Sekjen PBB Desak 'Persatuan dan Solidaritas' dalam Mengatasi Covid-19
Connect with us

Internasional

Sekjen PBB Desak ‘Persatuan dan Solidaritas’ dalam Mengatasi Covid-19

Published

on

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Kamis (28/5) menyerukan “persatuan dan solidaritas” dalam menghadapi pandemi ini, ketika ia membuka pertemuan puncak PBB yang bertujuan mendukung negara-negara berkembang yang terkena dampak krisis global.

Guterres mendesak semua kepala negara dan para pemimpin organisasi internasional untuk bekerja sama, dan menambahkan “aspek penting dari solidaritas adalah dukungan finansial.”

“Menghadapi Covid-19 dan pemulihan yang lebih baik akan membutuhkan dana, tetapi alternatifnya akan jauh lebih mahal,” kata Guterres.

Perdana Menteri Kanada dan Jamaika menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi untuk mengatasi masalah keuangan yang penting guna mengatasi kehancuran ekonomi yang disebabkan oleh Covid-19.

Menurut Universitas Johns Hopkins, pandemi global telah membuat lebih dari 5.7 juta orang jatuh sakit dan menewaskan lebih dari 356.000 orang di seluruh dunia, , meskipun angka-angka ini hanya mencerminkan kasus yang dikonfirmasi dan dilaporkan oleh pemerintah.

Jumlah aktual infeksi diperkirakan jauh lebih tinggi karena banyak orang belum dites, dan penelitian menunjukkan orang bisa terinfeksi virus tanpa jatuh sakit.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Internasional

Warga India Banyak Terjerat Utang Medis Akibat Pandemi

Published

on

By

Warga India Banyak Terjerat Utang Medis Akibat Pandemi
Petugas kesehatan mengenakan APB memindahkan pasien COVID-19 di sebuah rumah sakit pemerintah di Gauhati, India, Senin, 24 Mei 2021. (Foto: AP)

Gencil News – VOA – Ketika kasus virus corona melanda India musim semi ini, Anil Sharma menengok Saurav, putranya yang berusia 24 tahun, yang dirawat di sebuah rumah sakit swasta di barat laut New Delhi, setiap hari selama lebih dari dua bulan.

Pada Mei, ketika jumlah kasus baru COVID-19 di India memecahkan rekor dunia yang mencapai 400 ribu per hari, Saurav dipasangkan ventilator.

Saurav sudah kembali ke rumah sekarang. Kondisinya masih lemah dan dalam masa pemulihan. Namun kegembiraan keluarga itu dibayangi oleh segunung utang yang menumpuk saat dia sakit.

Kehidupan sementara telah kembali normal di India karena jumlah kasus virus corona telah menurun. Namun, Associated Press, Senin (26/7), melaporkan jutaan orang terjerumus ke dalam mimpi buruk tumpukan besar tagihan medis.

Sebagian besar orang India tidak memiliki asuransi kesehatan dan biaya untuk perawatan COVID-19 sehingga mengakibatkan mereka tenggelam dalam utang.

Seorang petugas kesehatan mengambil sampel swab dari seorang pelancong untuk tes COVID-19 di sebuah stasiun kereta api di Mumbai, India, Kamis, 22 Juli 2021. (Foto: AP/Rajanish Kakade)
Seorang petugas kesehatan mengambil sampel swab dari seorang pelancong untuk tes COVID-19 di sebuah stasiun kereta api di Mumbai, India, Kamis, 22 Juli 2021. (Foto: AP/Rajanish Kakade)

Sharma menguras tabungannya untuk membayar ambulans, tes, obat-obatan, dan tempat tidur di unit perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU). Kemudian dia pun harus mengambil pinjaman bank.

Ketika biaya meningkat, ia meminjam dari teman dan kerabat. Kemudian, dia mencoba mencari bantuan dari masyarakat melalui Ketto, situs web urun dana (crowdfunding) di India. Secara keseluruhan, Sharma mengatakan dia telah membayar lebih dari $50 ribu untuk tagihan medis.

Dari hasil urun dana, Sharma mendapat $28 ribu. Namun, masih tersisa $26 ribu uang pinjaman yang harus dia lunasi. Ini adalah jumlah utang yang belum pernah dia hadapi sebelumnya.

“Dia berjuang untuk hidupnya dan kami berjuang untuk memberinya kesempatan untuk bertahan hidup,” katanya, suaranya kental dengan emosi. “Saya adalah seorang ayah yang bangga – dan sekarang saya menjadi seorang pengemis.”

Pandemi telah menghancurkan perekonomian India, membawa bencana keuangan bagi jutaan orang karena sistem perawatan kesehatannya yang mengalami kekurangan dana kronis dan terpisah-pisah. Para pakar mengatakan biaya-biaya seperti itu pasti akan menghambat pemulihan ekonomi.

“Apa yang kita miliki adalah selimut tambal sulam dari asuransi publik yang tidak lengkap dan sistem kesehatan masyarakat yang buruk,” kata Vivek Dehejia, seorang ekonom yang mempelajari kebijakan publik di India.

Bahkan sebelum pandemi, akses layanan kesehatan di India menjadi masalah.

Orang India membayar sekitar 63% dari biaya pengobatan mereka dengan dana pribadi. Sistem tersebut banyak diterapkan di negara miskin dengan layanan pemerintah yang tidak memadai. Data tentang biaya medis pribadi global dari pandemi sulit didapat, tetapi di India dan banyak negara lain, perawatan untuk COVID adalah beban tambahan yang sangat besar pada saat ratusan juta pekerjaan telah hilang.

Rohan Aggarwal, 26, seorang dokter residen yang merawat pasien yang menderita COVID-19, menulis catatan selama shift 27 jamnya di Rumah Sakit Keluarga Suci di New Delhi, India, 1 Mei 2021. (Foto: Reuters)
Rohan Aggarwal, 26, seorang dokter residen yang merawat pasien yang menderita COVID-19, menulis catatan selama shift 27 jamnya di Rumah Sakit Keluarga Suci di New Delhi, India, 1 Mei 2021. (Foto: Reuters)

Di India, banyak pekerjaan kembali normal ketika kota-kota dibuka setelah penguncian ketat pada Maret 2020. Namun para ekonom khawatir tentang hilangnya sekitar 12 juta posisi bergaji. Pekerjaan Sharma sebagai profesional pemasaran adalah salah satunya.

Pandemi telah mendorong 32 juta orang India keluar dari kelas menengah, yang didefinisikan sebagai mereka yang berpenghasilan $10 hingga $20 per hari, menurut sebuah studi Pew Research Center yang diterbitkan pada Maret.

Diperkirakan krisis telah meningkatkan jumlah orang miskin India menjadi 75 juta. Orang yang masuk kategori kelompok miskin adalah orang-orang berpenghasilan $2 atau kurang per hari.

“Jika Anda melihat apa yang mendorong orang ke dalam utang atau kemiskinan, dua sumber teratas sering kali adalah pengeluaran kesehatan yang dibiayai sendiri dan biaya pengobatan yang sangat besar,” kata K Srinath Reddy, Presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India.

Skema asuransi kesehatan yang diluncurkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi pada 2018 dimaksudkan untuk menalangi kebutuhan 500 juta dari 1,3 miliar penduduk India.

Skema itu merupakan langkah besar menuju pengurangan biaya medis. Namun hal ini tidak mencakup perawatan kesehatan dasar dan biaya rawat jalan yang terdiri dari sebagian besar biaya itu sendiri.

Jadi itu belum “secara efektif meningkatkan akses ke perawatan dan perlindungan risiko keuangan,” kata sebuah makalah kerja oleh para peneliti di Duke University.

Continue Reading

Internasional

Pria yang Dituduh Mencoba Bunuh Presiden Mali, Meninggal Dunia

Published

on

Pria yang Dituduh Mencoba Bunuh Presiden Mali, Meninggal Dunia
Personel keamanan mengawal tersangka penyerangan (tengah) dari Masjid Agung Fayçal di Bamako, Mali, 20 Juli 2021. Dua pria mencoba menikam Presiden sementara Mali, Kolonel Assimi Goita, saat salat Iduladha di masjid tersebut.

Gencil News – VOA – Seorang laki-laki yang dituduh mencoba menikam Presiden sementara Mali, Assimi Goita, pekan lalu telah meninggal di rumah sakit dalam penahanan pasukan keamanan. Pemerintah Mali mengungkapkan hal itu dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (25/7).

Goita, seorang kolonel pasukan khusus yang memimpin dua kudeta tahun lalu, berhasil menyelamatkan diri tanpa mengalami luka-luka, setelah pelaku mencoba menikamnya saat sedang salat di masjid di Ibu Kota Mali, Bamako, pada Selasa (20/7).

Sebuah video yang diperoleh Reuters memperlihatkan beberapa petugas keamanan melempar seorang laki-laki ke truk pickup militer, sementara Goita dikelilingi para pengawal.

“Dalam penyelidikan … kondisi kesehatannya memburuk,” kata pernyataan itu. Dia dibawa ke rumah sakit, di mana dia meninggal dunia, katanya.

Sebuah penyelidikan sedang dilakukan untuk memastikan penyebab kematiannya.

Continue Reading

Internasional

Diaspora Jawa di Washington Prihatin dengan Kondisi COVID di Tanah Air

Published

on

Diaspora Jawa di Washington Ikut Prihatin dengan Kondisi Perebakan COVID di Tanah Air
Sebagian anggota PTJ dalam acara "Temu Kangen" di Washington DC (foto: courtesy).

Gencil News -VOA – Diaspora Jawa merupakan salah satu kelompok etnis asal Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat.

Di ibu kota AS Washington, D.C., dan sekitarnya kelompok ini bersatu dalam wadah bernama Paguyuban Orang Jawa (Paguyuban Tiyang Jawi/PTJ) dengan tujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa serta ikut memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di Amerika.

Paguyuban Orang Jawa (Paguyuban Tiyang Jawi/PTJ) didirikan sebagai ajang silaturahmi warga Jawa dan bertujuan untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa, terutama bagi generasi muda dan penerus, serta untuk membantu memperkenalkan keragaman budaya Indonesia di Amerika. Sebagai warga Jawa di Amerika, pengurus dan para anggota PTJ juga ingin mempertahankan ciri-ciri yang khas, nilai-nilai yang luhur, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dari etnis Jawa, serta tidak melupakan asal-usulnya, atau tidak ingin seperti kata peribahasa, “kacang lupa pada kulitnya.”

Lantip Sri Sadewo, atau yang akrab dipanggil Dewo, adalah salah seorang penggagas, pendiri dan aktivis PTJ. Pria berasal dari Banjarnegara, Jawa Tengah ini telah tinggal di Amerika selama 21 tahun. Lulusan IKIP Semarang ini mengelola seksi seni budaya dalam kepengurusan PTJ, dan ikut berperan sebagai salah seorang pelatih grup seni reog Ponorogo.

Dewo mengatakan bahwa sebenarnya PTJ berdiri untuk memfasilitasi keinginan dan kerinduan banyak warga diaspora Jawa di Washington, D.C. dan sekitarnya.

“Masyarakat Jawa di sini menanyakan apa sebenarnya wadah untuk berkumpulnya komunitas Jawa karena selama ini, selama puluhan tahun, di Washington tidak ada wadah yang tepat, yang bisa dijadikan sebagai ajang komunikasi antar diaspora Jawa. Makanya kami kemudian membentuk satu tim untuk membentuk kepengurusan PTJ agar kegiatan-kegiatan yang bersifat kejawaan itu kemudian bisa terorganisir, dan alhamdulillah melalui beberapa kegiatan termasuk yang bertempat di kediaman ambassador (Duta Besar RI), bisa kami lakukan,” ujarnya.

Menurut Dewo, masing-masing anggota dan pengurus memiliki kesibukan dengan urusan pekerjaan masing-masing. Namun, pengurus bertekad akan mengelola PTJ dengan baik dan terus berusaha mengadakan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan untuk mengobati kerinduan tersebut, sekaligus memupuk persaudaraan di antara para anggotanya serta merawat dan meneruskan warisan budaya Jawa kepada generasi muda sekarang dan generasi penerus mendatang.

Pengurus grup seni Singo Lodoyo menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Duta Besar RI di Washington DC (foto: courtesy).
Pengurus grup seni Singo Lodoyo menunjukkan piagam penghargaan yang diterima dari Duta Besar RI di Washington DC (foto: courtesy).

“Aktivitas-aktivitas yang kita lakukan salah satunya aktivitas kemanusiaan, aktivitas budaya. Itulah hal yang paling kita pentingkan, yakni ikut melestarikan kebudayaan Jawa sehingga kebudayaan Jawa ini bisa tetap lestari. Walaupun kita berada jauh dari tanah air, akan tetapi kecintaan kita terhadap budaya kita masih tetap kita pertahankan.”

Selain itu, Dewo mengatakan bahwa selama pandemi COVID-19, PTJ ikut merasa prihatin dan peduli dengan kondisi saudara-saudara di Indonesia.

Reog Singo Lodoyo pentas pada Festival Bunga Sakura (Cherry Blosson Festival) di Washington DC (foto: courtesy).
Reog Singo Lodoyo pentas pada Festival Bunga Sakura (Cherry Blosson Festival) di Washington DC (foto: courtesy).

“Melalui kegiatan ini, kami, baik PTJ maupun Singo Lodoyo, kita bekerja sama, bahu-membahu untuk kemudian mencoba melakukan fund raising, mengumpulkan dana dari teman-teman. Dasar kenapa kita melakukan itu karena kita ikut prihatin, ikut sedih melihat dan mendengar situasi di Indonesia. COVID-19 begitu merajalela dan banyak sekali kekurangan di antara warga kita, saudara-saudara kita di Indonesia sehingga kami berupaya untuk membantu semampu kami. Kami bukan orang yang mampu dengan jumlah besar, tetapi kami memiliki usaha, memiliki empati untuk berusaha ikut membantu melalui dana yang sampai saat ini kita belum bisa menghitung. Jadi, seberapapun hasil dari kegiatan ini, maupun hasil dari aktivitas panitia nanti sepenuhnya akan kita serahkan ke Indonesia. Siapa dan di mana penerimanya, itu nanti akan kami rembuk lagi.”

Pihak KBRI, menurut Dewo, memberikan sumbangan secara moril, dorongan dan motivasi, dan izin penggunaan fasilitas, seperti juga kepada semua perkumpulan diaspora Indonesia di Washington, D.C. Dia menambahkan, “sangat kami harapkan bahwa tidak hanya KBRI tetapi juga semua pihak, termasuk dari Indonesia bisa mendukung kami untuk tetap melestarikan budaya Jawa di tanah Paman Sam ini.”

Singo Lodoyo adalah grup reog Ponorogo yang walaupun dibentuk jauh sebelum lahirnya PTJ, kini menjadi salah satu bentuk perkumpulan seni kebanggaan warga Jawa di ibu kota Amerika dan sekitarnya.

Bandi Wiyono, pria asli dari Ponorogo, adalah ketua grup yang telah bertahan selama 15 tahun itu.

“Reog Singo Lodoyo didirikan bulan Mei tahun 2006 karena sebagai orang Jawa di perantauan, rasa “kangen” dan cinta budaya Jawa itu tidak bisa dibendung lagi, sehingga akhirnya saat itu kita mengumpulkan iuran, mengumpulkan dana dan akhirnya kita bisa membeli reog satu unit lengkap langsung dari Ponorogo. Reog itu dibawa ke Washington melalui kerjasama dengan Embassy of Indonesia.”

Bandi mengatakan sumbangan KBRI “sangat luar biasa,” terutama dari segi pendanaan. “Kadang-kadang ketika grup reog ini mengadakan tur ke luar daerah, misalnya Chicago atau New York, KBRI juga selalu membantu soal dana, di samping grup juga mendapatkan sponsor,” tambahnya.

Berbagai kegiatan pentas telah dilakukan oleh grup ini, baik partisipasi rutin dalam perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, maupun berbagai event internasional.

“Setiap (ada perayaan) Indonesian Independence Day kita selalu ikut berperan serta, terus sebelum COVID, kita selalu aktif mengikuti kegiatan di International Festival di Takoma Park setiap bulan September. Kita juga mengikuti Bowie International Festival dan kita sudah pernah main di New York dua kali di diaspora community New York, juga di Chicago dan di Philadelphia malah empat kali.”

Reog Singo Lodoyo pentas untuk peringatan HUT RI di Wisma Indonesia Washington DC (foto: courtesy).
Reog Singo Lodoyo pentas untuk peringatan HUT RI di Wisma Indonesia Washington DC (foto: courtesy).

Menurut Bandi, Singo Lodoyo juga telah pentas di berbagai kota di negara bagian Virginia dalam berbagai event internasional, seperti Asian Heritage Festival. “Jadi kita ikut di dalamnya, semua untuk mempromosikan budaya reog dari lokal ke dunia internasional,” ujarnya.

Bandi merasa bersyukur bahwa reog Ponorogo sebagai salah satu bentuk seni Jawa dihargai di Amerika. “Yang jelas masyarakat Amerika sangat menerima dan sangat antusias dengan budaya reog yang berada di Amerika dan kami mendapatkan support yang luar biasa. Makanya kami bisa berdiri sampai sekarang.”

Kiprah Singo Lodoyo telah membuahkan berbagai penghargaan, mulai dari Duta Besar RI di Washington, D.C., hingga berbagai penyelenggara festival, termasuk untuk kategori “good performance award” pada festival diaspora di Chicago.”

Ketua grup Reog Singo Lodoyo menerima penghargaan dari Duta Besar RI di Wasington DC (foto: courtesy).
Ketua grup Reog Singo Lodoyo menerima penghargaan dari Duta Besar RI di Wasington DC (foto: courtesy).

Bandi mengatakan sejauh ini telah terjadi tiga kali regenerasi pemain Singo Lodoyo. “Mulai sekarang ini jathil itu semua dari orang kita, tapi kelahirannya di Amerika. Jadi, biar sambil memperkenalkan budaya reog dari orang-orang kita itu, biar mengerti reog itu apa sih. Alhamdulillah anak-anak yang kelahiran di sini mengerti reog semua sekarang ini.”

Bandi menambahkan bahwa Singo Lodoyo sudah bersilaturahmi dengan Bupati Ponorogo untuk mencoba menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten di Jawa Timur itu. “Kami juga sudah dua kali melakukan (pertemuan) virtual dan alhamdulillah dia juga sangat mendukung dengan adanya reog yang berada di sini. Semoga nanti menjadi kerja sama yang bagus sekali dan memajukan budaya Ponorogo ke Amerika. Kita hidup di Amerika selalu sibuk bekerja, tapi kita akan cinta dan rindu akan reog Ponorogo. Kita akan melanjutkan supaya reog Ponorogo maju, dari lokal ke pentas internasional.”

Berbicara kepada VOA, Franklin Paul Norris, warga Amerika yang beristrikan seorang wanita Jawa menyatakan sangat mendukung berdirinya Paguyuban Tiyang Jawi. “Sumbangan organisasi-organisasi warisan budaya seperti PTJ di Washington, D.C., sebenarnya sangat berharga, terutama bagi orang-orang di Amerika Serikat yang mungkin sama sekali belum pernah mendengar tentang Indonesia maupun penduduk Jawa.”

Paul, yang bekerja sebagai penulis dan peneliti lepas, mengatakan fungsi sumbangsih budaya seperti yang dilakukan oleh PTJ jelas tidak hanya memperkaya ragam dan khazanah budaya dalam suatu komunitas, tetapi terlebih penting lagi dapat menambah perspektif orang-orang dalam komunitas bersangkutan. “Jadi, fungsi sumbangsih budaya dari organisasi semacam ini memberi orang perspektif tambahan untuk memahami dan menemukan arti informasi di sekitar mereka, pengalaman-pengalaman mereka. Dalam dunia modern yang terglobalisasi, orang benar-benar membutuhkan sebanyak mungkin alat perspektif yang berbeda-beda yang dapat mereka kumpulkan untuk membantu mereka menghadapi dan mengatasi dunia modern ini serta semua informasi berbeda yang mereka hadapi setiap hari. Jadi, melalui uluran tangannya, organisasi PTJ benar-benar memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi masyarakat luas,” pungkasnya.

PTJ, yang menurut pengurusnya beranggotakan sekitar 300 orang (dari perkiraan sekitar 500 orang Jawa di Metropolitan Washington, D.C.), hanyalah salah satu kelompok sosial kemasyarakatan berbasis etnis yang dibentuk oleh diaspora Indonesia di Amerika.

Yudho Sasongko, Minister Counselor dan Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial-Budaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menyatakan sesuai data yang ada di KBRI, warga negara Indonesia yang mencatatkan diri ke perwakilan RI di seluruh AS jumlahnya diperkirakan 150 ribu orang. Dari jumlah itu, menurutnya, jumlah WNI yang bermukim di District of Columbia, Maryland dan Virginia (DMV) tercatat sekitar 3.000 orang.

Continue Reading

Internasional

AS Kecam Penolakan China Fase Kedua Penyelidikan Asal-Usul Virus

Published

on

By

AS Kecam Penolakan China Fase Kedua Penyelidikan Asal-Usul Virus

Gencil News – VOA – Penolakan China terhadap penyelidikan WHO fase selanjutnya mengenai asal-usul pandemi Covid-19 mendapat kecaman dari pemerintah AS.

Juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, Kamis, (22/7) menyebut penolakan itu tidak bertanggung jawab dan berbahaya.

“Sikap mereka tidak bertanggung jawab dan terus terang berbahaya … Ini bukan waktunya untuk menghalangi,” kata Psaki kepada wartawan, setelah Beijing mengecam keras permintaan WHO untuk mengaudit laboratorium di daerah-daerah di mana kasus virus corona pertama kali diidentifikasi, termasuk kota Wuhan di China.

China sebagai mana dilaporkan kantor berita Associated Press, Kamis mengatakan tidak bisa menerima rencana Organisasi Kesehatan Dunia untuk studi fase kedua tentang asal-usul COVID-19, jika penyelidikannya kembali ke teori bahwa virus itu mungkin bocor dari laboratorium China di Wuhan.

“Studi yang telah dilakukan pada tahap pertama, terutama yang memiliki kesimpulan yang jelas, tidak boleh diulangi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian.

China kerap menolak tuduhan bahwa pandemi itu berasal dari Wuhan dan dibiarkan menyebar oleh kesalahan langkah awal birokrasi dan upaya menutup-nutupi.

Pencarian asal muasal itu telah menjadi masalah diplomatik yang telah memicu memburuknya hubungan China dengan AS dan banyak sekutu Amerika.

AS dan negara-negara lainnya mengatakan bahwa China belum transparan tentang apa yang terjadi pada hari-hari awal pandemi.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING