Connect with us

Internasional

Pesawat Air India Jatuh di Kerala, 17 Orang Diperkirakan Tewas

Published

on

Pesawat Air India Jatuh di Kerala, 17 Orang Diperkirakan Tewas
Petugas berusaha mencari korban selamat setelah pesawat Air India Express jatuh hari Jumat (7/8).

Gencil News – Pesawat Air India Jatuh di Kerala 17 orang diperkirakan tewas dan 46 lainnya cedera serius, ketika pesawat penumpang Air India jatuh di bandara Calicut, Karipur, negara bagian Kerala di bagian selatan, ketika berusaha mendarat dalam hujan lebat hari Jumat (7/8).

Pesawat Air India Express itu tiba dari Dubai mengangkut 191 penumpang dan awaknya ketika tergelincir di ujung landasan setelah mendarat, kata kementerian penerbangan sipil.

“Kami memperkirakan ada 17 orang yang meninggal dan 46 lainnya luka-luka serius. Tapi kami masih terus melakukan upaya penyelamatan,” kata pejabat polisi Abdul Karim.

Tubuh pesawat itu patah menjadi dua bagian setelah melewati ujung landasan dan tergelincir ke sebuah jurang, kata laporan-laporan televisi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Internasional

Korut Minta Maaf Atas Pembunuhan Pejabat Korsel

Published

on

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Jumat (25/9) mengajukan permohonan maaf, sebut Korea Selatan setelah pembunuhan seorang pejabat sipil Korea Selatan di dekat perbatasan laut yang disengketakan kedua negara. Permohonan maaf itu adalah sesuatu yang langka dilakukan seorang pemimpin Korea Utara.

Gencil News – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Jumat (25/9) mengajukan permohonan maaf, sebut Korea Selatan setelah pembunuhan seorang pejabat sipil Korea Selatan di dekat perbatasan laut yang disengketakan kedua negara. Permohonan maaf itu adalah sesuatu yang langka dilakukan seorang pemimpin Korea Utara.

Militer Korea Selatan hari Kamis menuduh pasukan Korea Utara menembak dan mengkremasikan seorang pejabat, yang oleh Seoul diduga mungkin sedang berusaha membelot ke Korea Utara.

Menurut pernyataan yang diumumkan kantor presiden Korea Selatan, Kim “sangat menyesal” karena mengecewakan rakyat Korea Selatan atas insiden tersebut. Pernyataan itu menyatakan kematian tersebut “menjijikkan” dan “seharusnya tidak terjadi.”

Lelaki berusia 47 tahun itu menghilang hari Senin dari kapal patrolinya sekitar 10 kilometer di sebelah selatan perbatasan de facto antar-Korea.

Para pejabat Seoul menduga lelaki itu, yang dilaporkan terbelit utang dan masalah pribadi lainnya, melompat keluar kapal dengan mengenakan pelampung.

Setelah dicegat di laut oleh pasukan Korea Utara, lelaki itu diinterogasi, ditembak mati, diguyur minyak dan kemudian dibakar, semua tampaknya dilakukan berdasarkan perintah orang berkedudukan lebih tinggi, demikian versi militer Korea Selatan mengenai peristiwa itu.

Korea Utara memberi pernyataan berbeda. Disebutkan bahwa pasukan perbatasan, sesuai pedoman antivirus corona, melepaskan 10 tembakan dari kejauhan ke arah lelaki itu. Sewaktu mereka mendekati pelampungnya, mereka hanya menemukan darah. Mereka kemudian membakar pelampung itu, sebut pernyataan itu.

Permintaan maaf Korea Utara disampaikan ke Seoul oleh Departemen Front Persatuan Korea Utara, suatu badan di partai berkuasa yang menangani hubungan kedua Korea. Surat itu menyatakan harapan agar “kepercayaan dan hubungan” antara kedua Korea tidak rusak.

Jarang sekali Korea Utara meminta maaf. Setelah beberapa pembunuhan warga sipil Korea Selatan pada masa lalu, Korea Utara menyatakan “penyesalan,” kerap kali kemudian menyalahkan Seoul atas insiden tersebut.

Dengan permohonan maaf Kim, risiko meruncingnya hubungan kedua negara berkurang, kata Leif-Eric Easley, profesor di Ewha University di Seoul. Ia mengatakan pembunuhan itu dapat menyebabkan “saling balas melanggar” suatu perjanjian militer yang dimaksudkan untuk mengurangi ketegangan di perbatasan.

Continue Reading

Internasional

Sinovac Berharap Akhir Tahun Dapat Memulai Uji Klinis Tahap Akhir

Published

on

Sinovac Berharap Akhir Tahun Dapat Memulai Uji Klinis Tahap Akhir

Gencil News- Sinovac Berharap Akhir Tahun Dapat Memulai Uji Klinis Tahap Akhir. Dari BEIJING — Sinovac Biotech China berharap tahun ini dapat memulai analisis data uji klinis tahap akhir pada calon vaksin Covid-19 buatannya. Sebab, hasil analisis berguna menentukan efektifitas vaksin sehingga dapat disetujui regulator.

Produsen obat AS, Pfizer, akan mengetahui keampuhan vaksin eksperimentalnya pada Oktober. Sementara Moderna mengatakan analisis sementara dari data uji klinis vaksin mereka diharapkan dilakukan pada November.

“Sinovac dapat mulai menilai kemampuan CoronaVac bagi perlindungan masyarakat segera setelah peneliti mengamati sedikitnya 61 pasien Covid-19,” kata CEO Sinovac Yin Weidong dalam konferensi pers, Kamis (24/9) seperti dilansir Reuters.

Perusahaan berharap dapat memasok vaksin Covid-19 eksperimental buatannya ke lebih banyak negara Amerika Selatan dengan mengalihdayakan sejumlah prosedur manufaktur ke mitranya di Brasil, demikian dilansir.

Produsen vaksin global seperti Sinovac dan AstraZeneca bermitra dengan Brasil untuk melakukan uji klinis tahap akhir calon vaksin mereka di sana. Brasil mencatat jumlah kasus infeksi Covid-19 tertinggi ketiga di dunia.

Sinovac berencana menyediakan produk setengah jadi kepada mitranya, Instituto Butantan, yang akan mengisi, mengemas serta memasok produk jadi ke negara-negara Amerika Selatan lainnya.

China menyertakan CoronaVac Sinovac ke dalam program penggunaan darurat yang diluncurkan pada Juli. Namun, uji klinis tahap akhir di luar negeri belum rampung sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli soal keamanan vaksin tersebut.

Negara Bagian Sao Paulo sepertinya juga akan menggelar vaksinasi menggunakan vaksin Sinaovac pada pertengahan Desember, setelah ada restu dari regulator.

Yin mengatakan perusahaan siap bekerja sama dan berbagi data dengan negara lain mengenai penggunaan darurat jika mereka membutuhkan program tersebut. Perusahaan juga sedang membahas uji klinis Tahap III dengan sejumlah negara, termasuk Chile.

Continue Reading

Internasional

AS Kecam WHO di Dewan Keamanan PBB

Published

on

AS Kecam WHO di Dewan Keamanan PBB

Gencil News – VOA – Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Partai Komunis China dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB pada hari Kamis.

Kelly Craft, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan “Organisasi Kesehatan Dunia selama bertahun-tahun dianggap sebagai pusat ilmu pengetahuan di atas politik, data melebihi bias.

Itulah mengapa Amerika selalu menjadi pemberi dana tunggal terbesar. Reputasi itu sekarang hancur berantakan setelah WHO membantu kampanye China untuk tidak bekerja sama, dan berbohong kepada dunia.”

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa itu juga mengatakan pada masa mendatang, masyarakat internasional harus menempatkan akuntabilitas dan transparansi sebagai pusat dari upaya untuk mengatasi ancaman terhadap kesehatan global.

Ia juga menjelaskan kurangnya kemandirian, transparansi, dan akuntabilitas adalah alasan mengapa Presiden Trump membuat keputusan Amerika menarik diri dari WHO dan mengapa AS terus menyerukan reformasi organisasi itu sementara AS mengalihkan sumber daya kesehatan global untuk mendukung mitra-mitra dan negara-negara lainnya yang lebih kredibel.

Ia mengatakan hanya Partai Komunis China yang bisa menjelaskan asal dan penyebaran virus itu.

Pidato Kraft itu disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyerang China terkait virus corona dalam pidatonya di Sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Continue Reading

TRENDING