Nasib Tragis Sang Penerjemah Yang Menanti Hukuman Mati

Nasib Tragis Sang Penerjemah Yang Menanti Hukuman Mati
Nasib Tragis Sang Penerjemah Yang Menanti Hukuman Mati

Nasib Tragis Sang Penerjemah Yang Menanti Hukuman Mati – Seorang penerjemah bahasa Mandarin dihukum mati karena jasanya dipakai jaringan penyelundup narkoba. Dalam pengadilan yang sarat kejanggalan, para pelaku lainnya hanya dihukum seumur hidup dan pelaku utamanya kabur keluar negeri.

Belasan orang duduk di ruang tunggu pengunjung Lapas kelas 1 Cipinang, Jakarta Timur Rabu pagi (26/6). Satu di antaranya perempuan lanjut usia bernama Boen Njuk Sioe. Ia membawa 2 tas jinjing besar berisi makanan, Al Kitab dan obat-obatan bagi anaknya, terpidana kasus narkoba bernama Santa.

“Anak saya mengeluhkan sakit kepala di bagian belakang makanya saya bawakan bantal dan selimut,” tutur Boen Njuk Sioe di Lapas kelas 1 Cipinang.

Boen Njuk Sioe, ibunda Santa. (Foto: VOA/Sasmito)
Boen Njuk Sioe, ibunda Santa. (Foto: VOA/Sasmito)

Boen menuturkan sebulan sekali ia mengunjungi putranya di Lapas Cipinang. Butuh waktu sekitar lebih dari 2 jam menuju Lapas 1 Cipinang dengan menaiki ojek dan bus Transjakarta, dari rumahnya di Cengkareng, Jakarta. Ia berharap kunjungan tersebut dapat memberikan semangat hidup bagi anaknya yang divonis hukuman mati.

“Dia darah daging saya. Tidak bersalah tetapi dihukum mati,” kata Boen Njuk Sioe.

Setelah hampir 1 jam, satu per satu pengunjung dipanggil petugas Lapas untuk memasuki ruang kunjungan. Dua tas jinjing bawaan Boen diperiksa seksama oleh petugas. Semua isi tas dikeluarkan dan isinya ditaruh ke dalam 2 keranjang besar.

Petugas lapas kemudian membuka pintu besi. Bau pengap tercium ketika memasuki pintu masuk ruang kunjungan. Pengunjung laki-laki dan perempuan diperiksa secara terpisah. Keranjang-keranjang dimasukkan ke dalam x-ray dan pengunjung dipindai menggunakan metal detector.

Pintu masuk menuju ruang pengunjung di Lapas Cipinang. (Foto: VOA/Sasmito)
Pintu masuk menuju ruang pengunjung di Lapas Cipinang. (Foto: VOA/Sasmito)

Setelah mendapat nomor meja, Boen duduk dan tak lama kemudian Santa yang menggunakan rompi berwarna oranye menghampirinya. “Kepalaku sakit dan terasa berputar-putar, beberapa hari terakhir saat setelah bangun,” kata Santa memulai obrolan sambil menunjuk bagian belakang kepalanya.

Santa. (Foto: dokumentasi keluarga)
Santa. (Foto: dokumentasi keluarga)

Lelaki kelahiran Jakarta, 46 tahun silam itu, mengatakan tidak mengetahui penyebabnya karena tidak dapat memeriksakan dirinya ke dokter. Ia menduga sakit tersebut akibat penyiksaan yang dialaminya, yang diduga dilakukan aparat kepolisian pada awal Juni 2016.

Santa saat itu dituding terlibat dalam kasus narkoba yang melibatkan 4 warga negara China. Keempat warga negara China itu adalah Tan Weiming alias Aming, Chen Shaoyan alias Xiao Yan Zi, Shi Jiayi alias Jia Bao dan Qiu Junjie alias Junjie. “Saya tidak tahu kalau 4 warga negara China itu jualan narkoba,” tutur Santa.

Santa Kerap Jadi Pemandu & Penerjemah Warga China yang Datang ke Indonesia

Santa yang lulusan SMA, menuturkan kala itu hanya bekerja sebagai sopir gelap yang mangkal di sekitar Bandara Soekarno-Hatta dan hotel-hotel di Jakarta. Pekerjaan itu dilakukannya karena tabungan hasil kerjanya di Taiwan sudah ludes. Itu terjadi karena barang dagangan yang dibeli dari temannya merugi. Santa kemudian membeli mobil dengan kredit untuk dipakai mencari nafkah.

Hingga pada awal Mei 2016, bertemulah Santa dengan warga negara China bernama Tang setelah dikenalkan oleh seseorang. Tang bukan yang pertama memakai jasa sopir Santa. Ia mengatakan kerap diminta mengantar warga China yang kebetulan berada di sekitar Jakarta karena kemampuan bahasa Mandarin yang dikuasainya. Kata Santa, kemampuan bahasa Mandarinnya didapat saat bekerja di Taiwan sekitar 4 tahun sejak 1997.

“Karena kemampuan bahasa Mandarin, saya juga beberapa kali diminta warga asing untuk menjadi penerjemah di kepolisian dan kejaksaan saat ada kasus,” ujar Santa.

Ia memperkirakan pernah 7-8 kali menjadi penerjemah bagi WNA China yang diperiksa di Polda Metro Jaya dan Kejaksaan. Santa mendapatkan imbalan sebesar Rp500 ribu dari WNA tersebut setiap menjadi penerjemah.

Dengan kemampuan bahasa Mandarin ini juga, Santa kemudian diminta membantu Tang menyewa sebuah ruko di Jalan Raya Perancis Kavling 1479, Kelurahan Kosambi, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang (Ruko Dadap). Santa diminta mewakili perjanjian sewa menyewa menggunakan nama dirinya, dengan alasan Tang tidak bisa berbahasa Indonesia. Ruko ini rencananya akan digunakan untuk tempat usaha atau gudang mainan yang akan dijual Tang yaitu overboard.

Ruko di Kelurahan Kosambi, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang (Ruko Dadap) yang disewa atas nama Santa. (Foto: dokumentasi keluarga)
Ruko di Kelurahan Kosambi, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang (Ruko Dadap) yang disewa atas nama Santa. (Foto: dokumentasi keluarga)

Tang kemudian memberikan uang sebesar Rp75 juta untuk sewa dan jaminan ruko setahun. Santa mendapat komisi dari sewa menyewa ini sebesar Rp5 juta. Di samping itu, Tang juga meminta Santa bekerja untuknya dengan upah Rp5 juta, sekaligus sewa mobil Luxio milik Santa Rp5juta sebulan. Dengan demikian, Santa dijanjikan uang Rp10 juta sebulan oleh Tang jika bekerja dengannya.

Hingga kemudian, pada 2 Juni 2016 sekitar pukul 23.00 WIB, Santa ditelepon polisi menggunakan HP milik Tang. Namun, Tang saat itu sudah pergi dari Indonesia pada 31 Mei 2016 diantarkan Santa melalui Bandara Soekarno-Hatta. Polisi meminta Santa untuk datang dan membantu menerjemahkan percakapan 4 warga negara China yang ditangkap. Tanpa berpikir panjang, Santa yang sudah hampir sampai rumah memutuskan pergi ke ruko yang disewa warga China tersebut.

“Saya langsung datang saja, karena saya mikirnya ini peluang mendapatkan uang dengan membantu menerjemahkan,” kenang Santa.

Namun, sesampai di ruko, Santa ditangkap polisi. Selama 2 hari, ia disekap di ruangan yang sempit. Santa sempat diperbolehkan pulang untuk mandi dan berganti pakaian di rumah dengan didampingi penyidik pada 4 Juni 2016. Namun, kepulangannya tanpa sepengetahuan keluarga. Setelah itu, ia kembali lagi ke Polda Metro Jaya.

Mesin press plat besi atau moulding yang diduga menjadi tempat menyimpan narkoba. (Foto: dokumentasi keluarga)
Mesin press plat besi atau moulding yang diduga menjadi tempat menyimpan narkoba. (Foto: dokumentasi keluarga)

Polisi baru menginterogasi Santa pada Minggu, 5 Juni 2016 siang. Ia menuturkan tangannya diborgol dan dipukuli oleh sekitar 5 orang. Esoknya, polisi juga mengajak Santa keliling ke tempat jasa pengiriman barang yang diduga menjadi asal barang mesin press plat besi atau moulding. Mesin ini diduga menjadi tempat menyembunyikan barang bukti narkoba jenis sabu sejumlah 20 kilogram.

“Karena tidak kuat disiksa, saya akhirnya mengaku dan menandatangani BAP,” kata Santa.

Polisi Tak Pernah Beritahu Keluarga tentang Penangkapan Santa

Selama proses penangkapan tersebut, kepolisian tidak memberikan informasi apapun ke keluarga Santa. Hingga akhirnya, keluarga berinisiatif mencari informasi ke sejumlah teman Santa dan mengetahui Santa ditangkap aparat Polda Metro Jaya.

Kasus Santa bersama 4 WNA China tersebut kemudian bergulir ke Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Majelis hakim kemudian menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Santa pada 3 Maret 2017. Sementara 4 WNA China lainnya mendapatkan hukuman seumur hidup. Kasus Santa kemudian terus bergulir ke tingkat pengadilan tinggi dan kasasi Mahkamah Agung.

Baca juga   Pengamat CSIS: Kedua Kubu Tidak Mengedepankan Kampanye Program

Akibat putusan ini, Evi, istri Santa harus banting tulang bekerja sendiri membiayai kebutuhan keluarga sehari-hari. Sementara anak Santa yang baru lulus SMA pada tahun ini tidak mau melanjutkan kuliah karena melihat kondisi ayahnya yang masih di penjara. Ia lebih memilih bekerja di perusahaan travel dengan upah minimum ketimbang melanjutkan kuliah.

Evi menuturkan harus terus menutupi pengeluaran selama Santa dipenjara hampir 3 tahun ini. Jumlahnya bisa mencapai Rp1.000.000 setiap bulannya. “Seminggu bayar Rp100 ribu untuk air, listrik dan keamanan. Itu belum termasuk uang jajan, seminggu kadang-kadang Rp500 ribu hingga Rp600 ribu,” jelas Evi kepada VOA di Jakarta, Minggu (16/6).

Keluarga pada akhirnya juga memutuskan menjual apartemen subsidi di Cengkareng, Jakarta Barat guna membiayai keperluan Santa.

Pengacara publik LBH Masyarakat Yosua Octavian Simatupang menemukan sejumlah kejanggalan dalam kasus Santa, dari awal penangkapan hingga majelis hakim menjatuhkan vonis.

Pertama, Santa tidak didampingi penasehat hukum sejak awal penangkapan pada 2 Juni 2016. Hal ini terbukti dari surat kuasa yang dibuat kantor pengacara dari Saprudin & Partners dengan Santa pada tanggal 4 Juni 2016, yang merupakan kuasa hukum pertama Santa.

Di samping itu, kepolisian juga tidak memberikan informasi penangkapan Santa kepada keluarga.

“Keluarga baru tahu itu pada hari keempat, kalau Santa dibawa ke Polda kasus narkotika. Keluarga saat itu mikir Santa kasus makai narkotika. Ternyata bukan. Sampai pada akhirnya keluarga tidak diizinkan hari pertama kunjungan. Datanglah keluarga dengan pengacaranya,” jelas Yosua di Jakarta, Kamis (2/5).

Kuasa hukum dari Saprudin & Partners mendampingi kasus Santa hingga kasus ini bergulir ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat. Tepatnya hingga majelis hakim membacakan putusan sela yang hasilnya menolak eksepsi yang diajukan Santa dan penasehat hukumnya.

Lalu pada akhir Januari 2017, keluarga Santa mendatangi LBH Masyarakat atas saran dari keluarga jauh Santa dan persoalan pembiayaan kasus. Setelah dilakukan penilaian, LBH Masyarakat akhirnya memutuskan untuk mengadvokasi kasus ini. LBH Masyarakat akhirnya resmi menjadi kuasa hukum Santa pada 6 Februari 2017 setelah keluarga mencabut kuasa dari kuasa hukum pertama Santa.

Rabu, 8 Februari 2017, kuasa hukum dari LBH Masyarakat mulai mendampingi Santa di persidangan yang saat itu mengagendakan pemeriksaan saksi-saksi dari polisi. Menurut Yosua, saksi dari Kepolisian Polda Metro Jaya kala itu tidak dapat membuktikan adanya keterkaitan Santa dengan barang bukti.

Hal yang sama, terjadi pada Selasa, 21 Februari 2017,saat sidang pemeriksaan saksi mahkota yakni 4 warga negara asing (WNA) asal Cina, juga tidak pernah mengatakan bahwa Santa terlibat dalam kasus ini. Empat WNA tersebut hanya menjelaskan jika Santa bertugas sebagai sopir dan penerjemah apabila dibutuhkan.

Majelis hakim kasus Santa saat memimpin persidangan pada 2017 di PN Jakarta Barat. (Foto: dokumentasi LBH Masyarakat)
Majelis hakim kasus Santa saat memimpin persidangan pada 2017 di PN Jakarta Barat. (Foto: dokumentasi LBH Masyarakat)

Dari sisi jaksa penuntut umum, Yosua menyebut, mereka juga terkesan tidak siap dengan penuntutan. Ini terlihat dari penundaan pembacaan tuntutan dengan berbagai alasan, yang menurutnya tidak berdasar.

“Saksi diperiksa, saksi mahkota diperiksa tidak ada yang bisa menunjukkan Santa bersalah. Setelah saksi Polda ada penundaan lagi, menuju saksi mahkota ada penundaan lagi. Hingga akhir Februari sidang intens kembali. Jaksa diberikan kesempatan tapi ditunda terus hingga 10 hari,” tambahnya.

Hingga akhirnya pada Jumat, 3 Maret 2017, Yosua secara mendadak ditelpon keluarga Santa dan memberitahunya akan ada sidang kasus Santa. Yosua lantas pergi ke PN Jakarta Barat meski tidak lazim sidang pidana dilakukan pada Jumat.

Ia juga sempat dihalang-halangi satpam dengan alasan tidak ada sidang pidana pada hari Jumat. Namun, kemudian datang kepala satpam yang membenarkan adanya sidang Santa. “Saya masuk ruang persidangan sudah ada Santa bersama terdakwa lainnya dengan agenda mendengarkan tuntutan jaksa. Datang semua jaksa dan penerjemahnya,” kata Yosua.

Menurutnya, setelah terus menunda pembacaan tuntutan, jaksa akhirnya membacakan tuntutan pada hari itu. Jaksa menuntut hukuman mati kepada 4 terdakwa WNA asal Cina dan Santa dalam kasus narkoba ini. Setelah pembacaan tuntutan jaksa, pada hari itu juga, majelis hakim meminta para kuasa hukum terdakwa melakukan pembelaan. Yosua kala itu langsung menolak permintaan hakim. Namun, anehnya, kata dia, kuasa hukum 4 WNA lainnya justru menerima dan siap melakukan pembelaan meskipun putusan baru dibacakan hari itu.

“Saya menolak tidak mau. Saya harus diberikan hak yang sama dengan penuntut umum. Kalau penuntut umum diberikan 10 hari maka saya harus mendapat 10 hari,” tuturnya.Namun, kata Yosua, permintaannya ditolak hakim dengan alasan masa penahanan terdakwa sudah habis. Meskipun, kata dia, habisnya masa penahanan tersebut karena banyaknya penundaan sidang dan molornya jaksa memberikan tuntutan hukum.

“Sampai akhirnya keluar suara dari mulut hakim, mau tidak mau, suka tidak suka 30 menit pembelaan. Ketok sangat kencang, hakim langsung keluar.”

Dengan terpaksa, Yosua dan rekannya dari LBH Masyarakat sebisa mungkin menyusun pembelaan untuk Santa. Pembelaan tersebut mereka tulis menggunakan tangan dalam empat lembar kertas HVS atau folio. Rekan Yosua, pengacara LBH Masyarakat, Afif Abdul Qoyim, yang turut mendampingi Santa tidak sempat melakukan ibadah salat Jumat karena sempitnya waktu yang diberikan hakim kepada kuasa hukum untuk menyusun pembelaan.

Setelah bersusah payah, Yosua dan Afif pun selesai menyusun pembelaan di kertas HVS. Dalam pembelaan tersebut, mereka meminta majelis hakim menyatakan kliennya tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuntutan dan tahanan. “Tapi saat kita baca pembelaan, hakim sudah bawa putusan. Jadi kita baca percuma, hakim sudah coret-coret sedikit putusan.”

Namun, sebaliknya majelis hakim yang diketuai Hanry Hengki Suatan dan dua anggotanya Zuhardi dan Bestman Simarmata menjatuhkan vonis hukuman mati bagi Santa. Sementara 4 warga negara Cina dijatuhi hukuman seumur hidup. Majelis hakim menyatakan Santa alias Aliang alias Akam telah terbukti dan meyakinkan melakukan tindak pidana menerima dan menyerahkan narkotika golongan I (satu) dalam bentuk bukan tanaman melebihi 5 kilogram.

Hasil penelitian surat pengaduan dari Kompolnas tertanggal 6 Maret 2017. (Foto: dokumentasi keluarga)
Hasil penelitian surat pengaduan dari Kompolnas tertanggal 6 Maret 2017. (Foto: dokumentasi keluarga)

Beberapa yang menjadi pertimbangan hakim yaitu berdasarkan fakta persidangan, Santa telah mengakui menerima, melihat dan mencicipi narkoba yang dikirimkan melalui Ekspedisi Buana Express di Pantai Indah Kapuk ke ruko Dadap. Dalam pertimbangannya, majelis hakim juga menyebut Santa bersama 4 WNA lainnya telah memenuhi unsur percobaan atau permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika. Santa juga dinilai dengan sadar melakukan tindakan tersebut dan tidak melakukan penyangkalan atas tuntutan jaksa pada pembelaannya.

Baca juga   Presiden: Kalau Ada Bukti dan Fakta Hukum, Diproses Saja

Dalam putusan, majelis hakim juga menyebut sejumlah hal yang memberatkan Santa yaitu perbuatan Santa bertentangan dengan program pemberantasan penyalahgunaan narkotika, perbuatan Santa meresahkan masyarakat dan perbuatan Santa didahului dengan permufakatan jahat bersama rekan-rekannya.

Bantahan LBH Masyarakat

Pengacara publik LBH Masyarakat Yosua Octavian Simatupang membantah pertimbangan-pertimbangan majelis hakim yang dijadikan dasar putusan tersebut. Menurutnya, fakta persidangan tidak dapat membuktikan bahwa Santa terlibat dalam tindak penyalahgunaan narkoba jenis sabu tersebut.

Pertama, penangkapan Santa tidak dilakukan di tempat yang sama dengan empat WNA asal Cina lainnya. Menurutnya, empat WNA tersebut ditangkap di Fave Hotel di Gedung LTC Glodok, Jakarta Barat. Sementara berdasar putusan, Santa ditangkap di dekat Mall Dadap.

Berdasar penelusuran Yosua, Santa juga secara sukarela dan mandiri untuk datang ke ruko Dadap pada malam hari sebelum penangkapan. Santa juga mau ketika disuruh polisi untuk berpindah kembali ke dekat Mall Dadap yang berjarak waktu sekitar 10 menit. Hal tersebut kata Yosua, membuktikan Santa tidak memiliki rasa bersalah atau terlibat dalam kasus narkoba ini sehingga mau mendatangi polisi.

Kedua, menurut Yosua, persidangan juga tidak dapat membuktikan bahwa Santa mengirimkan narkoba dari ruko Dadap ke Fave Hotel. Saksi polisi, kata dia, hanya mengaitkan status Santa sebagai penyewa ruko dengan temuan narkoba di Fave Hotel. Namun, bagaimana proses pemindahan barang bukti tersebut tidak dapat dijelaskan saksi polisi.

Selain itu, kata dia, Santa juga mengatakan belum pernah melihat narkoba di dalam 2 unit mesin press plat besi (moulding) saat dibuka. Hal tersebut dikuatkan pengakuan sopir forklift yang disewa Santa untuk membuka moulding. Dari segi jumlah narkoba sebanyak 20 kilogram juga tidak memungkinkan jika narkoba tersebut diletakkan dalam moulding.

Ketiga, Yosua juga mengatakan pertimbangan hakim yang menyebut Santa mencicipi sabu dan hasilnya bagus adalah tidak benar. Sebab, kata dia, Santa tidak pernah melakukan hal tersebut. Ini dibuktikan dengan hasil tes urine yang hasilnya negatif.

Keempat, penuntut umum juga menghilangkan barang bukti berupa 1 buah handphone merk Sony milik Santa. Padahal dalam berkas perkara yang dikeluarkan Unit 3 Subdit II/Psikotropika Ditresnarkoba Polda Metro Jaya bukti tersebut ada. Namun dalam surat dakwaan dan tuntutan barang bukti tersebut hilang. Handphone ini berisi aktivitas sehari-hari Santa sebagai sopir yang terdapat dalam aplikasi bernama WeChat.

Dengan segala kejanggalan tersebut, LBH Masyarakat lalu melaporkan majelis hakim kasus Santa ke Komisi Yudisial dan Badan Pengawas Mahkamah Agung, serta melaporkan penuntut umum ke komisi kejaksaan pada 6 Maret 2017. Adapun majelis hakim yang dilaporkan LBH Masyarakat, yaitu Hanry Hengki Suatan selaku hakim ketua dan hakim anggota yang terdiri dari Zuhardi dan Bestman Simarmata. Sedangkan jaksa yang dilaporkan, yaitu Ajie Prasetya dan Nugraha yang berasal dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Kejaksaan Negeri Jakarta Barat.

Melalui ibunya Santa, Boen Njuk Sioe, LBH Masyarakat sebenarnya juga melaporkan kasus ini ke Komnas HAM guna mendapatkan amicus curiea atau sahabat pengadilan. Namun, kata dia, amicus curiae yang dikeluarkan Komnas HAM baru keluar setelah putusan banding. Sehingga, kata dia, surat tersebut kurang berarti bagi Santa.

Keluarga juga melaporkan dugaan kasus kekerasan yang dialami Santa kala ditahan di polisi ke Kompolnas. Namun, Kompolnas merekomendasikan keluarga Santa melapor ke Propam Polda Metro Jaya. Hasil pemeriksaan Propam Polda Metro Jaya menyatakan tidak ada bukti tindak kekerasan dan pemeriksaan terhadap Santa kala itu sudah sesuai prosedur.

Kasus Santa kemudian banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta dan kasasi ke Mahkamah Agung. Namun, upaya hukum tidak membuahkan hasil. “Kamu mau mencari apalagi sih di negara ini. Tidak ada lagi. Sebulan kita vacuum, bahkan saya sempat tidak mau nangani kasus. Sudah tidak kuat,” tutur Yosua dengan nada frustasi.

Mainan overboard yang dijual Santa atas perintah Tang. (Foto: dokumentasi keluarga)
Mainan overboard yang dijual Santa atas perintah Tang. (Foto: dokumentasi keluarga)

Tanggapan MA, Komjak, dan Komisi Yudisial

Ketua Komisi Yudisial (KY), Jaja Ahmad Jayus, mengatakan lamanya penanganan laporan LBH Masyarakat dikarenakan ada salah satu hakim yang sedang operasi sakit jantung. Akibatnya pemeriksaan terhadap hakim yang tidak disebutkan namanya tersebut menjadi molor.

Namun, Jaja Ahmad Jayus mengatakan putusan terhadap laporan akan keluar pada Juni 2019. “Pokoknya di bulan Juni sudah ada putusan. Karena belum bisa diungkap semua ke publik karena masih proses,” kata Jaja Ahmad Jayus kepada VOA melalui sambungan telepon, Rabu, 12 Juni 2019.

Sementara juru bicara Mahkamah Agung, Andi Samsan Nganro mengatakan, Badan Pengawas Mahkamah Agung telah menurunkan tim untuk melakukan pemeriksaan laporan yang disampaikan LBH Masyarakat lebih dari 2 tahun lalu. “Sekarang sedang proses penyempurnaan laporan hasil pemeriksaannya (LHP),” jelas Andi meneruskan pesan kepala Bawas MA melalui pesan online, Kamis, 3 Juni 2019.

Anggota Komisi Kejaksaan (Komjak) Ferdinand Andi Lolo menuturkan laporan LBH Masyarakat sudah ada dalam database administrasi laporan pengaduan. Hanya kata dia, komisioner Komjak wilayah yang berhak memberi penjelasan terkait laporan ini. VOA kemudian berusaha menghubungi anggota Komjak yang membawahi wilayah DKI Jakarta yakni Yuni Artha Manalu. Namun, VOA kembali diminta menghubungi kembali orang lain di Komjak yang akan menyiapkan bahan-bahan terkait laporan tersebut.

Tidak jauh berbeda, sejumlah komisioner Komnas HAM yang dihubungi VOA juga tidak dapat menjelaskan perihal lamanya pemberian amicus curiae atau sahabat pengadilan dalam kasus Santa. Sebab, kasus ini ditangani komisioner kepengurusan periode 2011-2018.

Kendati demikian, keluarga Santa pantang menyerah mencari bukti-bukti lain yang dapat digunakan untuk menguatkan posisi Santa jika nantinya mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Boen Njuk Sioe dan Evi berharap dapat terbebas dari hukuman mati dan penjara supaya dapat berkumpul bersama keluarga kembali.

“Saya kalau disuruh ke presiden, saya mau sujud di hadapan Pak Jokowi agar anak saya dibebaskan,” pungkas ibunda Santa, Boen Njuk Sioe. [sm/em]

Penulis : em
Editor : Gencil News
Sumber : voa