Connect with us

Film

Aktor Jude Law Disebut Bintangi Film Peter Pan & Wendy

Published

on

Aktor Jude Law Disebut Bintangi Film Peter Pan & Wendy

GENCIL NEWS – Peter Pan & Wendy bukanlah film live-action pertama untuk film animasi yang rilis pada 1953 ini. Terdapat beberapa film yang mengisahkan petualangan Peter Pan dan “lost boys” itu.

Salah satunya adalah Hook, film garapan Steven Spielberg pada 1991, yang dibintangi Robin Williams sebagai Peter dewasa dan Dustin Hoffman sebagai Kapten Hook.

Ada juga film rilisan Universal dan Columbia pada 2003 berjudul Peter Pan yang menampilkan Jason Isaacs sebagai bajak laut yang keji. Yang terbaru, Warner Bros merilis Pan pada 2015 yang dibintangi Hugh Jackman, namun cukup goyah di box office.

Bintang Young Pope, Jude Law sedang dalam tahap pembicaraan untuk memainkan peran penjahat ikonis yaitu Kapten Hook. Namun jika casting dikonfirmasi, Jude akan mengikuti jejak Dustin Hoffman dalam menggambarkan bajak laut yang terkenal itu.

Proyek yang berjudul Peter Pan & Wendy, tampaknya masih dalam tahap awal, tetapi berita tentang casting mulai muncul ke permukaan. Inilah segala hal yang kami ketahui tentang Peter Pan & Wendy sejauh ini.

Bersama dengan film-film Disney yang akan datang  termasuk The Little Mermaid dan Home Alone — produksi film Peter Pan & Wendy juga terpaksa harus diberhentikan pada bulan Maret ketika kasus-kasus coronavirus mulai meningkat di Amerika Serikat.

“Kami akan terus memantau situasi dan memulai kembali proses syuting secepat mungkin,” kata juru bicara Disney pada saat itu.

Meskipun ada yang berspekulasi jika Peter Pan & Wendy akan ditayangkan lewat platform streaming di Disney +.

Sumber lain mengatakan kepada Variety bahwa film ini diharapkan akan tetap dirilis di bioskop. Dengan adanya penundaan, dapat dimengerti bahwa belum ada tanggal rilis yang pasti untuk perilisan film ini.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Film

“How Far I’ll Go” Kisah Persahabatan 2 Perempuan Difabel

Published

on

Film independen “How Far I’ll Go” atau Sejauh Ku Melangkah berhasil menjadi pemenang dalam Shorts Pitch Competition yang diadakan oleh Tribeca Film Institute di New York tahun lalu.

Film dokumenter karya sutradara perempuan Indonesia itu mengisahkan persahabatan dua sahabat difabel Indonesia yang terpisah oleh jarak dan perbedaan waktu namun menghadapi tantangan yang sama untuk menjadi remaja yang mandiri.

Itulah cuplikan flm independen How Far I’ll Go atau Sejauh Ku Melangkah di mana pemeran utama Andrea sedang belajar menyetir walau tidak bisa melihat. Film itu mengisahkan dua sahabat tunanetra, Andrea dan Salsa yang tak bisa melihat sejak lahir dan berteman saat di TK tunanetra Lebak Bulus, Jakarta. Pada usia lima tahun, Andrea bersama keluarga pindah dari Jakarta ke Virginia, Amerika Serikat, sementara Salsa tetap berada di Jakarta.

Kini keduanya beranjak remaja. Terlepas jarak yang ada, Andrea dan Salsa tetap menjalin komunikasi melalui telepon video dan pesan instan.

“Selamat pagi, Salsa! Apa kabar?,” tanya Andrea Darmawan, pemeran utama How Far I’ll Go.

Film dokumenter yang disutradarai Ucu Agustin tersebut tahun lalu berhasil menjadi pemenang dalam Shorts Pitch Competition yang diadakan oleh Tribeca Film Institute di New York, dan juga diputar di sejumlah tempat termasuk Washington DC.

Sutradara sekaligus pemerhati perempuan itu bertemu Dea, sapaan akrab Andrea pada Oktober 2017 ketika ia berumur 16 tahun.

Ucu Agustin, Sutradara How Far I’ll Go menjelaskan, “Ketika saya melihat dia (Dea) sama teman-temannya, berbicara (ngobrol) tentang mode, musik, dan lain sebagainya, saya tidak melihatnya sebagai anak yang tidak bisa melihat.”

Melalui film How Far I’ll Go, Ucu ingin menjelaskan bagaimana remaja seperti Dea yang tidak bisa melihat mempersiapkan dirinya agar bisa mandiri sebagaimana orang normal lainnya.

Kepada VOA melalui telepon, Dea menjelaskan tantangan yang dihadapi tidak hanya mendaftarkan semua pihak yang terlibat mulai dari korespondensi melalui sejumlah email, pemberitahuan kepada pihak sekolah, guru dan kepala sekolah termasuk instruktur belajar mengemudi yang setelah beberapa bulan dihubungi akhirnya bersedia ikut dalam pembuatan film How Far I’ll Go.

“Aku bersama seorang guru dari sekolah menelepon dia dan membujuk instruktur tersebut,” tambah Dea.

Andrea Darmawan atau Dea, Pemeran utama film "How Far I’ll Go" (foto: courtesy).
Andrea Darmawan atau Dea, Pemeran utama film “How Far I’ll Go” (foto: courtesy).

Ketika ditemui beberapa waktu lalu, Indah Setiowati kepada VOA menjelaskan rasa bangganya sebagai seorang ibu dan orangtua sekaligus mengerti bahwa Dea bukan anak difabel yang punya banyak keterbatasan.

Indah Setiowati, Ibu Dea, mengatakan, “Dia banyak bisa mengadvokasi dirinya dan anak-anak difabel lain bahwa tidak ada yang mustahil. The sky is the limit. Tidak ada yang bisa menghalangi kemajuan seseorang termasuk Dea.”

My life perception since eight started to fade. When I was in fifth grade…and I remembered at first I was scared because I couldn’t tell when the light was on or off anymore….”

(Persepsi hidup saya sejak saya berusia delapan (tahun) mulai memudar. Ketika saya di kelas lima … dan saya ingat pada awalnya saya takut karena saya tidak bisa tahu lagi kapan lampu menyala atau mati), begitu cuplikan kisah Dea dalam film tersebut.

Indah yang menghadiri sejumlah pemutaran Film Sejauh Ku Melangkah mengemukakan respon para penonton yang positif di mana mereka mengakui bahwa keterbatasan dan ketidakleluasaan anak-anak difabel untuk mengikuti pendidikan masih ada di Indonesia.

Bagi sutradara Ucu Agustin, hal menarik dari persahabatan yang kuat itu selain keduanya tidak bisa melihat, juga perbedaan keyakinan antara kedua sahabat tersebut: Dea beragama Kristen sedangkan Salsa seorang muslim yang memakai kerudung.

Hal yang disukai dan berarti bagi Dea dalam film tersebut adalah bagian ketika di sekolah ia sedang berbicara dengan guru yang mengajarnya jurnalistik.

“Ada satu scene ketika saya ngobrol dengan guru jurnalistik. Dia tahu saya tekun dan bisa mengerjakan tugas yang diberikan. Jadi fakta bahwa saya tidak bisa melihat itu tidak menghalangi persepsinya,” pungkasnya.

Continue Reading

Film

The Front Runner, Kisah Kejatuhan Politisi AS Gary Hart

Published

on

GENCIL NEWS – Skandal terkait perempuan banyak menghancurkan karier politik kandidat pejabat yang diunggulkan di AS. Pada 1987, Gary Hart, kandidat Partai Demokrat yang diunggulkan untuk mengalahkan George H.W Bush tersungkur akibat skandal ini. Kisahnya dituangkan ke layar lebar dalam Film “The Front Runner.”

Warga paruh baya Amerika masih ingat jelas bagaimana sebuah foto seorang perempuan bernama Donna Rice yang tersenyum dipangkuan Gary Hart, kandidat unggulan presiden. Foto itu menjadi bukti kehancuran karier yang cemerlang dalam sejarah politik Amerika.

Tapi banyak yang tidak ingat bahkan mengetahui bahwa foto yang muncul dua minggu setelah skandal pada 1987 yang menyebabkan Hart mundur dari persaingan Partai Demokrat dan menghancurkan karier politiknya yang sangat menjanjikan itu, tidak pernah dikonfirmasi. Hart tidak pernah mengakui bahwa ia punya hubungan pribadi dengan Rice.

Fakta bahwa warga mengasumsikan kejatuhan Hart yang memalukan karena foto tersebut adalah salah satu dari banyak hal yang terlewatkan, kata Jason Reitman, sutradara film “The Front Runner,” yang dibintangi Hugh Jackman. Dia berperan sebagai Gary Hart senator asal Colorado yang kariernya menanjak cepat dan ambruk bahkan lebih cepat lagi.

“Mungkin dari semua tantangan yang saya hadapi, ini salah satu yang paling sulit,” kata Jackman. “Memerankan seseorang yang masih hidup, yang saya tahu akan menonton filmnya, dan menggambarkan tiga minggu terburuk dalam hidupnya merupakan tantangan besar dan saya memerankannya dengan serius.”

Fakta bahwa Rice adalah seseorang bukan sekedar perempuan berambut pirang menjadi poin yang mengilhami buku “The Front Runner,” yang terbit pada 2014 karya wartawan Matt Bai. Tapi poin yang lebih penting adalah drama kehidupan Hart, menandai momen penting dalam politik dan budaya Amerika, dimana gaungnya berlanjut sampai hari ini.

Hart jauh unggul dalam jajak pendapat untuk menjadi calon presiden Partai Demokrat pada pemilu 1988, menghadapi calon dari Partai Republik George H.W. Bush. Tapi rumor perselingkuhan di luar perkawinan muncul. Rumor tersebut mendorong wartawan harian Miami Herald,Tom Fiedler, untuk mengintai sebuah lorong dekat rumah Hart di Washington, di mana Rice usia 29 tahun diyakini tinggal.

Fiedler dan timnya mengkonfrontasi Hart. Ia menolak menjawab pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya. Segera setelah itu, di tengah pertanyaan yang tak henti-hentinya mengenai kehidupan pribadinya ia mengundurkan diri dari persaingan.

Jackman mengatakan “film ini tidak menyajikan siapa yang baik dan jahat melainkan mengamati suatu masa dan apa yang menarik dalam memandang dunia, mencoba memahami bagaimana kita sampai pada masa sekarang, masa tiga minggu yang sebenarnya titik balik. Sekarang saya mengerti bagaimana kita sampai pada situasi politik sekarang ini. “

Hart bukanlah politisi Amerika pertama yang tumbang karena skandal seks. Sebelumnya, perilaku seksual dianggap sebagai masalah yang tidak bisa dijamah, jika tidak demikian,John F. Kennedy dan Lyndon B. Johnson, tidak akan terpilih.

Film The Front Runner diputar di Amerika pada 21 November 2018. [my]

Continue Reading

Film

Javicia Leslie Bangga Bisa Berperan Sebagai Batwoman

Published

on

Javicia Leslie Bangga Bisa Berperan Sebagai Batwoman

GENCIL NEWS – Javicia leslie Adalah aktris yang pernah berperan dalam God Friended Me dan The Family Business, Javicia Leslie yang terpilih untuk menjadi pemeran Batwoman yang baru.

Diketahui sejak musim pertama selesai series televisi batwoman, pemeran utama batwoman Ruby Rose secara mengejutkan mengundurkan diri dari serial Batwoman. Padahal Batwoman musim kedua harusnya rilis pada 2021 dan akan memulai proses produksi dalam waktu dekat.

Sedangkan untuk batwoman musim kedua kali ini dikisahkan seorang warga sipil bernama Ryan Wilder dan dibuat kebalikan dari kepribadian Kate Kane. Karakter Ryan Wilder cenderung berantakan, sedikit konyol dan liar.

Rose sendiri diduga meninggalkan serial Batwoman karena dia tidak dapat menyesuaikan diri dengan kepindahannya ke Vancouver, tempat serial tersebut difilmkan.

Dia juga dikabarkan merasa terbebani oleh beban berita serialnya sendiri. CW awalnya mengumumkan bahwa mereka akan casting aktris LGBTQ lain untuk menggantikannya di serial itu.

Di sisi lain, Warner Bros Television dan CW berterima kasih pada Ruby Rose. Meski berat, ini adalah keputusan yang pada akhirnya disepakati semua pihak. Batwoman adalah salah satu serial unggulan dari The CW dan Warner Bros Television

Maka keputusan mencari pengganti ruby rose atau kate kane  untuk memerankan karakter pemeran utama batwoman pada musim ke dua jatuh kepada javicia leslie.

Meskipun Leslie menjadi orang baru yang mengambil peran Batwoman, serial TV Warner Bros itu rupanya tetap akan menghadirkan Kate Kane. Kepergian Kate Kane dibuat seolah menjadi misteri. Kabarnya, Kate Kane tidak akan lagi diperankan Ruby Rose, melainkan aktris baru.

Continue Reading

TRENDING