3 Orang Tewas Akibat Gempa 6,4 SR di Jawa Timur dan Bali

tiga orang meninggal akibat gempa berkekuatan 6,4 yang mengguncang sebagian Jawa Timur dan Bali, Kamis dini hari (11/10).

 

GENCILNEWS – Pos Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB telah mengkonfirmasi laporan tentang korban jiwa di kecamatan Gayam, Sumenep, Jawa Timur. Daerah ini juga dilaporkan sebagai yang terkena dampak paling buruk. Sejumlah rumah rusak dan roboh.

Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh Saat kejadian korban meninggal sedang tertidur, sehingga tak sempat menyelamatkan diri dan tertimbun reruntuhan bangunan. Hingga saat ini, BNPB terus melakukan pendataan di lokasi, sehingga ada kemungkinan korban bertambah.

Gempa 6,4 yang kemudian dimutakhirkan BMKG menjadi 6,3 itu tidak berpotensi tsunami, tetapi tetap menimbulkan kepanikan di Banyuwangi yang berdekatan dengan laut.

Gempa terasa di hampir seluruh wilayah Jawa Timur, antara lain Situbondo, Jember, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Sumenep, Pamekasan Sampang, Bangkalan, Pasuruan, Kota Batu, Kota Malang, Blitar, Surabaya, Sidoarjo, Jombang, dan Mojokerto.

Baca juga   Panji Tengkorak, Melambangkan Perlu Ditingkatkannya Kinerja

Sejumlah wartawan yang sedang meliput Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, yang dipadati oleh lebih dari 34.000 peserta, mengatakan mereka juga merasakan getaran gempa. Namun dilaporkan tidak menimbulkan kepanikan.

BMKG: Gempa Situbondo Tidak Ada Hubungan dengan Lindu di Palu dan Lombok

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa Situbondo berkekuatan magnitudo 6,3. Lindu ini tidak ada hubungannya dengan gempa Lombok dan Palu.

“Enggak ada hubungannya dengan gempa Lombok yang terjadi beberapa minggu lalu terjadi, di Palu,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, dalam konferensi persnya, di kantor BMKG, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Baca juga   Warga Australia Dihukum Rehabilitasi Terkait Narkoba di Bali

gempa Situbondo karena sesar naik Flores. Sementara, gempa Palu disebabkan oleh pergerakan sesar Palu-Koro. Sedangkan, untuk gempa Lombok, memang penyebabnya juga sesar naik Flores. Namun, beda mekanisme.

“Untuk gempa Lombok dengan Palu jelas mekanisme berbeda. Terindikasi bahwa ini sesar naik Flores,” Muhamad Sadly menjelaskan.

Dia mengatakan, sesar Flores dari verifikasi hasil seismik refleksi, terbentang dari Bali timur sampai Flores. Awal dari sesar ini terlihat di dasar laut. Sedangkan Bali-Lombok Barat hanya terlihat lipatan. Berdasarkan pengamatan ini, terindikasi kekuatan sesar Flores semakin barat semakin melemah.

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.