Upaya Memupuk Toleransi dalam Kemajemukan di Indonesia
Connect with us

Nasional

Upaya Memupuk Toleransi dalam Kemajemukan di Indonesia

Published

on

Upaya Memupuk Toleransi dalam Kemajemukan di Indonesia

Gencilnews – VOA – Komisi untuk Kebebasan Beragama Internasional atau U.S. Commission on International Religious Freedom (USCIRF) dalam laporannya pada bulan April lalu merekomendasikan agar Departemen Luar Negeri Amerika bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk memasukkan program-program tentang toleransi dan inklusivitas ke dalam mata pelajaran agama. Bagaimana dengan kondisi pada tataran akar rumput?

Gus Aan Anshori, tokoh muda Nahdlatul Ulama dari kota santri Jombang dan dosen di Universitas Ciputra Surabaya tidak terkejut dengan temuan dan rekomendasi USCIRF itu karena selama ini dia juga berpendapat bahwa buah sistem pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan agama, cenderung mengarah pada intoleransi. Dia merasa prihatin bahwa kondisi demikian akan sulit dihindarkan karena sistem pendidikan agama tidak memberikan ruang untuk dialog dan tidak inklusif.

“Orang belajar agama tertentu kan dididik dengan cara menegasikan agama yang lain. Itu sudah sangat common, dan itu dianggap sebagai sebuah kebenaran yang pada titik tertentu akhirnya mendorong orang, semakin orang itu berislam, katakanlah, maka semakin ia tidak toleran dengan yang lain. Semakin ia Kristen sangat mungkin ia semakin tidak toleran dengan yang lain. Karena apa? Karena tidak diajari tentang agama yang lain,” tukasnya.

Gus Aan menambahkan, “Bagaimana mungkin kita disuruh mencintai saudara kita yang beragama tidak seperti kita, tetapi kita tidak diberitahu agama tersebut, dan malahan, katakanlah dalam perspektif competitor, agama yang lain itu dijelek-jelekkan agar agama kita itu menjadi unggul.” Menurutnya, kondisi demikian mengemuka karena “jebakan pengajaran agama yang pada titik tertentu di Indonesia hingga kini menyebabkan begitu banyak intoleransi.”

“Cara pandang demikian muncul karena sistem pendidikan agama di Indonesia masih sangat homogen, tidak heterogen. Hal-hal yang jauh lebih substantif, katakanlah berdialog, mencari titik temu, yang paling penting, sudah sangat lama tidak dijamah oleh sistem pendidikan nasional, terutama sistem pendidikan agama yang ada di seluruh struktur sistem pendidikan nasional,” imbuhnya.

Berbeda dari sistem pendidikan nasional, di tataran akar rumput ada individu-individu dan kelompok yang giat melaksanakan pendidikan toleransi bagi umatnya.

Bonnie Andreas adalah pendeta Gereja Kristen Indonesia di Jakarta dan wakil sekretaris umum GKI Sinode Jawa Tengah.

Pendeta Bonnie Andreas (dok. pribadi).
Pendeta Bonnie Andreas (dok. pribadi).

Pendeta Bonnie bersama para pendeta lain dan majelis gerejanya memiliki gagasan untuk memasukkan seorang guru tamu dari agama Islam untuk ikut mengajar katekisasi, yakni pembelajaran bagi peserta – disebut “katekisan” – yang ingin masuk ke dalam pengakuan percaya atau sidi yang di GKI wajib diikuti seminggu sekali selama 9-12 bulan. Dia mengatakan tujuan mengundang pengajar tamu dari agama lain adalah untuk mendidik katekisan agar tidak hanya menjadi orang Kristen yang baik tetapi juga menjadi warga negara Indonesia yang toleran, yang bersahabat dan rukun dengan umat dari agama lain, serta memiliki pemahaman yang baik tentang perlunya interaksi antaragama.

“Buat saya, memaparkan percakapan antaragama itu penting, dalam situasi yang sejuk dan menyenangkan. Percakapan ini adalah sebuah kunci awal yang menurut saya sangat prasastional, sebagai sebuah prasasti yang bisa diteruskan oleh anak-anak didik,” ujar Bonnie.

Rombongan PMII berkunjung di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Pacitan. (foto: courtesy)
Rombongan PMII berkunjung di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Pacitan. (foto: courtesy)

Selain mengundang guru katekisasi dari agama Islam, Pendeta Bonnie mengatakan bahwa remaja dan pemuda di gerejanya sering dilibatkan dalam kegiatan kunjungan ke gereja-gereja dari denominasi berbeda dan vihara. Mereka juga mengikuti kemah dengan peserta antariman. Dia berpendapat bahwa dialog antaragama dan membangun serta membina persahabatan dengan umat yang berbeda agama secara santai dan bersahabat sangat penting demi kerukunan dalam pluralisme warga Indonesia.

Sebagai pihak yang diundang untuk menjadi pengajar di kelas katekisasi, Gus Aan Anshori bereaksi positif dan menganggap undangan itu sebagai “tantangan sekaligus berkah,” karena dia juga percaya bahwa pluralisme dan dialog antaragama harus dipupuk dan diadvokasi untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Gus Aan menganggap keberanian mengundang dirinya sebagai “terobosan” dan dia sendiri juga mempraktekkan gagasan tersebut dengan mengajak para mahasiswa yang tergabung dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) untuk mengunjungi gereja, baik Katolik maupun Protestan, berdialog dengan rohaniwan, dan berinteraksi dengan jemaat gereja-gereja yang dikunjungi.

“Dengan menginklusi kami ke dalam ruang yang sangat personal – ini katekisasi lho – tetapi caranya dibalik oleh Pendeta Bonnie, ini harus dikasih tahu soal Islam supaya mereka bisa meng-embrace soal kasih itu dengan sesungguhnya. Ini menginspirasi saya untuk juga melakukan hal yang sama, misalnya, ketika saya mendidik teman-teman di PMII saya juga mengajari mereka untuk bisa belajar dari kekristenan, mengajak mereka mengunjungi gereja,” kata Gus Aan.

Para siswa MII Plosogenuk, Perak, Jombang bermain bersama para siswa SD Kristen Petra Jombang (foto: courtesy).
Para siswa MII Plosogenuk, Perak, Jombang bermain bersama para siswa SD Kristen Petra Jombang (foto: courtesy).

Gus Aan juga berusaha mempertemukan pelajar dari sekolah Kristen dengan pelajar dari madrasah, dengan melakukan kunjungan antarsekolah. Misalnya, dengan dibantu oleh seorang temannya dari Lakpesdam NU Jombang dia mengatur kunjungan siswa-siswi dan guru dari SD Kristen Petra (SDKP) Jombang ke Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah (MII) Plosogenuk, Perak, Jombang, tepat pada Hari Pendidikan Nasional yang lalu.

Gus Aan berpendapat, upaya kunjungan antarsekolah itu perlu dilakukan untuk mendobrak “sekat berbagai macam perbedaan identitas yang kerap membuat anak-anak terpenjara, saling curiga dan mudah mendiskriminasi jika kelak menjadi dewasa.” Mengenai acara pembauran siswa dan guru itu, dia menambahkan, “jika situasi segregatif seperti ini dibiarkan terjadi, maka hal itu akan terus memproduksi individu yang berpotensi terjerat gerakan intoleransi.”

Tentang masa depan pendidikan toleransi yang ideal dalam kebhinekaan di Indonesia, Pendeta Bonnie merasa optimis walaupun mungkin perlu proses lama untuk mencapainya. “Dari perspektif gereja, saya optimis karena ajaran kami mengedepankan persahabatan. Jadi, kami perlu mulai melakukan tindakan nyata, tidak lagi membicarakan, tetapi kami perlu untuk membuka ruang persahabatan, dan kadang mungkin tidak perlu dengan cepat menemukan titik temu. Kadang bersahabat itu dalam kerangka agree to disagree. Di situlah letak persahabatan yang kami sedang upayakan dengan banyak agama di Indonesia.”

Pendapat senada dengan Gus Aan Anshori disampaikan oleh Profesor Peter Suwarno, seorang diaspora Indonesia yang kini mengajar di Arizona State University. Dari wawancara dengan guru dan siswa dalam penelitiannya tentang pembelajaran agama di sekolah-sekolah di Indonesia, dia mendapati bahwa sistem pendidikan agama di Indonesia mengutamakan ibadah ritual.

“Saya mewawancarai beberapa guru mengenai pendidikan moral di Indonesia, dan pendidikan moral itu direalisasikan dalam bentuk pendidikan agama. Setelah saya observasi, saya interview guru, saya interview siswa-siswa juga – ini terlepas dari buku teks dan kurikulumnya – isinya adalah lebih banyak mengenai ibadah ritual,” ujar Suwarno.

Dari penelitiannya, dia menemukan bahwa pendidikan agama itu lebih banyak menekankan produk, dan hasilnya adalah siswa-siswa yang taat beragama yang ditunjukkan dengan rajinnya, kesetiaannya dalam beribadah. Dia mengaku kaget ketika dia mendapati jawaban dari para guru dan siswa mengenai prinsip dan konsep orang baik di Indonesia, ternyata orang yang baik adalah orang yang rajin beribadah. Menurutnya, “buah dari sebuah pengajaran moral atau agama adalah perbuatan baik.”

Suwarno menambahkan, “Kenapa itu menjadi sumber intoleransi? Ya, mau tidak mau, pendidikan agama yang menekankan ibadah ritual mengatakan bahwa ibadah ritual kita yang paling baik, yang lain tidak baik.”

Puluhan siswa-siswi peserta tur berkunjung ke GKP Kampung Sawah. Mereka mengunjungi 5 rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda dalam wisata toleransi. (Foto dok. VOA/Rio Tuasikal)
Puluhan siswa-siswi peserta tur berkunjung ke GKP Kampung Sawah. Mereka mengunjungi 5 rumah ibadah dan mengenal ajaran agama yang berbeda dalam wisata toleransi. (Foto dok. VOA/Rio Tuasikal)

Profesor Suwarno mengatakan bahwa di Amerika memang agama tidak diajarkan di sekolah-sekolah negeri, tetapi pendidikan moral, misalnya, dilaksanakan dengan pelajaran sejarah agama-agama. Dalam pelajaran itu tidak boleh ada yang menyalahkan agama lain, tetapi sebaliknya, siswa dididik untuk mengapresiasi tradisi agama-agama yang berbeda-beda. Siswa juga dituntut belajar dan mempraktekkan prinsip-prinsip, termasuk “honesty (kejujuran), respect (kesopanan), service (pelayanan) yang semuanya mendorong anak didik untuk menunjukkan perbuatan baik yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Namun, Profesor Suwarno tetap optimis dengan masa depan toleransi di Indonesia, terutama setelah mengamati adanya gerakan-gerakan di tingkat akar rumput yang bertujuan untuk mengembangkan, memupuk dan merawat kehidupan yang harmonis dalam semangat pluralisme di bawah payung Bhineka Tunggal Ika.

“Di Indonesia ada peristiwa-peristiwa, misalnya pertemuan berbagai kelompok agama. Di Salatiga, misalnya, ada kelompok di desa Getasan kalau hari raya Idul Fitri banyak orang Kristen mengunjungi desa Muslim dan bersilaturahmi di sana. Sebaliknya, waktu Natal, masyarakat Muslim mendatangi dan bersilaturahmi di tempat orang Kristen. Jadi masih banyak seperti itu,” pungkasnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Nasional

Dispora Landak Minta GENPI Promosikan Pariwisata Landak

Published

on

By

Pengurus Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kabupaten Landak

Gencil News – Setelah tertunda beberapa bulan, Pengurus Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kabupaten Landak Provinsi Kalbar akhirnya dilantik secara resmi, Rabu, (16/06/2021)

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Landak, Yosef yang mengukuhkan langsung Pengurus GenPI Kabupaten Landak.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Landak dalam sambutannya mengharapkan dukungan dari GenPI Landak untuk turut mempromosikan pariwisata Landak. Untuk itu, Yosef berharap GenPI Landak memaksimalkan media komunikasinya.

“Kami berharap, GenPI Landak bisa memaksimalkan media komunikasinya untuk mempromosikan dunia pariwisata Landak selain kegiatan GenPI Landak. Baik itu media sosialnya maupun mungkin ke depannya punya media atau media lainnya sendiri, itu kami tunggu geraknya ungkap Yosef.

Tugas pertama yang menjadi Pekerjaan Rumah bagi Pengurus Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Landak dari Kadisporapar Landak Yosef. Serta Kepala Bidang Pariwsata Kabupaten Landak Supiana adalah membuat Paket Wisata Kota untuk para pengurus Generasi Pesona Indonesia untuk di kerjakan bersama Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwsata Kabupaten Landak.

Continue Reading

Nasional

Hadiah Ayam hingga Apartemen, Upaya Genjot Vaksinasi COVID-19

Published

on

By

Hadiah Ayam hingga Apartemen, Upaya Genjot Vaksinasi COVID-19
Kapolsek Galih Apria memberikan hadiah ayam kepada Jeje Jaenudin, warga Desa Sindanglaya, menerima suntikan dosis pertama vaksin COVID-19, saat program vaksinasi jemput bola di Kabupated Cianjur, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Re

Gencil News- VOA – Ayam, sapi, cuti dibayar, bahkan apartemen seharga sejuta dolar, adalah deretan hadiah yang ditawarkan oleh otoritas sejumlah negara di Asia, mulai dari Thailand, Hong Kong hingga Indonesia bagi warga yang bersedia divaksin COVID-19.

Program vaksinasi berhadiah itu bertujuan untuk memupus keraguan di kalangan masyarakat di Asia terhadap vaksinasi COVID-19.

Varian virus corona yang lebih menular telah mendorong terjadinya lonjakan kasus di Asia Tenggara dalam beberapa pekan terakhir sehingga pihak berwenang mulai menawarkan hadiah undian untuk vaksinasi.

Mengutip Reuters, Rabu (16/6), di distrik Mae Chaem Thailand di utara Chiang Mai, yang sebagian besar penduduknya adalah peternak sapi, pihak berwenang meluncurkan undian berhadiah sapi bulan ini yang terbukti sukses.

“Ini adalah hadiah terbaik yang pernah ada,” kata Inkham Thongkham yang berusia 65 tahun. Dia memenangkan seekor sapi betina berumur satu tahun seharga 10.000 baht atau sekitar Rp 4,6 juta setelah ia divaksin virus corona.

Charan Damrongkiatpana menunjukkan poster setelah memenangkan undian dalam program vaksinasi berhadiah sapi untuk meningkatkan vaksinasi COVID-19 di Provinsi Chiang Mai, Thailand, 8 Juni 2021. (Foto: Stringer/Reuters)
Charan Damrongkiatpana menunjukkan poster setelah memenangkan undian dalam program vaksinasi berhadiah sapi untuk meningkatkan vaksinasi COVID-19 di Provinsi Chiang Mai, Thailand, 8 Juni 2021. (Foto: Stringer/Reuters)

Program vaksin berhadiah sapi itu sudah memasuki pekan kedua dengan menyediakan total 27 sapi sebagai hadiah. Pihak berwenang mengatakan kampanye tersebut telah mendorong lebih dari 50 persen dari 1.400 penduduk di distrik itu untuk mendaftar. Kebanyakan yang mendaftar adalah lansia dan kelompok berisiko tinggi.

Dari populasi Thailand yang berjumlah 66 juta, hanya 4,76 juta yang telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19.

Banyak bagian masyarakat di seluruh Asia yang enggan untuk divaksinasi. Disinformasi dan ketidakpastian yang meluas memicu keraguan atas keamanan, kemanjuran, dan masalah agama terhadap vaksin.

Di Hong Kong, yang sejauh ini berhasil mengendalikan pandemi, pihak berwenang khawatir bahwa tingkat vaksinasi yang rendah masih dapat membuat wilayah China itu rentan terhadap wabah yang mematikan tersebut.

Voucher belanja, penerbangan, dan apartemen baru senilai HK$10,8 juta atau sekitar Rp 19,2 miliar adalah beberapa insentif yang ditawarkan dalam undian berhadiah bagi mereka yang telah divaksinasi.

Beberapa pelaku bisnis mengambil langkah tambahan, misalnya dengan menawarkan cuti berbayar bagi mereka yang telah divaksinasi. Namun, satu klub olahraga swasta malah menerapkan hukuman alih-alih hadiah. Klub tersebut menginstruksikan anggota stafnya untuk divaksinasi pada akhir Juni atau tidak akan mendapatkan bonus, promosi, dan kenaikan gaji di masa mendatang

Bahkan di negara-negara yang dilanda virus corona, seperti Indonesia, pihak berwenang telah berjuang untuk menghilangkan ketakutan akan vaksin.

Seorang pria menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi China, Sinovac, di sebuah pusat vaksinasi di Hong Kong, 23 Februari 2021. (Foto: Paul Yeung/AFP)
Seorang pria menerima suntikan vaksin COVID-19 buatan perusahaan farmasi China, Sinovac, di sebuah pusat vaksinasi di Hong Kong, 23 Februari 2021. (Foto: Paul Yeung/AFP)

Data resmi menunjukkan, Indonesia melaporkan lebih dari 1,9 juta orang terinfeksi virus corona dan 53.280 meninggal akibat virus itu. Studi terbaru dari sampel serum darah, bagaimanapun, menunjukkan penyebaran COVID-19 yang sebenarnya bisa 30 kali lebih tinggi.

“Saya takut kalua saya divaksinasi, saya akan langsung mati … Kemudian ada berita yang lebih mengkhawatirkan bahwa vaksin ini mengandung babi,” kata Asep Saepudin, 67 tahun, warga di Cipanas, Jawa Barat.

Pihak berwenang di Cipanas mengatakan sangat sulit untuk meyakinkan orang tua bahwa vaksin itu aman dan halal. Seperti di Thailand, otoritas juga mengiming-imingi hadiah ternak dan ayam untuk setiap lansia yang divaksinasi.

“Lansia tidak mau divaksin dengan berbagai alasan, ada yang bilang mau tapi tidak datang, bahkan ada yang takut,” kata Kapolsek Galih Aprian.

“Jadi kami menghadiahi (partisipasi mereka) dengan ayam.”

Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan hanya 5 persen atau 8,8 juta orang yang telah divaksinasi lengkap, masih jauh dari target 181,5 juta orang pada akhir tahun.

Continue Reading

Nasional

Pemprov Kalbar Diminta Terapkan Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup

Published

on

By

Pemprov Kalbar Diminta Terapkan Instrumen Ekonomi Lingkungan Hidup
Wagub Kalbar Ria Norsan mengahdiri acara Penyampaian Penjelasan DPRD Provinsi Kalbar terhadap Raperda Prakarsa DPRD Provinsi Kalbar

Gencil News – Wagub Kalbar Ria Norsan mengahdiri acara Penyampaian Penjelasan DPRD Provinsi Kalbar terhadap Raperda Prakarsa DPRD Provinsi Kalbar. Raperda tentang Jasa Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan pada hari Rabu (16/6/2021).

Juru bicara Anggota Dewan Provinsi Kalbar dari Fraksi PDI Perjuangan, Thomas Alexander dalam penjelasan dua Raperda tersebut. Ia meminta Pemprov Kalbar untuk memperhatikan tentang pengelolan dan perlindungan lingkungan hidup dalam pengembangan suatu sistem yang terpadu.

Dengan berupa suatu kebijakan nasional perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen biak dari pusat sampai ke daerah.

“Daerah wajib mengembangkan dan menerapkan instrumen ekonomi lingkungan hidup meliputi perencanaan pembangunan kegiatan neraca sumber daya alam dan lingkungan hidup, penyusunan domestik bruto, dan produk domestik regional bruto yang mencakup penyusutan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup, baik itu, mekanisme, kompensasi, atau imbal balik jasa lingkungan hidup antar daerah internalisasi biaya lingkungan hidup,” paparnya

Sebagaimana peraturan tersebut, kata Thomas, instrumen ekonomi lingkungan hidup adalah seperangkat kebijakan ekonomi. Untuk mendorong pemerintah pusat sampai daerah, untuk diarahkan ke pelestarian fungsi lingkungan hidup.

“Sedangkan jasa lingkungan hidup adalah manfaat dari ekosistem dan lingkungan hidup bagi manusia. Juga keberlangsungan yang di antaranya mencakup, penyediaan sumber daya alam, penyatuan alam dan lingkungan hidup. Dalam rangka menyokong proses alam dan pelestarian nilai budaya,” paparnya.

Lebih lanjut Thomas menerangkan, terkait dengan rancangan peraturan daerah tentang kebakaran hutan dan lahan. Kalbar merupakan daerah yang sering terjadinya kebakaran hutan dan lahan dan sebagian besar penyebabnya adalah karena oleh manusia.

Karhutla Ancaman Yang Serius

Untuk itu, pemerintah wajib untuk melakukan tindakan hukum yang sesuai dengan peraturan dan kewenangan.

“Dampak dari kebakaran hutan dan lahan setiap tahunnya merupakan suatu ancaman yang serius. Terhadap keberlangsungan hidup masyarakat dan kelestarian fungsi lingkungan hidup, yang menyebabkan kerugian ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan kebudayaan. Sehingga perlu peraturan mengenai pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” pintanya.

Continue Reading

Nasional

Menag Terbitkan Edaran Pembatasan Kegiatan di Rumah Ibadah

Published

on

Menag Terbitkan Edaran Pembatasan Kegiatan di Rumah Ibadah

Gencil News – Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dalam satu bulan terakhir kembali meningkat tajam di berbagai daerah yang dibarengi dengan munculnya varian baru.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan surat edaran untuk menjadi pedoman masyarakat dalam kegiatan di rumah ibadah.

Melalui Surat Edaran No SE 13 Tahun 2021 tentang Pembatasan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah itu, Menag berharap umat beragama tetap bisa menjalankan aktivitas ibadah sekaligus terjaga keselamatan jiwanya dengan cara menyesuaikan kondisi terkini di wilayahnya.  

“Saya telah menerbitkan surat edaran, sebagai panduan upaya pencegahan, pengendalian, dan pemutusan mata-rantai penyebaran Covid-19 di rumah ibadah,” ujar Menag Yaqut di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Menag menjelaskan, untuk kegiatan keagamaan di daerah zona merah untuk sementara ditiadakan sampai wilayah tersebut dinyatakan aman dari Covid-19. Penetapan perubahan wilayah zona dilakukan oleh pemerintah daerah masing-masing.

“Kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan, seperti pengajian umum, pertemuan, pesta pernikahan,  dan sejenisnya di ruang serbaguna di  lingkungan rumah ibadah juga dihentikan sementara di daerah zona merah dan oranye sampai dengan kondisi memungkinkan,” terang Menag.

Menag menandaskan, kegiatan peribadatan di rumah ibadah di daerah yang dinyatakan aman dari penyebaran Covid-19, hanya boleh dilakukan oleh warga lingkungan setempat dengan tetap menerapkan standar protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

Untuk teknis pelaksanaannya, Kementerian Agama sudah mengatur hal tersebut melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor SE. 1 Tahun  2020 tentang Pelaksanaan Protokol Penanganan Covid-19 pada Rumah Ibadah.

Kepada jajarannya di tingkat pusat, Menag juga minta untuk melakukan pemantauan pelaksanaan surat edaran ini secara berjenjang.

Demikian juga para Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama provinsi, Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota, Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, Penyuluh Agama, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Keagamaan, dan pengurus rumah ibadat juga diinstruksikan melakukan pemantauan.

“Lakukan koordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah dan Satuan Tugas Covid-19 setempat,” tegasnya.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING