Presiden Emmanuel Macron Ditampar Saat Kunjungan di Perancis Selatan
Connect with us

Internasional

Presiden Emmanuel Macron Ditampar Saat Kunjungan di Perancis Selatan

Published

on

Presiden Emmanuel Macron Ditampar Saat Kunjungan di Perancis Selatan

Gencil News – VOA – Presiden Perancis Emmanuel Macron, Selasa (8/6), ditampar ketika berjabat tangan lewat pagar penghalang di sebuah kota kecil di Perancis tenggara.

Video dari tempat kejadian menunjukkan Macron berjalan menuju kerumunan kecil warga yang menunggu di balik pagar penghalang. Menurut kantor berita Reuters, ketika Macron mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, seorang laki-laki di kerumunan itu meneriakkan “A Bas La Macronie” (Turunkan Macronia) dan menampar wajah Macron.

Presiden diamankan oleh petugas keamanan, dan laki-laki itu langsung ditangkap. Kantor berita Perancis AFP mengutip kantor kejaksaan setempat yang mengatakan dua laki-laki berusia 20-an diinterogasi. Belum diketahui motif tamparan itu.

Macron baru saja menyelesaikan kunjungannya ke sekolah menengah di desa Tain-l’Hermitage di wilayah Drome.

Tidak lama kemudian Macron kembali berjalan dan bertemu dengan penduduk setempat.

Setelah kejadian itu, ketika berbicara di depan Majelis Nasional di Paris, Perdana Menteri Perancis Jean Castex mengatakan kepada anggota Parlemen bahwa serangan terhadap Macron adalah serangan terhadap demokrasi.

“Demokrasi, seperti yang kita tunjukkan, adalah mengenai perdebatan, dialog, pertukaran ide, tentu saja ekspresi ketidaksepakatan. Namun, tidak boleh ada kasus kekerasan,” katanya kepada anggota parlemen.

Macron mendapat curahan dukungan dari seluruh kalangan politik Perancis. AFP melaporkan Jean-Luc Melenchon, seorang pemimpin sayap kiri di Parlemen, mengatakan ia membela presiden sebagai bentuk solidaritas, sementara politisi sayap kanan Marine Le Pen menyebut tamparan itu “tidak bisa diterima dan tindakan yang sangat tercela dalam demokrasi.”

Kantor kepresidenan menggambarkan kunjungan Macron ke Perancis selatan sebagai “lawatan untuk mendengar pendapat” guna “merasakan situasi negara”, sementara pandemi COVID-19 tampaknya memasuki tahap akhir. Macron bersiap untuk dipilih kembali tahun depan. 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Internasional

Australia Semakin Batasi Penggunaan Vaksin AstraZeneca

Published

on

Australia Semakin Batasi Penggunaan Vaksin AstraZeneca
Kantor pusat AstraZeneca di Sydney, setelah Perdana Menteri Scott Morrison mengumumkan warga Australia akan menjadi yang pertama di dunia yang menerima vaksin COVID-19, (Foto: Reuters)

Gencil News – VOA – Australia telah menaikkan usia yang direkomendasikan bagi penggunaan vaksin AstraZeneca dari 50 menjadi 60 tahun setelah vaksin COVID-19 itu diketahui sebagai penyebab kematian seorang perempuan berusia 52 tahun pekan lalu akibat pembekuan darah di otak.

Menteri Kesehatan Greg Hunt menggambarkan keputusan itu, Kamis (17/6), sebagai tindakan konservatif meski risiko terkena virus corona di Australia relatif rendah. Hunt mengatakan Inggris merekomendasikan AstraZeneca untuk orang di atas 40 tahun, Korea Selatan merekomendasikannya untuk orang di atas 35 tahun dan Jerman tidak menetapkan batasan usia untuk orang dewasa yang menggunakan vaksin itu.

Warga Australia berusia antara 50 dan 59 tahun sekarang direkomendasikan untuk menggunakan satu-satunya vaksin lain yang disetujui di Australia, Pfizer

Lebih dari 3 juta dosis AstraZeneca telah diberikan di negara tersebut, dengan dua kematian disebabkan oleh pembekuan darah langka yang terkait dengan vaksin tersebut.

Yang pertama adalah seorang perempuan berusia 48 tahun yang meninggal April lalu.

Kematian itu menyebabkan AstraZeneca yang diproduksi di Australia dibatasi untuk orang dewasa berusia di atas 50 tahun.

Orang-orang yang mendapat dosis pertama AstraZeneca tanpa mengalami pembekuan darah telah diberitahu bahwa mereka aman untuk mendapatkan dosis kedua tiga bulan kemudian.

Pemerintah berharap vaksin Moderna disetujui untuk digunakan segera di Australia dan untuk mempertahankan ketersediaan vaksin COVID-19 bagi setiap orang dewasa yang menginginkannya sebelum akhir tahun ini.

Sementara itu, negara bagian New South Wales dalam siaga tinggi setelah tiga kasus yang ditularkan secara lokal terdeteksi di Sydney.

Hingga Kamis (17/6), Australia hanya memiliki sekitar 30.000 kasus dengan 910 kematian. 

Continue Reading

Internasional

Virus Corona Mungkin Sudah Merebak di AS sejak Desember 2019

Published

on

Virus Corona Mungkin Sudah Merebak di AS sejak Desember 2019
Seorang perempuan AS menerima vaksinasi COVID-19 di Philadelphia, Pennsylvania (foto: dok).

Gencil News – VOA – Penelitian terbaru pemerintah menunjukkan bahwa virus corona penyebab COVID-19 sudah merebak di AS sejak Desember 2019, atau lebih awal beberapa minggu sebelum pejabat kesehatan AS pertama kali mengidentifikasi perebakannya secara resmi.

Penelitian yang dilakukan tim berisi para peneliti Institut Kesehatan Nasional AS itu menganalisis 24 ribu sampel darah. Temuan mereka menunjukkan bahwa beberapa orang Amerika terinfeksi COVID-19 sejak pertengahan Desember 2019, beberapa minggu sebelum seluruh dunia mendengar untuk pertama kalinya berita tentang perebakan virus mematikan baru yang bermula dari kota Wuhan di China itu.

Meskipun analisis itu tidak berujung pada suatu kesimpulan tertentu – sementara beberapa pakar juga masih belum teryakinkan – semakin banyak pejabat kesehatan federal AS yang dapat menerima jika skenario di mana sejumlah kecil orang di AS terinfeksi virus corona sebelum dunia menyadari penyebarannya benar-benar terjadi.

Penelitian yang diterbitkan pada Selasa oleh jurnal Clinical Infectious Diseases itu adalah studi terbaru dan terbesar yang menunjukkan bahwa virus corona pertama kali muncul di AS lebih awal dari yang diketahui sebelumnya.

Studi itu menemukan setidaknya tujuh orang di negara bagian Massachusetts, Mississippi, Pennsylvania dan Wisconsin terinfeksi lebih awal daripada kasus COVID-19 yang pernah dilaporkan di masing-masing negara bagian tersebut.

Continue Reading

Internasional

Pemimpin G-7 Berjanji Tak Akan Biarkan Pandemi Terjadi Lagi

Published

on

Pemimpin G-7 Berjanji Tak Akan Biarkan Pandemi Terjadi Lagi

Gencil News – VOA- Para pemimpin G-7 akan menandatangani Deklarasi Teluk Carbis yang digambarkan sebagai “pernyataan bersejarah berisi serangkaian komitmen konkret guna mencegah berulangnya kehancuran manusia dan ekonomi akibat virus corona.”

Pernyataan itu, yang diberi nama sesuai lokasi KTT G-7 di pinggir pantai di kota Cornwall, Inggris, mengakui pentingnya mengatasi akar pandemi virus corona pada skala global. Tujuannya adalah memangkas waktu yang diperlukan untuk merespon pandemi, termasuk untuk mengembangkan vaksin, menjadi di bawah 100 hari.

Para pemimpin Inggris, AS, Kanada, Perancis, Jerman, Italia dan Jepang – kelompok negara-negara demokrasi terkaya di dunia yang dijuluki G7 – mengadakan perundingan mengenai kesehatan global dengan para pemimpin Korea Selatan, Afrika Selatan dan Australia. Perdana Menteri India Narendra Modi bergabung secara virtual. Sekjen PBB Antonio Guterres dan para pemimpin organisasi internasional lainnya juga hadir.

Para pemimpin itu meninjau rekomendasi dari Kemitraan Kesiapan Pandemi, kelompok beranggotakan para pakar internasional yang didirikan di Inggris beberapa bulan lalu.

Rekomendasi itu termasuk mempercepat pengembangan dan lisensi vaksin, perawatan dan diagnosis bagi penyakit apapun di masa depan menjadi kurang dari 100 hari, komitmen untuk memperkuat jaringan pengawasan global dan kapasitas sekuens genom, dan dukungan untuk mereformasi dan memperkuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Continue Reading

Internasional

Kebencian atas Warga Asia di AS Menyebar di Media Sosial

Sejumlah laporan terkait kekerasan anti-Asia di seluruh AS telah menjadi berita utama baru-baru ini. Akan tetapi sentimen anti-Asia juga muncul secara online.

Published

on

Kebencian atas Warga Asia di AS Menyebar di Media Sosial

Gencil News – VOA- Peningkatan jumlah serangan dan kekerasan terhadap warga dan keturunan Asia di AS terus terungkap. Namun umpatan juga terjadi secara online. Sekitar 17% warga Asia-Amerika melaporkan telah mengalami pelecehan secara online yang parah menurut survei bulan Januari 2021 yang dilakukan Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (Anti-Defamation League). Angka itu naik dari 11% tahun sebelumnya.

Sei Chong, pimpanan editor dari Morning Consult mengemukakan, “Berbicara pelecehan secara online, 75% orang dewasa Asia yang mengalami pelecehan menyatakan itu karena ras dan etnis mereka. Itu sebenarnya sedikit lebih tinggi dibandingkan orang dewasa kulit hitam dan Hispanik yang juga mengalami pelecehan secara online.”

Morning Consult melakukan survei pada 1.000 orang dewasa Asia bulan Maret lalu dan menemukan 29% pernah mengalami pelecehan online, dengan 58% insiden terjadi di media sosial. Chong berpandangan dampak pelecehan itu lebih buruk daripada yang dilaporkan.

Sementara Yulin Hswen, dosen pengajar epidemiologi dan biostatistik menguraikan, “Dunia online menjadi lingkungan kita sekarang. Itu mempengaruhi orang-orang. Kalau itu terjadi secara daring, maka itu perlu ditanggapi dengan serius seperti halnya kalau terjadi secara luring.”

Profesor Universitas California itu mempelajari berkembangbiaknya tagar anti-Asia di Twitter. Yulin mengungkapkan pada titik tertentu, perlu diperhatikan korelasi dan tanda-tanda yang berjumlah sangat besar itu sehingga tidak dapat diabaikan lagi.

Ketika ujaran kebencian online menular, kebalikannya juga dapat dibenarkan – kata profesor Georgia Tech, Srijan Kumar. “Jika Anda dapat menyebarkan sanggahan terhadap pesan-pesan ujaran, jika Anda dapat mendukung, mendorong, dan menyatakan solidaritas sekaligus membela entitas Asia, maka itu pada dasarnya akan menciptakan suatu efek kaskade (berkembang secara berurutan) yang tak terhindarkan dalam sistem sosial masyarakat,” ulasnya.

Kumar menjelaskan paparan terhadap ujaran balasan berpotensi mencegah para penggunanya menjadi pembenci.

Dalam perang melawan kebencian secara online, para pakar tersebut menyatakan bahwa semua itu tergantung kekuatan kata-kata yang dilontarkan. 

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING