Aliran Listrik Padam di Kupang Akibat Angin Kencang Siklon Seroja
Connect with us

Nusantara

Aliran Listrik Padam di Kupang Akibat Angin Kencang Siklon Seroja

Published

on

Aliran Listrik Padam di Kupang Akibat Angin Kencang Siklon Seroja

Gencil News -VOA – Upaya pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung terhadap sedikitnya 72 orang yang hilang di beberapa pulau terpencil di bagian timur Indonesia, tidak lama setelah sebuah siklon tropis melanda kawasan itu pekan lalu.

Hujan lebat akibat Siklon Tropis Seroja memicu banjir dan tanah longsor yang menghanyutkan jembatan, menumbangkan pohon dan membuat jalan dilapisi lumpur tebal, yang merumitkan upaya awak SAR untuk mencapai desa-desa terpencil. Sedikitnya 128 orang tewas, dengan ribuan orang lainnya mengungsi setelah rumah mereka rusak atau hancur.

Tentara dan polisi membantu warga melintasi jalan banjir di Malaka Tengah, provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin, 5 April 2021. (Foto: AP/video grab)
Tentara dan polisi membantu warga melintasi jalan banjir di Malaka Tengah, provinsi Nusa Tenggara Timur, Senin, 5 April 2021. (Foto: AP/video grab)

Salah satu insiden terburuk terjadi di pulau Lembata, di mana banyak rumah hancur sewaktu hujan melongsorkan lahar yang mengeras di sepanjang lereng gunung berapi Ili Lewotolok.

Siklon Tropis Seroja juga meninggalkan jejak kehancuran serupa di negara tetangga, Timor Leste, menewaskan 27 orang di pinggiran ibu kota, Dili.

Banjir bandang musiman dan tanah longsor menewaskan puluhan orang setiap tahun di Indonesia. Dua insiden tanah longsor di Jawa Barat pada Januari lalu menewaskan 40 orang.

Aliran Listrik Padam di Kupang Akibat Angin Kencang Siklon Seroja

Angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (4/4) hingga Senin (5/4) dini hari menyebabkan aliran listrik di Kota Kupang terputus, sedangkan pasokan bahan bakar untuk menyalakan genset terbatas karena stasiun pengisian BBM tidak berfungsi.

Kota Kupang masih gelap-gulita hingga Senin (5/4) malam karena angin kencang, yang dipicu siklon tropis Seroja, merobohkan jaringan kabel listrik di Ibu Kota Provinsi NTT itu. Pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang terbatas juga mengakibatkan warga tidak bisa menyalakan genset.

“Listrik sampai sekarang betul-betul belum bisa diharapkan karena semua kabel baik dari rumah maupun kabel-kabel utama itu semua putus. Dan kabel utama itu banyak yang sampai di tanah. Tiang-tiangnya miring, roboh,” kata Arifin, seorang warga Kota Kupang kepada VOA.

Pria berusia 53 tahun itu mengatakan warga juga kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk menyalahkan genset karena seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota itu tidak beroperasi. Pasar-pasar dan toko-toko yang tutup juga menyebabkan warga kesulitan mendapatkan kebutuhan sehari-hari.

Selain merobohkan jaringan kabel listrik, Arifin mengatakan, angin kencang juga menumbangkan pohon-pohon dan merusak rumah-rumah. Banyak rumah yang kehilangan bagian atap karena terbawa angin.

Siklon Seroja

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melaporkan dua bibit siklon tropis yang berpotensi membawa curah hujan lebat dan angin kencang di wilayah NTT pada 3 – 9 April 2021.

Koordinator Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra, menjelaskan pada Senin (5/4) pagi, siklon tropis Seroja yang berkecepatan hingga 75 kilometer per jam, bergerak meninggalkan wilayah NTT.

“Seperti kita catat tadi bahwa siklon tropis Seroja semakin meninggalkan Indonesia. Namun ke depan kita tetap perlu mewaspadai akan dampak tidak langsungnya karena BMKG memprediksi potensi hujan lebat akibat siklon tropis Seroja ini bisa muncul di beberapa kawasan akibat dampak tidak langsung,” ujar Agie.

Agie mengatakan hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi hingga di atas tiga meter akibat dampak tidak langsung siklon tropis Seroja berpeluang terjadi di NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali dan Pulau Jawa.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, menginformasikan hingga pukul 14.00 WIB, Selasa( 6/4) terdapat 10 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Timur yang terdampak siklon tropis Seroja, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka Tengah, Lembata, Ngada, Alor, Sumba Timur, Rote Ndao, Sabu Raijua, Ende dan Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Dari 11 kabupaten dan kota yang terdampak ini hasil dari pendataan kami saat ini adalah 84 jiwa meninggal dunia. Jadi kesepakatan kemarin adalah yang dinyatakan sudah meninggal dunia yang telah ditemukan jenazahnya dan telah diverifikasi. sekali lagi ini data sangat dinamis dan akan selalu kami update,” papar Raditya Jati dalam konferensi pers secara daring, Selasa (6/4).

Perincian korban meninggal, yaitu 49 meninggal di Kabupaten Flores Timur, 16 di Kabupaten Lembata, satu di Kabupaten Ende, 2 di Kabupaten Malaka, satu di Kota Kupang dan 15 di Kabupaten Alor.

Data BNPB mengenai dampak siklon tropis Seroja di NTT. (Foto: Courtesy/BNPB)
Data BNPB mengenai dampak siklon tropis Seroja di NTT. (Foto: Courtesy/BNPB)

Bantuan untuk Anak

Save the Children Indonesia dalam siaran pers yang diterima VOA mengatakan penanganan dampak bencana cuaca ekstrem di NTT perlu berfokus pada kelompok rentan termasuk, anak-anak yang terpaksa tetap bertahan di rumah mereka yang rusak karena sulit mendapat tempat yang lebih aman.

Dewi Sri Sumanah, Media and Brand Manager Save the Children Indonesia, mengatakan bantuan kebutuhan dasar untuk anak-anak penyintas bencana di provinsi itu harus disegerakan agar mereka tidak menjadi korban karena sakit dan hal-hal lainnya.

Untuk tahap awal, Save the Children Indonesia akan mendistribusikan 100 paket perlengkapan hunian, 100 paket kebersihan, dan 250 selimut. Selain bantuan non-pangan, Save the Children Indonesia juga memberikan layanan dukungan psikososial untuk anak-anak yang terdampak. 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Nusantara

Pelaku Penganiayaan Perawat Emosi Tangan Anak Terluka

Published

on

By

Pelaku Penganiayaan Perawat Emosi Tangan Anak Terluka

Gencil News – Pelaku penganiayaan perawat JS sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemukulan kepada perawat RS Siloam.  Jason Tjakrawinata (JS) mengaku emosi karena melihat tangan anaknya terluka.

“Motif tersangka, karena emosi sesaat yang tak terbendung. Ia mengaku saat itu lelah sudah empat hari menjaga anaknya di rumah sakit tersebut. Ia emosi melihat tangan anaknya yang terluka usai di cabut infusnya oleh korban,” kata Kapolrestabes Palembang, Kombes Irvan Prawira saat jumpa pers di Mapolrestabes, Sabtu (17/4/2021).

Atas perbuatannya, tersangka kini ditahan dan dijerat Pasal 351 KUHPidana. “Ancaman hukuman 2 tahun 8 bulan penjara,” ujarnya.

JS alias  Jason Tjakrawinata juga dijerat kasus pengerusakan karena merusak telepon genggam perawat RS Siloam.

Jadon ditangkap tadi malam oleh anggota Satreskrim Polrestabes Palembang di kediamannya tanpa perlawanan di kawasan Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI) sekitar pukul 19.00.

“Tersangka kita tangkap di kediamannya di Kayuagung, OKI yang berjarak sekitar dua jam dari Polrestabes Palembang, tanpa perlawanan. Tersangka yang berprofesi sebagai pengusaha onderdil atau sparepart motor/mobil ini tiba Polrestabes sekitar pukul 24.00 WIB,” jelas pihak Kepolisian.

Melansir dari detik.com – Jason mengakui perbuatannya dan akhirnya meminta maaf.

“Mendengar anak saya menangis pada saat hendak pulang dari RS Siloam, saya emosi hingga nekat mendatangi perawat tersebut di RS tersebut,” kata Jason di Mapolrestabes Palembang, Sabtu (17/4/2021).

Pria yang diketahui merupakan pengusaha suku cadang mobil dan motor di Kayuagung, Ogan Komering ilir (OKI), itu mengaku bahwa yang membuatnya tambah emosi karena ia harus bolak-balik menjenguk anaknya di RS Siloam, Palembang.

“Anak saya sudah empat hari di rawat di sana dan saya harus bolak-balik untuk menjenguknya. Mendengar infus anak saya dilepas hingga anak saya menangis saya tidak terima,” tuturnya.

Sambil menundukkan kepala dengan terbata-bata, Jason menyesali perbuatannya. Dia meminta maaf kepada korban dan pihak RS Siloam.

“Saya emosi sesaat dan saya menyesali perbuatan saya, saya benar-benar minta maaf kepada korban dan pihak RS Siloam,” jelasnya.

Continue Reading

Nusantara

Diusir dan Dilarang Wawancara, Puluhan Jurnalis di Medan Demo

Published

on

Diusir dan Dilarang Wawancara, Puluhan Jurnalis di Medan Demo Menantu Presiden
Spanduk kecaman terhadap tindakan arogansi dari pengamanan Wali Kota Medan, Kamis, 15 April 2021. (Foto: VOA/Anugrah Andriansyah)

Gencil News – VOA – Puluhan jurnalis Kota Medan melakukan aksi protes di depan kantor Wali Kota Medan, Kamis (15/4). Unjuk rasa itu berlangsung menyusul pengusiran dua jurnalis yang ingin mewawancarai Wali Kota Medan Bobby Afif Nasution.

Aksi protes dilakukan puluhan jurnalis dari berbagai media karena pengamanan berlebihan Wali Kota Medan, Bobby Nasution.

Sehari sebelumnya, dua jurnalis yang bertugas di kantor pemerintah kota (pemkot) Medan, diusir sejumlah petugas keamanan dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), kepolisian, dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspamres).

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Liston Damanik mengatakan, tindakan pengusiran dan larangan wawancara itu merupakan tindakan arogansi sejumlah bawahan menantu Presiden Joko Widodo tersebut.

“Ini adalah puncak dari keresahan jurnalis yang selama ini merasakan kesulitan dalam mengakses informasi terutama saat ingin mewawancarai Bobby Nasution,” kata Liston di depan kantor wali kota Medan, Kamis (15/4).

Menurut Liston, pekerjaan jurnalis adalah pekerja publik. Jurnalis bekerja dilindungi oleh Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999. Menghalangi kerja jurnalis berarti melawan undang-undang.

“Pekerjaan jurnalis adalah pekerjaan publik karena masyarakat perlu tahu informasi kinerja Pemkot Medan. Kami berharap wali kota Medan mewakili anak buahnya meminta maaf terhadap jurnalis se-Kota Medan. Dua rekan kami yang disakiti. Kami semua merasa tersakiti,” tandasnya.

Jurnalis di Medan menolak pengusiran dan kekerasan yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik, Kamis, 15 April 2021. (Foto: VOA/Anugrah Andriansyah)
Jurnalis di Medan menolak pengusiran dan kekerasan yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik, Kamis, 15 April 2021. (Foto: VOA/Anugrah Andriansyah)

Salah satu korban pengusiran yakni Rehtin Hani Ritonga, jurnalis Tribun Medan. Ia menceritakan, tindakan arogansi yang dilakukan tim keamanan wali kota itu dialaminya Rabu sore (14/4) .

“Dari awal menunggu kami sudah didatangi Satpol PP, terus ditanya dari mana, mau ngapain. Terus oknum itu bilang enggak boleh harus izin dahulu, harus ada jadwal. Kami jawab hanya sebentar saja enggak lebih dari dua menit,” katanya.

Hani melanjutkan, oknum Satpol PP tersebut mendapat arahan dari Paspampres untuk mengusir mereka. “Setelah ada perdebatan di antara kami dengan petugas Satpol PP, dia masuk lagi. Di situ saat kami sedang menunggu sudah seperti dipantau. Beberapa kali tim keamanan lihat kami,” ungkapnya.

Tak lama berselang, kedua jurnalis itu mengetahui Bobby Nasution akan keluar dari kantornya. Mereka kemudian berusaha menunggu di dekat mobil dinas wali kota Medan itu untuk mewawancarai Bobby.

“Kami mendekat ke mobil itu, dimarahin (Paspampres) jangan di sini enggak boleh. Sana-sana jangan disini. Di situ ada Satpol PP, polisi, dan Paspampres. Terus Paspampres datang kami cekcok,” jelasnya.

Wali Kota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution, S.E., M.M. (kiri) dan Wakil Wali Kota Medan H.Aulia Rachman, S.E. (Foto: IG/humaspemkomedan)
Wali Kota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution, S.E., M.M. (kiri) dan Wakil Wali Kota Medan H.Aulia Rachman, S.E. (Foto: IG/humaspemkomedan)

Hingga unjuk rasa itu selesai dan massa membubarkan diri, wali kota Medan maupun wakilnya tak ada yang menemui puluhan jurnalis tersebut.

Sementara, Komandan Paspampres Mayor Jenderal TNI, Agus Subiyanto kepada VOA, membantah anggotanya melakukan pengusiran terhadap dua jurnalis tersebut. Menurutnya, dua orang jurnalis itu masuk ke kantor wali kota Medan tidak sesuai prosedur dan tanpa menggunakan tanda pengenal.

“Kemudian dicegah oleh polisi dan Satpol PP. Kemungkinan ditegur tidak terima. Saya rasa di instansi manapun sekarang sudah menggunakan sistem pengamanan yang bagus,” kata Agus melalui pesan singkat.

Berdasarkan catatan AJI Indonesia hingga April 2021. Sedikitnya telah terjadi tiga kasus kekerasan terhadap jurnalis. Kekerasan fisik, ancaman kekerasan, hingga pengusiran dialami jurnalis pada awal tahun ini.

Continue Reading

Nusantara

Flores Timur Diterjang Banjir Bandang

Published

on

Flores Timur Diterjang Banjir Bandang
Banjir bandang menerjang Desa Lamanele di Kecamatan Ile Boleng dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur di Flores Timur pada Minggu, 4 April 2021. (Foto: Courtesy/BPBD Flores Timur)

Gencil News – VOA – Sedikitnya 41 orang meninggal dunia, 9 luka-luka dan 27 lainnya hilang ketika banjir bandang menyapu empat desa di tiga kecamatan di kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, hari Minggu (4/4).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam situs webnya, Minggu (4/4), melaporkan peristiwa nahas itu berdampak pada 49 kepala keluarga (KK). Wilayah terdampak antara lain Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.

Menurut laporan BPBD Flores Timur, banjir bandang tersebut juga mengakibatkan rumah warga sekitar hanyut terbawa banjir, jembatan putus dan puluhan rumah di Desa Lamanele, tertimbun lumpur. BPBD mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi kendala di lapangan, yaitu sulitnya menjangkau Pulau Adora karena akses satu-satunya adalah melalui penyeberangan laut. Padahal otoritas setempat melarang kegiatan pelayaran saat ini karena faktor cuaca, yaitu hujan, angin dan gelombang yang tinggi.

Sementara itu, BMKG memprediksi dalam sepekan ke depan potensi hujan sangat lebat terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan NTT. Potensi angin kencang juga diprediksi terjadi di wilayah Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, NTT dan Sulawesi Selatan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengatakan wilayah yang terdampak antara lain Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.

Selain menimbulkan korban jiwa, BPBD mengatakan sedikitnya lima jembatan putus dan puluhan rumah tertimbun lumpur dalam banjir bandang yang dipicu hujan intensitas tinggi sejak Minggu (4/4) dini hari itu.

Berbagai satuan penanganan darurat bencana telah tiba di lokasi untuk membantu proses evakuasi dan logistik pada warga yang terdampak. Beragam makanan siap saji dan lauk pauk, selimut, sarung, masker kain dan medis, hingga tangki air bersih sudah dikirim ke lokasi.

Banjir Juga Menyapu Malaka

Selain di Flores Timur, banjir juga menyapu kabupaten Malaka dan menimbulkan dampak di sejumlah kecamatan, antara lain : kecamatan Malaka Tengah (Desa Naimana, Fahiluka, Kawalu, Railor, Bereliku), kecamatan Malaka Barat (Desa Motaain, Oan Mane, Sukun, Fafoe, Lasaen, Umatoos, Rabasa, Rabasa Haerain, Loofoun, Maktihan, Naas, Motaulun), kecamatan Weliman (Desa Forekmodok, Lamudur, Wederok dan Kleseleon), kecamatan Wewiku (Desa Halibasar) dan kecamatan Kobalima (Desa Lalekun Barat).

