Singapura Incar Perjalanan Bebas Karantina dengan AS Sebelum Akhir Tahun
Connect with us

Travel

Singapura Incar Perjalanan Bebas Karantina dengan AS Sebelum Akhir Tahun

Published

on

Singapura Incar Perjalanan Bebas Karantina dengan AS Sebelum Akhir Tahun

Gencil News – VOA – Menteri Perdagangan dan Industri Singapura mengatakan negara tersebut sedang berupaya untuk mengizinkan masuknya pelancong dari Amerika Serikat yang telah divaksinasi COVID-19 tanpa melalui karantina sebelum akhir tahun.

Singapura, pusat perjalanan dan pariwisata, memulai program serupa untuk pelancong dari Jerman dan Brunei bulan lalu sebagai bagian dari pelonggaran bertahap kontrol perbatasan COVID-19.

“Kami telah sukses menjadi pilot Jalur Perjalanan Bervaksinasi (Vaccinated Travel Lanes/VTL) dengan Jerman dan Brunei untuk memfasilitasi masuknya individu yang divaksinasi penuh ke Singapura untuk bisnis dan liburan,” kata Gan Kim Yong dalam pidatonya saat berkunjung ke Washington DC.

Baca juga   Taliban Umumkan Kabinet dengan Semua Anggotanya Laki-Laki

“Kami sekarang sedang mengerjakan VTL dengan AS sesegera mungkin, dan tentunya sebelum akhir tahun,” katanya sebagaimana dilasir dari Reuters.

Pengunjung yang divaksinasi di VTL dapat melewati persyaratan isolasi jika mereka dites negatif dalam tes reaksi berantai polimerase.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Travel

Maskapai Dibolehkan Angkut 100 persen Penumpang, Tapi Ini Syaratnya

Published

on

By

Maskapai Dibolehkan Angkut 100 persen Penumpang, Tapi Ini Syaratnya
Aturan baru Pemerintah akan memperbolehkan Maskapai mengangkut 100 persen daripada jumlah kursi dalam satu kali penerbangan

Gencil News – Aturan baru Pemerintah akan memperbolehkan Maskapai mengangkut 100 persen daripada jumlah kursi dalam satu kali penerbangan.

Salah satu aturan yang dilakukan penyesuaian adalah syarat perjalanan udara domestik. Sepanjang dua pekan ke depan, pemerintah tak lagi mengizinkan penggunaan tes rapid antigen sebagai syarat penerbangan. Pelaku perjalanan penerbangan domestik hanya diperbolehkan tes RT-PCR.

Aturan baru dari Pemerintah ini selengkapnya akan tertuang dalam Surat Edaran dari Pemerintah.

Juru Bicara Kementrian Perhubungan, Adita Irawati mengatakan Pemerintah akan memberikan pernyataan secara resmi terkait kebijakan baru ini, pada Kamis (21/10/2021) pukul 13.00 WIB.

Pada aturan sebelumnya penumpang masih bisa menggunakan hasil tes antigen H-1 untuk penerbangan di dalam wilayah Jawa-Bali.

Baca juga   Bandara Internasional Inggris Mulai Sistiim Pertahanan Anti Drone

Namun periode PPKM 19 Oktober-1 November 2021 kali ini, pemerintah kembali menerapkan sejumlah aturan untuk membatasi mobilitas masyarakat.

Aturan tersebut diubah dengan mewajibkan seluruh penumpang pesawat melampirkan hasil tes negatif PCR yang berlaku dari H-2 penerbangan.

“Penerbangan dari dan ke Jawa Bali dari dulu juga wajib PCR. Dari dulu penerbangan dari dan ke Jawa Bali itu tidak boleh antigen, yang boleh itu penerbangan di dalam Jawa-Bali. Dan dalam ketentuan baru akan diubah semua wajib PCR,” kata Adita

Continue Reading

Travel

Kangen Travelling? Intip Staycation Hemat Budget dan Tetap Seru!

Published

on

Kangen Travelling? Intip Staycation Hemat Budget dan Tetap Seru!

Gencil News-  Semenjak pandemi sejak tahun 2020 lalu, banyak wisata destinasi yang vakum sementara, Begitu juga dengan kegiatan travelling baik luar dan dalam kota.

Pembatasan yang ketat menjadi cara untuk meminimalisir virus covid-19. Namun, seiring dengan pemberian vaksin tahap I dan II pada berbagai daerah sampai dengan pelonggaran wilayah maka kegiatan travelling juga perlahan mulai di buka.

Mungkin banyak dari anda yang sudah kangen ingin travelling? Intip staycation hemat budget dan tetap seru setelah pandemi.

Baca juga   Arab Saudi Menghapus Peraturan Gender di Restoran

1. Pastikan anda/keluarga sudah mendapat vaksin lengkap

Perlunya vaksin sebagai pelindung bagi anda dan keluarga untuk melakukan perjalanan nantinya.

Siapkan data vaksin lengkap dan jangn lupa tambahan multivitamin untuk anda atau keluarga supaya lebih mudah pengaturannya selama dalam perjalanan.

2. Membuat alokasi dana

Menentukan jumlah budget dapat membantu kamu menentukan destinasi lokasi untuk staycation nantinya.

Mempersiapkan dana sesuai dengan kebutuhan tentunya merupakan langkah awal yang esensial agar kamu bisa berlibur dengan tenang.

Dengan mempersiapkan alokasi dana dari awal, kamu bisa menghindari risiko over-budget.

3. Membuat perbandingan harga, fasilitas, dan hal lainnya

Jika sudah menemukan lokasi yang tepat, kamu bisa melakukan perbandingan harga hotel dan akomodasi lainnya.

Baca juga   Bandara Internasional Inggris Mulai Sistiim Pertahanan Anti Drone

Jangan takut untuk mencari banyak referensi. Pasalnya, semakin banyak pilihannya, semakin variatif juga harga, fasilitas, akomodasi, hingga hal lainnya yang bisa kamu bandingkan.

4. Manfaatkan promo

Tips staycation hemat budget yang bisa menekan banyak pengeluaran adalah dengan memanfaatkan promo.

Biasanya, banyak aplikasi untuk memesan kamar hotel yang menawarkan berbagai promo menarik. Dengan memanfaatkan promo tersebut, kamu bisa mengurangi biaya yang keluar untuk membayar penginapan.

Baca juga   Taliban Umumkan Kabinet dengan Semua Anggotanya Laki-Laki

5. Memanfaatkan fasilitas sarapan gratis

Saat memilih penginapan untuk staycation, sebaiknya kamu memilih penginapan yang menyediakan fasilitas yang menguntungkan, seperti fasilitas untuk sarapan atau jalan-jalan di kota tujuan wisata.

Sehingga anda dan keluarga bisa mengurangi pengeluaran untuk makan dan jalan-jalan selama berlibur.

Continue Reading

Travel

5 Kota Di Negara Ini Ternyata Berdiri di Atas Dua Benua

Published

on

Menarik, 5 Kota Di Negara Ini Ternyata Berdiri di Atas Dua Benua

Gencil NewsMenarik 5 kota di negara ini ternyata berdiri diatas dua benua. Ada beberapa kota di dunia yang berdiri di atas dua benua sekaligus. Uniknya, penduduk kota bisa tinggal terpisah di sebagian benua yang lain, dan sebagian lainnya menghuni benua berbeda.

Istanbul merupakan salah kota yang cukup terkenal hingga memiliki julukan kota dua benua. Namun, ada beberapa kota lainnya yang ternyata memiliki letak geografis lintas benua yang sama dengan Istanbul. Berikut beberapa kota dua benua yang perlu kamu ketahui.

  1. Istanbul, Turki

Istanbul merupakan kota terbesar di Turki yang memiliki luas sekitar 2.065 mil persegi. Kota ini dulu dikenal dengan nama Byzantium atau Konstatinopel. Menurut World Atlas, Istanbul termasuk ke dalam benua Asia dan Eropa. Uniknya, sepertiga penduduknya menghuni kawasan benua Asia, sedangkan sisanya menghuni kawasan benua Eropa. Pusat ekonomi di kota ini berada di sisi benua Eropa.

Baca juga   PBB: Finlandia Paling Bahagia di Dunia, AS Makin Tak Bahagia

Selat bosphorus memiliki peran penting yang memisahkan antara benua Asia dan Eropa. Hingga saat ini, Istanbul tetap menjadi kota sarat akan sejarah yang diminati banyak wisatawan. Pesona tujuh puluh museum menjadikan kota ini sangat menarik untuk dikunjungi.

  1. Suez, Mesir

Suez atau dikenal sebagai Isthmus of Suez merupakan kota yang terletak di Mesir bagian timur. Kota ini menghubungkan laut Mediterania dan laut Merah. Kota ini berdiri di perbatasan benua Asia dan Afrika. Diperkirakan, populasi penduduk mencapai 744.000 .

Menurut National Geographic, kota ini membangun Terusan Suez sepanjang 119 mil yang memungkin kapal-kapal melintasi Eropa, Afrika Utara, Asia Barat dan Asia Timur tanpa harus berkeliling Afrika.

  1. Magnitogorsk, Rusia
Baca juga   Truk Sampah, Jadi Kanvas Seniman Ukraina di New York

Magnitogorsk merupakan kota yang terletak di Rusia barat berbatasan dengan sungai Ural. Menurut Britannica, kota ini dikenal dengan kota industri yang pada tahun 1975 berdiri salah satu pabrik besi dan baja terbesar di dunia. Selain itu, letak geografisnya yang unik berada di benua Asia dan Eropa.

Penataan kota menjadikan area industri yang sebagian besar berada di wilayah benua Asia, sedangkan area perumahan berada di benua Eropa. Hingga saat ini, Magnitogorsk masih menjadi kota industri penghasil besi dan baja.

  1. Orenburg, Rusia.

Orenburg merupakan salah satu kota di Rusia yang berada di tepi sungai Ural. Kota ini mendiami kawasan benua Asia dan Eropa. Menurut Population Stat, penduduk yang mendiami kota ini berjumlah sekitar 569 ribu jiwa. Kota ini pertama kali didirikan pada tahun 1735 sebagai benteng yang dijadikan pusat militer Ural Cossack.

Baca juga   Resep Minuman Sehat Rendah Gula Untuk Berbuka Puasa

Selain memiliki industri teknik dan pengolahan gas, Orenburg menawarkan berbagai destinasi liburan yang  layak untuk dikunjungi. Ada banyak bangunan ikonik khas Rusia yang membuat kota ini digemari para wisatawan.

  1. Atyrau, Kazakhstan

Atyrau merupakan kota yang terletak di bagian barat Kazakhstan. Kota ini terletak sekitar sungai Ural, sehingga mendiami kawasan lintas benua Eropa dan Asia. Populasi penduduk mencapai 180 ribu jiwa. Semula, kota ini bekas bagian Uni Soviet hingga akhirnya membebaskan diri.

Perubahan kota Atyrau dapat dilihat dari pembangunan gedung perkantoran, hotel-hotel dan restoran yang mulai dikunjungi para wisatawan. Jika kamu ingin merasakan sensasi berdiri di atas dua benua, maka disini hanya harus melintasi jembatan Sungai Ural.

Continue Reading

Travel

Mulai 14 Oktober, Ini SE Satgas COVID-19 Soal Perjalanan Internasional

Published

on

By

Mulai 14 Oktober, Ini SE Satgas COVID-19 Soal Perjalanan Internasional

Gencil News – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 20 Tahun 2021 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Internasional pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

“Surat Edaran ini berlaku efektif mulai tanggal 14 Oktober 2021 sampai dengan waktu yang ditentukan kemudian,” ditegaskan dalam SE yang ditandatangani Ketua Satgas Ganip Warsito pada tanggal 13 Oktober ini.

Disebutkan dalam latar belakang SE ini, bahwa dalam rangka menindaklanjuti perkembangan situasi penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional, diperlukan penyesuaian mekanisme pengendalian terhadap perjalanan internasional.

“Untuk mengantisipasi penyebaran virus SARS-CoV-2 baru maupun yang akan datang dan dalam rangka pembukaan kembali sektor pariwisata melalui perjalanan internasional, maka pelaku perjalanan internasional harus mematuhi protokol kesehatan dengan sangat ketat serta memperhatikan regulasi atau kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah,” ditegaskan dalam SE.

Ganip menyebutkan, maksud SE ini adalah untuk menerapkan protokol kesehatan terhadap pelaku perjalanan Internasional pada masa pandemi COVID-19. Adapun tujuannya adalah untuk melakukan pemantauan, pengendalian, dan evaluasi dalam rangka mencegah terjadinya peningkatan penularan COVID-19.

“Ruang lingkup Surat Edaran ini adalah protokol kesehatan terhadap pelaku perjalanan internasional” ujarnya.

Sebagaimana didefinisikan dalam SE, pelaku perjalanan internasional adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari luar negeri pada 14 hari terakhir.

Dalam SE disebutkan juga sejumlah dasar hukum yang digunakan, di antaranya adalah  keputusan Rapat Terbatas (Ratas) tanggal 28 Desember 2020 serta tanggal 6 Januari, 11 Januari, 21 Januari, dan  2 Februari 2021. Juga keputusan Ratas tanggal 6 September dan 11 Oktober 2021.

Berikut ketentuan protokol kesehatan yang tertuang dalam SE:

1. Pelaku perjalanan internasional yang berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) dari luar negeri diizinkan memasuki indonesia dengan tetap mengikuti protokol kesehatan ketat sebagaimana ditetapkan pemerintah.

2. Larangan memasuki wilayah Indonesia, baik secara langsung maupun transit di negara asing tetap diberlakukan bagi pelaku perjalanan internasional yang berstatus Warga Negara Asing (WNA) kecuali yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 34 Tahun 2021 tentang Pemberian Visa dan Izin Tinggal Keimigrasian dalam Masa Penanganan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 dan Pemulihan Ekonomi Nasional;
b. Sesuai skema perjanjian bilateral Travel Corridor Arrangement (TCA); dan/atau
c. Mendapatkan pertimbangan/izin khusus secara tertulis dari kementerian/lembaga (K/L).

3. Seluruh pelaku perjalanan internasional, baik yang berstatus WNI maupun WNA harus mengikuti ketentuan/persyaratan sebagai berikut:

a. Mematuhi ketentuan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah;
b. Menunjukkan kartu atau sertifikat (fisik maupun digital) telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap seminimalnya 14 hari sebelum keberangkatan sebagai persyaratan memasuki Indonesia, dengan ketentuan sebagai berikut:

i. WNI wajib menunjukkan kartu atau sertifikat (fisik maupun digital) telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap sebagai persyaratan memasuki Indonesia, serta dalam hal WNI belum mendapat vaksin di luar negeri maka akan divaksinasi di tempat karantina setibanya di Indonesia setelah dilakukan pemeriksaan RT-PCR kedua dengan hasil negatif;
ii. WNA wajib menunjukkan kartu atau sertifikat (fisik maupun digital) telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap sebagai persyaratan memasuki Indonesia;
iii. Dalam hal WNA belum mendapat vaksin di luar negeri maka akan divaksinasi di tempat karantina setibanya di Indonesia setelah dilakukan pemeriksaan RT-PCR kedua dengan hasil negatif, dengan ketentuan sebagai berikut:

Baca juga   Soal Dan Kunci Jawaban Kelas 2 SD Tema 2 Hal 112-120

1) WNA berusia 12-17 tahun;
2) Pemegang izin tinggal diplomatik dan izin tinggal dinas; dan/atau
3) Pemegang kartu izin tinggal terbatas (KITAS) dan kartu izin tinggal tetap (KITAP).

iv. WNA yang sudah berada di Indonesia dan akan melakukan perjalanan, baik domestik maupun internasional, diwajibkan untuk melakukan vaksinasi melalui skema program atau gotong royong sesuai peraturan perundang-undangan;
v. Kewajiban menunjukkan kartu atau sertifikat vaksinasi COVID-19 (fisik maupun digital) sebagai persyaratan memasuki Indonesia dikecualikan kepada:

1) WNA pemegang visa diplomatik dan visa dinas yang terkait dengan kunjungan resmi/kenegaraan pejabat asing setingkat menteri ke atas dan WNA yang masuk ke Indonesia dengan skema TCA sesuai prinsip resiprositas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.


2) WNA yang belum melakukan vaksinasi dan bermaksud untuk melakukan perjalanan domestik dan melanjutkan dengan tujuan mengikuti penerbangan internasional keluar dari wilayah RI, diperbolehkan untuk tidak menunjukkan kartu/sertifikat vaksinasi COVID-19 selama tidak keluar dari area bandar udara (bandara) selama transit menunggu penerbangan internasional yang hendak diikuti, dengan persyaratan:

a. telah diizinkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) setempat untuk melaksanakan perjalanan domestik dengan tujuan agar dapat meneruskan penerbangannya keluar dari Indonesia; dan


b. menunjukkan jadwal tiket penerbangan ke luar Indonesia untuk direct transit dari kota keberangkatan menuju bandara internasional di wilayah RI dengan tujuan akhir ke negara tujuan.

3) Pelaku perjalanan internasional usia di bawah 18 tahun; dan


4) Pelaku perjalanan internasional dengan kondisi kesehatan khusus atau penyakit komorbid yang menyebabkan pelaku perjalanan tidak dapat menerima vaksin, dengan persyaratan wajib melampirkan surat keterangan dokter dan rumah sakit pemerintah negara keberangkatan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan belum dan/atau tidak dapat mengikuti vaksinasi COVID-19,

vi. Kartu atau sertifikat (fisik maupun digital) telah menerima vaksin COVID-19 dosis lengkap ditulis dalam bahasa Inggris, selain dengan bahasa negara asal.

c. Menunjukkan hasil negatif melalui tes RT-PCR di negara asal yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 3 x 24 jam sebelum jam keberangkatan dan dilampirkan pada saat pemeriksaan kesehatan atau e-HAC Internasional Indonesia.


d. Pada saat kedatangan, dilakukan tes ulang RT-PCR bagi pelaku perjalanan internasional dan diwajibkan menjalani karantina selama 5 x 24 jam, dengan ketentuan sebagai berikut:

1) Bagi WNI, yaitu Pekerja Migran Indonesia (PMI); pelajar/mahasiswa; atau pegawai pemerintah yang kembali dari perjalanan dinas luar negeri sesuai dengan Surat Keputusan Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pintu Masuk (Entry Point), Tempat Karantina, dan Kewajiban RT-PCR bagi Warga Negara Indonesia Pelaku Perjalanan Internasional dengan biaya ditanggung oleh pemerintah.

Baca juga   Sensasi Bagi Penyelam dan Ilmuwan, Kuda Laut Yunani


2) Bagi WNI di luar kriteria sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan bagi WNA, termasuk diplomat asing, di luar kepala perwakilan asing dan keluarga kepala perwakilan asing menjalani karantina di tempat akomodasi karantina.

e. Tempat akomodasi karantina sebagaimana dimaksud pada huruf d.2) wajib mendapatkan rekomendasi dari Satgas Penanganan COVID-19 yang telah memenuhi syarat dan ketentuan dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keamanan (safety), dan kelestarian lingkungan (environment sustainability)-(CHSE) dan kementerian yang membidangi urusan kesehatan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya atau dinas provinsi yang membidangi urusan kesehatan di daerah terkait dengan sertifikasi protokol kesehatan COVID-19;


f. Dalam hal kepala perwakilan asing dan keluarga yang bertugas di Indonesia dapat melakukan karantina mandiri di kediaman masing-masing selama 5 x 24 jam sebagaimana dimaksud pada huruf d;


g. Dalam hal hasil pemeriksaan ulang RT-PCR pada saat kedatangan sebagaimana dimaksud pada huruf d menunjukkan hasil positif, maka dilakukan perawatan di fasilitas isolasi terpusat untuk orang tanpa gejala dan orang dengan gejala ringan dan rumah sakit rujukan untuk orang dengan gejala sedang dan berat, bagi WNI dengan biaya ditanggung oleh pemerintah dan bagi WNA dengan biaya seluruhnya ditanggung mandiri;


h. Dalam hal WNA tidak dapat membiayai karantina mandiri dan/atau perawatannya di rumah sakit, maka pihak sponsor, K/L/BUMN yang memberikan pertimbangan izin masuk bagi WNA tersebut dapat dimintakan pertanggungjawaban yang dimaksud;


i. Bagi WNI dan WNA dilakukan tes RT-PCR kedua pada hari ke-4 karantina;
j. Dalam hal tes ulang RT-PCR sebagaimana dimaksud pada huruf i menunjukkan hasil negatif, bagi WNI dan WNA diperkenankan melanjutkan perjalanan dan dianjurkan untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari serta menerapkan protokol kesehatan;


k. Dalam hal hasil positif sebagaimana dimaksud pada huruf i, maka dilakukan perawatan di fasilitas isolasi terpusat untuk orang tanpa gejala dan orang dengan gejala ringan dan rumah sakit rujukan untuk orang dengan gejala sedang dan berat, bagi WNI dengan biaya ditanggung oleh pemerintah dan bagi WNA dengan biaya seluruhnya ditanggung mandiri;


l. Pemeriksaan tes RT-PCR sebagaimana dimaksud pada huruf i dapat dimintakan pembanding secara tertulis dengan mengisi formulir yang telah disediakan KKP atau kementerian yang membidangi urusan kesehatan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan biaya pemeriksaan ditanggung sendiri oleh pelaku perjalanan internasional;


m. Pelaksanaan tes pembanding RT-PCR sebagaimana dimaksud pada huruf l dilakukan oleh laboratorium Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM), atau Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD), atau Rumah Sakit Bhayangkara Raden Said Sukanto (RS. Polri) dilakukan secara bersamaan atau simultan oleh KKP atau laboratorium yang bekerjasama dengan tempat akomodasi karantina;


n. KKP Bandara dan Pelabuhan Laut Internasional memfasilitasi WNI atau WNA pelaku perjalanan internasional yang membutuhkan pelayanan medis darurat saat kedatangan di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku;


o. K/L/pemerintah daerah (pemda) yang menyelenggarakan fungsi terkait dengan WNI dan/atau WNA menindaklanjuti SE ini dengan melakukan penerbitan instrumen hukum yang selaras dan tidak bertentangan dengan mengacu pada SE ini dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
p. Instrumen hukum sebagaimana dimaksud pada huruf o merupakan bagian tidak terpisahkan dari SE ini.

Baca juga   Sutarmidji Minta BKD Fasilitasi Penugasan Lulusan IPDN

4. Kewajiban karantina hanya dikecualikan kepada WNA pemegang visa diplomatik dan visa dinas yang terkait dengan kunjungan resmi/kenegaraan pejabat asing setingkat menteri ke atas dan WNA yang masuk ke Indonesia melalui skema TCA sesuai prinsip resiprositas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

5. Setiap pelaku perjalanan internasional wajib menggunakan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat melakukan perjalanan internasional masuk ke wilayah Indonesia.

6. Setiap operator moda transportasi di titik pintu masuk (entry point) perjalanan internasional diwajibkan menggunakan aplikasi Pedullindungi.

7. Pengawasan kekarantinaan kesehatan kapal kargo dan awak kapal sesuai dengan pengaturan lebih spesifik dan teknis yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui pemantauan oleh KKP masing masing pintu masuk (entry point) perjalanan internasional

8. Pelaku perjalanan internasional berstatus WNA dengan tujuan perjalanan wisata dapat memasuki wilayah Indonesia dengan ketentuan persyaratan sebagai berikut:

a. Melalui titik masuk (entry point) bandara di Bali dan Kepulauan Riau;
b. Selain ketentuan/persyaratan menunjukkan kartu atau sertifikat telah menerima vaksin COVID-19 dan hasil negatif tes RT-PCR sebagaimana dimaksud dalam angka 3.b. dan 3.c., pelaku perjalanan internasional tujuan perjalanan wisata wajib melampirkan:

i. Visa Kunjungan Singkat atau izin masuk lainnya sesuai peraturan perundangan yang berlaku;
ii. Bukti kepemilikan asuransi kesehatan dengan nilai pertanggungan minimal 100 ribu Dolar Amerika Serikat yang mencakup pembiayaan penanganan COVID-19; dan
iii. Bukti konfirmasi pemesanan dan pembayaran (booking) tempat akomodasi dari penyedia akomodasi selama menetap di Indonesia.

Dalam SE juga dituangkan ketentuan mengenai pemantauan, pengendalian, dan evaluasi, sebagai berikut:

1. Satgas Penanganan COVID-19 Daerah yang dibantu otoritas penyelenggara transportasi umum bersama-sama menyelenggarakan pengendalian perjalanan orang dan transportasi umum yang aman COVID-19 dengan membentuk Pos Pengamanan Terpadu;

2. Otoritas pengelola, dan penyelenggaraan transportasi umum menugaskan pengawasan selama penyelenggaraan operasional transportasi umum;

3. K/L, TNI, POLRI, dan pemda berhak menghentikan dan/atau melakukan pelarangan perjalanan orang atas dasar SE ini yang selaras dan tidak bertentangan dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan;

4. K/L, TNI, POLRI dibantu Satgas Penanganan COVID-19 Bandara dan Pelabuhan Laut cq. KKP Bandara dan Pelabuhan Laut Internasional melakukan pengawasan rutin untuk memastikan kepatuhan pelaksanaan protokol kesehatan dan karantina mandiri melalui fasilitas telepon, panggilan video, maupun pengecekan di lapangan selama masa pandemi СOVID-19 ini; dan

5. Instansi berwenang (K/L, TNI, POLRI, dan pemda) melaksanakan pendisiplinan protokol kesehatan COVID-19 dan penegakan hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Dengan berlakunya Surat Edaran ini, maka Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2021, Addendum Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2021, dan Addendum Kedua Surat Edaran Nomor 18 Tahun 2021, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku,” pungkas Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ganip Warsito. 

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING