Connect with us

HEADLINE

Hutan Dicaplok Untuk Sawit, Masyarakat Adat Papua Mengadu ke Jakarta

Published

on

Hutan Dicaplok Untuk Sawit

Gencil News – Tiga puluhan orang yang menjadi perwakilan masyarakat adat dari mengadu ke sejumlah lembaga negara selama sepekan di Jakarta.

Mereka berasal dari sejumlah wilayah yakni Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Tambrauw dan Kabupaten Teluk Wondama.

Perwakilan Suku Malind, Distrik Ngguti, Merauke, Elisabet Mahuse Ndiken mengatakan, hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka tergusur ketika ada perusahaan perkebunan kelapa sawit masuk ke wilayah mereka.

Selain itu, kata dia, anak-anak mereka yang sudah sarjana juga tidak dapat bekerja di perusahaan perkebunan tersebut.

Perwakilan masyarakat adat dari sejumlah wilayah di Papua saat menggelar konferensi pers di kantor Amnesty Internasional Indonesia di Jakarta, Jumat (8/11/2019).
Perwakilan masyarakat adat dari sejumlah wilayah di Papua saat menggelar konferensi pers di kantor Amnesty Internasional Indonesia di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

“Yang dulu kami punya hutan, segala macam sudah tersedia di hutan. Karena kami masyarakat adat, kami tidak tinggal di rumah. Kehidupan kami sehari-hari di hutan. Kami mencari makan dan bisa berburu semua ada di hutan,” jelas Elisabet di Jakarta, Jumat (8/11/2019).​

Perkebunan Kelapa Sawit Juga Picu Konflik Horizontal Antar-Marga

Elisabet menambahkan keberadaan perkebunan kelapa sawit di Merauke juga membuat konflik horisontal antar marga di sana. Konflik tersebut muncul dikarenakan perusahaan hanya meminta izin pembukaan usaha perkebunan kepada beberapa marga saja.

Akibatnya antara marga yang menolak perkebunan dengan marga yang sudah memberikan izin terjadi perselisihan. Hal tersebut seperti yang disampaikan perwakilan Suku Awyu, Distrik Fofi, Boven Digoel, Frengky Hendrikus Woro.

“Perusahaan mulai masuk itu dengan cara manipulasi data atau mengatasnamakan marga-marga tertentu tanpa sepengetahuan marga-marga yang lain. Dan menandatangani surat persetujuan hak ulayat adat untuk dimiliki areal perusahaan,” jelas Frangky.

Frangky menambahkan pihaknya sudah menyampaikan surat penolakan terhadap perusahaan perkebunan di wilayahnya ke pemerintah daerah setempat. Namun, belum ada respons dari pemerintah setempat terkait aspirasi mereka.

Ia juga menuntut pemerintah pusat agar tidak memberikan tanah-tanah masyarakat adat yang belum dikelola kepada perusahaan perkebunan. Selain itu, mereka juga meminta izin usaha perkebunan dan izin-izin usaha lainnya, seperti pembalakan kayu dan pertambangan yang sudah habis waktunya agar dikembalikan ke masyarakat adat.

Sebagian Besar Pemberian Ijin Usaha Perkebunan Diberikan pada Era SBY

Sementara Direktur Yayasan Pusaka, Franky Simparante, yang mendampingi masyarakat adat, mengatakan pihaknya telah bertemu dengan sejumlah lembaga negara selama masyarakat adat Papua di Jakarta. Antara lain Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Agraria, DPR, Ombudsman dan Komnas HAM.

“Kita juga bertemu dengan KPK dari komisi pencegahan. Kami juga menyampaikan isu-isu terkait dengan dugaan korupsi dalam pemberian izin dan permasalahan tata kelola dari usaha perkebunan dan kehutanan,” kata Franky.

Franky menjelaskan pemberian izin usaha perkebunan di wilayah sebagian besar diberikan pada saat era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara sisanya diberikan pada era Presiden Joko Widodo.

Terkait aduan ini, Direktur Pengaduan Pengawasan dan Pengenaan Sanksi Administrasi Ditjen Gakkum KLHK Sugeng Priyanto mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan lintas direktorat yang menangani persoalan perkebunan di Papua. Termasuk kata dia, pihaknya juga akan mengundang pemerintah daerah untuk membahas persoalan ini. 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Gaya Hidup

Memaknai Dedikasi, Mencintai Profesi

Published

on

GENCIL NEWS – Rambutnya telah memutih, sementara kulit tidak sekencang dahulu. Ada yang berbeda dengan Bapak yang satu ini dibandingkan dengan penampilan artis lainnya.

Jika beberapa artis muda sibuk menampilkan diri, berfoto dari satu fans ke fans lain dengan dandanan yang ngartis-banget, beliau malah senang berbaur dan bercerita secara mendalam dengan tamu undangan dalam satu meja.

Ceritanya mengalir alami menyusuri fragmen demi fragmen hidupnya, sangat elaboratif untuk ukuran pembicaraan jeda kopi.

Henky Solaiman namanya. Secara kebetulan saya mendapat kesempatan berbincang dengan beliau dalam acara Premier Film Love and Faith atas undangan Majalah Marketing. Di usianya yang beranjak 73 tahun, karya-karya produktif masih dilahirkan dan dedikasinya terhadap dunia layar perak terbilang di atas rata-rata.

Kejarlah daku kau kutangkap, adalah film tahun 80-an yang mengenalkan saya pada sosok ini. Di masa saya kecil, film Kejarlah daku diputar berpuluh-puluh kali di layar televisi yang kala itu masih hitam-putih. Walaupun sering goyang dan bersemut gambarnya, televisi adalah pilihan terbaik saat itu sebagai satu-satunya penyambung nafas kota-kota kecil dan gemerlap ibu kota.

Sejak memulai karir di dunia seni pada tahun 1971, pak Henky Solaiman mencurahkan perhatiannya untuk kemajuan dunia seni peran. Dalam ceritanya, beliau menggambarkan betapa penuh perjuangan bergerak dari satu lokasi ke lokasi syuting yang bisa memakan waktu berhari-hari dengan istirahat seadanya. Sungguh harga yang harus dibayar untuk sekedar membuat penonton tersenyum atau berdecak kagum.

Terlalu jauh rasanya, jika saya harus menjelaskan evolusi yang terjadi pada perfilman Indonesia. Selain saya bukan ahlinya, saya juga bahkan jarang menonton film Indonesia di bioskop. Namun tidaklah perlu menjadi ahli untuk bisa membedakan mana film yang menjadi legenda dan mana film kelas kacang yang sekedar menjadi penggembira. Bukan tanpa sebab film yang bagus itu menjadi berjiwa. Dia lahir karena adanya dedikasi.

Dedikasi diambil dari kata dedicate, persembahan. Ketika suatu profesi menyediakan dirinya untuk kita eksploitasi demi kesejahteraan, maka dedikasi bermakna memberikan balik apa yang kita dimiliki, demi bertunas dan berkembangnya profesi itu. Seorang dokter yang telah berpuluh tahun mendapatkan penghasilan dari pekerjaan kedokterannya, layaknya memberi balik. Mempersembahkan metode baru, menyemai dokter-dokter baru dan mempersiapkan sistem layanan kesehatan untuk memperbaiki hubungan dokter dan pasien.

Para pemasar yang telah malang melintang di dunia pemasaran dan mendapatkan pendapatan luar biasa dari pemasaran, baiknya membayar balik. Mengembangkan dunia pemasaran di Indonesia melalui sharing pengetahuan, membangun institusi pendidikan atau memperkenalkan konsep baru yang lahir dari pengalaman praktis yang didapatkannya.

Salah satu liputan portal berita yang menulis tentang Hengky Solaiman menyebutkan bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, beliau membantu tugas akhir mahasiswa IKJ secara pro bono atau tanpa bayaran. Sungguh sepertinya kita perlu mencontoh jejak kaki beliau. Bahwa legenda dicatat dalam sejarah, karena apa yang telah ia persembahkan bagi yang dicintainya. Jika Anda mencintai profesi Anda, persembahkanlah sesuatu bagi berkembangnya profesi itu. Tetap semangat dan salam pembaharu!

…….

Penulis: Wahyu T Setyobudi 

Pengajar PPM School of Management

Continue Reading

Gaya Hidup

Awal Mula Interaksi Kucing dan Manusia

Published

on

Jauh sebelum kucing jadi kesayangan di Facebook dan YouTube, mereka telah berinteraksi dengan manusia sejak jaman purba.

Sebuah studi DNA yang menjangkau masa ribuan tahun yang lalu untuk melacak interaksi tersebut dan menemukan dua bukti penyebaran yang utama dari kawasan Timur Tengah, dimana orang terbukti membawa kucing bersama mereka. Jejak genetik kucing ditemukan dalam perjalanan itu dan masih tampak pada jenis kucing yang ada pada zaman modern.

Para peneliti menganalisa DNA dari 209 kucing purba yang berasal dari zaman setua 9.000 tahun yang lalu yang berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia, termasuk beberapa mumi kucing purba asal Mesir.

“Mereka saksi langsung tentang situasi di masa lampau,” ujar Eva-Maria Geigl dari the Jacques Monod Institute di Paris. Ia bersama koleganya yang juga meneliti 28 kucing liar modern dari Bulgaria dan Afrika bagian timur.

Ini adalah indikasi terkini dari kisah yang rumit tentang kucing-kucing yang sudah dijinakkan. Mereka keturunan dari kucing-kucing liar yang belajar untuk hidup di tengah manusia dan jadi lumayan jinak – meskipun beberapa pemilik kucing saat ini mengatakan, mereka tampaknya tidak begitu suka berada di lingkungan manusia.

Proses penjinakkan kemungkinan berawal dari masa 10.000 tahun yang lalu ketika orang mulai menetap di kawasan Bulan Sabit Subur, kawasan berbentuk lengkungan yang mencakup pantai timur Laut Mediterranea dan daratan sekitar sungai Tigris dan Eufrat. Mereka menyimpan gandum, sehingga menarik hewan pengerat, yang akhirnya menarik kucing-kucing liar. Hewan-hewan yang ada di tumpukan sampah tampaknya telah menarik mereka juga. Seiring dengan berjalannya waktu, kucing-kucing liar ini beradaptasi pada lingkungan yang dibangun oleh manusia dan membiasakan diri untuk berkeliaran di sekitar manusia.

Studi sebelumnya menemukan seekor kucing yang dimakamkan di samping manusia sekitar 9.500 tahun yang lalu di Siprus, dimana tidak ada kucing yang asli berasal dari pulau itu. Ini adalah indikasi bahwa kucing dibawa dengan perahu dan hewan itu memiliki ikatan khusus dengan orang itu, ujar para peneliti.

Kucing jelas-jelas sudah dijinakkan pada masa sekitar 3.500 tahun yang lalu, dimana pada lukisan tampak kucing ditempatkan di bawah kursi. Ini menunjukkan bahwa saat itu, “kucing sudah jadi bagian dari rumah tangga,” ujar Geigl.

Namun secara keseluruhan proses penjinakkan sulit dilacak oleh para ilmuwan, sebagian karena tengkorak fosil tidak menunjukkan apabila kucing tersebut kucing liar atau sudah dijinakkan.

Lebih mudah untuk membedakan anjing, hewan yang pertama kali kita jinakkan, dari nenek moyang serigalanya. Anjing berevolusi dari serigala dan mulai berinteraksi dengan manusia bahkan sebelum adanya budaya bertani, kemungkinan tertarik oleh sisa-sisa makanan yang ditinggalkan manusia.

Studi baru melacak penyebaran penanda DNA kucing yang bersifat spesifik yang menembus jarak waktu yang panjang, sebuah tanda bahwa orang telah membawa kucing bersama mereka. Hasilnya dirilis hari Senin oleh jurnal Nature Ecology & Evolution.

Studi ini “memperkuat dan menyempurnakan hasil karya sebelumnya,” ujar Carlos Driscoll dari the Wildlife Institute of India. Pengambilan sampel yang bersifat ekstensif dari DNA kucing yang melacaknya hingga ke jaman kuno belum pernah dilakukan, ujarnya.

Para peneliti juga mengamati varian genetik yang menghasilkan bulu dengan pola yang tidak teratur khas kucing modern yang sudah jinak, ketimbang garis-garis menyerupai harimau yang ada pada sepupunya yang masih liar. Pola ini muncul lebih sering pada sampel-sampel yang berasal dari masa sesudah tahun 1300 ketimbang masa sebelumnya, yang sesuai dengan bukti lain bahwa tanda garis-garis pada bulu kucing menjadi sesuatu yang biasa mulai tahun 1700 dan orang mulai mengembang biakkan kucing untuk penampilannya mulai tahun 1800-an.

Berbeda dengan kuda, usaha untuk menjinakkan kucing termasuk terlambat, yang dikembang biakkan untuk tampilannya sejak awal, ujar Geigl.

Fokus sebagian besar studi adalah pada penyebaran kucing pada zaman purba. Pada sampel DNA yang dianalisa, satu jejak genetik yang pertama kali adalah di Turki sisi Asia – dan kemungkinan dahulunya dibawa oleh kucing yang berasal dari kawasan Bulan Sabit Subur – muncul lebih dari 6.000 tahun yang lalu di Bulgaria.

Ini adalah indikasi bahwa kucing telah dibawa kesana dengan perahu ketika para petani pertama melakukan kolonisasi benua Eropa, ujar Geigl. Indikasi ini juga tampak pada masa lebih dari 5.000 tahun yang lalu di Rumania, juga pada masa sekitar 3.000 tahun yang lalu di Yunani.

Jejak genetik kedua, pertama kali muncul di Mesir, telah mencapai Eropa antara abad ke satu dan kelima, sebagaimana ditunjukkan oleh sampel yang berasal dari Bulgaria. Jejak yang berasal dari bandar perdagangan Viking di Eropa utara berasal dari abad ketujuh, dan sampel yang berasal dari Iran berasal dari abad ke delapan.

Menyebarnya kucing di sepanjang Mediterranea kemungkinan dipicu oleh manfaatnya dalam mengendalikan hama pengerat dan hama lainnya di kapal, ujar para peneliti. [ww]

Continue Reading

Gaya Hidup

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat

Published

on

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat
Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat
Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat

Optimis Membuat Hidup dan Jiwa Sehat-Penelitian menunjukkan, optimistis memiliki manfaat kesehatan yang nyata. Optimistis adalah pondasi kesehatan mental yang akan menunjang kesehatan fisik. Bahkan, lebih dari 100 studi mengkonfirmasi gagasan bahwa sikap optimis dapat memberikan harapan kesehatan mental yang lebih baik selama hidup.

Optimis merupakan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Optimisme dapat juga diartikan berpikir positif. Jadi optimisme lebih merupakan paradigma atau cara berpikir.

Sikap optimis sering dianggap sebagai bentuk naif penyelesaian masalah. Pasalnya, optimistis lebih mudah untuk diucapkan ketimbang dijalankan. Namun, ternyata optimistis tidak hanya memberikan efek dalam jiwa manusia, tetapi juga untuk raganya.

Optimis menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya.

Secara umum, orang yang optimis telah menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik daripada mereka yang pesimis. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa orang yang pesimis lebih rentan menderita penyakit menular, memiliki masalah kesehatan yang buruk, dan mengalami kematian dini.

Banyak orang percaya bahwa optimis adalah sifat bawaan. Nyatanya, banyak cara untuk menjadi orang yang lebih optimis. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan menghilangkan anggapan negatif pada diri sendiri dan meningkatkan pikiran positif.

Meskipun ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, dengan latihan, ketekunan, dan kemauan, cara ini akan berhasil. Tidak hanya itu, menghargai kesehatan diri dengan tidur yang cukup dan makan makanan sehat, akan membantu menaikkan tingkat optimistis.

Sikap mencerminkan dari kepribadian seseorang, dan pikiran memberi peran yang besar terhadap sikap seseorang. Itulah mengapa berpikir positif membuat perbedaan besar dalam hidup kita. Sikap yang baik dimulai dengan berpikir positif. Berpikir positif memiliki peran penting dalam pembentukkan setiap individu.

Kekuatan berpikir positif merupakan unsur yang terpenting dalam menciptakan jenis kehidupan dan dapat membantu Anda untuk mengatasi situasi stres dan mengubah hidup  jauh lebih baik.

Continue Reading

TRENDING