Banjir menggenangi wilayah Kabupaten Bima pasca bendungan di 4 kecamatan meluap pada 3 April 2021. (Foto: Courtesy/BPBD Kabupaten Bima)
Banjir menggenangi wilayah Kabupaten Bima pasca bendungan di 4 kecamatan meluap pada 3 April 2021. (Foto: Courtesy/BPBD Kabupaten Bima)

8 Orang Tewas Tertimbun Tanah Longsor di Dilli

Dalam perkembangan lainnya kantor berita Timor Timur, Tatoli, melaporkan tanah longsor akibat hujan lebat dan banjir di pinggiran ibu kota Dilli, menewaskan sedikitnya delapan orang. Belum ada rincian lain tentang hujan deras, banjir dan tanah longsor yang terjadi di bagian timur Indonesia dan Timor Timur ini

Continue Reading

Nusantara

Seorang Kakek Mengaku Pelihara “Tuyul” Sampai Anaknya Jadi PNS

Published

on

By

Seorang Kakek Mengaku Pelihara Tuyul Sampai Anaknya Jadi PNS
Kakek Rahmat Ali

Gencil News – Seorang kakek warga Kabupaten Sukabumi mengaku punya “tuyul” peliharaan. Hal ini terungkap saat ia menceritakan perjalan hidupnya menghidupi keluarganya.

Kakek bernama Rahmat Ali ini tetap semangat mencari nafkah meski usianya kini menginjak 70 tahun.

Mengutip dari Seputarberita.info kakek Rahmat menunjukkan sebuah kotak panjang yang ia sebut “tuyul” itu.

“Hampir setiap hari tuyul ini saya bawa ke mana-mana,” katanya sambil menunjuk kotak panjang berwana merah saat ditemui di Jalan Perpustakaan, Kota Sukabumi, Rabu (24/3/2021).

“Tuyul” yang ia maksud bukanlah tuyul yang masyarakat anggap sebagai mahluk gaib. Melainkan sebuah alat kesehatan yaitu tensimeter.

Tensimeter yang ia sebut tuyul ini sudah 40 tahun menghasilkan uang dan dapat menghidupi keluarganya.

“Ini hampir selama 40 tahun, alat ini dapat menghasilkan uang, juga dapat menghidupi istri dan anak-anak. Sehingga saya selalu menyebutnya tuyul,” ucapnya sambil tersenyum lebar pada beberapa orang sekitarnya.

Kakek bertopi loreng ini mengisahkan, sebelum berprofesi sebagai jasa tensi darah keliling, ia merupakan seorang honorer penyuluh kesehatan di Kecamatan Sukarja, Sukabumi sekitar akhir tahun 1970.

Pertama menjadi penyuluh dalam bidang kesehatan, kakek lulusan Sekolah Lanjutan Tingkatan Atas (SLTA) ini mendapat upah sebesar Rp 15 ribu per bulan. Setelah menginjak satu tahun upahnya sebagai honorer naik menjadi Rp 35 ribu per bulan.

“Saat itu gaji sebesar Rp 35 ribu, sedangkan utang ke warung untuk keperluan rumah tangga mencapi Rp 45 ribu. Setelah hampir selama tiga tahun menjadi penyuluh, saya mencari pekerjaan lain,” katanya.

Pada akhirnya sekitar tahun 1973-an, Rahmat bekerja pada sebuah perusahaan batu bara sebagai teknisi.

Namun tidak bertahan lama, hingga akhirnya ia memutuskan mencari pekerjaan lain ke kota lain.

Berbekal ilmu pendidikan kesehatan ketika sebagai honorer penyuluh kesehatan, ia memutuskan untuk berprofesi sebagai jasa tensi keliling.

“Waktu itu ketika awal menjadi jasa tensi keling, setiap orang memberi upah Rp 1.00, dan dalam sehari bisa menghasilan sebesar Rp 80 ribu,” katanya.

Ia tidak mematok harga kepada para pelanggannya. Namun dari jasanya itu dia bisa mendapatkan uang sebesar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari.

Tidak jarang ia menemukan orang yang tidak membayar jasanya tersebut. Sudah hampir selama 40 tahun ia melakoni jasa tensi darah keliling.

Berhasil sekolahkan anaknya hingga jadi PNS

Ia sudah berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi di Bandung. Kini anaknya itu sudah menjadi guru dan telah diangkat sebagai ASN.

“Anak ada empat, dua laki-laki, dan dua perempuan, namun satu anak saya yang laki-laki meninggal. Sedangkan kedua anak perempuan sudah menikah ikut serta suaminya. Alhamdulillah satu anak saya kin sudah menjadi guru,” katanya sambil membereskan alat tensi yang sudah ia gunakan.

Kini hampir setiap hari dia membawa tas selempang dan tas warna berwana hijau di pinggangnya. Alat tensi d4rah dia genggam.

Tidak kenal lelah langkah demi langkah ia menyusuri permukiman warga hingga perkantoran yang ada di Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk mencari warga yang ingin memakai jasanya.

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING