Saprahan, Tradisi Khas Melayu

GENCIL.NEWS Hai sobat Gencil, pernahkah Sobat Gencil menghadiri sebuah acara yang dimana diacara itu, para tamu yang hadir duduk makan bersama dilantai. Menikmati aneka hidangan yang tersedia kemudian disantap bersama-sama. Sebuah pemandangan yang asing, bukan.

Mungkin diantara sobat gencil belum mengetahui, apa nama acara ini, apa tujuannya, dan makanan apa saja yang bias dinikmati. Sobat Gencil, tim gencilnews menyajikan sebuah laporan tentang budaya, yaitu saprahan.

Yuk, kita simak laporannya tentang tradisi Saprahan.

Makan Saprahan merupakan adat istiadat budaya Melayu. Berasal dari kata “Saprah” yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

courtesy

Dalam makan Saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain Saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangan di antaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Kemudian untuk minuman yang disajikan adalah air serbat berwarna merah.

Baca juga   Tiga Spesies Ikan Baru Ditemukan di Dasar Samudera Pasifik
courtesy

Dalam tradisi makan saprahan, banyak terkandung nilai bagaimana bersikap sopan saat menikmati sajian atau hidangan makanan dalam sebuah acara.

Dalam kegiatan yang sama juga diajarkan bagaimana sikap duduk yang baik, kaum pria duduk bersila sedangkan kaum wanita duduk bersimpuh.

Tradisi saprahan ini, lanjutnya mengandung makna duduk sama rendah, berdiri sama tinggi sebagai wujud kebersamaan, keramahtamahan, kesetiakawanan sosial serta persaudaraan.

courtesy

Peralatan dan perlengkapan dalam adat saprahan mencakup kain saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkuk untuk nasi, mangkuk untuk lauk hidangan, sendok untuk nasi dan lauk serta gelas minuman.

Menu utama hidangan adat saprahan di antaranya nasi putih atau kebuli, semur daging, sayur dalcah, sayur pacri nenas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang, air serbat dan kue tradisional.

Namun untuk proses menyajikan hidangan saprahan, tidak hanya sekadar meletakkan di atas kain seprahan, yakni ada ketentuan adat yang harus dilakukan, misalnya pakaian yang dikenakan petugas yang menyajikan hidangan, cara berjalan, duduk serta bergerak maju mundur dan lainnya. Petugas penyaji hidangan saprahan tidak boleh membelakangi tamu yang hadir.

Baca juga   Lorenzo Juara di Sirkuit Mugello Italia

Bagaimana sobat Gencil, sekarang sudah jelas bukan. Saprahan adalah sebuah tradisi turun temurun di adat melayu. Untuk dizaman sekarang ini, tradisi saprahan tidak hanya sebuah perjamuan untuk orang melayu saja, tetapi saprahan telah menjadi sebuah “tradisi nasional” yang bisa diikuti dan dinikmati oleh ragam macam suku, tergantung acara apa yang akan di usung. Apakah itu arisan, diskusi bahkan sampai ke meeting kantor.

Saprahan adalah warisan kebudayaan melayu, kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan kebudayaan saprahan. Yuk kita jaga. (raw)

 

Portal Berita Online Harian Menyajikan Informasi Kalimantan Barat, Nasional,Internasional, Bisnis,Teknologi, Traveling,Budaya, Gaya hidup,Kesehatan, Kuliner, olahraga, Film, Musik, dibangun melalui inovasi dan teknologi terkini.