Aung San Suu Kyi, Pembawa Obor Demokrasi Myanmar yang Tercoreng
Connect with us

Internasional

Aung San Suu Kyi, Pembawa Obor Demokrasi Myanmar yang Tercoreng

Published

on

Aung San Suu Kyi, Pembawa Obor Demokrasi Myanmar yang Tercoreng
Aung San Suu Kyi menyapa para pendukung dari kendaraannya selama kampanye pemilihannya di kotapraja Bamaw, Negara Bagian Kachin, Myanmar, 24 Februari 2012. (Foto: AP)

Gencil News – VOA – Tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, kembali ditahan bersama dengan para pemimpin lain dari partai politiknya dalam kudeta militer. Jauh sebelum berkuasa, ia telah menghabiskan 15 tahun dalam tahanan rumah dalam perjuangan membawa demokrasi ke Myanmar.

Sosok yang dikenal sebagai “The Lady” di Myanmar, Suu Kyi memenuhi impian jutaan orang saat partainya, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (National League for Democracy/NLD), berhasil memenangkan pemilihan umum pada 2015. Kemenangan tersebut membentuk pemerintahan sipil pertama di negara Asia Tenggara itu dalam setengah abad.

Namun peraih penghargaan Nobel itu mengejutkan dunia dua tahun kemudian dengan menyangkal meluasnya tindakan represif pimpinan militer terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya. Kekerasan tersebut memaksa ratusan ribu orang Rohingya meninggalkan negara itu.

Di Myanmar, Suu Kyi tetap dipuja, tetapi dia gagal menyatukan berbagai kelompok etnis atau mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung selama satu dekade. Dia juga mengawasi pengetatan pembatasan pers dan masyarakat sipil dan telah berselisih dengan banyak mantan sekutunya.

Putri pahlawan kemerdekaan Aung San, yang dibunuh pada 1947 ketika dia berusia dua tahun, Suu Kyi menghabiskan sebagian besar masa mudanya di luar negeri. Dia kuliah di Universitas Oxford, bertemu suaminya yang seorang akademisi Inggris Michael Aris. Pasangan itu memiliki dua putra.

Sebelum mereka menikah, dia meminta Aris berjanji dia tidak akan menghentikan aksi politiknya jika dia harus pulang. Pada 1988, dia mendapat telepon yang mengubah hidup mereka: ibunya sedang sekarat.

Di Ibu Kota Yangon, yang kemudian berganti nama menjadi Rangoon, dia terseret dalam revolusi yang dipimpin mahasiswa melawan junta militer yang telah merebut kekuasaan setelah kematian ayahnya.

Seorang pria memegang potret Jenderal Aung San, ayah dari pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi, selama pidatonya tentang pendidikan pemilih di kotapraja Hsiseng di negara bagian Shan, Myanmar, 5 September 2015. (Foto: REUTERS/Soe Zeya Tun )
Seorang pria memegang potret Jenderal Aung San, ayah dari pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi, selama pidatonya tentang pendidikan pemilih di kotapraja Hsiseng di negara bagian Shan, Myanmar, 5 September 2015. (Foto: REUTERS/Soe Zeya Tun )

Suu Kyi, yang sangat mirip dengan wajah pemimpin yang diidolakan Aung San, dan orator yang handal, menjadi pemimpin baru. Dia mengutip mimpi ayahnya untuk “membangun Burma yang merdeka.”

Revolusi dihancurkan, para pemimpinnya dibunuh dan dibui, dan Suu Kyi dipenjarakan di rumah keluarganya di tepi danau. Bahkan menyebut namanya di depan umum bisa membuat pendukungnya dihukum penjara. Jadi mereka memanggilnya “the Lady.”

Dengan bersuara lembut, Suu Kyi memainkan peran penting untuk menarik perhatian dunia pada junta militer Myanmar dan catatan hak asasi manusianya. Ia berhasil memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991. Suaminya, Aris, meninggal pada 1997 tetapi dia tidak menghadiri pemakamannya karena takut tidak diizinkan untuk kembali.

Selama bertahun-tahun, tentara memimpin kampanye kotor tanpa henti melawan Suu Kyi, yang mereka juluki sebagai “pemegang kapak dari Barat.”

Selama pembebasan singkat dari tahanan rumah pada 1998, dia berusaha melakukan perjalanan ke luar Yangon untuk mengunjungi pendukung meskipun tindakan tersebut diadang oleh tentara. Dia duduk di dalam vannya selama beberapa hari dan malam, meskipun mengalami dehidrasi karena panas terik, dan dikatakan menadahi air hujan di payung terbuka.

Dia selamat dari upaya pembunuhan pada 2003 ketika orang-orang pro-militer yang memegang pasang dan tongkat menyerang konvoi yang dia tumpangi. Beberapa pendukungnya terbunuh atau terluka parah.

Tentara sekali lagi menempatkannya sebagai tahanan rumah. Dari balik pintu gerbang rumahnya, Suu Kyi memberikan pidato mingguan yang cerdas kepada para pendukung. Dia berdiri di atas meja reyot dan berbicara tentang hak asasi manusia dan demokrasi di bawah pengawasan polisi rahasia. Sebagai seorang Buddhis yang taat, dia terkadang berbicara tentang perjuangannya dalam istilah spiritual.

Pada 2010, militer memulai serangkaian reformasi demokrasi dan Suu Kyi dibebaskan di hadapan ribuan pendukung yang menangis dan bersorak sorai.

Presiden Barack Obama dan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi berjabat tangan saat berbicara dengan media pada akhir pertemuan di Oval Office Gedung Putih di Washington, Rabu, 14 September 2016. (Foto: AP/Carolyn Kaster)
Presiden Barack Obama dan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi berjabat tangan saat berbicara dengan media pada akhir pertemuan di Oval Office Gedung Putih di Washington, Rabu, 14 September 2016. (Foto: AP/Carolyn Kaster)

Di Barat, dia dipuja. Barack Obama menjadi Presiden AS pertama yang mengunjungi Myanmar pada 2012, menyebutnya sebagai “inspirasi bagi orang-orang di seluruh dunia, termasuk saya.” Sanksi ekonomi AS terhadap Myanmar dikurangi, meskipun Suu Kyi tetap berhati-hati tentang reformasi.

Dengan kemenangan pemilu 2015, Suu Kyi menjadi penasihat negara, berjanji untuk mengakhiri perang saudara, meningkatkan investasi asing, dan mengurangi peran tentara dalam politik. Dia juga berjanji kepada sekutu Barat bahwa dia akan mengatasi penderitaan Rohingya yang telah menanggung beban bentrokan kekerasan dengan umat Buddha, dengan ratusan ribu orang ditahan di kamp-kamp interniran.

Pada Agustus 2017, militan Rohingya menyerang pasukan keamanan. Militer Myanmar menanggapi serangan tersebut dengan membakar ratusan desa hingga rata dengan tanah dan melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan berkelompok. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan itu dilakukan dengan “niat genosidal.”

Suu Kyi mengatakan, militer menerapkan “aturan hukum” dan tampak bingung dan tidak peduli tentang eksodus pengungsi. Dia tidak memiliki kekuasaan untuk mengarahkan operasi militer, pemerintahnya memerintahkan tanah yang terbakar menjadi tanah milik pemerintah dan mengawasi pembongkaran desa yang hancur.

Institusi global dan mantan advokat termasuk Dalai Lama secara terbuka mengecamnya dan banyak dari banyak penghargaan yang diberikan kepadanya dibatalkan.

Pada 2019, dia terbang ke Den Haag untuk menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional. Dia mengakui kemungkinan kejahatan perang telah dilakukan tetapi berkilah dengan mengatakan tindakan keras itu sebagai operasi militer yang sah terhadap teroris.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Internasional

Berlian 101 Karat Akan Dilelang di Jenewa

Berlian terbesar yang pernah dipotong di Rusia, yaitu Alrosa Spectacle yang memiliki berat 100,94 karat, akan dilelang di Jenewa akhir bulan ini.

Published

on

Berlian 101 Karat Akan Dilelang di Jenewa

GENCIL NEWS – VOA – Berlian itu diperkirakan akan terjual seharga 12 hingga 18 juta franc Swiss atau sekitar Rp189 miliar hingga Rp283 miliar dalam pelelangan di rumah lelang Christi’s pada 12 Mei nanti.

“Berlian berwarna 100 karat D yang fantastis ini dipotong dari berlian kasar yang awalnya beratnya 200 karat. Berlian itu disebut berlian kasar Sergei Diaghilev dan ditambang pada 2016,” kata Marie-Cecile Cisamolo, pakar perhiasan di rumah lelang tersebut seperti dilansir oleh Reuters.

“Antara berlian kasar dan berlian yang kami tawarkan hari ini, butuh satu tahun delapan bulan untuk memotongnya menjadi batu yang sempurna ini.”

Berlian adalah salah satu dari 144 lot yang ditawarkan dalam penjualan, yang juga mencakup cincin, anting-anting, bros, dan potongan lainnya yang dibuat dengan berlian, safir, dan rubi.

Selanjutnya kejadian ini diselesaikan secara mediasi, dan tangani oleh pihak Polsek Pontianak Selatan.
Selanjutnya kejadian ini diselesaikan secara mediasi, dan tangani oleh pihak Polsek Pontianak Selatan.

Continue Reading

Internasional

FDA Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja

Published

on

By

FDA Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja
Lauren Borenstein, 16 tahun, menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech di Skippack Pharmacy, di Schwenksville, Pennsylvania, 3 Maret 2021.

Gencil News – VOA – Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration/FDA), Senin (10/5), mengeluarkan otorisasi vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech untuk digunakan oleh remaja berusia paling muda 12 tahun. Langkah itu memperluas kelompok warga yang memenuhi syarat untuk divaksinasi.

FDA mengatakan vaksin itu aman dan efektif bagi remaja berusia 12-15 tahun. Sebelumnya vaksin yang sama tersedia untuk penggunaan darurat bagi anak berusia 16 tahun dan yang lebih tua.

“Langkah hari ini memungkinkan populasi yang lebih muda untuk mendapat perlindungan dari COVID-19, membuat kita semakin dekat untuk memulai kembali kehidupan normal dan mengakhiri pandemi ini,” ujar penjabat komisioner sementara FDA Janet Woodcock dalam sebuah pernyataan.

Vaksin Pfizer ini adalah vaksin pertama di Amerika yang disetujui untuk orang yang berusia lebih muda. Persetujuan itu diberikan ketika pejabat-pejabat Amerika berupaya memvaksinasi lebih banyak warga dan tampaknya akan mendorong jutaan siswa SMP dan SMA untuk mencoba divaksinasi sebelum kembali ke sekolah pada musim gugur nanti.

Meskipun anak-anak yang terjangkit COVID-19 umumnya hanya memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali, mereka masih dapat menularkan virus itu pada orang lain.

Pfizer pada Maret lalu merilis hasil kajian pendahuluan dari uji coba vaksin yang melibatkan lebih dari 2.000 sukarelawan berusia 12-15 tahun. Uji coba itu menunjukkan tidak satu pun remaja yang telah divaksinasi penuh mengidap COVID-19 atau mengalami efek samping yang serius. 

Continue Reading

Internasional

Penggerebekan Narkoba, 25 Orang Tewas

Published

on

Penggerebekan Narkoba, 25 Orang Tewas

Gencil News – VOA – Polisi menarget pengedar narkoba dan menggerebek favela atau perkampungan kumuh di Rio de Janeiro, Ibu Kota Brazil pada Kamis (6/5). Pihak berwenang mengatakan dalam penggerebak itu, setidaknya satu anggota polisi dan 24 orang lainnya tewas setelah ditembak.

Kantor pers polisi mengonfirmasi kematian seorang anggotanya dan 24 tersangka “penjahat” itu dalam sebuah pesan singkat kepada Associated Press.

Rekaman yang ditayangkan di televisi lokal menunjukkan, sebuah helikopter polisi terbang rendah di atas favela Jacarezinho ketika orang-orang bersenjata berat melarikan diri dari polisi dengan melompat dari atap ke atap rumah.

Felipe Curi, seorang detektif di kepolisian Rio, membantah telah terjadi eksekusi.

“Satu-satunya eksekusi adalah seorang petugas polisi, yang sayangnya dieksekusi dengan dingin oleh para pengedar narkoba. Kematian lainnya sayangnya terjadi ketika para penyelundup menarget polisi, dan mereka kemudian dinetralkan. Sesederhana itulah yang terjadi,” katanya dalam jumpa pers.

Jacarezinho, salah satu daerah kumuh terpadat di Kota Rio de Janeiro dengan jumlah penduduk 40 ribu jiwa, didominasi oleh Comando Vermelho, (Komando Merah) salah satu organisasi kriminal terkemuka Brazil.

Polisi menganggap Jacarezinho sebagai salah satu markas grup itu.

Continue Reading

Internasional

WHO Beri Persetujuan Vaksin COVID-19 Sinopharm Buatan China

Published

on

By

WHO Beri Persetujuan Vaksin COVID-19 Sinopharm Buatan China

Gencil News – VOA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan persetujuan bagi vaksin COVID 19 yang dikembangkan oleh China untuk penggunaan darurat di seluruh dunia.

Vaksin buatan Sinopharm, BUMN pengembang obat China, adalah vaksin pertama yang diproduksi oleh negara bukan blok Barat yang disetujui oleh WHO.

Langkah Jumat itu juga merupakan pertama kalinya, organisasi kesehatan publik global itu memberikan persetujuan terhadap sebuah vaksin China untuk penyakit infeksi.

Vaksin COVID 19 Sinopharm sudah diberikan kepada ratusan juta warga China serta negara-negara lain, bersama dengan vaksin China kedua lainnya.

Keputusan WHO itu akan memungkinkan vaksin Sinopharm diikutsertakan ke dalam Akses Global Vaksin COVID 19 atau COVAX, sebuah inisiatif untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara miskin.

WHO mengatakan, pihaknya akan memutuskan vaksin kedua China, yang dibuat oleh Sinovac Biotech, sedini minggu depan.

Sebelumnya, WHO sudah menyetujui vaksin AstraZeneca, Johnson&Johnson, Moderna, dan Pfizer-BioNTech untuk penggunaan darurat. WHO Beri Persetujuan Vaksin COVID-19 ‘Sinopharm’ Buatan China

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING