Tolak Poligami, Elektabilitas PSI Nyaris Menyamai PKS

Srikandi-Srikandi PSI/

Sensasi PSI dengan lontaran isu-isu kontroversial di tengah suhu religiusitas yang meningkat di masyarakat membikin partai ini menuai perhatian publik.

PSI mendominasi pemberitaan dan percakapan masyarakat. Isu tolak perda agama dan teranyar, menolak poligami menjadi gempa isu yang dibicarakan terus menerus.

Hal ini menguntungkan PSI sebagai partai baru yang berusaha melampaui ambang batas raupan suara Pemilu demi eksistensi di parlemen kelak. Meski sepintas terlihat PSI mendulang caci maki dan umpatan sebagian masyarakat, tapi pada saat yang sama PSI sedang membentuk pasar loyal yang belum terjamah, yaitu masyarakat liberal dan moderat Indonesia. PSI benar-benar mengambil posisi yang menjadi kanal aspirasi politik masyarakat moderat yang liberal.

Suka tidak suka, ini tindakan berani dan cerdas. Berdasarkan survei Y-Publica, pada Oktober 2018, elektabilitas PSI masih berada di angka 1,6% namun dari rilis terbaru pada Desember 2018, elektabilitas PSI mencapai 2,6 % atau jumlah peningkatan suara PSI bertambah 1-2 juta pemilih.

Perlahan PSI merengsek naik sebagai partai menengah yang digadang akan memberi kejutan pada Pemilu nanti.

Direktur Y-Publica Rudi Hartono dalam rilis survei di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, pada Jumat (14/12/2018), “pidato Ketua Umum PSI Grace Natalie yang menolak Perda agama dapat menaikkan elektoral karena memiliki efek viral akibat diperbincangkan publik. Narasi tersebut menjadi kampanye gratis bagi PSI untuk  menggaet simpati dari masyarakat yang memiliki pandangan serupa soal Perda agama”

Baca juga   Ada 'Anis Matta' di Kalbar? Kapan? Ini Jadwalnya

Elektabilitas PDIP dan Gerindra Kokoh di Dua Besar


Ilustrasi pasangan calon presiden dan wakil presiden 2019


Sementara itu, elektabilitas PDIP dan Gerindra saat ini naik cukup signifikan. Elektabilitas PDIP saat ini mencapai 29,1%, naik 1% dibandingkan pada Oktober 2018 yang sebesar 28,1%.

Gerindra memperoleh suara sebesar 14,8%. Angka ini naik 1,6% dibandingkan dua bulan sebelumnya yang hanya sebesar 13,2%.

Menurut Rudi, peningkatan elektabilitas kedua partai tersebut karena menikmati efek dari kandidat calon presiden di Pilpres 2019. Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo merupakan kader dari PDIP. Sementara, calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto merupakan Ketua Umum Gerindra. “Karena punya figur capres, mereka masih mendapat efek elektoral,” kata Rudi.

Elektabilitas beberapa partai lainnya, seperti Golkar, Nasdem, Demokrat, PPP, PKS, PAN, Perindo, PKPI, dan Hanura, PBB, dan Garuda saat ini cenderung stagnan. Elektabilitas Golkar saat ini sebesar 9,1%, Nasdem 3,7%, Demokrat 7%, dan PPP 3,2%.

Baca juga   Perjudian Besar di Tengah Ceruk Pemilih Yang Terbuka

Adapun elektabilitas PKS sebesar 3%, PAN 2,7%, Perindo 2,5%, PKPI 0,8%, Hanura 1,6%, PBB 1,1%, dan Garuda 0,5%. Rudi menilai stagnasi suara partai-partai tersebut karena tak memiliki narasi yang spesifik untuk disampaikan ke publik.

Ada pun, elektabilitas PPP dan PKS yang jalan di tempat juga dipengaruhi oleh faktor konflik internal yang belum terselesaikan. “Situasi internal itu yang membuat energi partai tidak begitu masif,” kata Rudi.

Y-Publica mengadakan survei pada 20 November-4 Desember 2018 dengan melibatkan 1.200 responden di Indonesia. Survei dilakukan melalui pemilihan responden secara acak atau multistage random sampling. Tingkat kesalahan alias margin of error dalam survei ini sebesar +/- 2,8% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berikut adalah hasil lengkap elektabllitas partal politlk menurut survei Y-Publica :

PDIP 29.1%
Gertndra14.8%
Golkar 9.1%
PKB 7.0%
Demokrat 6.8%
Nasdem 3.7%
PPP 3.2%
PKS 3.0%
PAN 2.7%
PSI 2.6%
Perlndo 2.5%
Hanura 1 .6%
PBB 1.1%
PKPI 03%
Berkarya 0.8%
Garuda 0.5%

Belum memutuskan/ tidak menjawab sebesar 11.3 persen

Penulis : Gencil News
Editor : Gencil News
Sumber : Gencil News