Bandar Udara Supadio Kalimantan Barat, Kenali Lebih Dekat
Connect with us

Travel

Kenali Lebih Dekat Bandar Udara Supadio Kalimantan Barat

Published

on

Kenali Lebih Dekat Bandar Udara Supadio Kalimantan Barat
PT Angkasa Pura II menjadi pengelolah Bandar udara Supadio. Luas Bandar Udara Internasional Supadio adalah 528 Ha/Hektar. Bandar Udara Supadio pada tahun 2017 memiliki bangunan terminal baru dengan luas 32.000 m² berkapasitas 4 juta penumpang per tahun, yang mulai beroperasi sejak tahun 2017. Foto Dok
Loading...

Gencil News – Bandara udara Supadio adalah sebuah bandar udara kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat. Bandar Udara Supadio yang masuk kedalam wilayah pemerintahan Kabupaten Kubu Raya, telah menjelma menjadi bandar udara bertaraf internasional.

PT Angkasa Pura II menjadi pengelolah Bandar udara Supadio. Luas Bandar Udara Internasional Supadio adalah 528 Ha/Hektar. Bandar Udara Supadio pada tahun 2017 memiliki bangunan terminal baru dengan luas 32.000 m² berkapasitas 4 juta penumpang per tahun, yang mulai beroperasi sejak tahun 2017.

 Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada tanggal 28 Desember 2017 terminal baru bandara Supadio.

Gedung terminal baru juga dilengkapi dengan 4 (empat) buah garbarata demi kenyamanan penumpang yang naik-turun pesawat, namun pada tahun 2019 ditambah 3 (tiga) unit garbarata, sehingga pada tahun 2020 Bandar Udara Internasional Supadio memiliki total 7 (tujuh) fasilitas garbarata.

” Selamat sore, tidak lama lagi kita akan segera mendarat di Bandar Udara Supadio Kubu Raya Kalimantan Barat. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Pontianak. Sebelum meninggalkan pesawat, kami minta anda untuk memeriksa kembali barang bawaan anda. Terima kasih telah terbang bersama kami”

Sejarah Bandara Supadio

Pada awalnya seperti kebanyakan bandar udara di Indonesia. Bandar udara Supadio pada awalnya merupakan laparangan terbang militer. Namun pada perkembanganya dibuka bandara udara sipil.

Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio dalam perjalanan sejarahnya, dimulai dari suatu daerah yang ditutupi oleh hutan belantara. — Dikutip dari TNI AU

Dengan adanya perkembangan tingkat perekonomian masyarakat di sekitar daerah Kampung Sei./Sungai Durian, terutama di daerah Pelabuhan Motor Sei./Sungai Durian, sehingga menyebabkan perkembangan arus lalu lintas angkutan Sungai Kapuas menjadi meningkat pesat.

Kepadatan arus lalulintaspun semakin meningkat padat, apalagi setelah dibukanya jalan raya dari simpang tiga ke Pontianak sehingga semakin padatnya arus lalulintas di Sungai Kapuas maupun di arus lalulintas darat.
 
Melihat dan mempertimbangkan kondisi arus lalulintas angkutan di sekitar daerah Sei./Sungai Durian yang semakin padat.

Maka Pemerintah Belanda mulai memikirkan untuk mencari alternatif lain sarana angkutan lalulintas guna mengurangi kepadatan arus lalulintas Sungai Kapuas dengan dasar pertimbangan itu, pihak Pemerintah Belanda berencana untuk membuka lapangan terbang di daerah Sei./Sungai Durian.

Pihak Pemerintah Belanda melakukan kesepakatan dengan pihak Kerajaan Pontianak untuk melaksanakan rencana membangun lapangan terbang di daerah Sei./Sungai Durian.
 
Setelah mendapat kesepakatan dengan pihak Kerajaan Pontianak maka Pihak Kerajaan Pontianak menyerahkan sebagian lahan untuk dipergunakan Pemerintah Belanda didalam membangun lapangan terbang tersebut.

Pemerintah Belanda mulai melaksanakan penelitian-penelitian di daerah Sei. Durian, terutama penelitian mengenai struktur tanah dan faktor-faktor kondisi alam di daerah tersebut.

Langkah awal yang dilaksanakan oleh Pemerintah Belanda dalam kegiatan penelitian itu, Pemerintah Belanda mendatangkan tenaga-tenaga insinyur dari Belanda.
 
Pertimbangan lain dari Pemerintah Belanda dalam rencana untuk membangun lapangan terbang di daerah Sei. Durian.

Apabila dilihat dari pertimbangan faktor strategis pertahanan adalah untuk mempertahankan kekuasaan Pemerintah Belanda di daerah Kalimantan Barat dari pihak Jepang dan para pejuang Republik Indonesia.

Pada saat itu pihak Pemerintah Belanda sedang terlibat Perang Dunia II dengan salah satu musuhnya adalah Pemerintah Jepang.
 
Namun sangat disayangkan rencana Pemerintah Belanda tersebut tidak dapat terlaksanan karena dalam Perang Dunia Ke II, Pemerintah Belanda dikalahkan oleh Pemerintah Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang rencana pembangunan Lapangan Terbang Sungai Durian dilanjutkan sampai dengan selesai. Maksud dari Pemerintah Jepang dalam melanjutkan rencana pembangunan Lapangan tersebut adalah untuk membangun kekuatan udara Jepang di Kalimantan Barat.

Dengan cara penyimpanan pesawat-pesawat tempurnya untuk menunjang berbagai kegiatan penerbangan pesawat-pesawat tempurnya guna melawan kekuatan Sekutu/NICA di daerah Kalimantan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Pemerintah Jepang didalam menyimpan semua pesawat-pesawat tempurnya bukan hanya di landasan saja tetapi sampai disekitar landasan yang masih ditumbuhi semak-semak belukar dengan cara penyamaran.
 
Pada saat lapangan terbang baru selesai dikerjakan maka Pemerintah Jepang mulai melaksanakan uji coba landasan dengan menggunakan pesawat tempurnya.

Sewaktu pesawat tempur Jepang itu melaksanakan Take Off, maka pesawat tempur Jepang itu menyenggol Troli pasir yang berada di pingir landasan sehingga pesawat itu mengalami kecelakaan dan mengakibatkan penerbang Jepang meninggal seketika.

Untuk menghormati penerbang yang meninggal itu, maka Pemerintah Jepang membangun Tugu/Monumen Jepang dan setiap orang yang akan melewati Tugu/Monumen Jepang itu harus sudah tahu sebelumnya, pada jarak berapa dari Tugu/Monumen Jepang memberi hormat, apabila melakukan kesalahan akan mendapat sangsi tegas dari tentara Jepang yang menjaga Tugu/Monumen Jepang itu.
 
Apabila ditinjau dari sejarah nama Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian, dari informasi para sesepuh dan data-data yang didapat dari lapangan bahwa pemberian nama itu disesuaikan dengan letak daerah Lapangan Terbang itu berada di daerah Sei./Sungai Durian.

Sejarah nama Lapangan terbang Sei./Sungai Durian dimulai kira-kira tahun 1908 Kampung Sungai Durian masih merupakan hutan lebat belantara dan merupakan daerah tertutup yang dahulu dikenal sebagai daerah yang angker, tidak berpenghuni apalagi jalan tikus, yang ada hanya jalan Sungai Kapuas dari Pontianak.
 
 
Menurut cerita beberapa orang kampung yang gagah berani yang mencoba hendak menebang hutan di daerah ini, namun tidak berhasil karena hantu kuntilanak sangat ganas dan menakut-nakuti manusia yang berlabuh dipinggir Sei./Sungai Kapuas.

Mereka hanya berhasil membabat pinggiran Sei./Sungai Kapuas sampai Muara Sungai Kecil dan mereka menanami pinggiran yang telah dibabat itu dengan menanami pohon-pohon Durian.

Setelah pohon-pohon Durian itu kian hari kian bertambah besar maka sejak itu kampung ini dinamakan Kampung Sei./Sungai Durian sampai sekarang.

Dengan adanya proses waktu, terutama pada jaman pendudukan Pemerintah Jepang, pohon-pohon Durian itu mulai bertumbangan karena pengaruh erosi Sungai Kapuas.
 
Setelah Pemerintah Jepang mengalami kekalahan perang dengan pihak Sekutu/NICA pada tahun 1942, maka Indonesia kembali dijajah oleh pihak Sekutu/NICA.

Pada waktu Pemerintah Belanda kembali menjajah Indonesia tidak ada usaha untuk membangun kembali Pangkalan Udara Sungai Durian yang sudah dalam kondisi rusak parah akibat dibom oleh pihak Sekutu membonceng Belanda.

Mulai tahun 1951 oleh Bangsa Indonesia mulai adanya usaha untuk membangun kembali Lapangan Terbang Sungai Durian dengan memperbaiki kondisi yang telah rusak parah karena sebagian telah berubah menjadi hutan dan sebagian lagi sudah menjadi areal pertanian/ladang.
 
Adapun pembangunan kembali Pangkalan Udara Sungai Durian dimulai dari pembentukan Perwakilan Singkawang I sampai menjadi Pos Penghubung.

Peningkatan pembangunan Lapangan Terbang Sei/Sungai Durian, dimulai pada saat hubungan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah terjadi konfrontasi.

Pemerintah Indonesia melaksanakan persiapan operasi “Dwikora” dan mulai dilaksanakan gelar kekuatan pesawat terbang dan pasukan, untuk dapat menampung semua kekuatan maka diadakan peningkatan pembangunan lapangan Terbang Sei/sungai Durian dalam waktu cukup singkat.

Dengan adanya pelaksanaan kegiatan persiapan operasi “Dwikora” dan pembangunan kemampuan Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian maka Lapangan Terbang Sei/Sungai Durian menjadi sibuk, ditambah lagi adanya gelar pasukan.

Rencana dari Pemerintah Indonesia bahwa Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian akan dijadikan PangkalanAju/Operasi karena letah Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian yang berhadapan langsung dengan negara Malaysia.

Dalam perkembangan selanjutnya, sejarah Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian mengalami banyak rangkaian proses perubahan, mulai dari perubahan peningkatan status atau tipe, perubahan perggantian nama, bahkan sampai dengan perubahan status.
 
Adapun perubahan status/peningkatan tipe dari Lapangan Terbang Sei./Sungai Durian sampai saat ini adalah menjadi tipe “B” dan mulai tahun 1969 nama Pangkalan Udara Sei./Sungai Durian
berubah nama menjadi Pangkalan TNI AU Supadio.

Dengan berubahnya statusnya menjadi tipe “B”maka Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio memiliki 1 (satu) Skadron pesawat tempur, itu Skadron Udara 1 yang memiliki kekuatan 18 pesawat Hawk Mk 109/209 dan akhirnya Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio memiliki kemampuan menjadi pangkalan operasi.
 
 
Skadron Udara 1 memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang, dari awal sampai akhirnya dipindahkan ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio.

Proses didalam menyiapkan sarana dan prasarana yang berhubungan dengan pemindahan Skadron Udara 1 dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdurachman Saleh ke Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio mengalami proses perjalanan sejarah yang cukup lama. Proses pemindahan Skadron Udara 1 ini.

Diawali pada tanggal 29 April 1999 dalam tahap pertama kedatangan 2 (dua) buah pesawat Hawk MK 209 menempati pos baru di Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio dan bulan Nopember 1999 seluruh armada yang memperkuat Skadron Udara 1 telah datang.
 
Bersamaan dengan penempatan Skadron Udara 1 di Pangkalan TNI Angkatan Udara Supadio maka Pangkalan TNI Angkatan Udara Pekanbaru memiliki Skadron Udara 12 dengan mengawaki pesawat yang sama. Pimpinan mengharapkan antara Skadron Udara 1 dengan Skadron Udara 12 dapat menjalin kerjasama dengan baik dalam pelaksanaan tugas pokoknya.

Dengan adanya kerjasama yang baik, maka untuk memperkuat pengamanan diwilayah Indonesia bagian Barat dapat dilaksanakan secara maksimal sehingga perkiraan ancaman yang datangnya dari Corong Barat dan Corong Utara dapat ditangkal dan secara umum dapat menjaga kedaulatan negara Republik Indonesia di wilayah udara nasional.

Usulan Pergantian Nama menjadi Bandar Udara Sultan Syarif Abdurahman

Pada tahun 2015 muncul polemik mengenai perubahan nama bandar udara Supadio. Mulai dari nama Sultan Hamid II hingga Sultan Syarif Abdurahman.

Nama Bandara Supadio sebelumnya juga pernah direncanakan diganti menjadi Bandar Udara Internasional Sultan Hamid II pada tahun 2006, tapi rencana itu dibatalkan.

Penggantian nama Bandara Internasional Supadio Pontianak itu sebenarnya memang sudah memiliki SK yang diterbitkan oleh DPRD tahun 1979, dan pada tahun 2000 sudah ditindaklanjuti oleh Kementerian Perhubungan.

 Syarif Usmulyani yang merupakan Staf Ahli PT Angkasa Pura II Bandara Supadio pada saat itu (tahun 2015) mengatakan

Suasana bandar udara Supadio – foto tahun 2013 – Courtesy aeronusantara.blogspot.com

Intinya PT Angkasa Pura II sudah menyetujui hal itu. Tinggal bagaimana pemerintah daerah menanggapi hal tersebut untuk ditindaklanjuti.

“Seperti pergantian nama bandara di daerah lain, sudah banyak yang menggunakan nama raja pertama di masing-masing daerah. Untuk Bandara Supadio sendiri, saya rasa itu memang harus segera diganti juga,” katanya.

Selanjutnya pada tahun 2020, isu pergantian nama bandara Supadio kembali menyeruak dimana Sebanyak empat fraksi di DPRD Provinsi Kalbar yang terdiri dari Fraksi Golkar, Fraksi NasDem, Fraksi Gerindra dan Fraksi PAN meminta agar nama Bandara Internasional Supadio dan Pelabuhan Dwikora di ubah.

Namun sampai sekarang, kelanjutan dari wacana diatas belum juga berbuah hasil.


Bandar udara Supadio menjelma menjadi airport modern

Bandar Udara Internasional Supadio sudah memiliki bangunan terminal baru dengan landasan pacunya yang lebih panjang dan lebar, agar menjadi bandara kelas dunia.

Pada 2012 tender untuk pelapisan landasan pacu sepanjang 2.250 meter telah dilakukan dan pada awal 2013 pelapisan akan dilakukan.

Proyek tahun jamak untuk memperluas landasan pacu menjadi 2.500 meter juga mulai pada tahun 2013. Sebelumnya, pada 2010-2011 landasan pacu telah diperlebar dari 30 meter menjadi 45 meter dan penambahan landasan pacu baru dengan panjang 3.500 meter x 60 Meter.

Pada tahun 2019 ditambah garbarata ditambah lagi sebanyak 3 (tiga) unit. Jadi di tahun 2020 Bandar Udara Internasional Supadio memiliki total 7 (tujuh) fasilitas garbarata. Adapun panjang landasan pacu, bandara Supadio memiliki panjang 2.600 meter.

Adapun rute domestik yang dilayani dari Bandara Supadio diantaranya Jakarta, Bandung, Semarang, Yogykarta, Surabaya, Banjarmasin, Ketapang, Palangkaraya, Putussibau, Balikpapan, Makassar, dan Batam. Sedangkan rute internasionalnya menuju ke Kuala Lumpur dan Kuching.

Pada tahun 2017, Bandara Supadio Pontianak dan Bandara Sultan Thaha Jambi berhasil menempati peringkat satu dunia. Keduanya menjadi terbaik berdasarkan survei Airport Service Quality (ASQ) Quarter II/2017.

Kedua bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (Persero) itu diberikan penghargaan oleh Airport Council International (ACI), sebuah organisasi independen beranggotakan 592 perusahaan yang mengoperasikan 1.853 bandara di 173 negara.

Airport Council International melalui survei ASQ ini mendorong agar Bandara-bandara di dunia dapat secara konsisten memberikan pelayanan terbaik. Survei ASQ menjadi tolok ukur dalam industri bandara udara global.

Hasil survei ASQ periode April – Mei 2017 menyatakan, Bandar Udara Internasional Supadio adalah bandara terbaik atau Peringkat 1 dari 80 negara yang mengikuti ASQ pada Kuartal II/2017 untuk kategori bandara berkapasitas 2-5 juta penumpang.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Travel

Mengenal Destinasi Wisata Bukit Sepancong Bengkayang

Published

on

By

Mengenal Destinasi Wisata Bukit Sepancong Bengkayang
Loading...

Gencil News- Bukit Sepancong merupakan destinasi wisata wajib jika berkunjung ke Bengkayang. Bukit Bengkayang. Bukit ini berada di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Dalam keadaan new normal saat ini untuk ke lokasi ini setiap pendaki sudah dibekali akan SOP. Dimana setiap pendaki wajib menggunakan masker, wajib mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer dan menjaga jarak dengan pengunjung lain serta bisa berangkat registrasi dengan cara mendaftar secara online via WA sebab kuota pengunjung pada masa ini dibatasi.

Jika anda sudah sampai pada bukit ini, anda akan disuguhkan dengan pemadangan bengkayang serta berhadapan dengan bukit bawang yang indah.

