Connect with us

HEADLINE

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Papua: Seperti Bangun dari Tidur Panjang

Published

on

Penunjukan Mahfud MD sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan tidak saja membawa harapan baru bagi penyelesaian masalah Papua, tapi juga memunculkan keraguan karena kegagalan upaya sebelumnya.

Pengacara HAM senior dari Papua, Gustav Kawer menilai, para elit pusat dan Papua seolah baru bangun dari mimpi panjang terkait wacana KKR yang muncul kembali saat ini.

Ada dua alasan. Pertama, pembatalan UU KKR tidak diikuti dengan perbaikan dan pemberlakuan regulasi baru sampai saat ini. Kedua, pembentukan KKR sudah tercantum dalam UU Otonomi Khusus Papua 2001, tetapi tidak terealisasi sampai sekarang.

“Ada mandat di UU Otsus. Diberi kewenangan untuk membentuk KKR di Papua. Cuma aturan pelaksanaan dari Otsus itu sampai sekarang belum ada,” ujar Gustav sambil menekankan pemerintah provinsi dan pusat harus secepatnya membuat aturan pelaksanaan.

“Karena tidak dibuat-buat dari 2001 sampai sekarang ini, makanya KKR tidak ada di Papua,” katanya. UU Otsus Papua juga mewajibkan pembentukan Pengadilan HAM di Papua.

Namun, mandat itu juga tidak terlaksana. Padahal, KKR dan pengadilan HAM di Papua merupakan kebutuhan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu di sana.

Gustav mensinyalir pemerintah enggan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM lewat KKR karena akan menyeret aparat negara sendiri.

“Kalau mereka mau, seharusnya ada keberanian untuk menyelesaikan itu lewat hadirnya KKR,” tegasnya

Gustav sedikit mengapresiasi wacana penyelesaian pelanggaran HAM yang disodorkan Mahfud. Dia berharap, mantan Ketua MK ini mau melihat lebih detail berbagai persoalan pelanggaran HAM di daerah, terutama yang masalahnya serius seperti di Papua.

Meski Mahfud mungkin akan lebih baik dari pejabat sebelumnya, tapi mengandalkan kepakaran saja tak cukup, kata Gustav. Mahfud juga butuh keberanian untuk menyelesaikan persoalan HAM, tambahnya.

Presiden Joko Widodo saat mengunjungi kabupaten Arfak di Papua Barat, 27 Oktober 2019. (Foto: Antara via Reuters)
Presiden Joko Widodo saat mengunjungi kabupaten Arfak di Papua Barat, 27 Oktober 2019. (Foto: Antara via Reuters)

Pembentukan KKR Papua dan pengadilan HAM – ad hoc maupun permanen– akan menjadi penanda perubahan kinerja pemerintah terkait ini, kata Gustav. Jika regulasinya mantap dan penegakan hukumnya berjalan, bagi Gustav, perubahan itu ada.

“Tetapi jika tidak berjalan, maka saya pikir sama saja. Kita mengulang-ulang yang lalu. Dan saya katakan, semua ini seperti baru bangun dari mimpi lalu mengulangi mimpi yang sama lagi,” tambah Gustav.

Saat dilantik, Mahfud MD membawa ide tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) untuk kasus-kasus pelanggaran HAM. Menkopolhukam pertama dari kalangan sipil ini seolah memberi secercah harapan. Beberapa saat setelah mengucap janji sebagai pejabat, dia membuka wacana menghidupkan kembali UU No 27 Tahun 2004 tentang KKR.

Wacana itu diulang di Yogyakarta, Senin (28/10), saat berpamitan dengan sejumlah pengurus Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII). Mahfud minta izin mengurangi waktu mengajar karena harus menunaikan tugas sebagai Menkopolhukam. Salah satu tugasnya terkait KKR untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di Papua.

“Kalau urusan pelanggaran HAM itu kan sudah jelas ada parameternya kalau itu mau dikaitkan dengan Papua. Dulu kita punya UU KKR, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, kenapa kita tidak buka itu saja,” kata Mahfud.

Namun Mahfud buru-buru menambahkan hal itu belum final karena dia baru empat hari menjabat dan belum membahasnya dengan kementerian terkait lainnya.

“Tetapi kita semua bertekad untuk menyelesaikan pada periode ini dengan jelas. Tidak menggantung-gantung lagi,” tegas Mahfud.

Masyarakat Nduga bersembunyi di hutan selama TNI-Polri melakukan pengejaran kelompok Egianus Kogoya. (Foto courtesy: Leri Gwijangge)
Masyarakat Nduga bersembunyi di hutan selama TNI-Polri melakukan pengejaran kelompok Egianus Kogoya. (Foto courtesy: Leri Gwijangge)

Wacana yang digulirkan Mahfud MD tidak saja memberi harapan baru penyelesaian kasus pelanggaran HAM bagi rakyat Papua. Tapi juga bagi Presiden Joko Widodo, kehadiran pakar hukum tata negara itu diharapkan bisa membantunya memenuhi janji menuntaskan pelanggaran HAM masa lalu yang masih menggantung sejak pilpres 2014.

Menurut undang-undang, KKR dibentuk untuk menyelesaikan pelanggaran HAM berat pada masa lalu di luar pengadilan. Kewenangan KKR antara lain melaksanakan penyelidikan, termasuk meminta dokumen resmi dari instansi sipil atau militer serta memberikan perlindungan kepada korban, saksi, pelapor, pelaku, dan barang bukti. Mereka bisa memanggil setiap orang yang terkait untuk memberikan keterangan dan kesaksian. Komisi juga berhak memutuskan pemberian kompensasi, restitusi, rehabilitasi, atau amnesti.

Mahkamah Konstitusi pada 2006 membatalkan UU KKR, melalui putusan Nomor 006/PUU/IV/2006 dengan alasan bahwa secara keseluruhan bertentangan dengan UUD 1945.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Gaya Hidup

Memaknai Dedikasi, Mencintai Profesi

Published

on

GENCIL NEWS – Rambutnya telah memutih, sementara kulit tidak sekencang dahulu. Ada yang berbeda dengan Bapak yang satu ini dibandingkan dengan penampilan artis lainnya.

Jika beberapa artis muda sibuk menampilkan diri, berfoto dari satu fans ke fans lain dengan dandanan yang ngartis-banget, beliau malah senang berbaur dan bercerita secara mendalam dengan tamu undangan dalam satu meja.

Ceritanya mengalir alami menyusuri fragmen demi fragmen hidupnya, sangat elaboratif untuk ukuran pembicaraan jeda kopi.

Henky Solaiman namanya. Secara kebetulan saya mendapat kesempatan berbincang dengan beliau dalam acara Premier Film Love and Faith atas undangan Majalah Marketing. Di usianya yang beranjak 73 tahun, karya-karya produktif masih dilahirkan dan dedikasinya terhadap dunia layar perak terbilang di atas rata-rata.

Kejarlah daku kau kutangkap, adalah film tahun 80-an yang mengenalkan saya pada sosok ini. Di masa saya kecil, film Kejarlah daku diputar berpuluh-puluh kali di layar televisi yang kala itu masih hitam-putih. Walaupun sering goyang dan bersemut gambarnya, televisi adalah pilihan terbaik saat itu sebagai satu-satunya penyambung nafas kota-kota kecil dan gemerlap ibu kota.

Sejak memulai karir di dunia seni pada tahun 1971, pak Henky Solaiman mencurahkan perhatiannya untuk kemajuan dunia seni peran. Dalam ceritanya, beliau menggambarkan betapa penuh perjuangan bergerak dari satu lokasi ke lokasi syuting yang bisa memakan waktu berhari-hari dengan istirahat seadanya. Sungguh harga yang harus dibayar untuk sekedar membuat penonton tersenyum atau berdecak kagum.

Terlalu jauh rasanya, jika saya harus menjelaskan evolusi yang terjadi pada perfilman Indonesia. Selain saya bukan ahlinya, saya juga bahkan jarang menonton film Indonesia di bioskop. Namun tidaklah perlu menjadi ahli untuk bisa membedakan mana film yang menjadi legenda dan mana film kelas kacang yang sekedar menjadi penggembira. Bukan tanpa sebab film yang bagus itu menjadi berjiwa. Dia lahir karena adanya dedikasi.

Dedikasi diambil dari kata dedicate, persembahan. Ketika suatu profesi menyediakan dirinya untuk kita eksploitasi demi kesejahteraan, maka dedikasi bermakna memberikan balik apa yang kita dimiliki, demi bertunas dan berkembangnya profesi itu. Seorang dokter yang telah berpuluh tahun mendapatkan penghasilan dari pekerjaan kedokterannya, layaknya memberi balik. Mempersembahkan metode baru, menyemai dokter-dokter baru dan mempersiapkan sistem layanan kesehatan untuk memperbaiki hubungan dokter dan pasien.

Para pemasar yang telah malang melintang di dunia pemasaran dan mendapatkan pendapatan luar biasa dari pemasaran, baiknya membayar balik. Mengembangkan dunia pemasaran di Indonesia melalui sharing pengetahuan, membangun institusi pendidikan atau memperkenalkan konsep baru yang lahir dari pengalaman praktis yang didapatkannya.

Salah satu liputan portal berita yang menulis tentang Hengky Solaiman menyebutkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, beliau membantu tugas akhir mahasiswa IKJ secara pro bono atau tanpa bayaran. Sungguh sepertinya kita perlu mencontoh jejak kaki beliau. Bahwa legenda dicatat dalam sejarah, karena apa yang telah ia persembahkan bagi yang dicintainya. Jika Anda mencintai profesi Anda, persembahkanlah sesuatu bagi berkembangnya profesi itu. Tetap semangat dan salam pembaharu!

…….

Penulis: Wahyu T Setyobudi 

Pengajar PPM School of Management

Continue Reading

Gaya Hidup

Awal Mula Interaksi Kucing dan Manusia

Published

on

Jauh sebelum kucing jadi kesayangan di Facebook dan YouTube, mereka telah berinteraksi dengan manusia sejak jaman purba.

Sebuah studi DNA yang menjangkau masa ribuan tahun yang lalu untuk melacak interaksi tersebut dan menemukan dua bukti penyebaran yang utama dari kawasan Timur Tengah, dimana orang terbukti membawa kucing bersama mereka. Jejak genetik kucing ditemukan dalam perjalanan itu dan masih tampak pada jenis kucing yang ada pada zaman modern.

Para peneliti menganalisa DNA dari 209 kucing purba yang berasal dari zaman setua 9.000 tahun yang lalu yang berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia, termasuk beberapa mumi kucing purba asal Mesir.

“Mereka saksi langsung tentang situasi di masa lampau,” ujar Eva-Maria Geigl dari the Jacques Monod Institute di Paris. Ia bersama koleganya yang juga meneliti 28 kucing liar modern dari Bulgaria dan Afrika bagian timur.

Ini adalah indikasi terkini dari kisah yang rumit tentang kucing-kucing yang sudah dijinakkan. Mereka keturunan dari kucing-kucing liar yang belajar untuk hidup di tengah manusia dan jadi lumayan jinak – meskipun beberapa pemilik kucing saat ini mengatakan, mereka tampaknya tidak begitu suka berada di lingkungan manusia.

Proses penjinakkan kemungkinan berawal dari masa 10.000 tahun yang lalu ketika orang mulai menetap di kawasan Bulan Sabit Subur, kawasan berbentuk lengkungan yang mencakup pantai timur Laut Mediterranea dan daratan sekitar sungai Tigris dan Eufrat. Mereka menyimpan gandum, sehingga menarik hewan pengerat, yang akhirnya menarik kucing-kucing liar. Hewan-hewan yang ada di tumpukan sampah tampaknya telah menarik mereka juga. Seiring dengan berjalannya waktu, kucing-kucing liar ini beradaptasi pada lingkungan yang dibangun oleh manusia dan membiasakan diri untuk berkeliaran di sekitar manusia.

Studi sebelumnya menemukan seekor kucing yang dimakamkan di samping manusia sekitar 9.500 tahun yang lalu di Siprus, dimana tidak ada kucing yang asli berasal dari pulau itu. Ini adalah indikasi bahwa kucing dibawa dengan perahu dan hewan itu memiliki ikatan khusus dengan orang itu, ujar para peneliti.

Kucing jelas-jelas sudah dijinakkan pada masa sekitar 3.500 tahun yang lalu, dimana pada lukisan tampak kucing ditempatkan di bawah kursi. Ini menunjukkan bahwa saat itu, “kucing sudah jadi bagian dari rumah tangga,” ujar Geigl.

Namun secara keseluruhan proses penjinakkan sulit dilacak oleh para ilmuwan, sebagian karena tengkorak fosil tidak menunjukkan apabila kucing tersebut kucing liar atau sudah dijinakkan.

Lebih mudah untuk membedakan anjing, hewan yang pertama kali kita jinakkan, dari nenek moyang serigalanya. Anjing berevolusi dari serigala dan mulai berinteraksi dengan manusia bahkan sebelum adanya budaya bertani, kemungkinan tertarik oleh sisa-sisa makanan yang ditinggalkan manusia.

Studi baru melacak penyebaran penanda DNA kucing yang bersifat spesifik yang menembus jarak waktu yang panjang, sebuah tanda bahwa orang telah membawa kucing bersama mereka. Hasilnya dirilis hari Senin oleh jurnal Nature Ecology & Evolution.

Studi ini “memperkuat dan menyempurnakan hasil karya sebelumnya,” ujar Carlos Driscoll dari the Wildlife Institute of India. Pengambilan sampel yang bersifat ekstensif dari DNA kucing yang melacaknya hingga ke jaman kuno belum pernah dilakukan, ujarnya.

Para peneliti juga mengamati varian genetik yang menghasilkan bulu dengan pola yang tidak teratur khas kucing modern yang sudah jinak, ketimbang garis-garis menyerupai harimau yang ada pada sepupunya yang masih liar. Pola ini muncul lebih sering pada sampel-sampel yang berasal dari masa sesudah tahun 1300 ketimbang masa sebelumnya, yang sesuai dengan bukti lain bahwa tanda garis-garis pada bulu kucing menjadi sesuatu yang biasa mulai tahun 1700 dan orang mulai mengembang biakkan kucing untuk penampilannya mulai tahun 1800-an.

Berbeda dengan kuda, usaha untuk menjinakkan kucing termasuk terlambat, yang dikembang biakkan untuk tampilannya sejak awal, ujar Geigl.

Fokus sebagian besar studi adalah pada penyebaran kucing pada zaman purba. Pada sampel DNA yang dianalisa, satu jejak genetik yang pertama kali adalah di Turki sisi Asia – dan kemungkinan dahulunya dibawa oleh kucing yang berasal dari kawasan Bulan Sabit Subur – muncul lebih dari 6.000 tahun yang lalu di Bulgaria.

Ini adalah indikasi bahwa kucing telah dibawa kesana dengan perahu ketika para petani pertama melakukan kolonisasi benua Eropa, ujar Geigl. Indikasi ini juga tampak pada masa lebih dari 5.000 tahun yang lalu di Rumania, juga pada masa sekitar 3.000 tahun yang lalu di Yunani.

Jejak genetik kedua, pertama kali muncul di Mesir, telah mencapai Eropa antara abad ke satu dan kelima, sebagaimana ditunjukkan oleh sampel yang berasal dari Bulgaria. Jejak yang berasal dari bandar perdagangan Viking di Eropa utara berasal dari abad ketujuh, dan sampel yang berasal dari Iran berasal dari abad ke delapan.

Menyebarnya kucing di sepanjang Mediterranea kemungkinan dipicu oleh manfaatnya dalam mengendalikan hama pengerat dan hama lainnya di kapal, ujar para peneliti. [ww]

Continue Reading

Gaya Hidup

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat

Published

on

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat
Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat
Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat-Penelitian menunjukkan, optimistis memiliki manfaat kesehatan yang nyata. Optimistis adalah pondasi kesehatan mental yang akan menunjang kesehatan fisik. Bahkan, lebih dari 100 studi mengkonfirmasi gagasan bahwa sikap optimis dapat memberikan harapan kesehatan mental yang lebih baik selama hidup.

Optimis merupakan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Optimisme dapat juga diartikan berpikir positif. Jadi optimisme lebih merupakan paradigma atau cara berpikir.

Sikap optimis sering dianggap sebagai bentuk naif penyelesaian masalah. Pasalnya, optimistis lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dijalankan. Namun, ternyata optimistis tidak hanya memberikan efek dalam jiwa manusia, tetapi juga untuk raganya.

Optimis menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya.

Secara umum, orang yang optimis telah menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang pesimis. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa orang yang pesimis lebih rentan menderita penyakit menular, memiliki masalah kesehatan yang buruk, dan mengalami kematian dini.

Banyak orang percaya bahwa optimis adalah sifat bawaan. Nyatanya, banyak cara untuk menjadi orang yang lebih optimis. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan menghilangkan anggapan negatif pada diri sendiri dan meningkatkan pikiran positif.

Meskipun ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, dengan latihan, ketekunan, dan kemauan, cara ini akan berhasil. Tidak hanya itu, menghargai kesehatan diri dengan tidur yang cukup dan makan makanan sehat, akan membantu menaikkan tingkat optimistis.

Sikap mencerminkan dari kepribadian seseorang, dan pikiran memberi peran yang besar terhadap sikap seseorang. Itulah mengapa berpikir positif membuat perbedaan besar dalam hidup kita. Sikap yang baik dimulai dengan berpikir positif. Berpikir positif memiliki peran penting dalam pembentukkan setiap individu.

Kekuatan berpikir positif merupakan unsur yang terpenting dalam menciptakan jenis kehidupan dan dapat membantu Anda untuk mengatasi situasi stres dan mengubah hidup  jauh lebih baik.

Continue Reading

TRENDING