Saudi, Rusia Diam-diam Setuju Tambah Produksi Minyak

Diam-diam, Rusia dan Arab Saudi sepakat menaikkan produksi minyak untuk mendinginkan harga minyak dunia yang mulai mendidih, Reuters melaporkan, Kamis (4/10), mengutip empat sumber yang mengetahui rencana tersebut.

Menurut penuturan sumber Reuters, kedua produsen minyak mentah dunia itu mencapai kata sepakat pada September dan sudah memberitahukan AS mengenai kesepakatan itu sebelum pertemuan dengan produsen minyak mentah lain di Aljazair.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyalahkan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) atas tingginya harga minyak dan meminta OPEC untuk menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) sebelum pemilihan paruh waktu pada 6 November.

Kesepakatan itu juga menyoroti peran Rusia dan Arab Saudi yang makin sering memutuskan kebijakan produksi minyak secara bilateral, tanpa berkonsultasi dengan anggota OPEC lainnya.

Baca juga   Minyak Brent Sentuh $71 untuk Pertama Kali Sejak 2014

Dalam serangkaian pertemuan, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih dan Menteri Energi Rusia Alexander Novak setuju untuk menaikkan produksi minyak dari September hingga Desember, menurut para sumber yang tidak diungkap identitasnya. Harga minyak dunia sekarang sudah merangkak naik di atas $85/barel.

“Rusia dan Saudi sepakat untuk diam-diam menambah pasokan minyak ke pasar agar tidak terlihat mereka bertindak atas perintah Trump,” kata salah satu sumber.

“Menteri Saudi memberitahu (Menteri Energi AS Rick) Perry bahwa Arab Saudi akan menaikkan peroduksi, bila para konsumen meminta tambahan minyak,” kata sumber lain.

Awalnya kedua negara berharap bisa mengumumkan tambahan produksi sebanyak 500 ribu barel per hari dari OPEC dan negara non-OPEC Rusia, dalam pertemuan para menteri perminyakan di Aljazair akhir September lalu.

Baca juga   2.024 Orang di Kalbar Telah Divaksin VAR

Namun karena ada tentangan dari sebagian anggota OPEC, termasuk Iran yang dikenai sanksi AS, mereka memutuskan untuk menunda keputusan resmi hingg pertemuan besar OPEC pada Desember.

“Saudi mencoba memasukan tali ke lubang jarum dengan menjawab kekhawatiran konsumen tentang harga minyak, tapi juga ingin menjaga agar harga tidak jatuh,” kata Yasser Elguindi, pakar pasar energy di perusahaan konsultan, Energy. “Dan hal itu mengirim sinyal yang salah kepada industri, yang harus terus berinventasi untuk mencegah kekurangan pasokan.” [ft/au]

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.