Golongan Manusia Terbaik yang Diungkap Rasulullah SAW
Connect with us

Mimbar Islam

Golongan Manusia Terbaik yang Diungkap Rasulullah SAW

Published

on

Golongan Manusia Terbaik yang Diungkap Rasulullah SAW
Sumber Foto ; Pixnio/ Ilustrasi Musafir

Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad SAW menyatakan beberapa golongan manusia terbaik. dan setidaknya ada tiga hadits yang bisa menjelaskan manusia-manusia terbaik, sehingga bisa menjadi teladan umat Islam.

Pertama, yaitu hadits tentang manusia yang mempelajari Alquran.

Rasulullah SAW bersabda:   خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu setelah membawakan hadits tersebut, lalu menjelaskan maknanya.

Menurut ia, yang mempelajari Alqur`an dan mengajarkannya itu mencakup, mempelajari dan mengajarkan huruf-hurufnya dan makna-maknanya.

Kedua, yaitu hadits yang menjelaskan akhlak manusia.

Rasulullah SAW bersabda:  خياركم أحاسنكم أخلاقا

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhari).

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya.

Jika ingin mengetahui kemuliaan akhlak Rasulullah Muhammad SAW, maka kita perlu menyelami seluruh sisi kehidupan beliau.

Sebab, seluruh perikehidupan beliau memang penuh dengan akhlak mulia.

Ketiga, hadits yang berkaitan dengan membayar utang.

Beliau bersabda:  خيركم أحسنكم قضاء

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik ketika membayar utang).” (HR Bukhari).

Masalah ini merupakan hal sepele, tapi bisa menjadi masalah besar jika tidak segera terlunasi.

Utang memang bukan suatu hal yang diharamkan sebagaimana mencuri, tapi baik buruknya seseorang bisa dilihat juga dari caranya memperlakukan utang-utangnya.

Rasulullah SAW telah memasukkan orang yang bisa membayar utangnya tepat waktu sebagai salah satu manusia terbaik.

Semoga kita masuk dalam golongan manusia yang terbaik dalam rahmat ALLAH SWT.

Sumber: Republika

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan

Published

on

Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan

GENCIL NEWS – Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan? Begitulah sebuah pertanyaan yang terlontar dari seorang jamaah. Ada orang yang mampu secara ekonomi tetapi dia tidak mau ibadah qurban dengan alasan lebih baik untuk membantu orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan. Berqurban atau Bersedekah, mana yang Didahulukan, bagaimana hukumnya?

Begini jawabannya:

Saat mensifati orang-orang beriman, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

أُوْلَٰٓئِكَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَهُمۡ لَهَا سَٰبِقُونَ

Mereka itu bergegas dalam melakukan kebajikan dan merekalah orang-orang yang paling dahulu memperolehnya. (QS. Al-Mu’minun : 61)

Bergegas dan selalu ingin terdepan dalam ibadah, artinya mereka punya ambisi besar meraih pahala Allah ‘azza wa jalla. Inilah sifat para penduduk surga.

Saat kita bertemu sebuah keadaan, dimana di dalamnya berkumpul banyak ibadah, maka langkah yang tepat seorang mukmin adalah mengikuti kaidah berikut:

Pertama, Al-Jam’u aula minat tarjih.

الجمع أولى الترجيح

Artinya, menggabungkan selama itu mungkin, lebih baik daripada memilih salah satu.

Misal, pada saat tiba moment berkurban, kita mampu berkurban, dan mampu juga bersedekah. Maka selama kita mampu melakukan keduanya, mengapa tidak? Jika kita bisa memborong pahala, kenapa tidak kita lakukan? Karena Allah telah memotivasi kita untuk terdepan dan menjadi juara dalam ibadah.

فَٱسۡتَبِقُواْ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ

Berlomba-lombalah meraih kebaikan. (QS. Al-Baqarah : 148)

Dalam hal duniawi saja, seorang pengusaha saat dia mendapatkan dua proyek dengan profit yang besar, kemudian dia mampu menggarap keduanya dalam satu waktu, tanpa ragu dia akan memilih langkah itu. Karena sadar keuntungan besar yang akan dia dapatkan.

Mengapa dalam hal akhirat, ketika kita mampu melakukan langkah ini, tidak kita upayakan?

Kedua, Idza Tazaahamat al-Masholih quddimal a’la ‘alal adna.

إذا تزاحمت المصالح قُدِّم الأعلى على الأدنى

Artinya, jika berkumpul dalam satu waktu beberapa kebaikan/ibadah (maslahat), maka dahulukan kebaikan yang paling afdhol.

Kaedah ini bisa kita terapkan saat kita tidak mampu mengkompromikan ibadah-ibadah yang berkumpul dalam satu kesempatan.

Contohnya ketika bertemu dengan hari raya Qurban, kita memiliki kemampuan untuk berqurban. Di sisi lain, uang untuk membeli hewan qurban itu juga bisa disalurkan sebagai bantuan kepada kaum fakir.

Ingin mengupayakan kedua ibadah itu, yaitu : berqurban dan bersedekah, tidak mampu. Maka kita pilih ibadah yang paling afdhol.

Manakah yang lebih afdhol Berqurban atau Bersedekah, Mana yang Didahulukan?

Kita dapat ketahui ini dengan melihat jenis waktu pelaksanaan dua ibadah tersebut. Karena waktu ibadah ada dua macam:

[1] Muwassa’ (Ibadah yang waktunya longgar)

[2] Mudhoyyaq (Ibadah yang waktunya sempit)

Ibadah yang waktunya sempit / terbatas (Mudhoyyaq), tentu lebih layak kita prioritaskan. Berqurban misalnya, waktunya sangat terbatas. Hanya di 10 Dzulhijjah saja. Hanya sekali dalam satu tahun. Maka ibadah ini lebih layak kita utamakan.

Adapun menyantuni orang-orang yang membutuhkan, waktunya longgar (Muwassa’), bisa dilakukan di selain 10 Dzulhijjah, kapan saja bisa.

Dengan demikian, seorang telah memilih langkah yang bermaslahat. Karena ada kemungkinan dia dapat melakukan kedua ibadah tersebut. Di hari raya Qurban dia berqurban, kemudian di luar hari raya Qurban, dia bisa bersedekah. 

Berbeda jika dia tinggalkan berqurban di hari raya Qurban, kemudian lebih memilih berderma, maka dia akan kehilangan kesempatan mendapatkan pahala berqurban, dan hanya bisa melakukan satu ibadah saja diantara dua ibadah harta ini, yaitu bersedekah, yang mana waktunya longgar.

Wallahua’lam bis showab. (Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori)

Continue Reading

Mimbar Islam

Taukah Setiap Hari Umur Kita Berkurang, Mengapa Kita Tidak Sedih

Published

on

Taukah Setiap Hari Umur Kita Berkurang, Mengapa Kita Tidak Sedih

GENCIL NEWS – Taukah setiap hari umur kita berkurang, mengapa kita tidak sedih? Namun banyak dari kaum muslimin yang tidak menyadarinya seakan akan kekal hidup di dunia.  Sebagai seorang muslim seharusnya kita merasa sedih jika umur kita terus berkurang namun amal kita makin berkurang.

 قال يحيى بن معاذ – رحمه الله – :

《 عَجِبْتُ مِمَّنْ يَحْزَنُ عَلَى نُقْصَانِ مَالِهِ ، كَيْفَ لا يَحْزَنُ عَلَى نقصان عمره 》.

 [ الفوائد والأخبار والحكايات لابن حمكان (ص149) ]

Al-Imam Yahya bin Mu’adz rohimahulloh pernah berkata : 

Aku heran terhadap orang yang bersedih karena berkurangnya hartanya.

(Tetapi) bagaimana dia tidak merasa sedih terhadap berkurangnya umurnya.

(Al-Fawaaid wa Al-Akhbaar wa Al-Hikaayaat* (hal. 149), karya Ibnu Hamkan rohimahulloh)

Catatan :

Ya, dengan bergantinya hari demi hari, sebenarnya umur kita itu semakin berkurang, jatah hidup kita di dunia ini semakin sedikit, dan yang pasti kita akan menuju pada waktu kematian kita yang telah ditentukan.

Kebanyakan orang, merasa sedih ketika kehilangan harta yg dipunyai, atau keluarga yg dicintai, atau jabatan yg disandangnya, atau kesenangan dunia yg dipunyainya.

Tetapi dia tidak merasa sedih, umurnya setiap hari berkurang, sedangkan lubang kuburnya sebentar lagi akan segera digali.

Sementara itu dia terus bersenang-senang di dunia, lupa mempersiapkan bekal bagi perjalanan jauhnya di akhirat nanti. Taukah Setiap Hari Umur Kita Berkurang, Mengapa Kita Tidak Sedih.

Allohul Musta’aan

Hanya kepada Alloh ta’ala sajalah kita memohon pertolongan, agar selamat di dunia dan di akhirat nanti.

Yaa Rabbana …

Jadikanlah apa yang kami lakukan hari ini sebagai amalan untuk bekal kami menghadapMu kelak.,”

Yaa Rabbana …

Tegarkanlah Hati dan badan ini untuk tetap berjalan dalam naungan CahayaMu.

Hilangkan Kelelahan Kejenuhan dalam diri kami sehingga kami bisa memberi yang terindah bagi Keluarga,, Sahabat,, dan Saudara kami semua. 

Yaa Allah …

Berikanlah KasihMu

Rahmat Mu, PerlindunganMu, CahayaMu untuk kami semua

Berkahilah umur kami…

Berilah kesehatan pada kami..

Angkatlah Penyakitnya kami,

Murahkanlah Rizqi kami

Kelak masukanlah kami ke dalam SURGAMU ya Allah AAMIIN

Nas-alullohas salaamah wal ‘aafiyah. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

Mimbar Islam

Hikmah Berwakaf yang menjadi Amalan Terbaik Dunia

Published

on

Berwakaf, Amalan Dunia yang Baik menurut Rasulullah

Hikmah Berwakaf adalah menahan harta untuk kepentingan umum tanpa mengurangi nilai harga. Ketahuilah bahwa berwakaf adalah amalan terbaik dunia dari Rasulullah.

Wakaf berdasarkan jenis harta terbagi atas dua kelompok benda bergerak dan satu benda tidak bergerak.

Yang termasuk benda bergerak adalah wakaf berupa uang tunai dan benda yang bisa berpindah, seperti air, bahan bakar minyak, surat berharga, dan hak atas benda bergerak lainnya.

Sedangkan untuk kelompok benda tidak bergerak adalah wakaf tanah, yakni berupa hak atas tanah, bangunan, rumah, benda yang berhubungan dengan tanah, dan benda tidak bergerak lainnya.

Selanjutnya, menurut Espacito salah seorang ahli hukum Islam, wakaf yang pertama kali ialah bangunan suci Ka’bah Makkah.

Berdasarkan firman Allah dalam Surah Ali Imran [3] ayat 96;

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekkah) yang terbekahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam”.

Maka, Bakkah atau Mekkah merupakan rumah ibadah pertama manusia.

Menurut sebagian ulama, yang pertama kali melaksanakan wakaf adalah Rasulullah SAW. yaitu wakaf tanah miliknya untuk pembangunan masjid.

Sebagian lagi menyebutkan Umar bin Khatab r.a yang pertama kali berwakaf.

Umar bin Khatab r.a mewakafkan tanahnya di Khaibar. Ketika pertama kali memperoleh sebidang tanah tersebut, beliau menghadap Rasulullah saw untuk minta petunjuk.

Rasulullah saw mengatakan, “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya)

Hukum wakaf ialah sunnah. Namun, Rasulullah saw sangat menganjurkan syariat yang berdampak besar bagi peradaban.

Pahala wakaf akan terus mengalir, walaupun orang yang berwakaf (muwakif) sudah meninggal dunia.

Rasulullah saw bersabda, “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Menurut Imam al-Suyuti, seorang ulama yang hidup pada tahun 911 H, ada 10 amal yang pahalanya terus menerus mengalir.

Kesepuluh amalan tersebut adalah:

Ilmu yang bermanfaat, doa anak shalih, sedekah jariyah (wakaf), menanam pohon kurma atau pohon-pohon yang buahnya bisa dimanfaatkan, mewakafkan buku, kitab atau Al Qur’an, berjuang dan membela tanah air, membuat sumur, membuat irigasi, membangun tempat penginapan bagi para musafir, dan membangun tempat ibadah dan belajar.

Selain itu, ada wakaf yang pahalanya rumah di surga, yakni wakaf membangun masjid.

Rasulullah saw bersabda,”Barang siapa yang membangun sebuah masjid karena mengharapkan keridhaan Allah SWT, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Continue Reading

Advertisement

KORAN GENCIL NEWS

TRENDING