Limbah Masker Penyumbang Sampah Di kota Pontianak
Connect with us

Citizen Report

Limbah Masker Penyumbang Sampah Di kota Pontianak

Published

on

Limbah Masker Penyumbang Sampah Di kota Pontianak

Gencil News – Masker menjadi suatu barang yang pemakaiannya wajib dalam kehidupan sehari-hari. Terutama pada masa pandemi seperti sekarang ini sebagai upaya pencegahan penyebaran covid-19. Seolah-olah masker menjadi sebuah kewajiban seperti KTP.

Erianto selaku Kabid Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Pontianak menyoroti

“Dengan kondisi seperti ini yang sudah berjalan dari bulan Maret hingga sekarang. Sementara dengan jumlah masyarakat yang ada di kota Pontianak 600 sampai 800 ribu jiwa. Jadi berapa banyak masker yang telah di gunakan masyarakat yang ada di kota Pontianak?,” ujarnya

Erianto juga menegaskan keyakinannya akan tidak sedikitnya masker yang tersebar dan digunakan oleh masyarakat kota pontianak. Baik itu masker medis atau non medis. Namun karena kurangnya kebiasaan masyarakat menggunakan masker.

Sehingga banyak yang biasanya lupa membawa, atau bahkan kelupaan menyimpan. Bahkan tak jarang seluruh warkop di Pontianak menyediakan dan menjualnya untuk pengunjung.

Berangkat dengan tersebarnya banyak masker di Pontianak. Maka hal ini ternyata juga membuat sesuatu yang harus kita perhatikan seperti masker medis. Menurutnya yang mana sampah masker termasuk dalam kategori limbah B3 yang pengolahannya tidak bisa secara mandiri.

Oleh karena itu, Menurutnya perlu penanganan khusus dari petugas yang memang berkompeten menangani limbah infeksius tersebut.

“Jadikan prinsipnya, limbah B3 itu tidak bisa sembarangan. Perlu adanya trobosan dari pihak pemerintah kota terkait penanganan sampah masker ini. Sehingga sampah masker tersebut bisa teratasi. Misalnya pengadaan TPS secara terpisah sejak di rumah, kemudian di TPS-nya pun dipisahkan,” kata Erianto.

Dengan belum adanya SOP atau trobosan untuk penanganan sampah masker. Maka dari itu masker menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka volume sampah yang ada di kota Pontianak

“Saya berharap pemerintah kota Pontianak lebih teliti dan gerak cepat terkait hal ini. Agar kota Pontianak kita tercinta tetap bersih dan terlihat asri dari berbagai macam jenis sampah akibat sampah, khusus nya sampah masker. “Tegasnya

Citizen Reporter ; Erianto

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Citizen Report

Giat NU Pontura Silaturahmi Antar Masyayikh Pesantren

Published

on

By

Giat NU Pontura Silaturahmi Antar Masyayikh Pesantren
Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWCNU) Pontianak Utara

Gencil News – Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul ulama (MWCNU) Pontianak Utara mengadakan kegiatan silaturahmi antar Masyayikh Pondok Pesantren se-Kecamatab Pontianak Utara. Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan PonPes se kecamatan. Anggota dewan berharap agar kegiatan ini bisa berjalan seterusnya.

“Tujuan daripada kegiatan ini adalah silaturahmi pengurus NU dengan para Habaib dan Kyai se Kecamatan.” kata ketua Tanfidziyah MWCNU Pontianak Utara, Ust. Holi Hamidin.

Dari silaturahmi ini, pengurus dapat duduk bersama untuk mendengarkan wejangan-wejangan dari para Habaib dan Kyai, tambahnya. Sehingga, menurut beliau, pengurus NU di Pontura bisa mengambil hikmah dan berkah dalam pertemuan tersebut.

“NU itu terdiri dari 4 pondasi. Pertama, Pimpinan PonPes; kedua, Pengurus; ketiga, lembaga dan banom; keempat, Nahdliyyin.” jelasnya.

Jadi, menurut Holi, NU ini bisa mencapai tujuannya dengan ideal, jika keempat pondasi itu berdiri kokoh. Maka dari itu, silaturahmi antar Masyayikh pimpinan PonPes ini, menjadi penting untuk dapat saling mengokohkan antara satu dengan yg lainnya, ujarnya.

“Jika NU kuat, yang merasakan manfaatnya adalah kita semua. Kita nanti bisa saling berbagi baik berbagi wawasan, pengetahuan maupun harta yg berlebih-lebihan.” tutup Ust. Holi Hamidin.

Pada kesempatan yang sama, Pimpinan PonPes Al Husna, Kyai Muhammad Khoiri, berharap bahwa kegiatan ini bisa berjalan baik dan lancar. Pertemuan antar Masyayikh ini, bisa menjadi sarana Tabayyun dan mengatur strategi ke depan untuk kebaikan ummat.

NU Sebagai Ormas Sosial Keagamaan

“Saya harap, semangat ber NU itu tidak sekedar NKRI harga mati saja, tapi juga bagaimana organisasi ini dapat secara ideal mencapai tujuannya sebagai ormas sosial keagamaan, terutama untuk memperkuat syariat dan aqidah.” terang Kyai Khoiri dalam kesempatan itu.

Kyai Khoiri juga mengatakan, akan siap menghadiri acara ini. Selain bisa bertemu dan bertukar ilmu, Kyai Khoiri, dapat informasi dari berbagai macam sumber.

“Permasalahan hidup kompleks. Jika dipikirkan sendiri, dapat berakibat negatif. Kumpul kumpul begini ya setidaknya bisa mengurangi kepenatan dalam menjalankannya.”

Kegiatan ini dilaksanakan pada Pondek Pesantren Salafiyah Al-Azis, Siantan Tengah, Pontianak Utara. Ponpes Al Azis mensupport penuh suksesnya kegiatan yang penuh keharmonisan dan keberkahan itu.

Citizen Report : Holi Hamidin

Continue Reading

Citizen Report

FUAD IAIN Pontianak Dan Sahabat IAIN Pontianak Gelar Bedah Buku

Published

on

By

FUAD IAIN Pontianak Dan Sahabat IAIN Pontianak Gelar Bedah Buku
Penulis Buku Dr. Firdaus Achmad, M. Hum, Dr. Hariansyah, M.Si dan Putriana , M.Pd.

Gencil News – Media Sosial Sahabat IAIN Pontianak bekerjasama dengan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) menggelar kegiatan bedah buku. Rabu (20/01/2019), Ruang Aula Masjid Syekh Abdur Rani Mahmud IAIN Pontianak.

Buku itu berjudul “Perempuan di Tanah Para Raja” Titik Temu Antara Qasim Amin dan Pendidikan Islam. Penulis buku tersebut Putriana, M.Pd. Dr. Firdaus Achmad, M. Hum dan Dr. Hariansyah, M.Si.

Hadir sebagai pembedah yakni Dr. KH. Marzuki Wahid, M. Ag. Beliau merupakan Tokoh Muda NU, Peneliti Senior di Lakpesdam PBNU, Penulis Produktif, Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan salah satu pendiri ISIF (Institut Studi Islam Fahmina) Cirebon.

Kegiatan tersebut terselenggara secara Offline dan Online. Menggunakan platform Zoom Meeting, Live Streaming Youtube FUAD IAIN Pontianak dan Instagram @sahabat_iainptk. Peserta yang hadir berasal dari Mahasiswa/i IAIN Pontianak sendiri dan dari berbagai kampus di Indonesia.

“Pertama-tama saya ingin memberi apresisasi, ini sebagai satu karya ilmiah tesis yang kemudian dibukukan dan menurut saya keren sekali karena menggunakan refrensi yang lengkap dan banyak,” kata Founder Sahabar IAIN

Semua karyanya tentang Gender

Penulis hampir semua buku yang ia tulis berkaitan dengan Gender. Dan kalau ini merupakan karya Pascasarjana IAIN Pontianak saya menduga IAIN Pontianak bisa kredibel, bermutu dan berbobot “tutur KH. Marzuki.

Pemilihan topik keadilan gender dan mengambil tokoh Qasim Amin juga suatu keberanian. Pada beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia masih sering mempersoalkan meskipun sangat jarang, seharusnya di Wilayah Perguruan Tinggi adalah wilayah yang sangat merdeka, dalam dunia akademik.

Sehingga topik apapun, tokoh apapun bisa kita kaji termasuk Marxisme, Sosialisme, Leninisme. Bahkan HTI, FPI, Khilafah yang kemarin menjadi persoalan yang mana kita dapat mengkajinya sebagai sebuah kajian.

Tetapi sebagai sebuah Gerakan akan terikat dengan aturan aturan hukum dimana kita berada. Dan juga Memperkuat Argumentasi bahwa Islam Pro Keadilan Gender dan saya mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Feminisme sejati jauh sebelum Feminisme itu muncul di barat,”

Kemudian Dilanjutkan Sesi Komentar dari Dr. Abdul Mukti Rouf M.Ag selaku Wakil Rektor III IAIN Pontianak. Ia mengatakan penulis berbahagia dan mendapatkan kehormatan bahwa karyanya dibedah seorang pakar Fiqih Indonesia. Yang mencerahkan, menginpirasi dan memotivasi dalam bergerak bidang intelektual.

Sementara sesi selanjutnya oleh penulis Dr. Firdaus Achmad, M. Hum, Dr. Hariansyah, M.Si dan Putriana , M.Pd.

Sebelum kegiatan berakhir Putriana Menuturkan Kenapa ia memilih tokoh Qasim Amin dalam pembahasan Feminisme. Putriana selaku Aktivis Perempuan mulai dari IPPNU, PMII sampai saat ini FATAYAT NU.

“Aktivis perempuan itu konsentrasi di Isu isu perempuan. Seperti mengikuti organisasi dan sering menulis gagasan tentang perempuan yang faktual. Dan ia mengungkapkan bahwa Qasim Amin adalah seorang laki laki yang membela perempuan terutama dalam Pendidikan,” tambahnya

Penulis : Novianto

Continue Reading

Citizen Report

PP HmI Syariah Cabang Pontianak Kupas Tuntas Tentang Gender

Published

on

By

PP HmI Syariah Cabang Pontianak Kupas Tuntas Tentang Gender
Bidang Pemberdayaan Perempuan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Syariah Cabang Pontianak sukses menggelar diskusi

Gencil News – Bidang Pemberdayaan Perempuan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Syariah Cabang Pontianak sukses menggelar diskusi. Dengan tema “Opini Gender Dikalangan Masyarakat” di Museum Kalimantan Barat pada Minggu, (17/01) pukul 15.00.

Hidayati selaku pemateri mengulas materi dengan menarik. Sementara Tria Rizkika memandu jalannya diskusi.

“Beliau menjelaskan mengenai opini gender pada kalangan masyarakat yang pada saat ini masyarakat masih menganggap bahwa gender itu adalah jenis kelamin. Selain dari pada itu, membutuhkan cara agar lurusnya pemikiran masyarakat terhadap pemikiran yang sebelumnya,” ujarnya.

Tria sangat bersyukur karena diskusi berjalan sesuai harapan tanpa ada kendala.

“Suasana pada saat diskusi berlangsung sangatlah baik karena tidak hanya mendengarkan pemateri berbicara. Namun juga pemateri meminta agar teman-teman yang mengikuti diskusi mengeluarkan pendapatnya mengenai Gender. Sehingga diskusi tersebut tidak hanya menggunakan satu pola pikir saja,” tuturnya.

Nina Munawara selaku Kabid PP mengatakan bahwa gender adalah peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan.

“Karena banyak dari masyarakat terlebih khususnya kita sendiri yang masih beranggapan atau mengartikan. Bahwasanya gender adalah jenis kelamin, padahal gender itu adalah peran dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan,” ucapnya.

Nina berharap agar par kader dapat memahami tentang gender.

“Harapan saya setelah diskusi ini terlaksana para kader yang telah mengikuti dapat lebih memahami apa itu gender. Dan apa saja ‘kodrat’ laki-laki dan perempuan, karena dua hal tersebut sangatlah berbeda. Sehingga tidak ada lagi anggapan atau pendapat yang dapat mendeskriminasi antara laki-laki dan perempuan tersebut,” tegasnya.

Nina menuturkan agar ilmu yang di dapat untuk di amalkan dan di terapkan.

“Menurut saya pribadi, selain diskusi kualitas kader akan terbentuk ketika menerapkan ilmu yang telah didapat dari diskusi itu. Karena ilmu tidak hanya harus dimiliki tetapi juga harus diamalkan dan diajarkan kepada sesama,” tutupnya.

Citizen Reporter: Sufyana (Bendahara Forum Kosya Menulis)

Continue Reading

TRENDING