Mengenal Suku Karenni yang memiliki Leher Jenjang
Connect with us

Budaya

Mengenal Suku Karenni yang memiliki Leher Jenjang

Published

on

Mengenal Suku Karenni yang memiliki Leher Jenjang

Tepat pada perbatasan Myanmar, tinggal sebuah suku Karenni yang memiliki leher jenjang bernama Kayan Lahwi.

Suku Karen yang tinggal pada wilayah ini Sesungguhnya bukanlah suku asli Thailand.

Suku ini pada awalnya tinggal pada dataran tinggi Tibet, lantas berpindah ke Myanmar tepatnya ke daerah yang berbatasan dengan Thailand.

Selanjutnya, daerah ini kemudian terkenal dengan sebutan Karen State. Suku Karen sebenarnya terdiri dari beberapa sub etnis antara lain, etnis Pwo Karen, Skaw Karen dan Bwe Karen.

Beberapa sub etnis ini berpindah ke Thailand setelah berkonflik dengan pemerintah setempat.

Saat ini sebagian besar Suku Karen masih tinggal pada wilayah Myanmar sedangkan kurang lebih 150.000 orang memilih untuk menetap pada wilayah Thailand.

Suku Karen, yang secara tidak resmi memiliki ciri khas leher jenjang datang ke Thailand dari Burma, ketika melarikan diri dari perang dan kekerasan di negara mereka.

Selain itu, suku karenni terkenal sering mengenakan cincin emas pada leher mereka.

Dari saat mereka berusia 5 hingga 21 tahun, setiap tahun satu cincin akan masuk kepada leher mereka. hingga pada akhirnya, leher mereka menjadi sangat panjang.

Keunikan Suku Karen yang sekaligus menjadi daya tariknya adalah keharusan para kaum wanitanya untuk memanjangkan leher dengan menggunakan tumpukan kawat dari bahan kuningan.

Keharusan untuk memanjangkan leher ini merupakan tradisi. Tak hanya pada bagian leher saja, tumpukan gelang-gelang dari kuningan juga ada pada bagian kaki dan pergelangan tangan.

Gelang-gelang logam yang ada pada bagian leher wanita Suku Karen ini beratnya bisa mencapai 5 Kg. Sedangkan gelang-gelang logam yang ada pada kaki dan lutut berat masing-masing sekitar 1 Kg.

Biasanya gelang tersebut yang akan dilepas saat seorang wanita menikah, melahirkan dan meninggal dunia.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Budaya

Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya

Published

on

Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya
Songket Sambas Simbol Tingginya Peradaban Sebuah Budaya (Foto : hasil tangkap layar dari kanal youtube/ disporapar sambas)

Gencil News- Kain tenun atau songket bagi setiap daerah memiliki makna tersendiri, Salah satunya Songket dari Sambas, Kalimantan Barat.

Songket Sambas merupakan simbol tingginya sebuah perdaban budaya yang masih terjaga. Karena ada filosofi yang terselip pada setiap motif dan coraknya.

Selain itu, Kain tenin ini adalah peninggalan dari kerajaan Sambas dan kain antik yang masyarakat setempat miliki.

Berawal saat memasuki tahun 1960-an saat kerajinan tenun Songket Sambas mengalami banyak sekali perkembangan. 

Tingginya peradaban sebuah budaya ketika songket sambas sebagai pelengkap dalam ritual adat. salah satunya menjadi bagian dari tradisi.

Kain tenun atau Songket sambas masuk dalam tatanan ragam kain pada upacara perkawinan sebagai bentuk seserahan atau hantaran.

Motif yang paling banyak peminatnya ialah motif bunga emas dan pucuk rebung yang mengandung makna semakin tinggi nilainya, semakin terpandang juga pemakainya.

(Foto: Hasil Tangkap Layar Kanal Youtube Disparpora Sambas)

Selanjutnya, Dari semua jenin kain tenun, Tenun Sambas memiliki ciri khas tertentu.

Pertama, Begaya melalu yang melambangkan adanya benang emas dalam tenunannya.

Kedua, Pinggiran kain tenun yang berbeda dari kain tenun lainnya yaitu bewarna outih dan tidak terkena tenunan.

Ketiga, Memiliki dua unsur motif yang berbeda pada kainnya seperti unsur budaya kalimantan barat.

Terakhir, Selalu ada Motif pucuk rebung yang mirip dengan tunas bambu muda berbentuk segetiga memanjang dan lancip.

Meski kain tenun songket Sambas memiliki nilai sejarah, ekonomi, dan budaya yang tinggi, ternyata perkembangan tenun ini cukup mengkhawatirkan .

(Foto: Hasil Tangkap Layar Kanal Youtube Disparpora Sambas)

Kini, Jumlah pengrajin yang semakin sedikit, bahan baku berupa benang mas yang sulit didapat dan relatif mahal serta pendistribusi yang kurang memadai.

Continue Reading

Budaya

Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan

Published

on

Melestarikan Budaya Lokal Melalui Makan Saprahan

Gencil News– Melestarikan budaya adalah salah satu kebiasaan yang perlu generasi berikutnya lestarikan khususnya dalam tatanan budaya lokal.

Selain itu, mengenalkan budaya lokal maupun melestarikannya adalah tugas dari masyarakat majemuk yang beragam di Indonesia.

Salah satunya ialah makan saprahan. Makan saprahan dengan duduk bersila bersama-sama menjadikan silaturahmi semakin akrab.

Ada banyak makna filosofi yang terkandung dalam saprahan. Antara lain, untuk mempererat tali silaturahmi dan tidak ada perbedaan status sosial.

Dalam Makan saprahan semuanya sama, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Apalagi sejak saprahan menjadi sebagai warisan budaya tak benda dan budaya kearifan lokal yang Indonesia miliki saat ini.

Makan saprahan merupakan bagian dari adat istiadat budaya Melayu.

Pada prinsipnya tradisi saprahan adalah tradisi adat rumpun Kerajaan Melayu yang masih kental dalam melestarikan budaya Melayu.

Kata Saprahan berasal dari kata “Saprah” yang artinya berhampar makan bersama dengan cara duduk lesehan bersila diatas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Dalam makan saprahan, semua hidangan makanan tersusun secara teratur pada kain saprah.

Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain saprahan, piring makaan, kobokan beserta kain serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangannya; nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Terakhir tambahan untuk air putihnya sudah tersedia langsung dari teko.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Meruncingkan Gigi Bagi Kaum Perempuan pada Suku Mentawai

Published

on

Tradisi Meruncingkan Gigi Bagi Kaum Perempuan pada Suku Mentawai

Gencil News– Meruncingkan gigi suku mentawai? Definisi Kecantikan bagi setiap orang akan memiliki pendapat yang berbeda-beda. Mungkin sama halnya bagi Suku Mentawai.

Meruncingkan gigi bagi suku mentawai khusus kaum perempuannya juga memiliki makna yang berbeda dan mendalam secara pandangan budaya.

Tradisi meruncingkan gigi bagi kaum perempuan Suku Mentawai adalah tanda dari keelokan yang paripurna.

Selain itu, Masyarakat adat juga percaya bahwa wanita yang cantik paripurna ialah perempuan dengan gigi yang runcing.

Biasanya saat memasuki umur remaja, semua perempuan Mentawai bakal mengkikir giginya hingga runcing.

Proses adat tradisi ini hanya bisa ketua adat Suku Mentawai yang lakukan.

Gigi runcing ini bermakna sebagai simbol penyelaras jiwa dan roh mahkluk sampai-sampai akan terhindar dari marabahaya.

Jika mereka tidak menyukai penampilan fisik mereka, mereka akan mendapatkan penyakit. Oleh karena itu, para wanita dewasa Mentawai harus meruncingkan giginya sehingga mereka merasa cantik dan jiwa mereka selalu panjang umur serta bahagia.

Namun, Seiring berjalannya waktu kebiasaan unik ini perlahan sudah mulai pudar karena dampak budaya luar yang mulai masuk ke wilayah Mentawai.

Di samping itu, pertumbuhan teknologi dan pengetahuan yang semakin maju pun mempengaruhi pola pikir masyarakat Mentawai terutama lebih berhati-hati dalam mengawal kesehatan gigi.

Continue Reading

Budaya

Tradisi Pōwhiri Upacara Penyambutan Suku Māori

Published

on

Tradisi Pōwhiri Upacara Penyambutan Suku Māori

Gencil News– Tradisi Pōwhiri atau Upacara Penyambutan Suku Māori adalah penyambutan istimewa kepada tamu istimewa yang baru saja tiba.

Pōwhiri biasanya akan bermula dari luar marae marae dengan wero (tantangan) tradisi penyambutan ini terbilang unik dan menarik.

Pertama, Seorang satria dari tangata whenua (tuan rumah) akan menantang manuhiri (tamu),untuk memastikan apakah mereka kawan atau lawan.

Selanjutnya, Ia akan menaruh benda penanda berupa dahan kecil pengunjung ambil sebagai tanda bahwa mereka datang dalam damai.

Suku Māori (Foto : Nativo de nueva zelanda)

Setelah itu, akan datang seorang wanita lebih tua dari pihak tuan rumah dan melakukan seruan kepada manuhiri.

Awal untuk masuk beranjak ke marae secara bersama-sama dengan pihak penyambut dan tamu yang datang semua upacara berlangsung secara hening.

Berikutnya, Setelah mencapai tanah marae dan berada dalam rumah leluhur utama, para tamu dan tuan rumah mengambil tempat duduknya masing-masing, saling berhadapan.

Lalu, akan dimulai dengan pidato ucapan terimakasih atas penyambutan yang istimewa.

Untuk mengakhiri tata krama formal, pengunjung dan tuan rumah saling menyapa dengan hongi – upacara bersentuhan hidung.

Terakhir, setelah pōwhiri, maka akan berlanjut dengan menyantap makan bersama sesuai tradisi manaakitanga atau keramahtamahan Māori.

 Māori pōwhiri terkenal karena intensitasnya, tradisi yang kaya dan yang paling penting keramahannya.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING