Indonesia Hadirkan Nuansa Ramadhan bagi Para WNI di Australia Barat
Connect with us

Travel

Indonesia Hadirkan Nuansa Ramadhan bagi Para WNI di Australia Barat

Published

on

Sejak merebaknya COVID-19 dan ditetapkannya sebagai pandemik di seluruh wilayah Australia dan secara khusus  Australia Barat, telah berdampak besar terhadap masyarakat Indonesia yang berstatus sebagai mahasiswa, pemegang working holiday visa, dan warga lanjut usia.

Dimana berkurangnya pendapatan atau tidak memadainya sumber penghasilan menyebabkan kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Menanggapi kondisi tersebut, KJRI Perth bergerak cepat dengan memberikan bantuan yang diperlukan oleh para WNI terdampak.

Sebanyak 350 paket bantuan telah disalurkan kepada WNI di Australia Barat khususnya kepada tiga kelompok tersebut yang disampaikan langsung ke kediaman WNI yang membutuhkan.

Lebih lanjut, bertepatan dengan momentum Bulan Suci Ramadhan 1441 H, kegiatan rutin buka bersama KJRI dan masyarakat yang selalu diadakan tiap tahun tidak dapat terakomodir pada Ramadhan kali ini.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat kebersamaan KJRI dan masyarakat dalam menyemarakan bulan Ramadhan tahun ini yang dilakukan dalam format berbeda.

Hal ini ditandai dengan pemberian 30 paket takjil dan makanan berbuka puasa kepada mahasiswa Indonesia dan direncanakan akan kembali didistribusikan menjelang akhir bulan puasa.

Warga masyarakat Indonesia yang ditemui tim KJRI Perth menyatakan luapan kegembiraannya, karena dapat merasakan nuansa lebaran Nusantara di luar negeri, di tengah situasi prihatin Pandemi COVID-19.

“Kami tidak menyangka mendapat kejutan istimewa ini. Benar-benar menyentuh dan mengharukan,” demikian komentar salah satu WNI di titik pendistribusian bantuan.

Penyaluran paket tersebut sebagai tanda silaturahmi dan sekaligus untuk menyampaikan pesan optimisme kepada seluruh warga negara Indonesia bahwa negara melalui perwakilannya disetiap negara akan selalu hadir serta memberikan bantuan dan pelindungan yang optimal dalam situasi apapun.

Konjen Dewi dalam berbagai kesempatan diskusi dengan tokoh masyarakat, ketua ormas/komunitas di Australia Barat, menekankan agar warga tetap optimis dalam masa sulit ini, menjaga kesehatan dengan mengikuti petunjuk kesehatan yang disediakan oleh pemerintah setempat serta selalu menjaga tali silaturahmi antar sesama anak bangsa.

“Semoga pandemi COVID-19 segera berlalu dan kita semua dapat kembali beraktivitas secara normal dan bersilaturahmi seperti sedia kala” ujar Konjen Dewi.

 “Bagi kami, konsep negara hadir bukan hanya di saat darurat, namun juga hadir untuk memberikan kegembiraan dan semangat bagi warga kita yang jauh dari kampung halaman, di tengah pandemi.

Di Indonesia, paket bahan pokok atau sekotak ketupat opor lebaran barangkali dirasa biasa. Namun tidak demikian halnya di mancanegara, di musim dingin, jauh dari keluarga. Untuk itulah KJRI Perth hadir,” demikian tegas Konsul Jenderal Indonesia di Perth, Dewi Gustina Tobing di sela-sela kesibukan pendistribusian bahan pokok untuk warga Indonesia terdampak COVID-19 di Perth, Australia.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Mengenal Suku Karenni yang memiliki Leher Jenjang

Published

on

Mengenal Suku Karenni yang memiliki Leher Jenjang

Tepat pada perbatasan Myanmar, tinggal sebuah suku Karenni yang memiliki leher jenjang bernama Kayan Lahwi.

Suku Karen yang tinggal pada wilayah ini Sesungguhnya bukanlah suku asli Thailand.

Suku ini pada awalnya tinggal pada dataran tinggi Tibet, lantas berpindah ke Myanmar tepatnya ke daerah yang berbatasan dengan Thailand.

Selanjutnya, daerah ini kemudian terkenal dengan sebutan Karen State. Suku Karen sebenarnya terdiri dari beberapa sub etnis antara lain, etnis Pwo Karen, Skaw Karen dan Bwe Karen.

Beberapa sub etnis ini berpindah ke Thailand setelah berkonflik dengan pemerintah setempat.

Saat ini sebagian besar Suku Karen masih tinggal pada wilayah Myanmar sedangkan kurang lebih 150.000 orang memilih untuk menetap pada wilayah Thailand.

Suku Karen, yang secara tidak resmi memiliki ciri khas leher jenjang datang ke Thailand dari Burma, ketika melarikan diri dari perang dan kekerasan di negara mereka.

Selain itu, suku karenni terkenal sering mengenakan cincin emas pada leher mereka.

Dari saat mereka berusia 5 hingga 21 tahun, setiap tahun satu cincin akan masuk kepada leher mereka. hingga pada akhirnya, leher mereka menjadi sangat panjang.

Keunikan Suku Karen yang sekaligus menjadi daya tariknya adalah keharusan para kaum wanitanya untuk memanjangkan leher dengan menggunakan tumpukan kawat dari bahan kuningan.

Keharusan untuk memanjangkan leher ini merupakan tradisi. Tak hanya pada bagian leher saja, tumpukan gelang-gelang dari kuningan juga ada pada bagian kaki dan pergelangan tangan.

Gelang-gelang logam yang ada pada bagian leher wanita Suku Karen ini beratnya bisa mencapai 5 Kg. Sedangkan gelang-gelang logam yang ada pada kaki dan lutut berat masing-masing sekitar 1 Kg.

Biasanya gelang tersebut yang akan dilepas saat seorang wanita menikah, melahirkan dan meninggal dunia.

Continue Reading

Gaya Hidup

Sensasi Bagi Penyelam dan Ilmuwan, Kuda Laut Yunani

Published

on

Penyelam lokal terpesona oleh makhluk laut yang anggun itu dan akan berusaha keras mendokumentasikan keberadaan mereka dan menghimbau perlindungan bagi kuda laut itu.

Pada 2007, penyelam komersial Vasilis Mentogiannis sedang mengerjakan proyek bawah air di teluk terpencil di Semenanjung Chalkidiki di Yunani Timur Laut ketika ia melihat kuda laut.

“Saya berkata sendiri, ‘Wow, kuda laut, luar biasa’. Tidak lama kemudian lewat yang lainnya, lalu yang lainnya, dan saya melihat banyak sekali , dan saya heran ‘ada apa disini? Saya kira ini sangat luar biasa,” kata Vasilis.

Penyelam berpengalaman itu mengatakan sangat langka melihat sekelompok kuda laut berkumpul bersama seperti itu. Didorong oleh rasa ingin tahu, ia memutuskan membentuk tim penyelam untuk melakukan survei dan mengumpulkan data mengenai kuda laut itu.

Para penyelam terpesona oleh kuda laut, kata anggota tim, Kostas Katsioulis.

“Ini adalah fenomena yang unik. Mereka yang menyelam bersama kami menjadi sangat antusias setelah melihat kuda laut, karena tidak ada perasaan lain seperti itu ketika Anda menyelam,” kata Kostas.

“Kami telah menghabiskan berjam-jam dengan kuda laut. Kuda Laut adalah makhluk pemalu, selalu membelakangi kamera,” kata Vasilis menyambung pernyataan Kostas.

Atas saran para ilmuwan, Mentogiannis yang punya latar belakang teknik mesin dan ahli dalam survei geofisika dan bawah laut menciptakan habitat buatan untuk kuda laut pada 2015.

“Kuda laut menyesuaikan diri dengan baik. Habitat buatan itu sangat berguna bagi kuda laut karena bisa mengaitkan ekornya, berbaring dan menyamarkan diri pada tali,” papar Vasilis.

Meskipun kuda laut hidup di perairan di sekitar Yunani, para ilmuwan mengatakan tidak lazim menyaksikan keberadaannya yang stabil dan berkelanjutan di daerah ini. [my]

Continue Reading

Gaya Hidup

Sungkui Kuliner Khas Sanggau yang Wajib Dicoba

Published

on

GENCIL NEWS -SANGGAU – Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat memiliki makanan khas yang nikmat dan lezat, yaitu sungkui. Di Sanggau, sungkui merupakan makanan favorit untuk jamuan acara-acara pesta atau pada saat hari-hari besar seperti Idul Adha dan Idul Fitri.

Dikalangan Keraton Surya Negara Sanggau, sungkui merupakan menu yang wajib ada, dan dipastikan setiap tamu yang singgah ke Keraton akan disajikan makanan yang lezat ini. Menurut  Pangeran Drs. Gusti Arman Ratu Surya Negara, mengatakan sungkui bukan hanya makanan tradisional biasa, karena sungkui adalah menu andalan untuk tamu kehormatan bagi kerajaan.

Menu sungkui berbentuk sederhana yaitu tipis dan lonjong memanjang, namun meskipun begitu sungkui memiliki aroma yang khas, sehingga membuat sungkui banyak disukai dari berbagai kalangan, baik kalangan biasa-biasa saja maupun pengusaha dan pejabat ketika ada perayaan hari besar.

Cara memasak sungkui pun sangat sederhana, yaitu setelah dibungkus ke dalam daun keririt, kemudian diikat menjadi 10 bungkus dengan daun yang sama. Setelah itu direbus sekitar 4 jam dan agar matang merata maka setiap 2 jam sekali dibolak-balik.

Cara menyajikan sungkui kuliner khas Sanggau yaitu dengan dihidangkan bersama sambal nanas, opor ayam, rendang sapi, gulai, dan yang wajib ada adalah serondeng. Dan  akan lebih sempurna lagi jika dihidangkan dengan lemang dan pencuci mulut sirkaya (terbuat dari gula, telur dan santam dengan cara di steam).

Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat memang tempatnya untuk mencari kuliner dengan rasa yang nikmat dan lezat. Jika anda datang kesini pastikan anda mencicipi sungkui, kuliner Khas Sanggau.

Continue Reading

TRENDING