Peneliti Senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai pertemuan G20 ini menjadi pertemuan yang sangat penting ditengah persoalan global yang melanda seluruh negara yakni Covid-19.

Namun, dia memperingatkan jangan sampai ada negara-negara superior yang memaksakan agenda-agendanya, sementara negara-negara berkembang dan negara-negara yang mempunyai kekuatan lemah menjadi negara yang menangung beban negatif.

“Semua negara harus mempunyai konsensus yang sama sehingga semua jadi terlindungi. Jadi tidak ada satu kewas-wasan atau risiko-risiko… sehingga masing-masing negara bisa fokus bagaimana mencegah wabah ini tanpa direcoki persoalan ekonomi semakin memperkeruh keadaan. Misalnya di Indonesia sekarang, kita untuk mengendalikan penyebaran virus saja sudah berat, kalau pemerintah kita dibebankan lagi dengan fluktuasi nilai tukar terus mengalami tekanan, indeks harga saham yang terus mengalami tekanan, konsentrasi pemerintah untuk menyelesaikan persoalan jadi terbelah,” kata Enny.

Baca juga   BNPB: Luas Hutan dan Lahan Terbakar Terbanyak di NTT

Enny menambahkan aktivitas ekonomi, baik kegiatan perdagangan maupun ekspor impor menjadi terganggu akibat virus corona ini. Khusus Indonesia, tambahnya, yang memiliki ketergantungan bahan baku yang cukup besar terutama pada Tiongkok – yaitu sekitar 25 persen – sehingga membuat sebagian industri di dalam negeri terpaksa meliburkan karyawannya.

Presiden Joko Widodo bersama para pemimpin negara-negara G20 berpose di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019 (foto: dok).
Presiden Joko Widodo bersama para pemimpin negara-negara G20 berpose di Osaka, Jepang, 28 Juni 2019 (foto: dok).

Sebelum diselenggarakannya KTT G-20 Luar Biasa virtual nanti, G20 telah melaksanakan pertemuan virtual Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 pada 23 Maret 2020, serta pertemuan Sherpa G20 pada 25 Maret 2020. Dalam pertemuan virtual para menteri keuangan dan gubernur bank sentral itu telah dibahas paket stimulus dalam kerangka Covid-19.

Sementara organisasi internasional seperti Bank dunia dan IMF juga sepakat mengeluarkan bantuan pendanaan guna meredam dampak pandemic Covid-19 terhadap perekonomian global.

Baca juga   Mahathir Bahas Ide Mata Uang Bersama Berpatokan Pada Emas

Dalam pertemuan Sherpa G20, Indonesia telah menyampaikan perlunya G20 untuk fokus mendukung negara berkembang dan least developed countries sebagai pihak yang diperkirakan paling rentan terhadap dampak pandemi ini.

G20 yang dibentuk tahun 1999 merupakan forum utama kerjasama ekonomi internasional yang memiliki posisi strategis yang secara kolektif mewakili 85% GDP dunia, 75% perdagangan global dan dua per tiga penduduk dunia