3 Golongan Manusia Paling Buruk Kedudukannya pada Hari Kiamat
Connect with us

Mimbar Islam

3 Golongan Manusia Paling Buruk Kedudukannya pada Hari Kiamat

Published

on

3 Golongan Manusia Paling Buruk Kedudukannya pada Hari Kiamat

Dalam hadits Rasulullah SAW telah mengkategorikan beberapa golongan manusia yang paling buruk kedudukannya pada hari kiamat kelak.

Maka manusia harus berbuat baik kepada manusia lainnya dan menjauhi segala perbuatan yang tidak baik dan tidak terpuji.

Dengan demikian, kita tidak termasuk golongan manusia yang paling buruk kedudukannya, lantas golongan manusia seperti apakah yang buruk kedudukannya kelak:

Manusia yang terkenal akan kekejiannya, suami yang mengumbar urusan ranjang, dan golongan manusia yang menggadai akhiratnya untuk dunia. 

Pertama, yaitu golongan manusia yang terkenal akan kekejiannya.

عن عائشة رضي الله عنها قالت، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، يا عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

Dari Aisyah RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda

Hai Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya pada sisi Allah pada hari kiamat

adalah orang yang keji dan manusia takut kejelekannya.” (HR Muslim, hadits no 4693) 

Artinya, orang yang tidak peduli terhadap orang lain dan bersikap negatif juga berperangai buruk terhadap orang lain.

meskipun ia adalah ahli shalat dan suka beribadah mahdhah.

Kedua, suami yang mengumbar urusan ranjang. Mengumbar urusan ranjang bersama pasangannya termasuk golongan manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah.

Dari Abu Sa’id RA, dia berkata bahwa Nabi SAW bersabda: 

عن أبي سعيد رضي الله عنه قال أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ‏أن النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم قال ان من شر الناس عند اللّه منزلة يوم القيامة

يفضي إلى المرأة وتفضي إليه ثم ينشر سرها‏ .

“Sesungguhnya antara orang yang terburuk kedudukannya pada sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah seorang laki-laki yang mengetahui rahasia istrinya atau seorang istri yang mengetahui rahasia suaminya kemudian menceritakan rasa itu kepada orang lain.” (HR Muslim dan Ahmad).

Cerita itu akan terkecuali bila kepada ahli medis yang berkaitan dengan penyakit.

Ketiga, golongan manusia yang menggadai akhiratnya untuk dunia. Kedudukan manusia yang menggadai akhiratnya untuk kepentingan dunia juga sangat buruk pada hadapan Allah kelak di akhirat.

عن أبي أمامة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من شر الناس منزلة عند الله يوم القيامة عبد أذهب آخرته بدنيا غيره

Dari Abu Umamah, sesungguh Rasulullah Saw bersabda:

“Di antara orang yang paling buruk kedudukannya pada Hari Kiamat adalah seseorang hamba

yang menghancurkan akhiratnya demi merebut dunia milik orang lain.”

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Ketahuilah Manfaat Wudhu Bagi Kesehatan

Published

on

Ketahuilah Manfaat Wudhu Bagi Kesehatan

Ketahuilah bahwa berwudhu memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Oleh karena Rasulullah SAW juga menganjurkan kepada sahabat-sahabatnya untuk berwudhu.

Dalam buku 24 Jam Belajar Sunnah Nabi oleh Romy Hernadi dan Assyifa S. Arum, haditsnya berbunyi.

“Barang siapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya, maka akan keluarlah dosa-dosa dari badannya, sampai-sampai ia akan keluar dari bawah kukunya,” (HR Muslim).

Dalam hadits tertulis, ALLAH SWT akan menghapus dosa hamba-Nya bagi siapa saja yang berwudhu.

“Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang dapat menjadi sebab Allah menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?”

mereka para sahabat menjawab, “Tentu saja mau, wahai Rasulullah.”

Maka beliau menjawab, “Yaitu menyempurnakan wudhu dalam kondisi tidak menyenangkan, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat berikutnya sesudah mengerjakan shalat, maka itulah ribath,” (HR Muslim).

Seorang psikiater sekaligus ahli neurology asal Austria, Profesor Leopold Werner von Ehrenfels.

Menemukan pusat-pusat saraf yang paling peka dalam tubuh manusia terdapat pada sebelah dahi, tangan, dan kaki.

Pusat-pusat saraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar, dan memiliki manfaat bagi kesehatan.

Selain itu, manfaat berwudhu yang lain ialah untuk meremajakan kulit dengan cara membasuh dengan mengusap sebagian rambut dan kepala.

Karena sangat baik dalam menjaga tekanan darah, membantu melancarkan aliran darah yang memberi kesegaran.

Manfaat air wudu berikutnya yaitu bisa melembapkan kulit wajah.

Setiap wajah yang basah karena basuhan air wudu, hal ini bisa menjaga agar tetap lembap dan akan membuat wajah kita tetap segar dan bersinar.

Continue Reading

Mimbar Islam

Bolehkah Berqurban dengan Niat Khusus untuk Orang yang telah Wafat?

Published

on

Bolehkah Berqurban dengan Niat Khusus untuk Orang yang telah Wafat

GENCIL NEWS – Bolehkah Berqurban dengan Niat Khusus untuk Orang yang telah Wafat? Hendaklah kita mengetahui satu hewan qurban itu mencukupi untuk seluruh keluarga. Karena pertanyaan ini Bolehkah Berqurban dengan Niat Khusus untuk Orang yang telah Wafat? seringkali terbesit dalam hati kita.

Hal ini berdasarkan apa yang diucapkan Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam saat akan menyembelih hewan qurbannya maka beliau mengucapkan :

“Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah (qurban ini ) dari Muhammad Shollalloohu ‘alaihi wa sallam dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad –shollalloohu ‘alaihi wa sallam-“

(HR.Muslim [1967]; Abu Dawud [2792].

Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam berqurban seekor kambing dengan meniatkan qurbannya untuk pribadi beliau, keluarga beliau, dan ummat beliau.

Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam berbicara secara umum baik untuk keluarga dan umatnya yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Dalam hadits lain disebutkan redaksi do’a Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam saat akan menyembelih hewan qurbannya adalah :

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى

“Bismillah, Allaahu Akbar, (qurban) ini adalah dariku dan dari ummatku yang tidak ikut berqurban“.

(HR. Abu Dawud [2810]; Turmudzi [1521]. 

Dishohihkan oleh Al Albani Rohimahulloh dalam Shohih Abi Dawud [2810].

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan satu hewan qurban itu mencukupi untuk orang yang berqurban dan untuk keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. 

Adapun menyembelih hewan qurban dengan niat khusus untuk orang yang telah wafat, semisal untuk ayah atau ibunya yang telah wafat,. Maka pendapat terkuat adalah hal tersebut bukan termasuk sunnah. 

Kita tahu saat Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam hidup, beberapa istri tercintanya dan anak-anaknya, serta kerabatnya Rodhialloohu ‘anhum telah wafat.

Namun tidak ada keterangan Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam menyembelih hewan qurban dengan niat dikhususkan untuk Khadijah Rodhialloohu ‘anhaa, atau keluarganya yang telah mendahului beliau.

Andai ini sunnah, tentu Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam akan melakukannya dan mencontohkannya kepada ummatnya.

Karena itulah Syaikh Al ‘Utsaimin Rohimahulloh saat ditanya :

Apakah berqurban itu disyari’atkan dari orang yang telah mati ataukah dari yang masih hidup?

Maka beliau menjawab :

Berqurban itu disyariatkan dari orang yang masih hidup . Tidak ada riwayat dari Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bahwa mereka berqurban untuk orang yang telah wafat dengan niat khusus.

Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wa sallam telah ditinggal wafat lebih dahulu oleh anak-anaknya, baik anak lelaki mapupn anak peerempuannya di saat beliau sendiri masih hidup, dan juga istri dan beberapa keluarga dekatnya yang beliau sangat mencintai mereka ada yang telah wafat duluan, namun Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meniatkan qurban khusus untuk seorang pun dari mereka yang telah wafat.

Beliau tidak pernah berqurban atas nama pamannya Hamzah, dan tidak pula untuk istrinya Khodijah, tidak juga untuk istrinya Zainab binti Khozimah, juga tidak untuk tiga anak perempuannya dan anak-anak lelaki beliau lainnya -rodhialloohu ‘anhum- (yang telah wafat mendahului beliau -pent.) 

Andai saja ini termasuk perkara yang disyari’atkan, niscaya Nabi akan menjelaskan dalam sunnahnya baik ucapan maupun perbuatan.  

Dan (kerenanya) hendaklah seseorang itu berqurban untuk dirinya dan keluarganya tanpa perlu mengkhususkan qurban dengan meniatkan orang yang telah mati 

Kesimpulan

Satu hewan qurban mencukupi untuk orang yang berqurban dan keluarganya, baik keluarga yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. 

Berqurban dengan mengkhususkan qurbannya untuk orang yang telah wafat baik untuk kedua orangtua maupun lainnya adalah tidak ada tuntunannya dari Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam maupun para sahabatnya.

Walhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin, wa shollalloohu ‘alaa Muhammadin. (Berik Said)

Continue Reading

Mimbar Islam

Doa Agar Mudah Melunasi Hutang Sepenuh Gunung

Published

on

Doa Agar Mudah Melunasi Utang Sepenuh Gunung

GENCIL NEWS – Apakah ada doa yang bisa dengan mudah agar melunasi Hutang? Bagaimana jika utang tersebut sepenuh gunung dan dapat terselesaikan.

Lantas apa saja amalannya? Inilah doa agar mudah melunasi hutang sepenuh gunung:

Dari ‘Ali rhadiallahu anhu, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan d iri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan d iriku.”

Ali rhadiallahu anhupun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak”

[Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu]

(HR. Tirmidzi no. 3563,)

Hanya Diarahkan untuk Berdoa

Selanjutnya, Lihat saja di sini, bukannya dibantu dengan uang, malah budak mukatab dibantu dengan diberikan tuntunan doa.

Karena barangkali ‘Ali rhadiallahu anhu dalam hadits tersebut tidak memiliki uang untuk membantu, maka ia berikan solusi yang sangat menolong.

Sama seperti itu adalah firman Allah Ta’ala,

قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang d iiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.”

(QS. Al Baqarah: 263).

Atau di sini ‘Ali rhadiallahu anhu memberi petunjuk pada hal yang lebih selamat yaitu meminta tolong pada Allah Ta’alaa lewat doa, tanpa bergantung pada selain-Nya. 

Makna ini d ikuatkan dengan isi doa “wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak (dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu)”.

Demikianlah doa agar mudah melunasi hutang sepenuh gunung. Semoga Allah ta’alaa memudahkan segala urusan hamba-Nya.

WaAllahu ‘Alam

Continue Reading

Advertisement

KORAN GENCIL NEWS

TRENDING