Connect with us

Mimbar Islam

Jangan Cemburu punya Suami yang Berbakti pada Ibunya

Published

on

Jangan Cemburu punya Suami yang Berbakti pada Ibunya

GENCIL NEWS – Jangan cemburu punya suami yang berbakti pada ibunya, karena kelak kamu akan punya anak lelaki yang dia pun akan berbakti pada dirimu di usia senjamu. Karena banyak anak durhaka sebab dulu ayahnya juga durhaka pada ibunya.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu Anhuma, ia mengatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Siapa manusia yang paling berhak atas wanita?” Beliau menjawab: “Ibunya”

(H.R Al-Hakim)

Tidak ada kemuliaan terbesar yang diberikan Allah bagi seorang wanita, melainkan perannya sebagai seorang ibu. Bahkan Rasulullah bersabda ketika ditanya oleh seseorang:

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik?” Beliau berkata “Ibumu” Lelaki itu kemudian bertanya “Kemudian siapa?” “Ibumu” “Kemudian siapa lagi?” “Ibumu” “Kemudian siapa?” “Kemudian ayahmu” Jawab beliau.

(H.R Al-Bukhari & Muslim)

Begitu mulianya seorang ibu. Wahai para istri jangan cemburu punya suami yang berbakti pada ibunya tapi cemburu lah pada suami yang tidak menyayangi ibunya. Karena sesungguhnya surga ada di ridho seorang ibu.

WaAllahu ‘Alam.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Mimbar Islam

Siapakah Orang yang Cerdas Itu?

Published

on

Siapakah Orang yang Cerdas Itu

Gencil News – Siapakah Orang yang Cerdas Itu? Seperti apa kriterianya, apakah yang lulusan doktoral, profesor dari universitas ternama? Atau seperti apa?

(1). Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

“Seseorang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati, maka mereka itulah orang-orang yang cerdas” (HR. Ibnu Majah no. 4259, lihat ash-Shahihah no. 1384)

(2). Imam Abu Hatim Muhammad Ibn Hibban al-Busty رحمه الله berkata:

لسان العاقل يكون وراء قلبه ، فإذا أراد القول رجع إلى القلب ، فإن كان له قَالَ ، وإلا فلا.والجاهل قلبه في طرف لسانه ، مَا أتى على لسانه تكلم به ، وما عقل دينه من لم يحفظ لسانه

“Lisan orang yang cerdas berada di belakang hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila (perkataan itu bermanfaat) bagi dirinya, maka dia pun akan berbicara, namun apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Sementara orang yang bodoh, hatinya itu berada di ujung lisannya. Dia akan membicarakan apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya, berarti tidak cerdas terhadap agamanya” (Raudhatul ‘Uqalaa’ wa Nuzhatul Fudhalaa’ hal 49)

(3). Imam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: 

لَيْسَ الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ الْخَيْرَ مِنْ الشَّرِّ وَإِنَّمَا الْعَاقِلُ الَّذِي يَعْلَمُ خَيْرَ الْخَيْرَيْنِ وَشَرَّ الشَّرَّيْنِ

“Seseorang yang cerdas itu bukanlah orang yang tahu mana yang baik dari yang buruk. Akan tetapi, orang yang cerdas itu adalah orang yang tahu mana yang terbaik dari dua kebaikan, dan manakah yang lebih buruk dari dua keburukan” (Majmuu’ al-Fatawa XII)

(4). Imam al-Utsaimin رحمه الله berkata:

“Seorang yang cerdas, apabila dia membaca al-Qur’an dn berusaha menghayatinya, maka dia akan tahu nilai dunia ini, bahwa dunia ini bukanlah apa-apa, bahwa dunia ini ladang untuk akhirat. Maka, lihatlah apa yang telah engkau tanam di dunia ini untuk akhiratmu. Jika engkau telah menanam kebaikan, maka berbahagialah dengan hasil panen yang akan membuatmu ridha. Namun bila keadaannya sebaliknya, berarti engkau telah rugi dunia & akhirat” (Syarah Riyadhus Shalihin III/358)

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat. (Ustadz Najmi Umar Bakkar)

Continue Reading

Mimbar Islam

Tahukah Engkau Musibah itu dapat Menghapus Dosa?

Published

on

Tahukah Engkau Musibah itu dapat Menghapus Dosa

Gencil News – Tahukah Engkau Musibah itu dapat Menghapus Dosa? Sebagai manusia tentu kita tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Namun, Allah ta’alaa maha pengampun dari segala dosa selama kita mau bertaubat kepada-Nya.

Allah ta’alaa mempunyai cara menerima taubat seseorang salahsatunya dengan memberikan cobaan kepada hamba-Nya berubah musibah. 

Sahih al-Bukhori : 5209

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: 

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا.

Dari Aisyah ra, istri Nabi saw, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: 

Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Allah akan menghapus (dosa orang itu) dengannya, bahkan duri yang menyakitinya sekalipun.

Pesan:

1. Musibah yang menimpa seorang hamba, sekecil apapun itu akan menghapus kesalahannya.

2. Maha baik Allah yang tidak menyia-nyiakan hal sekecil apapun, bahkan sepotong duri saja yang melukai kita akan Allah jadikan penghapus dosa.

Ketika seseorang mendapatkan musibah, yakinlah bahwa Allah ta’alaa sedang menghapuskan dosa-dosa hambaNya. Berprasangka baiklah kepada Allah dan jangan pernah berputus asa.

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Mimbar Islam

Bertakwalah kepada Allah Dimanapun Kamu Berada!

Published

on

Bertakwalah kepada Allah Dimanapun Kamu Berada

Gencil News – Bertakwalah kepada Allah Dimanapun Kamu Berada! Berikut ini adalah beberapa nasehat Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam yang sangat penting untuk selalu kita perhatikan dan kita pegang teguh.

Nasehat itu adalah seperti apa yang terdapat dalam hadits yang shohih, yang bersumber dari Sahabat Nabi yang mulia, Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada. Iringilah kejelekan yang telah kamu lakukan dengan kebaikan, yang akan dapat menghapus kejelekan tersebut. Dan pergauilah orang lain dengan akhlak yang baik.” 

(HR. Ahmad (5/236), At-Tirmidzi no. 1987, dan lainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Al-Jami’ no. 97)

Faedah berharga yang bisa kita ambil dari hadits yang mulia ini, diantaranya adalah:

1. Wajibnya bagi kita semua bertakwa kepada Alloh ta’ala, dimana pun kita berada.

Dan takwa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, maknanya adalah:

وقاية العبد نفسه من عذاب الله بامتثال أوامره واجتناب نواهيه

“Penjagaan diri seorang hamba dari adzab Alloh, dgn melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh kepadanya, dan menjauhi apa saja yang dilarang Alloh.”

Pengertian seperti ini, disimpulkan dari beberapa pendapat dan penjelasan para ulama tentang makna takwa.

Diantaranya adalah: Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

المُتَّقُوْنَ اتَّقَوا مَا حُرِّمَ عَلَيْهِمْ ، وَأدَّوْا مَا افْتُرِضَ عَلَيْهِمْ

“Orang yang bertakwa itu adalah mereka yang menjaga diri (menjauhi) dari hal-hal yang diharamkan atas mereka, dan menunaikan apa saja yang diwajibkan atas mereka.”

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah juga pernah berkata:

لَيْسَ تَقْوَى اللهِ بِصِيَامِ النَّهَارِ ، وَلاَ بِقِيَامِ اللَّيْلِ ، وَالتَّخْلِيْطِ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ ، وَلَكِنْ تَقْوَى اللهِ تَرْكُ مَا حَرَّمَ اللهُ ، وَأَدَاءُ مَا افْتَرَضَ اللهُ ،فَمَنْ رُزِقَ بَعْدَ ذَلِكَ خَيْراً ، فَهُوَ خَيْرٌ إِلَى خَيْرٍ

“Takwa kepada Alloh itu bukanlah hanya dengan berpuasa di siang hari atau mendirikan shalat malam hari, atau melakukan kedua-duanya.

Namun takwa kepada Alloh itu adalah meninggalkan apa saja yang diharamkan Alloh, dan menunaikan apa saja yang diwajibkan oleh Alloh.

Siapa yang setelah itu dianugerahi kebaikan lainnya, maka itu adalah kebaikan kepada kebaikan (yakni kebaikan di atas kebaikan yang lainnya).”

Tholq bin Habib rohimahulloh juga pernah mengatakan:

التَّقْوَى أَنْ تَعْمَلَ بِطَاعَةِ اللهِ ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ ، تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ ، وَأَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ

“Takwa itu berarti kamu menjalankan ketaatan pada Allah atas petunjuk cahaya dari Allah, dan kamu mengharap pahala dari Alloh.

(Takwa itu juga) adalah kamu meninggalkan/ menjauhi maksiat kepada Alloh atas petunjuk cahaya dari Alloh, dan kamu takut terhadap siksaan Alloh.”

Itulah diantara pengertian takwa, yang wajib bagi kita untuk melakukannya, dimana pun kita berada.

2. Bahwa perbuatan baik yang kita lakukan, akan bisa menghapus dosa-dosa atau kejelekan kita.

Dan yang dimaksud disini adalah: dosa-dosa kecil.

Karena, untuk terhapuskannya dosa-dosa besar, harus diiringi dengan sikap tobat dan memperbanyak istighfar dari dosa-dosa tersebut, tdk cukup hanya dgn amal sholih yang kita lakukan.

3. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan akhlak yang baik.

Yakni akhlak-akhlak mulia yang disyari’atkan untuk kita beramal dengannya, seperti: bermanis muka, bertutur kata yang baik, tolong menolong, menjenguk orang yang sakit, saling memberi nasehat kebaikan, dan sebagainya.

4. Dianjurkan bagi seorang muslim, untuk memberi wasiat yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bagi kaum muslimin secara umum.

5. Bahwa setiap orang itu hendaknya selalu merasa diawasi oleh Alloh dalam semua keadaannya, dan dimana pun dia berada.

6. Bahwa hadits ini berisi tentang wasiat yang agung, dan wasiat yang termasuk dalam Jawaami’ul Kalim-nya Rosululloh  shollallohu alaihi wa sallam, yaitu kata-kata yang padat dan ringkas, tetapi luas maknanya dan faedahnya.

(lihat: Bahjatun Nadhirin Syarh Riyadhis Sholihin, (1/133), Syarh Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 221 dan sumber lainnya)

Semoga pembahasan dan nasehat yang ringkas ini bermanfaat bagi kita semuanya. Allohu yubaarik fiikum.  (Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby)

Continue Reading

TRENDING