Jovan Zachary Winarno Pemuda Surabaya Jadi Tentara AL di AS
Connect with us

Inspirasi

Jovan Zachary Winarno Pemuda Surabaya Jadi Tentara AL di AS

Published

on

Jovan Zachary Winarno Pemuda Surabaya Jadi Tentara AL di AS
Tentara angkatan laut AS keturunan Surabaya, Jovan Zachary Winarno, saat sedang latihan menembak (dok: Jovan)

Gencil News – VOA – Pria asal Surabaya, Jovan Zachary Winarno (20 tahun), kini berkarir sebagai tentara angkatan laut di AS. Jovan yang dulu sama sekali tak bisa bahasa Inggris bercerita, menjadi tentara di AS banyak sekali keuntungannya, termasuk pendidikan gratis, walau harus “kuat mental.” Yuk, simak ceritanya!

Berawal dari keinginan untuk melanjutkan kuliah di Amerika Serikat, pemuda asal Surabaya, Jovan Zachary Winarno kini malah menjadi tentara angkatan laut di negeri Paman Sam itu.

Dalam unggahan video-videonya di YouTube, Jovan terlihat memakai seragam tentara lengkap sambil menceritakan mengenai kesehariannya sebagai tentara di AS.

Penampilannya dan kisahnya berhasil menarik perhatian warganet dan juga teman-temannya di Indonesia, yang kerap menanyakan kabarnya.

“Jarene kabeh kuliah, malah dadi tentara, yo opo sih kon iku?” (red: “Katanya semua kuliah, kok malah jadi tentara? Gimana sih kamu itu?”) cerita Jovan lewat wawancara Skype dengan VOA beberapa waktu lalu.

“Enggak Bisa Ngomong Inggris”

Saat menginjakkan kaki di AS pada tahun 2018, Jovan (20 tahun) mengaku “enggak bisa ngomong Inggris sama sekali.” Bertekad untuk meneruskan pendidikan, ia pun memberanikan diri untuk pindah ke AS, tepatnya ke Los Angeles, California.

Di Amerika pun, Jovan mulai “belajar sedikit-sedikit” bahasa Inggris.

“Dibilang lancar, juga enggak. Ya, lumayanlah,” ujar Jovan dengan logat Jawanya yang kental.

Jovan Zachary Winarno, tentara angkatan laut AS asal Surabaya (dok: Jovan)
Jovan Zachary Winarno, tentara angkatan laut AS asal Surabaya (dok: Jovan)

Sebelum kuliah, Jovan mengaku ingin merasakan bekerja di AS dulu. Dibantu oleh teman ayahnya, Jovan lalu pindah ke Texas untuk bekerja sebagai pelayan restoran selama enam bulan. Suatu hari ia mendapat informasi mengenai menjadi tentara di AS, yang mengubah kehidupannya.

“Awalnya enggak ada niatan sama sekali. Setelah itu ada anaknya temen papa saya, dia tawarin saya kalau mau masuk tentara. Akhirnya saya masuk, setelah tahu ada banyak benefit-nya,” kenang pria yang hobi main video game ini.

Jovan yang lahir di AS dan berkewarganegaraan AS mengaku tertarik menjadi tentara, karena berbagai keuntungan yang ditawarkan, seperti tunjangan sekolah, asuransi kesehatan, tempat tinggal, makan sehari-hari, dan biaya untuk ke tempat kebugaran.

Keluarga: ‘Ngapain masuk tentara?’

Keputusan Jovan untuk menjadi tentara sungguh mengagetkan keluarganya yang tinggal di Surabaya. Waktu itu ia meminta izin keluarganya melalui telepon.

“Awalnya (keluarga) kayak, ‘ngapain gitu masuk tentara?’” kata Jovan.

Jovan Zachary Winarno bersama keluarganya (dok: Jovan)
Jovan Zachary Winarno bersama keluarganya (dok: Jovan)

Ayah Jovan, Susanto Budi Winarno mengaku merasa “sangat berat sekali” atas pilihan anaknya. Adalah keinginannya untuk mendukung harapan dan cita-cita Jovan.

“Menurut saya itu sih terlalu berisiko. Tapi saya juga ndak bisa membatasi ya antara ruang gerak saya dan dia,” ujar Susanto Budi Winarno melalui wawancara virtual Skype dengan VOA.

Lantas, mengapa Jovan memilih angkatan laut?

“Soalnya ditawarinya itu ya, kepikirannya itu,” kata Jovan sambil tertawa.

Ikut Pelatihan, “Dimarah-marahi” Dua Minggu

Setelah memutuskan menjadi tentara angkatan laut, Jovan lalu digembleng dengan pelatihan ketat selama dua bulan. Bersama 20 orang lainnya, ia naik bus ke tempat pelatihan.

“Awalnya kaya santai gitu pas di bus, terus pas turun, ada satu (orang) pangkatnya Chief kalau enggak salah. (Dia) langsung teriak-teriak, ‘Ayo turun! Ayo turun!’ Langsung kayak ngomong kotor gitu,” cerita tentara kelahiran tahun 2000 ini.

“Kayak dimarah-marahi,” tambahnya.

Sebelum mulai pelatihan, Jovan diberi waktu 1 menit untuk menghubungi orang tuanya dan memberikan “kata-kata terakhir selama dua bulan” mengikuti pelatihan. Selama pelatihan, Jovan harus bangun sekitar jam 4 pagi dan tidur pukul 10 malam. Ia pun kerap diberi tugas untuk jaga malam sekitar 2-4 jam.

Pilih Jadi Teknisi Kapal

Awalnya, Jovan merasa takut akan pilihannya menjadi tentara.

“Soalnya kan ya, gimana ya, enggak kepikiran sekali. Kayak orang awam, kalau mikirnya tentara kan, pasti (ketat),” jelasnya.

“Kalau udah ke tentara, kan pasti, ‘oh perang ini.’ Cuman kalau udah ke sini, kalo udah masuk ke tentara, udah biasa gitu,” tambahnya.

Jovan Zachary Winarno (tengah) saat sedang tugas berlayar (dok: Jovan)
Jovan Zachary Winarno (tengah) saat sedang tugas berlayar (dok: Jovan)

Jovan pun harus mengikuti tes yang akan menentukan pekerjaannya. Ia pun lalu memilih jabatan sebagai teknisi kapal yang melakukan pengecekan pada mesin kapal angkatan laut yang tengah bersandar.

Jovan bertugas sebanyak tiga kali seminggu mulai pukul 7 pagi hingga 4 sore. Menurutnya, pekerjaan sebagai teknisi kapal tidak sulit, karena ia tinggal mengikuti buku panduan.

“Kerjanya gampang aja. Terus Sabtu, Minggu juga libur,” ujarnya.

Jovan mengaku keterbatasan bahasa terkadang menjadi kendalanya. Saat baru mulai bertugas ia mengatakan “mau ngomong kadang takut.”

“Saya biasanya (menerjemahkan) dulu kalau misalnya enggak tahu apa yang saya mau omongin. Habis itu saya baru ngomong,” katanya.

Menurut Jovan, penghasilan seorang tentara setingkat dirinya bisa mencapai sekitar 575-718 juta per tahun.

Hilang Kontak “Berhari-hari”

Kini Jovan tinggal dan bertugas di San Diego, California. Ada kalanya, Jovan mendapat tugas untuk berlayar hingga beberapa bulan. Waktu itu ia sempat hilang kontak dengan keluarganya hingga dua minggu, karena tidak ada sinyal untuk menelepon di tengah laut. Hal ini sempat membuat keluarganya panik.

“Ya, sangat khawatir sekali. Galau ya, toh? Apalagi ini memakan waktu yang cukup lama. Biasanya dia intens bel saya atau saya bel dia,” ujar Susanto.

“Saya tunggu sampai berhari-hari, waktu demi waktu. Ya, pikiran ini macam-macam dan arahnya lain-lain juga. Tapi syukurlah pada saat yang tepat dia juga hubungi saya, bahwa dia baik-baik saja ndak kurang suatu apa pun,” tambah Susanto.

Setelah bersandar, Jovan pun lalu baru menghubungi orang tuanya.

“Mereka kayak panik gitu. Ini orang ke mana? Kok enggak hubungi?” kata Jovan.

Berlayar ke Berbagai Negara

Sejak resmi menjadi tentara angkatan laut AS dua tahun lalu, Jovan yang berpangkat E4 (tamtama) sudah bernah berlayar hingga ke Panama, Ekuador, El Salvador, dan Kolombia. Terkadang ia juga harus berlayar hingga berbulan-bulan. Jauh dari keluarga dan kesulitan dalam berkomunikasi selalu membuatnya rindu keluarga.

“Pas lagi berlayar tahun lalu. Empat bulan kalo enggak salah. Jadi kita bisa kontak keluarga itu paling sehari sekali, sejam doang. Itu aja sih,” ceritanya.

Jovan Zachary Winarno saat melakukan pelatihan di Panama (dok: Jovan)
Jovan Zachary Winarno saat melakukan pelatihan di Panama (dok: Jovan)

Selain bertugas memelihara dan merawat mesin kapal, Jovan kembali mengikuti berbagai pelatihan saat berlayar.

“Jadi kita bangun itu kalau enggak salah jam 6. Terus kita siap-siap buat (sarapan) pagi. Setelah itu bersih-bersih dulu semua, terus training,” ujar Jovan.

Biasanya saat bersandar, Jovan dan tentara yang lain diberi waktu untuk jalan-jalan di negara tujuan. Namun, selama pandemi COVID-19 ini, mereka tidak diperbolehkan.

“Jadi kita pas bersandar cuman di pinggirannya doang. Enggak bisa ngapa-ngapain juga. Jadi kayak, boring gitu. Bosan,” kata Jovan.

Bertekad Ingin Kuliah

Walau kini sudah bekerja, Jovan tetap gigih mengejar cita-citanya untuk bisa kuliah di Amerika, sesuai janjinya kepada orang tua. Rencananya, Jovan ingin mengambil jurusan yang berhubungan dengan mesin, sesuai dengan profesinya.

“Di berjanji sama saya, dia harus lulus S1. Itu prinsipnya dia,” kata Susanto.

Tentara angkatan laut AS keturunan Surabaya, Jovan Zachary Winarno, saat sedang latihan menembak (dok: Jovan)
Tentara angkatan laut AS keturunan Surabaya, Jovan Zachary Winarno, saat sedang latihan menembak (dok: Jovan)

Susanto berharap, Jovan bisa menggapai cita-citanya dan lulus sebagai seorang insinyur di Amerika. Tak ketinggalan, Susanto berpesan kepada jovan agar tidak menjadi orang yang sombong.

“Jangan sombong, tetap membantu orang yang memerlukan bantuan,” ujarnya.

Kepada teman-teman yang ingin mengikuti jejak karirnya sebagai tentara, Jovan berpesan agar “kuat mental.”

“Kalau tentara kan kita harus jauh dari keluarga, dari teman. Kayak kehidupan sudah berbeda 100 persen,” jelasnya.

Jovan masih belum yakin apakah ia akan berkarir lama sebagai tentara angkatan laut. Namun, sekarang ini ia masih akan meneruskan kontrak kerjanya hingga tahun 2024. 

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Inspirasi

Lahir Kurang Sempurna, Nick Vujicic Menjadi Sosok Penuh Inspirasi

Published

on

Lahir Kurang Sempurna, Nick Vujicic Menjadi Sosok Penuh Inspirasi

Gencil News- Nick Vujicic atau Nicholas James “Nick” Vujicic adalah motivator asal Australia yang terlahir dengan Sindrom tetra-amelia.

Ketika berumur 17 tahun, Nick Vujicic mulai menjadi pembicara dalam kelompok doa dan perlahan mulai menjadi sosok penuh inspirasi.

Walau lahir dengan tubuh kurang sempurna Nick Vujicic tetap menjadi sosok penuh inspirasi dalam kalangan anak muda saat itu.

Foto : Nick Vujicic Muda/ Pinterest

Pria kelahiran Melbourne, Australia. 04 Desember 1982 tersebut kerap kali memberikan inspirasi bagi anak muda supaya selalu berpikiran positif.

Nick Vujicic tumbuh dari keluarga yang sederhananya, Ayahnya seorang pekerja kantoran biasa sedangkan ibunya adalah seorang perawat.

Mengutip dari halaman situs webnya, ia menyatakan bahwa Nick kerap kali mendapat permasalahan dari sekolah seperti bullying.

Ia juga berjuang dengan depresi dan rasa kesepian karena merasaberbeda dengan anak-anak lain sebayanya saat itu.

Pria yang memiliki nama lengkap Nicholas James Vujicic itu memang punya masa kecil yang sedikit kelam karena perbedaan fisik yang Ia miliki.

“if I fall, I Try again, and again, and again”

Sitat-Nick Vujicic

Hidupnya penuh dengan kesulitan dan kesulitan. apalagi saat itu hukum negara bagian Victoria tidakmengizinkan anak dengan cacat fisik berada dalam sekolah biasa.

Selain itu, Pernah satu kali saat berusia 10 tahun, Nick mencoba bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya kedalam bak mandi.

Tapi itu semua bisa Ia lewatkan, setelah masa sekolah Nick mulai melanjutkan ke pendidikan tinggi.

Perubahan besar dalam hidupnya berawal dari sini, Ia mencoba menjadi pembicara dalam sebuah acara motivasi dengan menceritakan kisahnya.

Selanjutnya, Setelah kegiatan tersebut hidupnya berubah sempurna. Nick selalu diundang untuk memberikan motivasi kepada para remaja dan mahasiswa.

Saat ini Ia sudah memiliki organisasi nirlaba sendiri “Life Without Limbs”

Continue Reading

Inspirasi

Perempuan Indonesia di AS Berdayakan Waria Lansia Tanah Air

Published

on

Perempuan Indonesia di AS Berdayakan Waria Lansia Tanah Air
Mami Yuli (tengah) bersama beberapa anggota Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI) yang ikut mengelola FKWI Laundry di Depok. (Foto courtesy: Nia English)

Gencil News – VOA – Seorang perempuan asal Indonesia di Maryland, AS memperoleh dana hibah ratusan juta rupiah dari kampusnya untuk memberdayakan komunitas transgender lansia di Indonesia.

Nia English mendirikan usaha laundry kiloan untuk dikelola oleh kelompok marjinal itu agar mereka lebih mandiri dan berdaya.

Nia English berusaha memberi kail, bukan ikan, untuk mensejahterakan para transgender lansia.

Nia English yang tinggal di Maryland, AS memimpin proyek pendirian FKWI Laundry dari jarak jauh karena pandemi Covid-19. (Foto: VOA)
Nia English yang tinggal di Maryland, AS memimpin proyek pendirian FKWI Laundry dari jarak jauh karena pandemi Covid-19. (Foto: VOA)

Perempuan di negara bagian Maryland ini membuka bisnis laundry kiloan di Depok, Jawa Barat. Ia menyewa kios, membeli mesin cuci dan peralatan lain, serta membayar listrik dan air untuk enam bulan ke depan. Semua proses ini dilakukan secara jarak jauh karena pembatasan sosial akibat pandemi.

Setelah berdiri, bisnisnya diserahkan kepada sebuah komunitas waria setempat.

“Laundry kiloan usaha yang pantas buat waria-waria tua karena mereka berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali. Jadi, usaha dengan tenaga lebih masuk akal,” ujarnya ketika diwawancarai VOA di Gaithersburg, Maryland.

Lewat usaha yang diresmikan pada Agustus ini, Nia ingin memberi pekerjaan sekaligus penghasilan kepada kelompok marjinal ini. “Karena kelompok ini tersisihkan karena pilihan-pilihan terkait gender, tidak sesuai dengan common idea what is sex and gender di society.”

Dikelola Komunitas Waria Lansia

Operasional sehari-harinya dipegang oleh Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI), sebuah organisasi nirlaba di Depok. Ketuanya, Yulianus Rettblaut, mengatakan dukungan semacam ini sangat tak terduga.

“Kami menganggap ini suatu mujizat yang diberikan Tuhan. Mudah-mudahan karya ini bisa menjadi berkah, sehingga temen setidaknya bisa berangkat dari usaha ini, biar bisa membuat sesuatu yang bisa dilihat orang banyak bahwa kita juga bisa berkarya,” ujarnya ketika diwawancarai jarak jauh dengan VOA.

Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI) meresmikan FKWI Laundry di Depok, Agustus 2021. Foto courtesy: Nia English.
Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia (FKWI) meresmikan FKWI Laundry di Depok, Agustus 2021. Foto courtesy: Nia English.

FKWI memiliki rumah singgah yang menampung lebih dari 800 waria, sebagian besar berusia lanjut. Sebagian diantaranya dipekerjakan di kios laundry ini, ada yang mencuci, menyetrika dan melipat baju. Mereka juga mengasah keterampilan lain.

“Aku ajarin mereka bagaimana memenej keuangannya secara sederhana, kemudian bagaimana mempertahankan mutu dari pekerjaan mereka juga harus kita tanamkan, kemudian kita ajarkan mereka bagaimana beretika secara sederhana kepada para pelangan,” ujar transpuan yang akrab disapa Mami Yuli ini.

Seorang transpuan mencuci pakaian di FKWI Laundry di Depok (foto: courtesy).
Seorang transpuan mencuci pakaian di FKWI Laundry di Depok (foto: courtesy).

Dari yang tadinya hanya menerima enam pelanggan per hari, kini FKWI Laundry melayani hampir 30 per hari. Nia berharap keadaan ini bisa terus berlanjut, agar bisnis ini bisa memiliki dampak sosial.

“Tujuannya adalah supaya revenue dan profit dari usaha ini bisa membantu rumah singgah supaya terus bisa melakukan pelayanan sosial kepada waria-waria tua yang datang ke rumah singgah untuk mendapat bantuan.”

Dapat Dana Hibah $10.000

Upaya yang dilakukan Nia ini bisa terwujud berkat dana hibah 10.000 dolar atau sekitar 140 juta rupiah yang diterimanya dari Davis Project for Peace — inisiatif yang berbasis di AS, yang bertujuan memajukan perdamaian.

Proposalnya terpilih setelah mengikuti seleksi yang diadakan oleh kampusnya, Hood College, Maryland dimana ia menjalani program sarjana jurusan Studi Global.

Scott Pincikowski, penanggung jawab program Davis Project di Hood College, mengaku sangat bangga atas pencapaian dan kontribusi mahasiswinya.

Seorang transpuan mencuci dan menyetrika pakaian di FKWI Laundry di Depok. (foto: courtesy)
Seorang transpuan mencuci dan menyetrika pakaian di FKWI Laundry di Depok. (foto: courtesy)

“Saya pikir Nia merupakan tipe orang yang kita semua cita-citakan. Dia memiliki visi untuk dirinya sendiri yang juga sangat inklusif terhadap orang lain, hidupnya berdampak pada orang lain, dia bisa melakukan perubahan atau meningkatkan kualitas hidup orang lain,” ujarnya kepada VOA.

Dosen bahasa Jerman ini juga memuji semangat belajar dan prestasi akademiknya.

Nia, ibu tiga anak yang menyebut dirinya sebagai ‘adult learner‘ atau pembelajar dewasa ini, meraih gelar Bachelor of Arts dengan predikat magna cum laude pada usia 43 tahun. Ia membuktikan bahwa, “Tidak ada kata terlambat untuk belajar.”

Continue Reading

Inspirasi

Hairani Armaya Doremi, Asal Binjai Lulusan Terbaik Universitas di AS

Perempuan asal Binjai, Sumut, Armaya Doremi, mengukir prestasi dengan meraih nilai tinggi dan lulus S2 dari universitas ternama, Northeastern, di Boston, AS. Peraih beasiswa ini terpilih sebagai pembicara utama wisuda, mewakili ratusan mahasiswa di angkatannya.

Published

on

By

Hairani Armaya Doremi, Asal Binjai Lulusan Terbaik Universitas di AS
Armaya Doremi, mahasiswi asal Binjai ditunjuk menjadi pembicara utama wisuda S2 universitas Northeastern, AS (dok: Armaya Doremi)

Gencil News – VOA- Mahasiswi S2 berprestasi asal Binjai, Sumatra Utara, Hairani Armaya Doremi, belum lama ini ditunjuk sebagai pembicara utama dalam upacara wisuda kelulusan di universitas Northeastern di Boston, Massachusets.

Kisah hidupnya yang penuh inspirasi dan kegigihannya dalam menempuh pendidikan tinggi menjadi penyemangat baginya dalam mengejar cita-cita, dengan tujuan untuk membantu sesama.

Seperti katanya, “ada beberapa level kesuksesan dalam hidup dan untuk mencapai kesuksesan itu butuh kerja keras.”

Kerja Keras “Menanggung Orang Tua”

Hairani Armaya Doremi yang akrab disapa Doremi adalah bungsu dari tiga bersaudara. Sejak masih berumur 15 tahun, Doremi sudah bekerja demi membantu orang tua.

“Doremi dari SMA udah kerja untuk menanggung orang tua,” cerita Armaya Doremi kepada VOA.

“Waktu itu bekerja sebagai SPG (sales promotion girl) kerja di mall untuk kasih-kasih brosur ke customers di mall. Trus juga sering ikut lomba nyanyi and hadiah menangnya digunakan untuk bantu orang tua juga,” kenangnya.

Armaya Doremi (tengah) bersama orang tua (dok: Armaya Doremi)
Armaya Doremi (tengah) bersama orang tua (dok: Armaya Doremi)

Sewaktu Doremi kecil, ayahnya sempat membangun usaha bengkel mobil. Namun, bisnisnya kian menurun dan seiring bertambahnya usia, akhirnya dia menutup bengkel tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Doremi lalu membantu ayahnya membuka usaha kecil sebagai distributor gas elpiji.

“Doremi itu sosok anak yang baik, gigih, bekerja keras,” ujar Umi Kalsum, ibu Doremi, kepada VOA belum lama ini.

“Dia menyayangi keluarga, menyayangi orang tua,” tambahnya.

Namun, pekerjaan tidak membuat doremi lupa akan segalanya, khususnya dunia pendidikan. Perempuan kelahiran tahun 1989 ini berhasil mendapat gelar D3 jurusan pariwisata dari Universitas Sumatra Utara di Medan.

Siapa yang menyangka bahwa bakatnya di dunia tarik suara lalu mendatangkan peruntungan dan membawanya ke ajang Indonesian Idol pada tahun 2010. Pada waktu itu Doremi sudah bekerja sebagai penyanyi dan DJ.

Setahun kemudian, ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan menempuh pendidikan S1 jurusan komunikasi di Universitas Prof.Dr. Moestopo Beragama di Jakarta.

Raih Beasiswa Sempat Kena Tipu

Sewaktu kuliah di Jakarta, Doremi sempat bekerja selama 5 tahun dengan gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, yang pada waktu itu belum menjabat sebagai gubernur.

“(Saya rasa) dia suka work attitude Doremi. Suka dengan cara kerja pada saat sama dia kerja lima tahun. (Lalu) dia kasih kesempatan, ‘Armaya, kamu S2 aja,’” kenang Doremi

Pada waktu itu ia mendapat tawaran untuk meneruskan studi di Melbourne, Australia. Kesempatan yang ada di depan mata langsung diambilnya. Namun, Doremi menyadari kelemahannya. Ia sama sekali tidak menguasai bahasa Inggris

Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mendaftarkan diri untuk les bahasa Inggris secara intensif selama 10 bulan. Lagi-lagi kegigihannya dilirik oleh Viktor, yang lalu malah menganjurkan Doremi untuk menempuh S2 di Amerika Serikat.

Walau bimbang karena akan tinggal berjauhan dari keluarga, Doremi terus belajar bahasa Inggris, hingga lulus tes TOEFL, setelah 7 kali gagal.

Akhirnya Doremi menemukan kampus impiannya, universitas Northeastern yang menawarkan jurusan yang diminatinya.

I like public relations, jadi Doremi penginnya ambil yang related,” jelas perempuan kelahiran Medan ini.

Walau peluang sudah terbuka, perjalanannya untuk meneruskan pendidikan di AS tidaklah mulus. Ia sempat titipu oleh agen yang mengatakan akan mendaftarkannya ke universitas tersebut.

“Dibohongi sama agency, uangnya dilarikan, karena katanya mau daftarin ke Northeastern, ternyata mereka enggak daftar tapi uangnya diambil,” kenang Doremi.

Terlepas dari semua itu, akhirnya Doremi terus maju sampai akhirnya berhasil diterima di universitas Northeastern, AS.

Bertahan di Udara Dingin

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di AS tahun 2018, Doremi langsung disambut udara dingin yang sangat bertolak belakang dengan di Indonesia.

Subhanallah, udah enggak bisa lagi deh. Dingin banget. Akhirnya cari jalan sendiri gimana supaya ke dorm (red. asrama).” cerita Doremi.

Armaya Doremi, mahasiswi S2 universitas Northeastern di Boston, Massachusets (dok: Armaya Doremi)
Armaya Doremi, mahasiswi S2 universitas Northeastern di Boston, Massachusets (dok: Armaya Doremi)

Selama empat bulan, Doremi memilih untuk tinggal di asrama sebagai caranya untuk mempelajari kebudayaan Amerika, serta proses belajar para mahasiswanya.

Sebagai caranya lagi untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus, Doremi lalu mendaftarkan diri ke program pra S2 di universitas Northeastern selama dua semester.

“Pada saat itu belajar American culture, belajar bagaimana cara menulis di graduate school, bagaimana cara membaca article or case study di graduate school. Jadi kayak build critical thinking sebagaimana anak S2 di Amerika,” jelasnya.

Beberapa bulan pertama, Doremi mengaku sempat mengalami gegar budaya dan rindu kampung halaman, ditambah lagi udara dingin yang membuat seluruh badannya gatal dan sakit setiap minggu.

“Tiap hari telepon sama orang tua kan, video call. Alhamdulillah teknologi (memecahkan) segalanya,” kata Doremi.

Belajar Mandiri di Amerika

Tinggal di negara yang asing baginya memaksa Doremi untuk belajar lebih mandiri dan menghargai orang lain. Pasalnya, Doremi harus tinggal di kamar asrama kecil, bersama beberapa teman yang berasal dari negara yang berbeda. Tanpa disangka, hal ini meninggalkan kesan tersendiri baginya.

“Doremi satu kamar sama orang Korea, yang kita literally punya different culture. Jadi kita punya dua tempat tidur, kita punya dua desk, dorm kita kecil banget. Jadi mau telepon harus suaranya kecilin dikit. Mau ke kamar mandi juga harus bersihin kamar mandinya, karena supaya roommate yang lain bisa (pakai), bisa bersih,” kata Doremi.

Hal ini mendorongnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan kuat.

Tidak hanya beradaptasi di lingkungan baru yang menjadi tantangan, Doremi juga berusaha untuk hidup hemat dan beradaptasi dengan makanan yang ada.

“Bulan ke-2, ke-3 sampai setahun itu Doremi cuman makan nasi sama sup kentang, sama wortel yang Doremi rebus, pakai telur mata sapi setiap hari,” kata Doremi.

“Doremi memang enggak suka makan sushi. Seumur hidup enggak pernah makan sushi, enggak pernah makan steak pada saat itu. Enggak pernah makan makanan mahal lah, karena kan memang duitnya dulu enggak ada untuk beli makanan,” tambahnya.

Berjuang dan Fokus di Kelas

Di luar kehidupan asrama, Doremi masih harus berjuang untuk berhasil di kelas.

“Enggak pernah putus asa sih. Insyaallah enggak pernah putus asa,” kata Doremi.

Kelemahannya dalam bahasa Inggris menjadi penyemangatnya untuk terus fokus dan belajar setiap hari.

“Tantangannya itu bagaimana Doremi bisa (berkompetisi) dengan mereka dan bisa sama. Jadi kayak enggak ada gap, between Doremi yang enggak bisa bahasa Inggris, sama siswa-siswa yang ada di kelas dari negara lain,” ujarnya.

Doremi mengaku sangat menikmati proses belajar di Amerika yang menurutnya berbeda dengan di Indonesia.

“Cara ngajarnya juga lebih independen ya. Independennya itu kita diajarin untuk berekspresi lebih dalam, kita diajari untuk lebih bisa menggunakan critical thinking untuk mengungkapkan pendapat kita,” jelasnya.

Menurut Doremi, hubungan antara guru dan mahasiswa juga dekat. Universitas juga menyediakan fasilitas yang lengkap, termasuk para tutor yang siap membantu para mahasiswa setiap saat.

“Setiap ada assignment Doremi datang ke tutor Doremi. Tanya ini gimana, terus balik lagi buat essay, draft-nya balik lagi tanya,” kata Doremi.

Semasa kuliah, Doremi berusaha untuk selalu duduk di depan, banyak bertanya, dan menyelesaikan tugas dengan tepat waktu. Semua ini ia lakukan untuk mendapatkan nilai yang bagus.

“Jadi goal itu yang Doremi tancapkan, Doremi cuman pengin jadi student terbaik,” tegasnya.

Aktif di Kampus dan @StudywithArmaya

Sosok Doremi yang selalu bekerja keras kembali terlihat di dunia kampus. Ia bekerja sebagai koordinator bagian media dan yang membantu para mahasiswa internasional dalam beradaptasi di kampus.

Sebagai penyanyi, ia juga kerap diundang untuk tampil di berbagai acara yang diselenggarakan oleh komunitas internasional, seperti India dan Vietnam. Tidak hanya itu, ia juga kerap diundang untuk menjadi pembicara di seminar, di mana ia menjadi wakil mahasiswa internasional dari Indonesia.

Armaya Doremi saat tampil menyanyi bersama teman-teman di AS (dok: Armaya Doremi)
Armaya Doremi saat tampil menyanyi bersama teman-teman di AS (dok: Armaya Doremi)

Dari pengalamannya sebagai mahasiswa internasional, Doremi lalu membangun komunitas di Instagram @studywitharmaya dan mengadakan webinar yang dihadiri sekitar 60 orang. Melalui webinar ini, Doremi menjelaskan mengenai proses menuju studi di luar negeri dan berbagai hal yang perlu dipersiapkan.

“Semua pertanyaan yang Doremi dulu hadapi ternyata mereka juga punya. Doremi pengin jadi salah satu sumber untuk mereka, kasih informasi apa yang mereka mau, karena Doremi kan udah lewatin,” jelasnya.

Doremi melihat banyak peserta webinarnya yang malu berbahasa Inggris. Maka, ia pun mengadakan webinar khusus untuk topik percakapan dalam bahasa Inggris.

“Mereka ada yang belum bisa ngomong Inggris, tapi pengin sekolah di Amerika. Nah, menurut Doremi itu sangat sayang banget,” jelasnya.

Kandidat Mahasiswi Terbaik 2020-2021

Prestasi dan kerja keras Doremi selama tiga tahun di universitas Northeastern pun akhirnya terbayarkan. Tahun ini ia lulus dan dinobatkan sebagai salah satu kandidat mahasiswi terbaik di jurusannya yang berpeluang mendapatkan penghargaan “Top Recognition” untuk tahun ajaran 2020-2021.

Penghargaan ini dianugerahkan kepada mahasiswa dengan portofolio terbaik. Portofolio ini berisi hasil tugas Doremi selama menempuh pendidikan S2. Peraih penghargaan akan diumumkan setelah semester musim panas berakhir.

Salah satu tugas akhir Doremi juga berhasil mendapat nilai terbaik di kelasnya. Untuk tugas akhirnya ini, Doremi melakukan penelitian di bidang media sosial, di mana ia berperan sebagai konsultan untuk salah satu restoran ternama di Boston, Mida Restaurant.

“Doremi (membantu) restorannya untuk membangun mereka punya social media. Dan Doremi berhasil bantu restorannya untuk naikin followers (secara organik). Berhasil membantu mereka untuk raise brand awareness di Boston, (membantu) mereka untuk gain revenue restoran,” jelas Doremi.

Keuletan dan keberhasilan Doremi dipuji oleh sang pemilik restoran, Douglass Williams.

“(Armaya) menempatkan bisnis saya dalam sorotan yang lebih besar melalui media sosial, melalui strategi promosi dan pemasaran umum. Dia belajar sambil bekerja. Dan dia cemerlang, karena hal ini tidak mudah. Ini bisa dikatakan sebagai sebuah pekerjaan,” ujar Douglass Williams.

“(Mungkin kelihatannya) mewah dan glamor untuk bekerja di bidang media sosial dan sepertinya menyenangkan. Tapi itu adalah hasil akhir dari kerja keras,” tambahnya.

Jadi Pembicara Utama Wisuda

Doremi berangan-angan untuk bisa membagikan kisah hidup dan perjalanannya hingga sampai pada titik yang sekarang ini. Inilah yang mendorongnya untuk mendaftarkan diri sebagai pembicara utama wisuda di kampusnya.

Doremi lalu menulis naskah pidatonya dan juga merekam dirinya berpidato. Naskah dan video tersebut, beserta rekomendari dari 5 dosen ia berikan kepada panitia yang akhirnya memilihnya untuk menjadi pembicara utama wisuda tahun ini.

“Doremi tanya apa nih kriterianya yang membuat Doremi tuh terpilih. Terus mereka bilang, dengan story kamu yang sangat (inspiratif) dan juga cara kamu speech di video itu, kita yakin bahwa kamu bisa membawa suasana yang bagus untuk di commencement speaker,” kata Doremi.

Armaya Doremi, mahasiswi asal Binjai saat menjadi pembicara utama wisuda S2 universitas Northeastern, AS (dok: Armaya Doremi)
Armaya Doremi, mahasiswi asal Binjai saat menjadi pembicara utama wisuda S2 universitas Northeastern, AS (dok: Armaya Doremi)

Doremi berpidato mewakili ratusan lulusan di angkatannya pada acara wisuda yang berlangsung di Fenway Park, stadion tim baseball Red Sox Boston. Pidato Doremi ditonton oleh ratusan orang, baik secara tatap muka langsung mau pun virtual, sesuai dengan protokol kesehatan di era pandemi COVID-19.

Lewat pidatonya Doremi yang mengenakan kebaya tradisional Indonesia di balik toganya berseru kepada para lulusan tahun ini untuk meraih kesempatan yang ada dan “jangan takut ambil risiko,” dengan mengutip pesan dari presiden pertama Indonesia, Soekarno:

“Barang siapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam.”

“Karena mungkin ada sesuatu yang berharga dan penting menunggumu,” lanjut Doremi dalam pidatonya.

Doremi pun memberikan kejutan pada akhir pidatonya, dengan menyanyikan beberapa bait lagu “Feeling Good,” yang dipopulerkan oleh penyanyi legendaris, Nina Simone, pada tahun 1964.

Pidatonya dipuji oleh Mary Ludden, Dekan Sementara yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Senior, yang mengatakan, “Sepertinya kita punya calon dekan baru!”

Ibu Armaya Doremi, Umi Kalsum, turut menyimak pidato puterinya secara virtual dari Indonesia (dok: ZOOM/Armaya Doremi)
Ibu Armaya Doremi, Umi Kalsum, turut menyimak pidato puterinya secara virtual dari Indonesia (dok: ZOOM/Armaya Doremi)

Lewat virtual, Umi Kalsum pun ikut menonton puteri bungsunya berpidato sambil mengusap air mata.

“Saya sedih, haru, gembira, bangga. Yah, semualah bercampur. Karena dialah mengangkat derajat orang tua, dia adalah kebanggaan,” ujar Umi Kalsum, ibu Doremi.

Untuk ke depannya, Doremi berencana untuk mengembangkan komunitas “Study with Armaya” dan membantu orang-orang yang ingin belajar bahasa Inggris atau berencana melanjutkan studi ke Amerika.

Selain itu, ia juga ingin membuka agen media sosial untuk membantu usaha kecil yang ingin mengembangkan bisnisnya.

Armaya Doremi, mahasiswi asal Binjai berprestasi lulusan S2 universitas swasta ternama di AS (Dok: Armaya Doremi)
Armaya Doremi, mahasiswi asal Binjai berprestasi lulusan S2 universitas swasta ternama di AS (Dok: Armaya Doremi)

Satu hal yang tidak ia lupakan adalah untuk berterima kasih kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laikodat.

“Pengin pulang ke NTT untuk membantu, untuk terima kasih ke pak gubernur, mau tanya apa yang bisa Doremi bantu dari hasil S2 Doremi,” kata Doremi.

Kesuksesan Doremi berkaca kembali pada dirinya. Kejujuran dan disiplin menjadi kunci keberhasilannya.

“Disiplin waktu, disiplin belajarnya, jangan lupa doa juga sama Tuhan karena kerja keras sama ditambah doa akan menghasilkan hasil yang sangat lebih bagus,” pungkas Doremi.

Tak lupa ia mendorong teman-teman agar fokus dalam melakukan apa yang diinginkan, untuk diri sendiri dan bukan untuk orang lain.

Continue Reading

Inspirasi

Vidya Sinisuka Perempuan Indonesia Berprofesi di Industri Pertambangan Migas

Published

on

Vidya Sinisuka Perempuan Indonesia Berprofesi di Industri Pertambangan Migas
Vidya bersama rekan kerja yang mayoritas laki-laki (dok. pribadi).

Gencil News – VOA – Vidya Sinisuka adalah ahli struktur (construction platform) di Norwegia. Memimpin tim dengan mayoritas laki-laki dari Eropa, Vidya membuktikan kemampuan dan pengalamannya.

Ia mengungkapkan tantangan yang dihadapinya sejauh ini adalah pandangan kaum pria bahwa perempuan sebaiknya tidak bekerja dalam sektor yang mereka dominasi.

Itu diwujudkan dengan keengganan atau penolakan mereka dalam mengerjakan tugas, walaupun akhirnya mereka menuruti apa yang ia perintahkan.

“Ketika kita menjadi seorang pemimpin maka laki-laki itu merasa bahwa peranan mereka diambil alih,” tukasnya.

Tantangan lain, yang secara pribadi dirasakan perempuan yang menjadi minoritas dalam bidang pekerjaannya adalah rasa sepi. Terutama ketika tim mencapai keberhasilan tertentu, ia hanya sendiri di antara rekan-rekan pria yang merayakan kesuksesan yang mereka raih, Vidya mengungkapkan kepada VOA.

Sementara, Maria Sianipar berprofesi sebagai process safety engineer di Surabaya, Jawa Timur. Ia mengaku pernah merasa diremehkan. Perempuan lulusan ITB itu bersama rekan-rekan perempuan lainnya berharap mendapat peluang berkarir dan kesempatan promosi jabatan yang sama dengan kaum pria.

“Kalau yang saya alami, teman-teman perempuan saya pernah curhat juga, sepertinya kami delay (terhambat, red.) untuk jenjang itu (promosi karir) dibandingkan teman-teman yang pria,” ungkap Maria.

Maria melakukan pekerjaan konstruksi Offshore (dok. pribadi).
Maria melakukan pekerjaan konstruksi Offshore (dok. pribadi).

Dr. Restu Juniah, dosen pengajar di Universitas Indonesia dan Universitas Sriwijaya berpandangan dunia kerja dalam sektor pertambangan dan migas ibarat dua sisi mata uang yang menjanjikan penghasilan tinggi namun pada sisi lain penuh dengan tantangan.

Kepada VOA, praktisi sekaligus dosen pengajar bidang pertambangan dan lingkungan migas itu menjelaskan bahwa perempuan berprofesi dalam sektor migas sebaliknya justru menghadapi tantangan itu sebagai suatu kesempatan.

Maria mendaki gunung di saat tidak bekerja (dok. pribadi).
Maria mendaki gunung di saat tidak bekerja (dok. pribadi).

Restu mencatat lima perempuan Indonesia yang hingga kini berhasil mencapai posisi manajemen tertinggi dalam sektor tersebut.

“Bahwa mereka bisa melewati tantangan tersebut dan mencapai posisi nomor satu (dalam posisi direktur utama atau presiden direktur),” kata Restu.

Vidya menegaskan dukungan harus diberikan kepada perempuan yang berprofesi dalam industri tambang dan perminyakan. Ibu dari tiga anak yang telah lebih dari 13 tahun berprofesi dalam sektor tambang dan perminyakan itu merasa dihargai oleh pemerintah Norwegia dan perusahaan tempat ia bekerja.

Vidya Sinisuka dan kolega di bidang migas makan malam bersama (dok. pribadi).
Vidya Sinisuka dan kolega di bidang migas makan malam bersama (dok. pribadi).

Ia merasa beruntung bisa menjalani pekerjaannya sekarang, bidang yang diminatinya. Selain itu, ia merasa tenang karena tersedia lembaga penitipan anak yang nyaman dan adanya jaminan kesehatan bagi anak-anak. Hanya satu kekurangannya: ia tidak mempunyai sanak saudara atau teman yang dapat menolong kalau ia menghadapi tantangan sebagai perempuan untuk tetap terus bekerja.

“Ketika hamil, saya diberi kesempatan cuti selama 1 tahun dengan gaji 100% dibayar oleh perusahaan dan pensiun juga tetap berjalan,” ujar Vidya.


Berbekal pengetahuan semasa kuliah pada jurusan teknik kimia, Maria memberi harapan bagi rekan dan perempuan muda Indonesia agar terus berkontribusi dan berkarya bagi Indonesia.

Ia berpesan, “Untuk rekan-rekan, adik-adik yang di luar sana, yang masih belajar, yang belum tahu mungkin cita-citanya…mungkin dari sekarang bisa dipikirkan.”

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

Advertisement

TRENDING