Eksekutif Farmasi AS: ‘Kewajiban Moral’ Jadi Alasan Peningkatan Tajam Harga Obat

Seorang eksekutif perusahaan farmasi AS membela peningkatan tajam harga antibiotik sebesar 400 persen menjadi hampir US$ 2.400 per botol sebagai “kewajiban moral,” sebuah klaim yang mendorong teguran dari kepala regulator obat-obatan di Amerika Serikat.

CEO Nostrum Pharmaceuticals, Nirmal Mulye, menyatakan kepada Financial Times ia memiliki “kewajiban moral untuk menjual produk tersebut di tingkat harga tertinggi,” mendorong harga campuran antibiotik yang disebut nitrofuantoin dari US$ 474,75 menjadi US$ 2.392 per botol. WHO menyebutkan obat itu adalah sebuah obat “penting” untuk pengobatan infeksi saluran kemih bagian bawah.

ARSIP – Seorang pakar mikrobiologi, Tatiana Travis, membaca panel untuk memeriksa resistensi bakterium terhadap antibiotik dalam sebuah lab resistensi antimikrobial dan karakterisasi dalam sebuah Laboratorium Penyakit Menular di lembaga federal, Centers for Disease Control and Prevention, hari Senin, 25 November 2013 di Atlanta (foto: AP Photo/David Goldman)

Mulye mengatakan kepada surat kabar itu, “Saya rasa itu adalah sebuah kewajiban moral untuk menghasilkan uang saat ada kesempatan. Ini adalah ekonomi kapitalis dan apabila anda tidak dapat menghasilkan uang, usaha anda tidak akan dapat bertahan.”

Baca juga   Data Pelanggan Diretas, British Airways Minta Maaf

Ia membandingkan keputusan yang ia buat untuk meningkatkan harga dengan seorang penyalur karya seni yang menjual “sebuah lukisan seharga setengah miliar dolar” dan mengatakan ia “berkecimpung dalam usaha untuk menghasilkan uang.”

Komisioner the Food and Drug Administration, Dr. Scott Gottlieb, menampik justifikasi Mulye terkait peningkatan harga, dengan menyatakan, “Tidak ada kewajiban moral untuk mengungkit harga dan memanfaatkan pasien.”

Ia mengatakan FDA “akan terus mendorong adanya kompetisi sehingga para spekulan dan mereka yang tidak peduli pada konsekuensi kesehatan publik tidak dapat mengambil keuntungan dari mereka yang benar-benar membutuhkan obat.”

Sengketa terkait harga antibiotik muncul di tengah timbulnya keluhan berkala oleh Presiden Donald Trump yang merasa harga obat-obatan di Amerika Serikat terlalu mahal.

Baca juga   ‘Tidak Ada Lagi Perang’ di Semenanjung Korea

Jangan Sampai Ketinggalan :

Pada bulan Mei, Trump mengungkapkan rencana untuk mencoba meningkatkan kompetisi di antara para produsen obat dalam upaya untuk menekan harga obat-obatan.

“Para pelobi di bidang farmasi mencetak keuntungan luar biasa yang dibebankan pada para pasien warga Amerika,” ujar Trump. [ww]

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.