bahan Kemasan Lainnya: Komponen terkait lainnya untuk suatu fungsi tertentu
Bahan Dasar KemasanBahan Dekorasi KemasanBahan Kemasan Lainnya
KertasPlastikMetal: Baja & AluminiumGelasKayuKarung GoniBioplasticPernis (Lacquers)Tinta PrintingPerekatLabel: Kertas & PlastikPenutupPenguatPallet

Dikarenakan banyak sekali komponen dalam kemasan ekspor, maka disini kita akan fokus membahas beberapa bahan dasar kemasan.

Kemasan dengan Bahan Kertas (Paperboard)

Kemasan kertas (paperboard) cenderung tidak mahal dan memiliki permukaan yang bagus untuk dicetak grafis (visual). Kertas juga bisa dipakai di semua kategori kemasan primer, sekunder, maupun tersier. Bahkan, kemasan kertas termasuk ramah lingkungan karena mampu terdegradasi di alam dan dapat didaur ulang dengan mudah.

Berikut adalah jenis-jenis aplikasi kemasan kertas:

  • Kemasan Primer & Sekunder: Flexible Paper Packs, Molded Pulp Packs, Carton Board Packs, Micro Fluted CFB
  • Kemasan Tersier: Corrugated Fibre Board, Internal Fitments & Reinforcement, Multi Wallpaper Sacks, Solid Fibreboard.

Standar penting yang umumnya dibutuhkan kemasan kertas dalam ekspor:

  • Bahan kertas terbebas dari kontaminasi logam (heavy metals), bahkan yang tidak bersentuhan langsung dengan produk
  • Bahan kertas yang memiliki prinsip produksi berkelanjutan (sustainable). Biasanya diminta sertifikasi yang membuktikannya seperti FSC (Forest Stewardship Council).
  • Bahan kertas yang ramah lingkungan yang biasanya dideskripsikan TCF (Totally Chlorine Free) atau ECF (Elemental Chlorine Free).

Contoh Kemasan Kertas (Paperboard). Sumber: packagingstrategies.com

Kemasan dengan Bahan Plastik

Kemasan plastik bisa tahan kimia (chemical resistant), cenderung murah, dan ringan untuk berbagai macam produk ekspor. Kerugian memakai kemasan plastik adalah sifatnya yang mudah ditembus atau diserap oleh cahaya, gas, uap air, dan molekul kecil lainnya. Bahkan ini memiliki risiko tinggi untuk bercampur dengan produk makanan.

Namun karakteristik ini tergantung dari jenis bahan plastik yang digunakan. Sehingga penting untuk mengetahui beberapa jenis bahan plastik berikut ini untuk memenuhi standar ekspor.

  • LDPE (Low-Density Polyethylene): Mudah diproses namun tidak bisa digunakan pada kemasan yang mengharuskan perlindungan dari gas.
  • HDPE (High-Density Polyethylene): Lebih keras dan kurang fleksibel namun populer untuk kemasan produk makanan.
  • Polypropylene (PP): Cocok sebagai kemasan untuk produk yang membutuhkan ketahanan pada suhu tinggi. PP meleleh pada suhu 170 derajat Celcius sehingga produk dengan kemasan ini dapat digunakan pada microwave.
  • Polystyrene (PS): Lebih murah dan kurang kuat, biasanya dipakai hanya sebagai layer kemasan.
  • Polyvinyl chloride (PVC): sangat rentan pada panas dan mudah berubah secara kimiawi. Karenanya, memiliki citra buruk sebagai perusak lingkungan.
  • Polyesters: Kuat terhadap panas karena meleleh pada lebih dari 270 derajat Celcius. Sehingga, produk dengan kemasan ini cocok untuk digunakan pada microwave.

Contoh Kemasan Plastik. Sumber: International Trade Center

Kemasan dengan Bahan Gelas

Kelebihan kemasan gelas adalah kuat, tidak berbau dan tahan kimia, sehingga cocok untuk produk makanan. Bahan gelas juga tidak tembus oleh gas dan uap air, sehingga mampu menjaga kesegaran produk dalam waktu yang lama tanpa mempengaruhi rasa dan baunya. Selain itu, bahan gelas juga mampu tahan pada suhu tinggi. Bahan gelas pun bisa didaur ulang berulang-ulang kali.

Namun, gelas memiliki berat tinggi sehingga meningkatkan biaya transportasi dan memiliki risiko tinggi akan kerusakan dalam perjalanan. Bahan gelas wajib dikuatkan melalui pemanasan dan pendinginan lambat sebelum dapat digunakan sebagai kemasan ekspor.