Ketika anda sampai pada tujuan bawah dari bukit sepancong, biayanya cukup terjangkau yakni untuk uang masuk sendiri Rp10 ribu. Jika anda dan rombongan menggunakan motor anda akan dikenakan tarif motor Rp10 ribu dan untuk kendaraan mobil dikenakan tarif Rp20 ribu.

Jujur saja ketika sampai disini anda tak akan pernah bosan. Karena pengurus bukit sepancong sudah menyediakan beberapa fasilitas untuk kalian berfoto mengabadikan momen. Selain itu pada bagian bawah bukit sepancong sendiri terdapat hutan Konservasi Anggrek dan biasanya menjadi tempat pengunjung mandi setelah dari pendakian.

Tak usah khawatir jika anda pergi kesini, kalian yang baru memulai untuk pendakian tak usah takut untuk tersesat.

Karena disetiap jalan ada penunjuk arah serta jalannya cukup besar. Pada penunjuk arah nantinya ada pada setiap jalan serta beberapa pos peristirahatan serta sumber air bersih yang bisa diminum.

Continue Reading

Gaya Hidup

6 Bandara di Indonesia Yang Mampu Di Darati Pesawat Berbadan Lebar

Published

on

Loading...

GENCILNEWS– Bagi anda yang menyukai berpergian, baik untuk perjalanan bisnis atau liburan. Menggunakan moda transportasi udara adalah pilihan yang masuk akal yaitu cepat sampai di tujuan. Menunggu jam keberangkatan pesawat, bagi sebagian orang akan membosankan. Tetapi tak jarang yang menikmati dengan menghabiskan waktu untuk berlama-lama di bandara. (lebih…)

Continue Reading

Travel

Turis Sepi, Monyet Kelaparan dan Serbu Rumah Penduduk di Sangeh Bali

Published

on

Turis Sepi, Monyet Kelaparan dan Serbu Rumah Penduduk di Sangeh Bali
Loading...

Gencil News – VOA – Kehilangan sumber makanan pilihan mereka — pisang, kacang tanah, dan barang-barang lainnya yang dibawa turis— monyet-monyet yang lapar di Bali menyerbu rumah-rumah penduduk desa untuk mencari sesuatu yang enak.

Penduduk Desa Sangeh mengatakan kera ekor panjang abu-abu berkeliaran keluar dari cagar alam yang berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman warga.

Khawatir serangan sporadis tersebut akan meningkat menjadi serangan massal monyet di desa, warga memilih membawa buah-buahan, kacang tanah, dan makanan lainnya ke Hutan Monyet Sangeh.

“Kami takut monyet-monyet lapar itu menjadi liar dan ganas,” kata salah seorang warga desa, Saskara Gustu Alit.

Taman Mumbul, Sangeh, Bali (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)
Taman Mumbul, Sangeh, Bali (Foto: Courtesy/Gus Santi Utama)

Sekitar 600 kera hidup di cagar alam hutan, berayun dari pohon pala yang tinggi dan melompat-lompat di sekitar Pura Bukit Sari yang terkenal, dan dianggap keramat.

Pada waktu normal kawasan hutan lindung tersebut populer di kalangan penduduk lokal dan turis internasional untuk dijadikan spot foto pernikahan. Monyet dapat dengan mudah dibujuk duduk di bahu atau pangkuan dengan iming-iming satu atau dua kacang.

Pariwisata merupakan sumber pendapatan utama bagi 4 juta penduduk Bali. Sebelum pandemi menghantam, Bali biasanya dikunjungi 5 juta turis asing setiap tahunnya.

Hutan Monyet Sangeh biasanya dikunjungi sekitar 6.000 pengunjung per bulan, tetapi ketika pandemi menghantam tahun lalu dan perjalanan internasional menurun drastis, jumlah pengunjung turun menjadi hanya sekitar 500.

Sejak Juli, ketika pemerintah melarang turis asing ke pulau itu dan menutup tempat tersebut bagi penduduk lokal juga, maka tidak ada seorang pun yang berwisata ke sana.

Manajer Operasi Made Mohon Hutan Sangeh mengatakan hal itu berdampak pada tidak adanya yang membawa makanan tambahan untuk monyet-monyet itu. Selain itu suaka tersebut juga kehilangan pendapatan dari biaya masuknya dan kehabisan uang untuk membeli makanan bagi mereka.

Menurut Made, sumbangan dari penduduk desa telah membantu, tetapi mereka juga merasakan kesulitan ekonomi dan secara bertahap memberi semakin sedikit.

“Pandemi berkepanjangan ini di luar dugaan kami,” kata Made Mohon, “Makanan monyet jadi masalah.”

Seekor monyet di kawasan Hutan Lindung Sangeh, Bali, Desember 2019. (Foto:VOA/ Nurhadi)
Seekor monyet di kawasan Hutan Lindung Sangeh, Bali, Desember 2019. (Foto:VOA/ Nurhadi)

Made menjelaskan biaya makanan untuk para satwa itu mencapai sekitar Rp850 ribu sehari, mencakup 200 kilogram singkong, dan 10 kilogram pisang.

Seringkali, monyet berkeliaran di desa dan duduk di atap. Kadang-kadang mereka melepaskan genteng dan menjatuhkannya ke tanah. Ketika penduduk desa mengeluarkan makanan persembahan keagamaan setiap hari di teras mereka, monyet-monyet itu melompat turun dan kabur bersama mereka.

Biasanya, monyet menghabiskan sepanjang hari berinteraksi dengan pengunjung — mencuri kacamata hitam dan botol air, menarik pakaian, melompat-lompat — dan Gustu Alit berteori bahwa hewan primate itu lebih dari sekadar lapar. Mereka bosan.

“Makanya saya imbau warga desa di sini untuk datang ke hutan bermain dengan kera dan menawarkan mereka makanan,” katanya. “Saya pikir mereka perlu berinteraksi dengan manusia sesering mungkin agar mereka tidak menjadi liar.”

Continue Reading

Travel

Demi Kenyamanan Tamu, Transera Hotel Pontianak Siapkan Promo PPKM

Published

on

By

Demi Kenyamanan Tamu, Transera Hotel Pontianak Siapkan Promo PPKM
Sales Excekutive Transera Hotel, Nazla Nisella
Loading...

Gencil News – Transera Hotel Pontianak hotel bintang 3 mampu kenghadapi pandemi kurang lebih dua tahun belakangan ini. Hotel yang berlokasi di Jalan Gajah Mada Kota Pontianak Provinsi Kalbar ini bertahan dengan strategi yang baik.

Sales Excekutive Transera Hotel, Nazla Nisella mengungkapkan sempat merasakan dampak pandemi mulai dari PSBB hingga PPKM. Mulai dari penutupan hotel sementara dan hingga akhirnya dapat melaksanakan kegiatan seperti semula saat ini.

“Kita sempat menutup sementara dan mengalihkan tamu hotel ke Aston karena owner yang sama. Hal ini kami lakukan mengikuti anjuran pemerintah untuk membatasi jumlah pengunjung,” ujar Nazla saat diwawancarai Gencil News, Rabu (04/-8/2021)

Dampak yang sangat terasa dari hotel ini selama pandemi yaitu dari sisi pengunjung restoran. Hal ini karena adanya pembatasan jam operasional. Sementara makanan yang ada direstoran ini merupakan unggulan yang dimiliki Transera Hotel karena harganya yang terjangkau dibawah Rp50.000 rupiah.

Namun, tak ingin mengecewakan pelanggan setia Transera, Nazla menjelaskan bahwa selama PSSB dan PPKM pihak transera menyediakan layanan pesan antar. Agar masyarakat luas dapat menikmati makanan khas Transera bersama keluarga dirumah.

Sementara, untuk menjaga keamanan dan kenyaman tamu hotel, Transera melakukan penyemprotan cairan disinfektan keseluruh ruangan dan kamar hotel. Petugas juga siap sedia memastikan kesehatan tamu hotel dengan pengecekan suhu tubuh  dan menyiapkan Handsanitizer.

“Untuk kenyamanan tamu hotel kita rutin melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala, dan satpam selalu siap untuk mengarahkan tamu melakuka pengecekan suhu dan penggunaan Handsanitizer,” jelasnya

Promo PPKM

Selain itu, Transera Hotel cukup mengerti dengan kondisi masyarakat selama PPKM yang terbatas juga secara finansial. Maka Transera Hotel menyuguhkan berbagai promo untuk tamu hotel.

Transera juga menyuguhkan berbagai promo selama PPKM, yaitu Promo Paket Kamar Murah (PPKM) harga kamar hanya Rp230 ribuan. Transera juga menyiapkan berbagai voucher seperti voucher berenang dan berbagai voucher lainnya.

“Bagi tamu yang datang bersama keluarga dan ingin menikmati berenang dikolam renang, kami juga menyiapkan voucher berenang untuk tamu,” terangnya

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING