Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan – Gencil News
Connect with us

Mimbar Islam

Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan

Published

on

Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan

GENCIL NEWS – Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan? Begitulah sebuah pertanyaan yang terlontar dari seorang jamaah. Ada orang yang mampu secara ekonomi tetapi dia tidak mau ibadah qurban dengan alasan lebih baik untuk membantu orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan. Berqurban atau Bersedekah, mana yang Didahulukan, bagaimana hukumnya?

Begini jawabannya:

Saat mensifati orang-orang beriman, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ

Mereka itu bergegas dalam melakukan kebajikan dan merekalah orang-orang yang paling dahulu memperolehnya. (QS. Al-Mu’minun : 61)

Bergegas dan selalu ingin terdepan dalam ibadah, artinya mereka punya ambisi besar meraih pahala Allah ‘azza wa jalla. Inilah sifat para penduduk surga.

Saat kita bertemu sebuah keadaan, dimana di dalamnya berkumpul banyak ibadah, maka langkah yang tepat seorang mukmin adalah mengikuti kaidah berikut:

Pertama, Al-Jam’u aula minat tarjih.

الجمع أولى الترجيح

Artinya, menggabungkan selama itu mungkin, lebih baik daripada memilih salah satu.

Misal, pada saat tiba moment berkurban, kita mampu berkurban, dan mampu juga bersedekah. Maka selama kita mampu melakukan keduanya, mengapa tidak? Jika kita bisa memborong pahala, kenapa tidak kita lakukan? Karena Allah telah memotivasi kita untuk terdepan dan menjadi juara dalam ibadah.

فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ

Berlomba-lombalah meraih kebaikan. (QS. Al-Baqarah : 148)

Dalam hal duniawi saja, seorang pengusaha saat dia mendapatkan dua proyek dengan profit yang besar, kemudian dia mampu menggarap keduanya dalam satu waktu, tanpa ragu dia akan memilih langkah itu. Karena sadar keuntungan besar yang akan dia dapatkan.

Mengapa dalam hal akhirat, ketika kita mampu melakukan langkah ini, tidak kita upayakan?

Kedua, Idza Tazaahamat al-Masholih quddimal a’la ‘alal adna.

إذا تزاحمت المصالح قُدِّم الأعلى على الأدنى

Artinya, jika berkumpul dalam satu waktu beberapa kebaikan/ibadah (maslahat), maka dahulukan kebaikan yang paling afdhol.

Kaedah ini bisa kita terapkan saat kita tidak mampu mengkompromikan ibadah-ibadah yang berkumpul dalam satu kesempatan.

Contohnya ketika bertemu dengan hari raya Qurban, kita memiliki kemampuan untuk berqurban. Di sisi lain, uang untuk membeli hewan qurban itu juga bisa disalurkan sebagai bantuan kepada kaum fakir.

Ingin mengupayakan kedua ibadah itu, yaitu : berqurban dan bersedekah, tidak mampu. Maka kita pilih ibadah yang paling afdhol.

Manakah yang lebih afdhol Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan?

Kita dapat ketahui ini dengan melihat jenis waktu pelaksanaan dua ibadah tersebut. Karena waktu ibadah ada dua macam:

[1] Muwassa’ (Ibadah yang waktunya longgar)

[2] Mudhoyyaq (Ibadah yang waktunya sempit)

Ibadah yang waktunya sempit / terbatas (Mudhoyyaq), tentu lebih layak kita prioritaskan. Berqurban misalnya, waktunya sangat terbatas. Hanya di 10 Dzulhijjah saja. Hanya sekali dalam satu tahun. Maka ibadah ini lebih layak kita utamakan.

Adapun menyantuni orang-orang yang membutuhkan, waktunya longgar (Muwassa’), bisa dilakukan di selain 10 Dzulhijjah, kapan saja bisa.

Dengan demikian, seorang telah memilih langkah yang bermaslahat. Karena ada kemungkinan dia dapat melakukan kedua ibadah tersebut. Di hari raya Qurban dia berqurban, kemudian di luar hari raya Qurban, dia bisa bersedekah. 

Berbeda jika dia tinggalkan berqurban di hari raya Qurban, kemudian lebih memilih berderma, maka dia akan kehilangan kesempatan mendapatkan pahala berqurban, dan hanya bisa melakukan satu ibadah saja diantara dua ibadah harta ini, yaitu bersedekah, yang mana waktunya longgar.

Wallahua’lam bis showab. (Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Doa Kami pada Bulan Ramadhan ini Yaa Allah

Published

on

Doa Kami pada Bulan Ramadhan ini Yaa Allah

Gencil News – Doa Kami pada Bulan Ramadhan ini Yaa Allah. Manusia terlahir dalam keadaan fitrah kemudian berkembang menjadi anak-anak, remaja, dewasa, dan menjadi orang tua. Saat ini lah manusia kerap berbuat dosa kepada Allah ta’alaa maupun kepada orang lain. 

Begitu kita beranjak dewasa, kita adalah manusia yang sering berbuat dzalim, sering berbuat dosa, baik terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap Allah ta’alaa.

Saat tumbuh menjadi dewasa manusia kerap lupa bersyukur kepada Allah dan justru seringkali berkeluh kesah, serta membangkang terhadap ajaran Allah ta’alaa. Karena itu, manusia membutuhkan suatu cara untuk kembali menjadi fitrah seperti saat bayi.

Dengan demikian, lanjutnya, saat nantinya dipanggil kembali oleh Allah ta’alaa, manusia dapat mati dalam keadaan bersih dari dosa. 

Dalam konteks inilah Ibadah di Bulan Suci Ramadhan menjadi sangat penting untuk melebur dosa-dosa kita manusia.

Nabi sholallahu ‘alaihi was salam bersabda: ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR Bukhari dan Muslim)

Doa kami yaa Allah

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ فِيْهِ رَحْمَةَ الأَيْتَامِ وَ إِطْعَامَ الطَّعَامِ وَ إِفْشَاءَ السَّلاَمِ وَ صُحْبَةَ الْكِرَامِ بِطَوْلِكَ يَا مَلْجَأَ

الآمِلِيْنَ

آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

Allâhummarzuqnî fîhi rahmatal aytâm wa it’âmitha’âm wa ifsyâis salâm wa suhbatil kirâm bithawlika yâ malja-al âmilîn

Aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Ya Allah, anugerahilah kepada kami rasa sayang terhadap anak-anak yatim dan suka memberi makan (orang miskin) serta menyebarkan kedamaian dan bergaul dengan orang-orang mulia dengan kemurahan-Mu wahai tempat berlindung bagi orang-orang yang berharap.

Kabulkanlah wahai Rabb semesta alam.

Demikian, Doa Kami pada Bulan Ramadhan ini Yaa Allah. WaAllahu ‘alam.

Continue Reading

Mimbar Islam

Ria Norsan Bagikan 500 Paket Sembako Untuk Dhuafa

Published

on

By

Ria Norsan Bagikan 500 Paket Sembako Untuk Dhuafa
Pembagian paket sembako oleh Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan

Gencil News – Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyerahkan 500 paket sembako untuk kaum dhuafa, di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Senin (19/4/2021).

Jemaah Sajadah Fajar dan juga Dewan Masjid Indonesia Kalbar ini menjadi insiator penyerahan paket sembako tersebut.

Sebanyak 500 paket sembako dihimpun dari berbagai kalangan, baik masyarakat yang mampu maupun instansi swasta. Yang selama ini telah memberikan banyak kontribusi kepada kegiatan dakwah Sajadah Fajar dan DMI Provinsi Kalbar.

Wagub Kalbar yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Kalimantan Barat mengatakan, sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda, bahwa sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.

“Alhamdulillah, tadi kita sudah melaksanakan shalat subuh di bulan Ramadhan yang ketujuh. Saya tadi berjamaah bersama Jemaah Sajadah Fajar dan juga Jemaah Masjid Raya Mujahidin,” ungkap Norsan.

Selain shalat berjamaah, kata dia, ada juga agenda penyerahan 500 paket sembako ke kaum dhuafa, yatim piatu, serta fakir miskin yang membutuhkan.

“Bantuan tersebut berdasarkan inisiasi Jemaah Sajadah Fajar dan Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kalimantan Barat,” ujarnya

Ria Norsan menambahkan, DMI Provinsi Kalbar dan juga Jemaah Sajadah Fajar. Juga akan menyerahkan kurang lebih seribu lima ratus sembako lagi kepada marbot dan takmir masjid. Bantuan tersebut nantinya akan dikirim ke masjid-masjid bersangkutan atau masjid-masjid tersebut mengambil di Masjid Raya Mujahidin.

“Hal ini agar tidak terjadi kerumunan dan kita tetap menerapkan protokol kesehatan, demi menjaga penularan Covid-19,” pungkasnya

Continue Reading

Mimbar Islam

Bolehkah Para Pekerja Kasar & Berat untuk Tidak Berpuasa pada Bulan Ramadhan?

Published

on

Bolehkah Para Pekerja Kasar & Berat untuk Tidak Berpuasa pada Bulan Ramadhan?

Gencil News – Bolehkah Para Pekerja Kasar & Berat untuk Tidak Berpuasa pada Bulan Ramadhan? Masalah seperti ini, banyak ditanyakan oleh saudara-saudara kita, terutama para pekerja berat.

Lalu bagaimana jawabannya?

Untuk mengetahui jawabannya, mari kita perhatikan penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahulloh, sebagai berikut:

الأصل وجوب صوم رمضان ، وتبييت النية له من جميع المكلفين من المسلمين ، وأن يصبحوا صائمين إلا من رخص لهم الشارع بأن يصبحوا مفطرين ، وهم المرضى والمسافرون ومن في معناهم

“Hukum asalnya adalah wajib berpuasa ramadhan, dan berniat untuk puasa sebelum Shubuh bagi seluruh kaum muslimin.

Dan wajib bagi mereka untuk menjalani puasa sejak pagi hari, kecuali bagi mereka yang mendapatkan keringanan dari syariat untuk tidak puasa. Seperti: orang yang sakit, musafir, dan yang semakna dengan mereka (yakni yang hukumnya disamakan dengan mereka).”

وأصحاب الأعمال الشاقة داخلون في عموم المكلفين وليسوا في معنى المرضى والمسافرين ، فيجب عليهم تبييت نية صوم رمضان وأن يصبحوا صائمين ، ومن اضطر منهم للفطر أثناء النهار فيجوز له أن يفطر بما يدفع اضطراره ثم يمسك بقية يومه ويقضيه في الوقت المناسب

“Sedangkan para pekerja keras, termasuk muslim mukallaf (yang terbebani syari’at), dan mereka tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan orang yang sakit atau musafir. Sehingga (tetap) wajib bagi mereka untuk berniat (menetapkan niat untuk) berpuasa ramadhan dan menahan makan minum sejak pagi.

Namun jika diantara mereka ada yang terpaksa membatalkan puasa di siang hari (karena beratnya pekerjaan yang dialaminya), itu dibolehkan sekedar menutupi kondisi darurat yang dia alami, kemudian melanjutkan puasa di sisa harinya, lalu nanti di-qadha’ di lain hari.”

ومن لم تحصل له ضرورة وجب عليه الاستمرار في الصيام ، هذا ما تقتضيه الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة ، وما دل عليه كلام المحققين من أهل العلم من جميع المذاهب .

“Sedangkan mereka yang tidak terpaksa membatalkan puasa, tetap wajib melanjutkan puasanya.

Demikian kesimpulan berdasarkan dalil-dalil syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunah, dan kesimpulan dari keterangan para ulama muhaqqiq (peneliti) dari semua madzhab…………”

(Sumber : Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz, 14/245).

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baaz rohimahulloh juga pernah ditanya: 

“Aku berpuasa ramadhan di negeriku, walhamdulillah. Akan tetapi karena banyaknya pekerjaan dan terlihat berat, aku pun kelelahan. Apakah aku memiliki kewajiban lain (selain puasa ramadhan tersebut), ataukah aku harus meninggalkan pekerjaan berat semacam itu dan aku memulai berpuasa?”

Syaikh Ibnu Baaz rohimahulloh menjawab:

“Hendaklah engkau berpuasa sebagaimana yang diperintahkan oleh Alloh, dan tinggalkanlah pekerjaan berat yang bisa membahayakanmu.

Kerja sajalah semampumu, dan tetap sempurnakanlah puasamu.

Jika pekerjaan itu dilakukan 10 jam dan itu memberatkanmu, maka jadikanlah pekerjaan tersebut menjadi 7 jam, 6 jam, atau 5 jam, sehingga engkau (tetap) mampu berpuasa.

Jangan lakukan pekerjaan yang bisa membahayakanmu atau membuatmu jadi lemas.

Karena sekali lagi, Allah Ta’ala telah mewajibkanmu untuk berpuasa, dan engkau dalam keadaan sehat dan selamat, tidak sakit dan bukan pula musafir.

Maka wajib bagimu berpuasa dan meninggalkan pekerjaan yang melelahkan, membuat capek dan membahayakan, atau minimal engkau memilih untuk meminimalkan (menyedikitkan)  pekerjaanmu, (agar kamu tetap bisa menunaikan kewajiban berpuasa).”

Sumber fatwa : http://binbaz.org.sa/mat/13354

Demikianlah, semoga nasehat ini bermanfaat untuk kita semuanya.

Allohu yubaarik fiikum. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Mulut yang Keji dan Tabiat yang Kasar, Tempatnya nanti di Neraka

Published

on

Mulut yang Keji dan Tabiat yang Kasar, Tempatnya nanti di Neraka

Gencil News – Mulut yang Keji dan Tabiat yang Kasar, Tempatnya nanti di Neraka! Berlindung lah dari keburukan lidah dan sifat yang kasar, karena sesungguhnya jika seorang muslim mempunyai sifat tersebut, niscaya ia tidak akan selamat dari panasnya api neraka.

١- عن أبـﮯ هريرة رضـﮯ الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : 

*( الحياءُ منَ الإيمانِ ، والإيمانُ في الجنَّةِ ، والبَذاءُ منَ الجفاءِ ، والجفاءُ في النَّارِ )* 

 الألباني

صحيح الترمذي ٢٠٠٩

( البذاء : الفحش في القول).

1. Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

“Rasa malu itu adalah sebagian dari keimanan, dan keimanan itu tempatnya adalah di surga.

Al-Badza’ (perkataan yang keji) itu adalah termasuk bagian dari Al-Jafa’ (perangai atau tabiat yang kasar) , sedangkan Al-Jafa’ itu (tempatnya) adalah di neraka.”

(HR At-Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany rohimahulloh dalam kitab Shohih At-Tirmidzi no. 2009) 

(Al-Badza’, artinya adalah suatu kekejian dalam ucapan. Atau dgn kata lain, perkataan atau ucapan yang keji !) 

٢- قال الأحنف بن قيس رحمه الله :

( أولا أخبركم بأدوأ الداء :  اللسان البذيء والخلق الدنيء )

 الصمت وآداب اللسان

لابن أبي الدنيا 【 ١٩٠ 】

2. Al-Ahnaf bin Qois rohimahulloh pernah berkata :

“Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu penyakit yang bisa mematikan (sangat berbahaya)?

(Yaitu) lisan yang keji/kotor dan watak/perangai yang rendah/hina!

(As-Shumtu wa Adabul Lisan (hal. 190), karya Al-Imam Ibnu Abid Dunya rohimahulloh)

Catatan :

1. Ya, seperti itulah sifat-sifat yang disandang oleh orang-orang yang mereka itu adalah para calon penghuni neraka Jahannam. 

Disebutkan hal itu pula sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala :

وَقَالَ قَرِينُهُۥ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ٢٣ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ ٢٤ مَّنَّاعٍ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ مُّرِيبٍ ٢٥ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَأَلۡقِيَاهُ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ٢٦

“Dan (malaikat) yang menyertainya berkata, ‘Inilah (catatan perbuatan) yang ada padaku.’ (Allah berfirman) : *”Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka Jahanam semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebaikan, melampaui batas dan bersikap ragu-ragu, yang mempersekutukan Allah dengan tuhan yang lain*. Maka lemparkanlah dia ke dalam adzab yang keras.”_  (QS Qaf: 23—26)

2. Dalam hadits yang shohih pun, Nabi shollallohu alaihi wa sallam juga telah menjelaskan sebagian sifat-sifat tersebut. 

Dari Haritsah bin Wahb radhiyallohu ‘anhu dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ ؟ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian (tentang siapa) penghuni surga itu? (Mereka itu adalah) semua orang yang lemah lagi diremehkan orang lain. Namun jika dia bersumpah dengan menyebut nama Allah, pasti Allah akan mengabulkannya.

Dan maukah aku beritahukan kepada kalian (tentang siapa) penghuni neraka  itu? (Mereka itu adalah) orang-orang yang kasar, tak sabaran, lagi sombong.”

(HR. Al-Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Dalam hadits ini, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tiga sifat calon penghuni neraka, yaitu

1. Al-‘Utul (yang kasar) 

2. Al-Jawwadz (yang tidak sabaran) 

3. Al-Mustakbir (yang sombong atau angkuh) 

Semoga Alloh ta’ala menjauhkan diri kita semua dari sifat-sifat  tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Advertisement

DOWNLOAD APLIKASI GENCILNEWS

TRENDING