Cek Fakta : Mahfud MD Mengikuti Jejak Kakeknya Raden Ario Majang Koro yang Menjadi Penghianat

Unggahan akun Facebook Anna Prasetyo atau @dianna.debora.180 yang berisi gambar Menko Polhukam, Mahfud MD yang disandingkan bersama Bangsawan asal Bangkalan, Raden Ario Majang Koro dengan inti pesan bahwa Mahfud MD mengikuti jejak Kakeknya, Raden Ario Majang Koro dengan menjadi penghianat adalah tidak benar.

Keponakan Mahfud MD, Firmansyah Ali menyatakan Mahfud MD sama sekali tidak ada darah Bangkalan, total orang pamekasan yang numpang lahir di Sampang.

Dari jalur ayahandanya, Mahfud MD bin Mahmoddin bin Hasyim dan terus ke atas merupakan orang biasa, bukan tentara belanda atau Ningrat Bangkalan. Mahmoddin ayahandanya adalah petani yang kemudian jadi PNS. Dari jalur Ibu, Mahfud MD adalah keturunan Bhujuk Abdul Qidam Sumenep alias Pangeran Pandiyan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan para bangsawan Bangkalan waktu itu.

Akun Facebook Anna Prasetyo atau @dianna.debora.180 mengunggah foto Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD yang disandingkan dengan foto Bangsawan dari Bangkalan, Raden Ario Majang Koro.

Dalam unggahannya tersebut, akun Facebook @dianna.debora.180 menambahkan narasi yang inti pesannya menyatakan bahwa Mahfud MD mengikuti jejak kakeknya Raden Ario Majang Koro yang menjadi penghianat. Berikut narasi lengkapnya:

“Kolonel Raden Ario Majang Koro adalah keturunan bangsawan dari Bangkalan-Madura lahir th. 1832 – Madura , Wafat tanggal September 29, 1906 ) , dari brigade “Barisan Bangkalan (Barisan Van…

Baca juga   Berhati-hatilah Dengan Apa yang Anda Bagikan di Media Sosial

Buah jatuh tdk jauh dari pohonnya….!!!
Mahfud mengikuti jalan kakeknya yg tentara Belanda…..yg ikut menyerang kerajaan Aceh .
Kakeknya adalah salah satu perwira tentara Belanda yg berkulit sawo matang.
Dan kematian sang kakek di ujung rencong pejuang Aceh…..
Turun-temurun jadi pengkhianat kaumnya .paham Kan….?,” unggah akun Facebook Anna Prasetyo atau @dianna.debora.180, Rabu (27/11).

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan melalui mesin pencari, diketahui unggahan akun Facebook @dianna.debora.180 adalah tidak benar. Menurut First Draft, unggahan akun @dianna.debora.180 dapat masuk ke dalam kategori Konten yang Menyesatkan atau Misleading Content.

Dilansir dari beritalima.com diketahui Keponakan dari Mahfud MD, Firmansyah Ali memberikan klarifikasinya.

Pertama, Pak Mahfud MD sama sekali tidak ada darah Bangkalan, pak Mahfud MD total orang pamekasan yang numpang lahir di Sampang. Jadi kalau di Bangkalan memang pernah ada tokoh bernama Aryo Among Koro antara tahun 1874 s/d tahun 1906, dipastikan itu bukan nenek moyang Prof Mahfud MD. Itupun kalau benar ada tokoh tersebut, jangan-jangan keberadaan dan kisah tentang tokoh tersebut juga hoax?, sebab banyak orang bangkalan tidak kenal dan tidak tau.

Kedua, dari jalur ayahandanya, Mahfud MD bin Mahmoddin bin Hasyim dan terus ke atas merupakan orang biasa, bukan tentara belanda atau Ningrat Bangkalan. Mahmoddin ayahandanya adalah petani yang kemudian jadi PNS. Sedangkan Hasyim kakeknya adalah petani sambil ngajar ngaji.

Baca juga   Slank Gelar Konser 35 Tahun di Gelora Bung Karno

Ketiga, Prof Mahfud dari jalur ibu adalah keturunan Bhujuk Abdul Qidam Sumenep alias Pangeran Pandiyan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan para bangsawan Bangkalan waktu itu.

Sedangkan Raden Ario Majang Koro sendiri diketahui ialah keturunan bangsawan dari Bangkalan. Ia lahir sekitar tahun 1832.

Dalam ‘Onze vestiging in Atjeh’ karya G.F.W Borel, Majang Koro masuk ke dunia militer pada tanggal 15 Agustus 1848 sebagai sukarelawan tentara di Surabaya. Nama kelompok tentara itu Kaboen Surabaya.

Kariernya di dunia kemiliteran terus menanjak. Dia dipromosikan menjadi kopral pada 16 Januari 1850 dan naik lagi menjadi sersan pada tanggal 25 Juni 1850.

Pada tahun 1873, saat ia masih berpangkat mayor ia dikirim ke Aceh.

Dalam “Perang Aceh dan Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje” karya Paul t’Veer (1985) disebutkan ekspedisi pertama Aryo Majang Koro di Tanah Rencong dipimpin Mayor Jenderal JHR Kohler. Namun Kohler terbunuh pada 14 April 1873, tepat di depan Masjid Raya Aceh.

“Sebagai mayor Korps Barisan, Majang Koro memimpin pasukan yang terdiri dari orang-orang Madura ke Aceh, pada 1873-1874.”

Saat itu Majang Koro berhasil memukul mundur lawan. Ia kemudian mendapat penghargaan Ridder Willems-Orde dengan pangkat kolonel titurer.

Majang Koro meninggal di Bangkalan pada tahun 1906.

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News