Jangan Pernah Mengeluh di Medsos, Cukup Keluhkan Kepada Allah
Connect with us

Mimbar Islam

Jangan Pernah Mengeluh di Medsos, Cukup Keluhkan Kepada Allah

Published

on

Jangan Pernah Mengeluh di Medsos, Cukup Keluhkan Kepada Allah

GENCIL NEWS – Jangan Pernah Mengeluh di Medsos, Cukup Keluhkan Kepada Allah. Setiap manusia mempunyai masalah dan yakinlah bahwa Allah ta’alaa tidak akan membebani hamba-Nya dengan masalah yang tidak bisa dipikulnya. Semua ada jalan keluarnya.

عن عبد الله بن شداد بن الهاد يقول: سمعت عمر يقرأ في الصلاة الصبح سورة يوسف، فسمعت نشيجه، وإني لفي آخر الصفوف، وهو يقرأ: {إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّه}

Dari Abdullah bin Syaddad bin Al Hadi ia berkata: aku mendengar Umar (bin Khathab) membaca ayat dari surat Yusuf ketika (mengimami) shalat Subuh. Dan aku mendengar senggukan tangisannya padahal aku ada di shaf terakhir.

Yaitu ketika beliau membaca ayat: “Sesungguhnya aku adukan kesulitanku dan kesedihanku hanya kepada Allah” (QS. Yusuf: 86) [Diriwayatkan Al Bukhari dalam Shahih-nya secara mua’llaq].

Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan menjelaskan: “Mengadukan masalah kepada Allah merupakan bentuk perwujudan tauhid yang hakiki. Dan ia diantara tanda bahwa seorang hamba menggantungkan dirinya pada Dzat yang bisa memberikan kebahagiaan yang hakiki, dan memohon kepada Dzat yang paling hakiki bisa mengabulkan permohonan, dan meminta pertolongan kepada Dzat yang bisa memberikan pertolongan hakiki. Maka ini menunjukkan tulusnya hati dia untuk kembali kepada Allah dan menunjukkan kebenaran dari tauhidnya”.

Walaupun keluhan tersebut hanya berupa aduhan orang yang sakit! Yang lebih baik tidak mengaduh dan mengerang.

Sebagaimana kisah dari Imam Ahmad,

أنه بلغه -وهو يئن في مرض موته- “عن طاووس: أن الملك يكتب حتى أنين المريض، فأمسك عن الأنين. وفي رواية: بلغه أَن طاووسا كره أَنِين الْمَرِيض، وَقَالَ: إنه شكوى، فَمَا أَنّ -أحمد- حَتَّى مَاتَ

“Bahwa ketika Imam Ahmad sakit menjelang wafatnya, beliau mengaduh-aduh. Thawus (bin Kaisan) menyampaikan kepadanya bahwa aduhan orang yang sakit itu pun ditulis Malaikat. Maka mendengar itu, Imam Ahmad pun berhenti mengaduh. Dalam riwayat lain, Imam Ahmad mendengar bahwa Thawus tidak menyukai aduhan orang sakit. Thawus mengatakan: “Aduhan orang sakit itu termasuk mengeluh”. Maka Imam Ahmad sejak itu tidak pernah mengaduh lagi sampai beliau wafat”

Yok, Jangan Pernah Mengeluh di Medsos, Cukup Keluhkan Kepada Allah ta’alaa. Karena Allah lah tempat kita meminta pertolongan.

WaAllahu ‘Alam. Semoga bermanfaat. 

Disarikan dari ceramah Syaikh Muhammad Sa’id Ruslan

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mimbar Islam

Menjauhi Neraka Meski Hanya dengan Bersedekah Kurma

Published

on

Menjauhi Neraka Meski Hanya dengan Bersedekah Kurma

Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya untuk menjauh dari apa neraka dengan bertakwa kepada Allah SWT.

Bahkan, beliau memerintahkan kepada umatnya untuk bersedekah dengan sebutir kurma jika ingin selamat daripada api neraka.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

“Jauhilah neraka walaupun dengan bersedekah sebelah butir kurma, maka siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka hendaklah (bersedekah) dengan kata-kata yang baik’.”

(HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk selalu istiqamah dalam bersedekah, walaupun sedekah dengan jumlah sangat sedikit.

Karena, sedekah itu lah justru bisa menyelematkan umat Islam dari api neraka.

Pemahaman mengenai dengan sebutir kurma dalam hadits tersebut merupakan kiasan tentang amal-amal yang ringan.

Kendati demikian, amal yang ringan tersebut bernilai tinggi di hadapan Allah SWT. Karena itu, bersedekahlah dengan apapun yang engkau miliki, terutama masa pandemi Covid-19 sekarang ini.

Bersedekah tidak harus berupa uang atau barang, tetapi cukup dengan perbuatan atau kalimat kebaikan yang mana akan menjadi penyelamat pada Hari Kiamat kelak.

“Dan aku melihat seorang laki-laki dari umatku ketakutan melihat jilatan api neraka. Ia mengusir (jilatan tersebut) dari wajahnya dengan menggunakan tangannya. Kemudian datanglah amalan sedekah laki-laki tersebut. Amalan itu pun menghalangi dan melindungi wajah serta kepalanya (dari jilatan api neraka)”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam hadits yang pertama, Rasulullah SAW juga memperingatkan umat Islam untuk selalu selalu menjauhi api neraka.

Dalam hadits Al-Baihaqi dengan sanad ada dalamnya terdapat musnid yang jahalah (tidak diketahui), dari Anas dari Nabi SAW bersabda:

يا معشر المسلمين ارغبوا فيما رغبكم الله فيه و احذروا و خافوا ما خوفكم الله به من عذابه و عقابه و من جهنم فإنها لو كانت قطرة من الجنة معكم في دنياكم التي أنتم فيها حلتها لكم و لو كانت قطرة من النار معكم في دنياكم التي أنتم فيها خبثتها عليكم

“Wahai seluruh kaum muslimin berharaplah terhadap apa-apa yang Allah harapkan atas kalian, dan jauhi serta takutlah terhadap apa yang ditakutkan Allah atas kalian dari adzab-Nya dan hukuman-hukman Allah dan juga jahanam, sesungguhnya kalau satu tetes kenikmatan dari surga di jatuhkan di atas dunia maka akan menjadikan indah dunia ini dan apabila satu percik api neraka dipercikan ke dalam dunia ini maka akan menjadikan dunia yang kalian tempati ini rusak.”

Continue Reading

Mimbar Islam

2 Maksiat yang Segera Mendapat Siksaan di Dunia

Published

on

2 Maksiat yang Segera Mendapat Siksaan di Dunia

Terdapat dua perilaku maksiat yang akan Allah SWT segerakan siksanya selama hidup dalam dunia, sebelum mati dan sebelum kelak bangkit pada hari kiamat.

Penegasan ini sebagaimana Rasulullah SAW sampaikan dalam haditsnya. Beliau bersabda:

 اثنان يعجلهما الله في الدنيا: البغي وعقوق الوالدين 

‘Dua dosa yang langsung dapat balasannya saat dalam dunia oleh Allah SWT, yaitu berlaku zalim dan berlaku kasar kepada kedua orang tua.(HR Thabrani dari Ibn Asakirah).

Hadits tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas, sekaligus peringatan kepada orang-orang yang beriman.

Bahwa perilaku maksiat dengan menzalimi dan menganiaya kepada orang atau pihak lain dan berlaku buruk kepada kedua orang tua.

adalah sama halnya dengan mengundang azab dan malapetaka bagi diri sendiri, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat hanti.

Kezaliman ini sifatnya sangat bervariasi, dalam praktiknya bisa terjadi pada atau oleh orang juga kelompok manapun.

Seorang suami yang tidak bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya dan tidak memberikan nafkah lahiriyah maupun batiniyah.

Atau seorang istri yang tidak mempedulikan kewajiban kepada suami dan anak-anaknya bahkan membangkang kepadanya, adalah istri yang zalim.

Selanjutnya, Majikan yang hanya menekankan kewajiban para pegawai dan karyawannya tanpa mengimbanginya dengan pemberian hak yang wajar dan manusiawi kepada mereka, adalah majikan yang zalim.

Demikian pula pegawai dan karyawan yang hanya menuntut haknya tanpa peduli dengan pemenuhan tugas dan kewajibannya adalah karyawan yang zalim.

Demikian pula memfitnah, mengadu domba, mengambil hak orang lain, adalah perbuatan zalim, yang apabila pelakunya tidak segera sadar maka akan mengundang siksa kemurkaan Allah SWT di dunia ini, dan di akhirat akan berada dalam kegelapan yang teramat dahsyat dan menakutkan.

Rasulullah saw bersabda:

اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ 

”Takutlah kalian terhadap perbuatan menzalimi orang lain, karena kezaliman tersebut akan menyebabkan kegelapan pada Hari Kiamat.”

Republika- Naskah hikmah Prof Didin Hafidhuddin pada tahun 2000.

Continue Reading

Mimbar Islam

Lima Langkah Manusia Meredam Amarah dan Emosi

Published

on

Lima Langkah Manusia Meredam Amarah dan Emosi

Manusia terkadang tak bisa menahan amarah dan emosinya ketika sedang kesal terhadap seseorang. Padahal, marah adalah salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia.

Jika manusia mulai memiliki amarah dan emosi, maka setan akan sangat mudah mengendalikannya.

Seperti Mengutip dari buku “Menjadi Manusia Luhur” karya Arjuna Wibowo, setidaknya ada lima langkah yang bisa meredam emosi.

Pertama, ketika manusia sedang emosi hendaknya segera memohon pertolongan kepada Allah.

Agar terhindar dari godaan hendaknya orang yang emosi segera membaca ta’awudz:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim”

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari setan yang terkutuk”.

Kedua, saat sedang emosi sebaiknya langsung diam dan menjaga lisan. Menurut Arjuna, bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan, sehingga bisa saja dia berbicara sesuatu yang justru mengundang murka Allah.

“Jika kalian marah, berdiamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan Lighairih).

Ketiga, orang yang sedang emosi hendaknya mengambil posisi lebih rendah. Karena, kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum hilang, hendaknya dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad 21348), Abdu Daud 4782 dan perawinya shahih oleh Syuaib al-Arnauth).

Keempat, saat sedang emosi hendaknya segera berwudhu.

Hal ini sebagaimana hadits yang artinya: “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa padam dengan air.

Apabila kalian marah, hendaknya berwudhulah”. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud 4784).

Sedangkan langkah kelima, ketika sedang marah seseorang bisa mengingat pesan dari hadits yang diriwayatkan Muadz bin Anas Al-Juhani rashiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi)

Sumber: Republika- Lima Langkah Redam Emosi

Continue Reading

TRENDING