Pemalsu Minuman Anggur Dideportasi ke Indonesia
Connect with us

Internasional

Pemalsu Minuman Anggur Dideportasi ke Indonesia

Published

on

Pemalsu Minuman Anggur Dideportasi ke Indonesia
Sebanyak 500 botol minuman anggur palsu siap dimusnahkan di tempat pembuangan sampah di Creedmoor, Texas, 10 Desember 2015. Minuman anggur itu disita dari Rudy Kurniawan yang dinyatakan bersalah karena menjual minuman anggur palsu. (Foto: U.S. Marshals Service via AFP)

Gencil News – VOA – Pejabat imigrasi Amerika Serikat (AS) mengatakan, Selasa (13/4), seorang pria di California yang pernah menipu para kolektor anggur jutaan dollar dengan menjual minuman keras murahan yang diisikan ke botol baru di dapurnya telah dideportasi ke negara asalnya, Indonesia.

Badan Bea Cukai dan Penegakan Imigrasi AS (U.S. Immigration and Custom Enforcement/ICE) mengatakan dalam pernyataannya bahwa Rudy Kurniawan (RK) , 44 tahun, dideportasi minggu lalu dengan penerbangan komersial dari Bandara Internasional Dallas/Fort Worth. Kurniawan tiba di Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, pada Jumat (9/4).

“Dia merupakan ancaman keamanan publik karena kejahatannya yang semakin parah,” kata pernyataan itu.

Kurniawan datang ke AS dengan visa pelajar pada tahun 1990-an. Pihak berwenang mengatakan dia tidak berhasil mencari suaka politik dan diperintahkan untuk meninggalkan Amerika secara sukarela pada 2003, tetapi tetap tinggal secara ilegal.

Kurniawan, yang keluarganya kaya raya karena menjalankan bisnis distributor bir di Indonesia, dijatuhi hukuman karena penipuan pada 2013 di pengadilan federal New York dan mendekam tujuh tahun di penjara. Dia dideportasi setelah dibebaskan dari penjara ke tahanan imigrasi November lalu.

Dalam operasi yang mencoreng citra industri anggur, jaksa penuntut dalam sidang di New York mengatakan Kurniawan meraup jutaan dolar dari 2004 hingga 2012 dengan memasukkan anggur Napa dan Burgundy yang lebih murah ke dalam botol palsu di rumahnya di Arcadia, pinggiran Los Angeles.

Penipuan itu diceritakan dalam film dokumenter Netflix 2016, “Sour Grapes” (“Anggur Asam”) dan dalam episode televisi ABC “The Con” (Sang Penipu”) pada bulan Maret.

Persidangan Kurniawan menampilkan kesaksian dari miliarder pemilik kapal pesiar, pengusaha dan investor anggur, William Koch, yang mengatakan dia ditipu oleh Kurniawan dengan membayar $ 2,1 juta untuk 219 botol anggur palsu.

Seorang ahli anggur bersaksi bahwa ada 19 ribu label botol anggur palsu untuk 27 jenis wine terbaik dunia disita dari rumah Kurniawan. Biro Penyelidik Federal (Federal Bureau of Investigation/FBI) menemukan ratusan botol, gabus, dan stempel ketika melakukan penggerebekan di rumahnya pada 2012.

Kurniawan membangun reputasi sebagai pembeli dan penjual anggur langka dan meraup puluhan juta dolar pada lelang anggur. Kolektor lain menjulukinya “Dr. Conti” karena kecintaannya pada anggur Burgundy, Domaine de la Romanée-Conti.

Dalam satu lelang pada 2006, Kurniawan menjual anggur senilai $ 24,7 juta, rekor untuk satu penerima barang.

Namun, skema penipuan tersebut mulai terurai setelah beberapa kiriman yang diajukannya untuk dilelang ternyata palsu. Pada 2007, rumah lelang Christie di Los Angeles membatalkan lelang apa yang seharusnya menjadi botol-botol besar Château Le Pin tahun 1982, setelah perusahaan itu mengatakan botol-botol tersebut palsu.

Pada 2008, 22 lot anggur Domaine Ponsot senilai lebih dari $ 600 ribu ditarik dari penjualan di tengah munculnya sejumlah pertanyaan tentang keasliannya.

Satu botol Domaine Ponsot yang hendak dijual oleh Kurniawan dalam lelang pada 2008 dinyatakan dibuat pada 1929, padahal pembuat anggur tersebut belum mulai pembotolan anggur dari perkebunannya sampai 1934. Yang lain diaku telah dibotolkan di kebun anggur tertentu antara 1945 dan 1971, meskipun Domaine Ponsot mengatakan bahwa mereka belum mulai menggunakan kebun anggur itu sampai 1982.

Tiga botol anggur palsu yang menjadi barang bukti persidangan penjual minum anggur, Rudy Kurniawan, diperlihatkan di Pengadilan Federal di New York, 19 Desember 2013. (Foto: Stan Honda/AFP)
Tiga botol anggur palsu yang menjadi barang bukti persidangan penjual minum anggur, Rudy Kurniawan, diperlihatkan di Pengadilan Federal di New York, 19 Desember 2013. (Foto: Stan Honda/AFP)

Jaksa penuntut mengatakan Kurniawan juga pernah mengirimkan lebih banyak magnum dari Château Lafleur tahun 1947 ke pelelangan daripada jumlah yang sebenarnya pernah diproduksi.

Secara keseluruhan, Kurniawan mungkin telah menjual sebanyak 12 ribu botol anggur palsu, banyak di antaranya mungkin masih menjadi koleksi para kolektor.

Jaksa penuntut mengatakan uang dari penipuan itu digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah di pinggiran Kota Los Angeles, termasuk Lamborghini dan mobil-mobil mewah lainnya, pakaian desainer, serta makanan dan minuman mewah. Pemerintah Amerika menyita asetnya.

Dalam vonisnya, Kurniawan diperintahkan untuk membayar $ 28,4 juta sebagai ganti rugi kepada tujuh korban dan denda $ 20 juta dalam bentuk properti. 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Internasional

Berlian 101 Karat Akan Dilelang di Jenewa

Berlian terbesar yang pernah dipotong di Rusia, yaitu Alrosa Spectacle yang memiliki berat 100,94 karat, akan dilelang di Jenewa akhir bulan ini.

Published

on

Berlian 101 Karat Akan Dilelang di Jenewa

GENCIL NEWS – VOA – Berlian itu diperkirakan akan terjual seharga 12 hingga 18 juta franc Swiss atau sekitar Rp189 miliar hingga Rp283 miliar dalam pelelangan di rumah lelang Christi’s pada 12 Mei nanti.

“Berlian berwarna 100 karat D yang fantastis ini dipotong dari berlian kasar yang awalnya beratnya 200 karat. Berlian itu disebut berlian kasar Sergei Diaghilev dan ditambang pada 2016,” kata Marie-Cecile Cisamolo, pakar perhiasan di rumah lelang tersebut seperti dilansir oleh Reuters.

“Antara berlian kasar dan berlian yang kami tawarkan hari ini, butuh satu tahun delapan bulan untuk memotongnya menjadi batu yang sempurna ini.”

Berlian adalah salah satu dari 144 lot yang ditawarkan dalam penjualan, yang juga mencakup cincin, anting-anting, bros, dan potongan lainnya yang dibuat dengan berlian, safir, dan rubi.

Selanjutnya kejadian ini diselesaikan secara mediasi, dan tangani oleh pihak Polsek Pontianak Selatan.
Selanjutnya kejadian ini diselesaikan secara mediasi, dan tangani oleh pihak Polsek Pontianak Selatan.

Continue Reading

Internasional

FDA Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja

Published

on

By

FDA Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja
Lauren Borenstein, 16 tahun, menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan Pfizer-BioNTech di Skippack Pharmacy, di Schwenksville, Pennsylvania, 3 Maret 2021.

Gencil News – VOA – Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration/FDA), Senin (10/5), mengeluarkan otorisasi vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech untuk digunakan oleh remaja berusia paling muda 12 tahun. Langkah itu memperluas kelompok warga yang memenuhi syarat untuk divaksinasi.

FDA mengatakan vaksin itu aman dan efektif bagi remaja berusia 12-15 tahun. Sebelumnya vaksin yang sama tersedia untuk penggunaan darurat bagi anak berusia 16 tahun dan yang lebih tua.

“Langkah hari ini memungkinkan populasi yang lebih muda untuk mendapat perlindungan dari COVID-19, membuat kita semakin dekat untuk memulai kembali kehidupan normal dan mengakhiri pandemi ini,” ujar penjabat komisioner sementara FDA Janet Woodcock dalam sebuah pernyataan.

Vaksin Pfizer ini adalah vaksin pertama di Amerika yang disetujui untuk orang yang berusia lebih muda. Persetujuan itu diberikan ketika pejabat-pejabat Amerika berupaya memvaksinasi lebih banyak warga dan tampaknya akan mendorong jutaan siswa SMP dan SMA untuk mencoba divaksinasi sebelum kembali ke sekolah pada musim gugur nanti.

Meskipun anak-anak yang terjangkit COVID-19 umumnya hanya memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali, mereka masih dapat menularkan virus itu pada orang lain.

Pfizer pada Maret lalu merilis hasil kajian pendahuluan dari uji coba vaksin yang melibatkan lebih dari 2.000 sukarelawan berusia 12-15 tahun. Uji coba itu menunjukkan tidak satu pun remaja yang telah divaksinasi penuh mengidap COVID-19 atau mengalami efek samping yang serius. 

Continue Reading

Internasional

Penggerebekan Narkoba, 25 Orang Tewas

Published

on

Penggerebekan Narkoba, 25 Orang Tewas

Gencil News – VOA – Polisi menarget pengedar narkoba dan menggerebek favela atau perkampungan kumuh di Rio de Janeiro, Ibu Kota Brazil pada Kamis (6/5). Pihak berwenang mengatakan dalam penggerebak itu, setidaknya satu anggota polisi dan 24 orang lainnya tewas setelah ditembak.

Kantor pers polisi mengonfirmasi kematian seorang anggotanya dan 24 tersangka “penjahat” itu dalam sebuah pesan singkat kepada Associated Press.

Rekaman yang ditayangkan di televisi lokal menunjukkan, sebuah helikopter polisi terbang rendah di atas favela Jacarezinho ketika orang-orang bersenjata berat melarikan diri dari polisi dengan melompat dari atap ke atap rumah.

Felipe Curi, seorang detektif di kepolisian Rio, membantah telah terjadi eksekusi.

“Satu-satunya eksekusi adalah seorang petugas polisi, yang sayangnya dieksekusi dengan dingin oleh para pengedar narkoba. Kematian lainnya sayangnya terjadi ketika para penyelundup menarget polisi, dan mereka kemudian dinetralkan. Sesederhana itulah yang terjadi,” katanya dalam jumpa pers.

Jacarezinho, salah satu daerah kumuh terpadat di Kota Rio de Janeiro dengan jumlah penduduk 40 ribu jiwa, didominasi oleh Comando Vermelho, (Komando Merah) salah satu organisasi kriminal terkemuka Brazil.

Polisi menganggap Jacarezinho sebagai salah satu markas grup itu.

Continue Reading

Internasional

WHO Beri Persetujuan Vaksin COVID-19 Sinopharm Buatan China

Published

on

By

WHO Beri Persetujuan Vaksin COVID-19 Sinopharm Buatan China

Gencil News – VOA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan persetujuan bagi vaksin COVID 19 yang dikembangkan oleh China untuk penggunaan darurat di seluruh dunia.

Vaksin buatan Sinopharm, BUMN pengembang obat China, adalah vaksin pertama yang diproduksi oleh negara bukan blok Barat yang disetujui oleh WHO.

Langkah Jumat itu juga merupakan pertama kalinya, organisasi kesehatan publik global itu memberikan persetujuan terhadap sebuah vaksin China untuk penyakit infeksi.

Vaksin COVID 19 Sinopharm sudah diberikan kepada ratusan juta warga China serta negara-negara lain, bersama dengan vaksin China kedua lainnya.

Keputusan WHO itu akan memungkinkan vaksin Sinopharm diikutsertakan ke dalam Akses Global Vaksin COVID 19 atau COVAX, sebuah inisiatif untuk mendistribusikan vaksin ke negara-negara miskin.

WHO mengatakan, pihaknya akan memutuskan vaksin kedua China, yang dibuat oleh Sinovac Biotech, sedini minggu depan.

Sebelumnya, WHO sudah menyetujui vaksin AstraZeneca, Johnson&Johnson, Moderna, dan Pfizer-BioNTech untuk penggunaan darurat. WHO Beri Persetujuan Vaksin COVID-19 ‘Sinopharm’ Buatan China

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING