Connect with us

Musik

Holywings Academy Wadah Musisi dari Seluruh Indonesia

Published

on

Holywings Academy Wadah Musisi dari Seluruh Indonesia

Holywings saat ini sedang membangun label music untuk mengakomodir musisi – musisi dari seluruh Indonesia dengan membentuk Holywings Academy.

 Holywings Academy sebagai fasilitas bagi para musisi untuk belajar dan mengenal lebih dalam tentang dunia seni hiburan. 

Bersama dengan musisi ternama yaitu Anji sebagai Kepala Sekolah yang akan membantu memproduseri lagu orisinil besama Beno Louloulia sebagai music director dari para musisi terpilih yang sudah siap untuk berkarya di dunia musik dibawah naungan Holywings Records. Musisi-Musi tersebut ialah Dillon (Jakarta), El Matu (Jakarta), Agung Akhdani (Jakarta), Nanda Bams (Jakarta) Aya Gw (Surabaya), Nick Calvin(Jakarta), Grace Marla (Jakarta), Sophia Utami (Surabaya),  Adhistya Ayu (Bandung ), Zagi (Medan).

Sasaran dari Holywings Academy adalah untuk memukan talent penyanyi atau DJ dan memberikan mereka peralatan dan ilmu yang memadai, sehingga akhirnya mereka bisa jadi penyanyi dan DJ yang punya kapasitas dan kualitas terbaik.

Talent tadi direkrut dari beberapa daerah ini: Medan, Surabaya, Makassar, Bandung, dan Jakarta. 

Talent yang lolos dari beberapa audisi yang diadakan akan mendapat bimbungan langsung dari The Mentors.

Mentor ini akan dipilih dari mereka yang sudah punya pengalaman di dunia entertainment. Lalu, talent yang menonjol akan terpilih menjadi 2 kategori: Holywings Stars dan Holywings Superstars.

Holywing Stars akan punya jadwal perform di panggung Holywings yang ada di seluruh Indonesia.

Sementara itu, talent yang paling menonjol atau yang akan disebut Holywings Superstars akan masuk ke studio rekaman untuk merekam lagu original mereka yang akan diproduseri oleh Anji, yang juga berperan sebagai Kepala Sekolah dari Holywings Academy.

Nantinya, Holywings Superstars ini juga punya kesempatan untuk tampil di Holywings Music Festival yang akan diadakan di masa depan.

Dalam masa saat ini secara global, talent-talent dari Holywings Academy tetap produktif dengan mempersembahkan karya yang diproduksi dari rumah masing-masing.

Karya ini adalah Single pertama dari Holywings Academy yang berjudul ‘Hanya Sementara’. ‘Hanya Sementara’ menggambarkan sebuah keadaan yang membuat beberapa insan tidak bisa bertemu dan bersentuh dikala hati dan raga menuntut untuk bersama.

Namun, kuat hati meyakini dan berdoa bahwa ini semua hanya sementara. Percaya bahwa Hanya Sementara dapat menjadi doa kekuatan untuk tetap bertahan.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Musik

Petra Sihombing Semakin Produktif Dengan Merilis Dua Track ADU/H

Published

on

Petra Sihombing Semakin Produktif Dengan Merilis Dua Track ADUH
Petra Sihombing Semakin Produktif Dengan Merilis Dua Track ADU/H

GENCIL NEWSPetra Joshua Sihombing adlah seorang penyanyi-penulis lagu, multi-instrumentalis, dan produser musik yang pada tahun 2013 merilis lagu berjudul “Mine” yang berhasil menembus 3 juta penonton di YouTube.

Setelah 2 tahun rehat, Petra Sihombing kembali mengeluarkan sebuah EP bertajuk “Verdict Victim” di tahun 2015 dan Ia menemukan bunyi-bunyian baru dan gaya menulis lagu.

Petra Sihombing kini memproduseri beberapa rekan musisi lainnya seperti Tulus, Hindia, Sivia Azizah, Kunto Aji, Ben Sihombing, Coldiac Diastika hingga terbaru Nadin Amizah.

 Di sela kesibukannya, Petra terus menciptakan karya untuk solo karirnya, kemudian terciptalah album bertajuk “1/4” pada tahun 2018 dengan lagu yang menjadi andalan yakni “Nirmala”, “1992”, “Bad Lover” dan “Take It or Leave It” yang berkolaborasi dengan Incognito.

Kini Petra sedang dalam proses produksi album terbarunya nya yang segera akan dirilis di 2020. Semua lagu yang akan hadir di album terbaru Petra akan dirilis secara berkala di setiap bulannya pada tanggal 23.

‘gw pengen menjadi lebih konsisten, dan resolusi di tahun 2020 ini untuk 10 bulan ke depan gue akan rilis lagu setiap bulannya, setiap tanggal 23. Tungguin, ya!” – Petra Sihombing, narasi dalam video pengumuman mengenai rencana rilis albumnya di 2020 ini’. Ujar Petra.

”Adu/h”, yang merupakan rilisan kedelapan, langsung mempunyai pembeda yang sangat terasa dibandingkan rilisan-rilisan terdahulu, dengan konsep dua trek di satu rilisan. Apakah ini sebuah cara untuk tetap membuat setiap rilisan dari Petra Sihombing tetap menarik?

Sebenernya gue nggak sengaja sih, awalnya justru satu track. Tapi lama-lama gue dengerin, gue merasa harus dipisah karena ternyata punya makna yang sama-sama kuat tapi bisa saling support.

 Apakah cerita yang coba ditawarkan dari “Adu/h” dengan bentuk presentasi dua trek yang berbeda ini?

Dua lagu ini sekilas menceritakan information exchange di dunia digital yang nggak ada cukupnya. Ada beberapa cerita sih disini yang ditulis secara tidak kronologis. Tapi intinya gue dan Danilla banyak ngebahas hidup di era digital. Semacam sequel dari lagu Cerita Kita Milik Semua.

Selama masa pembatasan sosial dan karantina mandiri di beberapa bulan terakhir, penetrasi gawai pintar semakin mengambil porsi yang besar di waktu-waktu produktif kita. Bagaimana Petra melihat relasi antara karya lagu dari rilisan pertama (dari album “Semenjak Internet”) dengan kondisi nyata saat ini?

Sejujurnya di dua lagu ini nggak ada relasi ke masa pandemic waktu gue nulis sama Danilla. Cuma dengan internet yang makin “dibutuhkan” di masa seperti ini, akhirnya jadi ada hubungannya.

Kiko (putra dari Petra Sihombing) kali ini kembali mempunyai peran di karya lagu dari Petra berjudul UDAH (setelah sebelumnya di lagu “Bodoh”). Apakah ini proses yang memang sudah direncanakan sebelumnya, atau terjadi begitu saja?

Waktu itu gue lagi ngasih denger ke Sheryl lagu ini dan dia yang ngasih ide buat masukin suara Kiko. Gue awalnya agak bingung sih karena nggak tahu nyambungnya gimana. Tapi akhirnya gue nemu rekaman audio yang cocok buat lagu ini dan ternyata bisa mensupportl agunya dengan baik

Rilisan kedelapan dan sudah lebih setengah jalan menuju rilisan album, bagaimana Petra tetap menjaga tenaga dan disiplin untuk tetap berjalan sesuai rencana di tengah-tengah situasi global sekarang?

Tetep berjalan seperti biasa sih. Nggak ada yang dipaksain. Gue nggak pengen di buruburu juga soalnya. Untungnya keseluruhan udah hampir selesai, tinggal finishing touches di beberapa lagu.

Continue Reading

Musik

Gigi Band 90an Yang Masih NgeHits di Zaman Now

Published

on

Kali ini GencilNews mengajak Sobat Gencil untuk lebih dekat dengan Band Indonesia yang terkenal di era 90an, dan sampai sekarang masih tetap eksis, Gigi Band.

GENCILNEWS – Grup Band Gigi resmi dibentuk pada tanggal 22 Maret 1994. Pada awalnya Grup Band ini terdiri atas Armand Maulana sebagai vokalis, Thomas Ramdhan sebagai bassis, Dewa Budjana sebagai gitaris, Ronald Fristianto sebagai drummer , dan Baron Arafat sebagai gitaris.

Nama Gigi sendiri muncul setelah para personelnya tertawa lebar mengomentari nama “Orang Utan” yang nyaris dijadikan nama band ini. Dengan latar belakang musik yang beda-beda, mereka menggabungkannya ke dalam satu musik yang menjadi ciri khas Gigi. Album perdana yang bertema “Angan” dilempar ke pasaran dengan dukungan dari Union Artist/Musica.

Pada waktu itu Gigi belum membentuk suatu manajemen artis untuk mengelola kegiatan mereka sehingga untuk mempromosikan album perdana itu, mereka merilis dua single yang sekaligus video klip, yaitu Kuingin dan Angan. Tetapi kedua lagu andalan tersebut tidak banyak mendongkrak angka penjualan. Kurangnya promosi dan tidak adanya pengelolaan manajemen menjadi penyebab utama kegagalan album pertama group musik ini.

Akhirnya mereka membentuk Gigi Management supaya mereka menjadi lebih profesional. Album kedua “Dunia” terbilang sukses di pasaran. Dengan mengandalkan lagu unggulan pertama “Janji”, yang terjual sekitar 400.000 copy serta meraih penghargaan sebagai “Kelompok Musik Terbaik”.

Pada saat itu, manajeman Gigi terjadi keretakan dengan Baron. Video klip lagu andalan kedua “Nirwana” dibuat tanpa adanya Baron. Pada September 1995, Baron secara resmi keluar dari Group Band Gigi. Kemudian diikuti keluarnya Thomas dan Ronald yang bulan November 1996.

Akhirnya Grup Band Gigi hanya tinggal berdua saja namun tetap berusaha bertahan dan merekrut Opet Alatas (bassis) dan Budhy Haryono (drummer).

Formasi baru ini memberi warna baru pada Gigi. Pada tahun 1997 mereka mengeluarkan album keempat yang bertema 2×2 dengan menggandeng sejumlah musisi kondang, lokal dan dunia, Antara lain Billy Sheehan (Mr. Big) yang menyumbang permainan basnya yang dahsyat pada lagu mereka (Cry Baby), dan Indra Lesmana juga ikut menyumbang dalam lagu “Tractor”.

Lagu andalan “Kurindukan” ternyata kurang direspon masyarakat. Keadaan ini tertolong sama dengan adanya tur 100 kota yang menampilkan duet Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan sebagai pembukanya.

Sementara itu Thomas yang baru saja keluar dari rehabilitasi kembali ke Jakarta untuk mulai bermain musik lagi. Thomas bahkan membuat kejutan dengan menjadi bintang tamu di konser GIGI “Satu Jam Bersama Gigi” dan konser Gigi di Bandung, dengan bermain bersama di lagu “Janji” dan “Angan”. Di konser itu Gigi serasa bernostalgia dengan Thomas, bahkan mereka membawakan satu lagu yang jarang dimainkan yaitu Hasrat.

Pada tanggal 22 Maret 1999 akhirnya Thomas masuk lagi ke Group musik Gigi menggantikan posisi Opet Alatas yang sudah keluar pada tahun yang sama. Tak lama setelah itu Gigi merilis album keenam yang berjudul “Baik” pada bulan April 1999. Lagu andalan pertamanya adalah “Hinakah”.

Prahara kembali terjadi di grup musik ini. Setelah menyelesaikan promo album Salam Kedelapan, drummer Budhy Haryono menyatakan pengunduran dirinya dari Gigi.

Berita tersebut sebenarnya sudah diisukan beberapa bulan sebelumnya. Alasan Budhy keluar dari grup musik ini dikarenakan adanya perbedaan dengan beberapa personel dari grup musik ini. Menurut Armand, Budhy keluar dikarenakan sudah jenuh dengan suasana grup musik ini.

Gigi ditawari untuk menjadi band Soundtrack di film Brownies. Namun karena hengkangnya Budhy Haryono dari Gigi, membuat para personel harus bekerja keras seiring makin cepatnya rilis film tersebut, sehingga Gigi harus cepat mencari drummer untuk melanjutkan kembali rekamannya.

Akhirnya Gigi bertemu dengan Gusti Hendy yang berperan sebagai additional drum untuk album tersebut, yang pada akhirnya diangkat sebagai personel tetap di Gigi untuk menggantikan Budhy Haryono.

Baru satu tahun berkarya GIGI sudah didera masalah perdana. Setelah album Dunia (1995) dirilis, Aria Baron memutuskan untuk hengkang dari GIGI untuk melanjutkan sekolah di Amerika, justru pada saat band tersebut mulai merasakan angin segar buah kerja keras mereka dalam meramu musik. Lagu “Janji” dalam album tersebut berhasil melejitkan GIGI ke atas panggung industri musik Indonesia sebagai grup yang diperhitungkan keberadaan dan musikalitasnya.

Dengan rasa sesal (tapi juga pengertian) Baron dilepas dari GIGI. Budjana kembali main tunggal di sektor petik dan rambas senar gitar. GIGI memutuskan untuk tidak mencari pengganti Baron karena secara bobot musikalitas masih sanggup menalangi peran yang ditinggalkannya.

Terbukti pada April 1996 saat GIGI merilis album ketiganya yang berjudul 3/4 masih banyak yang menyukainya. Derajat kelarisan album dengan lagu hit “ Oo..Oo..Oo“ ini setara dengan album kedua. Di tahun 1996, Thomas dicengkeram kecanduan putaw pada kadarnya yang terparah. Dia buntu, tumpul, limbung.

Terjerumusnya Thomas ke dalam jebakan madat terjadi justru saat GIGI telah menandatangani banyak sekali kontrak untuk tur. Thomas tidak dapat mengikuti padatnya kegiatan yang sudah ada dalam daftar jadwal GIGI. Opet, yang merupakan kru Thomas, dipilih sebagai pemain pengganti untuk setumpuk sisa panggung tur GIGI karena dia yang paling akrab mengenali ciri bass-nya Thomas.

Di awal tahun 1997 hanya tinggal dua orang saja yang masih berdiri di jajaran GIGI. Sepulangnya dari panggung di San Fransisco, AS, Ronald memutuskan untuk mengikuti jejak Thomas keluar dari GIGI. Keluarnya Ronald menyimpan sebuah misteri. Tidak banyak orang tahu mengapa Ronald sekonyong-konyong menetapkan hati untuk cabut dari band yang menikmati andilnya sejak pertama berdiri itu.

Ternyata terjadi sebuah perselisihan internal, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan musik, antara Ronald dan personel GIGI lainnya. Ronald marah besar karena menanggap kawan-kawannya di GIGI mencampuri urusan pribadinya. Suasana kalut, panas, jenuh, jemu. Meski sudah dibujuk, Ronald sudah tak dapat ditahan lagi untuk tidak keluar dari GIGI. Burung kakak tua GIGI tinggal dua.

Armand dan Budjana sudah hampir patah arang dan lempar handuk ke arena tarung industri musik Indonesia. Keluarnya Thomas dan Ronald merupakan cobaan yang amat berat sehingga keduanya hampir saja memutuskan untuk membubarkan GIGI dan membentuk duo. Tapi lewat nalar dan nala yang jernih, mereka nekat untuk lanjut.

Dalam permainan bass, Opet sama sekali mampu menjadi pengganti yang baik bagi Thomas. Beberapa waktu menjadi kru-nya Thomas, bisa dibilang Opet jadi hafal luar kepala bassline-nya Thomas. Tapi bagaimana dengan pengganti Ronald di sektor gebuk drum? Nama Budhy Haryono kemudian melintas dalam benak Budjana dan Armand.

Keduanya telah mengenal Budhy sejak dia main di Jam Rock (cikal-bakal band Jamrud). Budhy sendiri pernah melamar untuk menjadi pemain tambahan untuk GIGI, tetapi untuk suatu alasan dia tidak diterima. Singkat kata, Budhy ditarik masuk ke dalam barisan band GIGI.

Dia dan Opet dianggap resmi berGIGI pada saat penggarapan album 2×2; keduanya muncul di sampul depan album tersebut. Album 2×2 ini, secara proses penciptaan, bisa dibilang sebagai album paling eksklusif yang pernah dikerjakan GIGI. Beberapa musisi dunia seperti Billy Sheehan, Harry Kim, Arturo Velasco, dan Eric Marienthal terlibat di dalamnya.

Mungkin karena merasa seperti jadi anak kecil di tengah para seniornya, Opet tidak betah berlama-lama di GIGI. Pada saat GIGI telah menandatangani kontrak tur 33 kota untuk promosi album Kilas Balik (1998) bersama Deteksi, Opet menyatakan keinginannya untuk keluar dari GIGI.

Dia menyanggupi tur 33 kota itu tetapi mensyaratkan bahwa begitu tur berakhir dia hengkang dan harus Thomas yang menggantikan posisinya. Ketika itu Thomas sudah lepas dari kecanduannya terhadap madat dan sedang menggarap proyek album Ideologi, Sikap, Otak bersama Ahmad Band. Proyek itu membuatnya kerap bertandang ke Jakarta dan bertemu dengan personel GIGI yang lain.

Di situlah Budjana dan Armand mengajak Thomas untuk kembali mengisi permainan bass untuk album terbaru GIGI, Baik (1999). Sehari setelah ajakan itu, GIGI kembali undur-diri dari keramaian dan mengudar gagasan musikal mereka untuk album baru di daerah Puncak. Dan Thomas pun ba(l)ik.

Trauma bongkar-pasang personel kembali menghantui GIGI. Kondisi kesehatan Budhy menurun drastis secara tiba-tiba ketika GIGI sedang mempersiapkan album terbaru mereka.

Proyek sisipan, pengerjaan album original sound track untuk film komedi romantis, Brownies, justru datang pada saat Armand, Budjana, dan Thomas menunggu kesehatan Budhy pulih.

GIGI kembali berongga. Tapi, atas saran Budhy sendiri dan persetujuan dari personel lainnya, Hendy diajak untuk mengisi rongga tersebut, sebagai pemain tambahan. Hendy ketika itu merupakan penabuh drum untuk kelompok musik Omelette, yang berkarya di bawah payung manajemen yang sama dengan GIGI (Pos Entertainment).

Kondisi Budhy tak kunjung membaik. Sebetulnya permainan drum Budhy sudah menunjukkan gelagat turun sejak proses rekaman album Salam Kedelapan. Campur-aduk perkara kejenuhan dan sikap bermusik yang sudah mirip seperti kerja di pabrik berpengaruh besar terhadap kebugaran tubuh Budhy.

Peran Hendy kemudian berlanjut ke album berikutnya, Raihlah Kemenangan, dan album-album berikutnya sampai sekarang. Album Raihlah Kemenangan ini menandai andil GIGI sebagai grup band pertama yang memprakarsai album pop dengan warna religi yang kemudian menjadi tren di Indonesia.

Hendy hadir sebagai suntikan semangat muda dan gagasan baru pada musik GIGI. Dengan cepat dia berhasil menyamakan frekuensi dengan Thomas sebagai penjaga ritme yang klop dan kompak. Kini Armand, Budjana, Thomas, dan Hendy adalah GIGI baru yang tetap mempertahankan kiprah dan andil kreasi mereka di blantika musik Indonesia.

Continue Reading

Musik

NEIDA HIVI! Lepas Single Anyar “Lubuk Bicara”

Published

on

NEIDA HIVI! Lepas Single Anyar Lubuk Bicara

NEIDA HIVI! Lepas single anyar bertajuk Lubuk bicara.  Ini adalah lagu pertama Neida yang akan mengantarkan para penikmat musik untuk mengenal lebih jauh sebagai penyanyi solo wanita.

Terlebih dahulu dikenal sebagai bagian dari grup musik pop HIVI! kali ini neida akan berkarya diatas kanvas kosong.

“sering kali pikiran kita sibuk membuat scenario buruk. Rasa lelah, resah akan ketidak pastian. Memang tidak ada yang tau, apakah kisahnya akan berakhir seperti yang kita mau. Tapi kenapa harus mencari jauh? Hati itu milik kamu. Ajaklah bicara, dia kuat, dia bisa membuat mu tersenyum lagi” ungkap neida mengenai lagu ini.

https://www.youtube.com/results?search_query=neida+-+lubuk+bicara

Keinginan neida untuk membuat lagu yang memilik efek “healing”. Banyak sekali hal diluar sana yang terlihat salah dan menganggu pikiran, serasa sulit untuk mencapai ketenangan.

Memang terdengar sedikit sendu namun pesan dari lagu lubuk bicara adalah agar pendengarnya dapat berpikir dan mencari ke dalam diri mereka. Karena kadang yang kita butuhkan adalah untuk berhenti sejenak dan mencari cahaya dari dalam diri kita sendiri.

Lubuk bicara akan tersedia di seluruh kanal digital pada tanggal 22 juni 2020 bertepatan dengan ulang tahun neida sendiri.

Tentang neida

Lahir 22 juni 1994, neida aleida adalah seorang penyanyi dan penulis lagu dari jakarta indonesia. Neida mulai menulis lagu sebagai bentuk untuk terapi semasa remaja nya.

Beranjak dewasa mendengarkan music jazz, pop indonesia, soul, dan musik kontemporari, warna musik neida bisa dibilang merupakan campuran dari berbagai warna tersebut.

Neida masuk ke dunia industry music di 2016 sebagai salah satu personil dari grup music yang sudah ternama di indonesia yaitu “hivi!”, sebuah grup pop indonesia.

Mempunyai sisi lain sebagai solois, merupakan mimpi dari neida untuk memperluas sisi feminis dan membagi pengalaman dan cerita dalam balutan suasana yang dingin dan melodi jazz.

Continue Reading

TRENDING