Connect with us

Internasional

Indonesia Serukan Penciptaan Network Women, Peace and Security di ASEAN

Published

on

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menyerukan partisipasi aktif perempuan sebagai mediator dan negosiator dalam berbagai proses perdamaian.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menyerukan partisipasi aktif perempuan sebagai mediator dan negosiator dalam berbagai proses perdamaian.

Menlu RI juga mendorong penciptaan jejaring kawasan  dan memperkuat kerja sama dengan mediator dan juru runding perempuan di belahan dunia lainnya.

Hal ini disampaikan dalam pertemuan ASEAN Political Security Community (APSC) dalam kerangka KTT ke-25 ASEAN dan KTT Terkait Lainnya yang dihadiri oleh Menko Polhukam, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD. (02/11)

“Indonesia pada tahun 2020, untuk kedua kalinya akan menyelenggarakan Regional Training on Women, Peace and Security. Diharapkan kelak para mediator dan juru runding  perdamaian perempuan ASEAN dapat berperan aktif  dan menjalin kerja sama erat dalam kerangka Global Alliance of Regional Women Mediators Network” ujar Menlu Retno. Dalam kesempatan tersebut, Menlu RI juga menekankan pentingnya pemberdayaan dan peningkatan jumlah penjaga perdamaian perempuan dalam berbagai misi perdamaian PBB.

Sementara itu Menko Polhukam RI  menegaskan pentingnya peningkatan kerja sama kontra-terorisme  untuk mengatasi ancaman terorisme yang dewasa ini menggunakan metode-metode baru. Indonesia juga berpandangan bahwa ASEAN perlu menguatkan kerjasama di bidang siber (cyber crimes) untuk mencegah hambatan negara anggota ASEAN dalam memanfaatkan revolusi industri 4.0.

“ASEAN harus menjaga dari ancaman serangan siber” tambah Menko Polhukam RI. Selain itu, Menko Polhukam RI juga mengangkat isu upaya memerangi penyelundupan narkoba, ASEAN Outlook on Indo-Pacific, serta penguatan ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR).

Pertemuan mendengarkan laporan Sekretaris Jenderal ASEAN mengenai implementasi Cetak Biru APSC 2025.  Sekjen ASEAN menjelaskan bahwa Implementasi Cetak Biru APSC telah menyelesaikan 274 dari 290 lini aksi. Pertemuan mendorong segera mengupayakan penyelesaian sisa 16 lini aksi APSC tersebut.

Secara khusus, pertemuan juga menegaskan kembali pentingnya segera mencari jalan keluar agar pengungsi Rakhine State dapat direpatriasi. Pertemuan membahas usulan Indonesia mengenai pembentukan Ad-Hoc Taks Force yang akan bertugas membantu implementasi rekomendasi dari Preliminary Needs Assessment (PNA) oleh  AHA Center. Upaya ini membuktikan sentralitas dan kapasitas ASEAN dalam menyelesaikan tantangan keamanan yang dihadapi oleh kawasan Asia Tenggara.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Internasional

WHO Dikecam Terkait Jalur Transmisi Covid-19

Published

on

WHO Dikecam Terkait Jalur Transmisi Covid-19
Orang-orang mengenakan masker wajah di Stasiun Shinagawa station saat jam sibuk di tengah pandemi virus corona (Covid-19) di Tokyo, Jepang, 20 April 2020.

Apakah virus corona penyebab Covid-19, menyebar melalui partikel kecil di udara? Atau apakah faktor utama penularan percikan ludah terjadi ketika orang berbicara ataukah bernafas?

GENCIL NEWS -VOA – Kelompok yang terdiri dari 239 ilmuwan mengatakan, penularan melalui udara merupakan faktor utama. Menurut harian The New York Times, kelompok ini mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) untuk mengakui masalah ini dan membuat rekomendasi tentang pengendalian infeksi lebih ketat.

Para ilmuwan itu mengatakan WHO tertinggal dari ilmu pengetahuan. Namun pertanyaan itu tidak sepenuhnya diterima dan para ahli lainnya yang membela tanggapan WHO.

Ini bukan pertama kalinya WHO dikecam selama pandemi Covid-19.

Akhir bulan lalu, WHO mengubah kerangka waktu hari-hari awal pandemi untuk mengklarifikasi bahwa WHO pertama kali mengetahui tentang virus corona dari laporan berita China, bukan pemerintah China.

“Ini bisa dianggap sebagai kecaman terselubung mengenai kurangnya transparansi / kerja sama China dengan WHO pada hari-hari awal epidemi ini,” tulis asisten profesor riset kesehatan global Universitas Georgetown, Claire Standley, dalam email kepada VOA, “dan bertentangan dari pendirian WHO sebelumnya serta dukungan kuat WHO terhadap China “.

Pengecam dari Partai Republik, termasuk Presiden Donald Trump, mengatakan WHO terlalu dekat dengan Beijing. Mereka mengatakan pemerintah China belum memberikan informasi, yang jelas melanggar peraturan WHO. Pemerintahan Trump mengatakan sedang memangkas dana untuk WHO.

Pada Juni, pimpinan teknis Covid-19, WHO, Maria Van Kerkhove, dituduh memperkeruh situasi ketika mengatakan transmisi tanpa gejala “sangat jarang.”

Penelitian menunjukkan pasien menyebarkan virus sebelum mereka menunjukkan gejala. Perbedaan kecil dalam terminologi – antara orang “tanpa gejala” yang tidak pernah menunjukkan gejala dan”orang yang belum menunjukkan gejala” yaitu orang yang tidak menunjukkan gejala namun akhirnya menunjukkan gejala, tampaknya turut membingungkan.

Namun sebagian pengecam mengatakan WHO menetapkan standar terlalu tinggi untuk bukti, dan dalam diskusi juga meremehkan transmisi melalui udara.

“Menurut saya, buktinya benar-benar kuat,” kata Direktur Institut Kesehatan Global Harvard, Ashish Jha. “Tapi entah karena alasan apa, sepertinya tidak memenuhi ambang batas WHO mengenai kepastian, yang menurut saya jelas terlalu tinggi.”

Para pasien terkena Covid-19 dari penyanyi di tempat latihan paduan suara dan dari orang yang terinfeksi karena hembusan udara di restoran yang ber-AC, contoh yang dikatakan para ahli merujuk pada transmisi melalui udara.

Jha mengatakan, WHO mungkin mempertimbangkan dampaknya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana pengendalian infeksi yang lebih ketat bisa mahal.

Namun, WHO “tidak memikirkan kerugian akibat melakukan kesalahan,” tambah Jha.

“Jika tempat-tempat itu tidak memiliki ventilasi yang baik, jika orang tidak memakai masker yang tepat, maka saya khawatir kita akan menyaksikan infeksi di ruang dokter dan perawat, dan kita akan menyaksikannya menyebar di seluruh rumah sakit,” kata Jha.

Para pakar kesehatan masih memperdebatkan peran transmisi lewat udara dan tidak semua orang sepakat peningkatan rekomendasi tepat.

“Saya kira benar-benar tidak realistis, dan saya kira epidemiologi tidak mendukungnya,” kata ahli epidemiologi Johns Hopkins Center for Health Security, Jennifer Nuzzo ,dalam sebuah wawancara.

Beberapa penelitian telah menemukan unsur genetik virus corona yang ada pada sampel udara di rumah sakit, tetapi mereka belum menemukan virus nyata dan menginfeksi.

Satu penelitian baru-baru ini menyimpulkan bahwa percikan ludah, bukan udara, kemungkinan besar bertanggung jawab menyebarkan virus dari pasien yang terinfeksi ke beberapa petugas kesehatan di rumah sakit A.S.

Bagi kebanyakan orang, kata Nuzzo, perdebatan itu tidak banyak berpengaruh.

“Kita sudah mengetahui bahwa duduk dan mengadakan kontak yang lama di dalam ruangan di mana ada kualitas udara yang buruk, di mana orang-orang cukup lama berbincang-bincang, beresiko” katanya. “Apakah itu berarti kita perlu memakai masker N95 di lingkungan itu? Saya kira tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa itu perlu.”

Masker N95 adalah masker medis kelas tertinggi yang paling banyak memblokir partikel virus. Masker kain kurang efektif, tetapi semakin direkomendasikan sebagai cara terbaik yang bisa dilakukan orang untuk memperlambat penyebaran virus.

WHO “sering mendapati dirinya terjebak di antara situasi sulit, terlampau agresif dengan rekomendasi berdasarkan bukti awal dan menghadapi kecaman karena tidak cukup berbasis ilmu pengetahuan dan bukti,” kata Standley dari Universitas Georgetown.

Namun jika “menunggu data ilmiah yang konklusif WHO dituduh terlalu meremehkan risiko dan membingungkan ketika tindakan tegas diperlukan,” tambah Standley.

Continue Reading

Internasional

Jean Castex Ditunjuk Sebagai PM Baru Perancis

Published

on

Jean Castex Ditunjuk Sebagai PM Baru Perancis
Mantan Perdana Menteri Perancis Edouard Philippe (kiri) bertepuk tangan untuk Jean Castex yang baru saja ditunjuk menjadi Perdana Menteri Perancis yang baru, di Hotel Matignon, Paris, 3 Juli 2020.

GENCIL NEWS – VOA – Presiden Emmanuel Macron, Jumat (3/7), menunjuk Jean Castex, yang mengkoordinasikan strategi pembukaan kembali Perancis di tengah pandemi virus corona, sebagai perdana menteri baru negara tersebut.

Castex, yang relatif tidak terkenal, menggantikan Edouard Philippe, yang mengundurkan diri sebelumnya hari itu. Macron merombak pemerintahannya dalam upaya memulihkan ekonomi setelah berbulan-bulan memberlakukan lockdown.

Castex, 55, adalah seorang pejabat karir yang pernah bekerja dengan sejumlah pemerintahan. Ia dinilai sukses menggelar strategi membuka Perancis secara bertahap.

Banyak pejabat pemerintah diperkirakan akan diganti dalam perombakan itu. Dalam sebuah wawancara dengan beberapa surat kabar lokal, Kamis, Macron mengatakan, ia sedang berusaha mencari cara baru untuk membangun kembali negara itu selama dua tahun dari masa jabatannya yang tersisa. Ia memuji pekerjaan Philippe yang luar biasa selama tiga tahun terakhir.

Macron sendiri ingin memperbaiki kinerja pemerintahannya karena performa partainya, La République En Marche! (LREM), yang buruk di pemilihan daerah. Partainya kalah telak dari Partai Hijau Ekologi Eropa (EELV) yang menang di kota-kota besar seperti Lyon, Bordeaux, Strasbourg, Poitiers, Besancon, dan Marseille.

Kurang lebih ada 21 bulan yang dimiliki Macron untuk memperbaiki kinerjanya. Jika gagal memperbaiki kinerja partai dan pemerintahannya, termasuk menarik suara dari sayap kiri, peluang Macron untuk menang menipis.

Penasehat politik Macron, yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengatakan, Macron dalam posisi dilematis terkait status Phillipe. Phillipe, katanya, adalah tokoh yang setia dan populer di publik, bahkan melebihi Macron. Namun, Philippe adalah tokoh sayap kanan yang dikhawatirkan Macron bisa mempersulit usahanya meraih dukungan sayap kiri di Perancis.

Continue Reading

Internasional

Dunia Harus Memilih Antara Ekonomi dan Menyelamatkan Nyawa

Published

on

Dunia Harus Memilih Antara Ekonomi dan Menyelamatkan Nyawa
Seorang warga menjalani tes virus corona (Covid-19) setelah penyakit itu merebak lagi di Austin, Texas, 28 Juni 2020. (Foto: Reuters)

GENCIL NEWS – Pakar penyakit infeksi terkemuka di Amerika Serikat mengatakan para pemimpin dunia harus memilih antara ekonomi dan menyelamatkan nyawa.

“Anda tidak bisa menyeimbangkan nyawa dan ekonomi. Jadi marilah jadikan kesehatan publik sedemikian sehingga membantu membuka ekonomi, dan jangan memperlakukannya sebagai dua kekuatan yang berlawanan,” kata Dokter Anthony Fauci kepada the Journal of the American Medical Association pada Kamis (2/7).

Fauci berbicara saat para gubernur di seluruh AS sekali lagi menutup tempat-tempat minum dan restoran, serta memberlakukan kembali pembatasan akibat peningkatan yang mengkhawatirkan dari kasus Covid-19.

Empat puluh dari 50 negara bagian AS melaporkan peningkatan kasus baru, dan catatan jumlah kasus baru memecahkan rekor setiap hari.

Lonjakan angka Covid-19 ini diakibatkan apa yang oleh Gubernur New Jersey Phil Murphy sebut sikap kepala batu dari orang-orang yang menolak mengenakan masker dan menjaga jarak aman.

“Kita berada dalam pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kata Fauci. “Kita tidak pernah menyaksikan hal seperti ini dalam 102 tahun terakhir dan kita harus memperlakukannya secara serius karena begitu banyak akibatnya.”

Katanya para pemimpin dunia tidak bisa mencari jalan tengah antara penyelamatan nyawa dan ekonomi.

Doktor Anthony Fauci adalah bagian dari gugus tugas virus corona yang dipimpin oleh Wakil Presiden Mike Pence. Wapres Pence muncul di CNBC pada Kamis (2/7) dan berjanji bahwa pemerintahan Trump akan terus berusaha membuka kembali Amerika sementara memitigasi kenaikan kasus Covid-19 yang baru.

Continue Reading

TRENDING